Ramadhan yang Selalu Istimewa
Penulis: Fida’ Munadzir, Lc.
Editor: Athirah Mustadjab
Bulan Ramadhan senantiasa menjadi momentum yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh belahan dunia. Nilai-nilai ‘ubudiyyah, ta’awun, dan kepedulian sosial yang dibawanya terus melekat. Keistimewaan Ramadhan tak luntur, meski zaman telah banyak berubah.
Bagaimana kita memaknai dan menjalaninya di tengah berbagai perubahan? Simak pembahasannya berikut ini!
Sambutlah dengan Ilmu
Di antara keutamaan dan nikmat besar dari Allah kepada hamba-Nya adalah Dia memberikan musim-musim penuh keutamaan. Musim yang menjadi peluang bagi orang-orang yang taat dan arena perlombaan bagi orang-orang yang berpacu menuju kebaikan. Sungguh beruntung orang yang memanfaatkan bulan-bulan, hari-hari, dan waktu-waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amal ketaatan yang diperintahkan di dalamnya.
Bulan Ramadhan, bulan diturunkan Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta'ala jadikan bulan penuh berkah dan rahmat, kesempatan membaca Al-Qur’an sebanyak-banyaknya, bersedekah, memberi makan, menyantuni orang-orang miskin, anak-anak yatim, para janda, dan orang-orang lemah.[1]
Kaum muslim menyambut bulan Ramadhan dengan berbagai cara. Ungkapan kegembiraan yang bertajuk "Marhaban ya Ramadhan" terlihat di berbagai poster, media massa, bahkan media sosial.
Di Indonesia kehadiran Ramadhan dirayakan dengan berbagai tradisi unik yang mencerminkan keragaman budaya di setiap daerah. Misalnya, di Aceh terdapat tradisi Meugang, yaitu makan daging bersama seluruh lapisan masyarakat. Di Kudus, Jawa Tengah, masyarakat melestarikan tradisi Dandangan, sebuah pertunjukan tari kolosal yang diadakan di alun-alun. Sementara itu, di Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terdapat tradisi unik berupa permainan bola api. Permainan ini dilaksanakan pada malam pertama Ramadhan oleh dua kelompok yang terdiri dari sepuluh anak. Di wilayah timur Indonesia, khususnya di Dusun Macera, Desa Mammi, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, terdapat tradisi Mabbaca-baca. Dalam tradisi ini, masyarakat menyajikan nasi ketan, kari ayam, telur, dan buah-buahan, serta menyalakan pallang, yaitu lilin tradisional yang terbuat dari kapas dan biji kemiri.[2]
Beragam tradisi ini menunjukkan betapa istimewa dan bermaknanya kehadiran bulan Ramadhan bagi umat Muslim di Indonesia, yang menyambutnya dengan suka cita dan kearifan lokal masing-masing daerah. Namun, kebahagiaan, kegembiraan, dan kesenangan setiap muslim dalam menyambut bulan Ramadhan selayaknya dipandu oleh syariat Islam, bukan semata dilatarbelakangi oleh tradisi atau pelestarian budaya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: Sebenarnya, bagaimanakah petunjuk Islam dalam menyambut bulan Ramadhan? Bagaimana caranya?
Kabar Gembira dari Rasulullah
Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada para sahabat beliau ketika tiba bulan Ramadhan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan tentang datangnya Ramadhan,
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ.
“Ramadhan, bulan keberkahan, telah mendatangi kalian. Allah wajibkan puasa di dalamnya. Ketika itu pintu-pintu langit dibukakan, Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang dihalangi dari kebaikannya, sungguh ia telah dihalangi dari segala kebaikan.” (HR. Ahmad no. 9213 dan Nasa’i, no. 2106. Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani)
Hadits ini merupakan kabar gembira bagi para hamba yang saleh. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang kedatangan bulan Ramadhan. Ini bukan sekadar pemberitahuan biasa, melainkan berita baik tentang musim ibadah yang agung.
Orang-orang saleh yang bersungguh-sungguh akan benar-benar memahami nilai besar bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan segala sesuatu yang Allah siapkan untuk hamba-Nya berupa sebab-sebab ampunan dan keridhaan-Nya, yang jumlahnya sangat banyak. Oleh karena itu, siapa pun yang melewatkan kesempatan untuk mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan sungguh telah mengalami kerugian yang besar.
Tidak mengapa jika seorang muslim memberikan ucapan selamat kepada sahabatnya dan saudaranya ketika bulan Ramadhan. Seorang muslim mengucapkan selamat sebagai ungkapan kebahagiaan. Setiap muslim harus bahagia dan senang dengan nikmat Allah berupa diberikan kesempatan bertemu dengan bulan mulia dan penuh berkah ini.[3] Untuk membuktikan kebahagiaan tersebut, diperlukan ilmu. Para ulama terdahulu, misalnya, menyambut bulan Ramadhan dengan tobat dan amal shalih. Dari sini tergambar, betapa pentingnya ilmu yang bersumber dari penjelasan sumber yang benar, yaitu Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah, berdasarkan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.[4] Lebih detail tentang hal ini, antum dapat membaca kembali Majalah HSI edisi 15, 26, dan 39.
Jadikan Ia Istimewa
Kesibukan duniawi sering kali datang beruntun tiada henti, tetapi sebagian orang semata menunggu datangnya jeda masa agar bisa beribadah. Mereka tidak berusaha meluangkan waktu secara khusus agar tak luput dari serangkaian kesempatan ibadah pada bulan Ramadhan.
Bulan Ramadhan, yang bertabur peluang emas, sungguh sayang jika dilewatkan tanpa usaha maksimal. Jika pada bulan-bulan lainnya seorang muslim tetap diwajibkan ajeg dalam ibadah, maka pada bulan yang istimewa, kualitas dan kuantitas ibadah tentu perlu ditingkatkan secara signifikan. Peningkatan ini bukan dorongan emosional belaka, melainkan merupakan bentuk pengamalan ajaran agama, sesuai dengan petunjuk dan sunnah nubuwwah.
1. Ibadah dan taqarrub ilallah
Dalam banyak riwayat, beliau memperlihatkan bahwa Ramadhan adalah waktu yang sangat mulia untuk memperbanyak ibadah, amal shalih, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri meningkatkan berbagai bentuk ibadahnya di bulan Ramadhan, baik shalat malam, membaca Al-Qur'an, memperbanyak doa, hingga sedekah. Dengan demikian, semangat beribadah di bulan Ramadhan bukan hanya dianjurkan, tetapi juga memiliki landasan syar'i yang kuat sebagaimana ditunjukkan dalam sunnah Nabi.[5]
2. Kedermawanan
Disebutkan dalam suatu hadits yang diceritakan oleh Abdullah bin Abbas,
كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أجْوَدَ النَّاسِ، وكانَ أجوَدُ ما يَكونُ في رَمَضَانَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan di antara seluruh manusia, dan beliau menjadi yang paling dermawan ketika bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya waktu untuk menjalankan ibadah wajib, tetapi juga momen untuk memaksimalkan amal-amal sunnah dan memperbanyak perbuatan baik. Teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi contoh nyata bagi umatnya untuk meningkatkan kepedulian sosial pada bulan Ramadhan.
3. Target yang tinggi
Membuat agenda dan merencanakan aktivitas sebelum memasuki bulan Ramadhan adalah langkah nyata untuk menunjukkan keseriusan dalam meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Dengan merencanakan kegiatan seperti melaksanakan shalat tarawih berjamaah hingga selesai setiap malam, seorang muslim berusaha memaksimalkan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan ini.
Selain itu, niat untuk mengkhatamkan Al-Qur'an, baik satu kali atau lebih, merupakan bentuk upaya untuk mendalami dan menghidupkan wahyu Allah pada bulan dilipatgandakannya pahala.
Hadir di majelis ilmu juga merupakan persiapan penting untuk memperdalam pengetahuan agama dan menjaga hati agar tetap fokus pada tujuan spiritual. Setiap niat dan aktivitas yang direncanakan dengan sungguh-sungguh tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga mendatangkan pahala yang berlipat ganda, demi meraih keberkahan penuh.[6]
Bukan “Lomba Makan”
Puasa pada bulan Ramadhan, secara lahiriah, bertujuan untuk menahan diri dari makan dan minum sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Akan tetapi, jika amaliah puasa tidak diiringi dengan pengelolaan pola hidup yang seimbang, serentetan efek negatif telah memata-matai. Contohnya, kenaikan berat badan. Alih-alih turun karena jatah waktu makan berkurang, sebagian orang malah melihat jarum timbangan badannya bergerak jauh ke kanan.
Fenomena mencengangkan lainnya, yang masih berkisar pada urusan perut, adalah pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan. Sejak berbuka hingga sahur, segala rupa lauk serta penganan terhampar di meja makan. Konsumsi makanan menjadi lebih variatif, sehingga pola konsumsi meningkat tanpa disadari.[7] Alhasil, anggaran makanan bulanan yang seharusnya bisa dihemat, justru menjebol isi dompet. Rentang antara maghrib sampai jelang subuh seakan menjadi “lomba makan” karena pagi hingga petang hasrat-makan itu harus ditahan.
Aktivitas mubah, apa pun bentuknya, dapat mengurangi nilai spiritual puasa jika dilakukan secara berlebihan. Makan, ngabuburit, atau buka bersama boleh saja dilakukan selama Ramadhan, tetapi hendaknya dibatasi agar tujuan utama pensyariatan berbagai ibadah pada bulan Ramadhan tetap dapat tercapai.
Sebagian orang memaknai puasa secara fisik semata, yaitu upaya menjalankan perintah Allah dengan menahan makan dan minum sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Beberapa ulama mengkritik pandangan ini sebagai sekadar pemindahan aktivitas makan dan minum dari siang ke malam. Sungguh memilukan tatkala di sekeliling kita, utamanya di kota-kota besar, waktu buka puasa seakan menjadi ajang “balas dendam” untuk melahap semua makanan dan minuman yang ada di depan mata. Ikhwah fiddin, ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ما ملأَ آدميٌّ وعاءً شرًّا مِن بطنٍ ، بحسبِ ابنِ آدمَ أُكُلاتٌ يُقمنَ صُلبَهُ ، فإن كانَ لا محالةَ فثُلثٌ لطعامِهِ وثُلثٌ لشرابِهِ وثُلثٌ لنفَسِهِ
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari sebuah perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas”. (HR. Tirmidzi no. 2380, Nasa’i no. 6769, dan Ahmad no. 17186. Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.)
Proporsi ideal terkait pola makan dirangkum oleh Ibnul Qayyim rahimahullah berdasarkan hadits Nabi di atas:[8]
- Seseorang cukup makan beberapa suap yang dapat menopang tubuhnya, sehingga kekuatannya tidak melemah dan tubuhnya tetap stabil.
- Jika kebutuhan tubuhnya lebih banyak dari itu, dia mengatur konsumsinya menjadi: sepertiga isi perut untuk makanan, sepertiga lainnya untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk bernapas.
- Panduan ini adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh dan hati.
- Ketika perut penuh dengan makanan, ruang untuk minuman menjadi sempit. Jika minuman ditambahkan, ruang untuk bernapas pun berkurang. Hal ini menyebabkan rasa sesak dan kelelahan, seperti seseorang yang harus mengangkut beban berat.
- Kebiasaan makan berlebihan juga dapat merusak hati, membuat tubuh malas dalam melaksanakan ibadah, dan mendorong tubuh untuk cenderung pada hawa nafsu yang dipicu oleh rasa kekenyangan.
Kesimpulannya, perut yang diisi berlebihan dengan makanan dapat memberikan dampak buruk bagi hati dan tubuh.
Jika seseorang makan hingga perutnya penuh, dia akan kekenyangan, sehingga dia sulit untuk beribadah, sifat sombong akan muncul dalam dirinya, hawa nafsunya terpicu, waktu tidurnya meningkat, dan rasa malas akan menjangkitinya. Dalam situasi tertentu, kondisi kekenyangan ini dapat berubah hukumnya dari sekadar makruh menjadi haram, tergantung pada persentase dampat negatif yang ditimbulkannya. Hal tersebut senada dengan keterangan dari Ibnu Hajar rahimahullah.[9]
Ar-Rabi’ meriwayatkan bahwa gurunya, yaitu Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, pernah menuturkan,
لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة.
“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, kecerdasan menghilang, tubuh ingin sering tidur, dan diri lemah untuk beribadah.”
Juga dari Ar-Rabi’, beliau menuturkan, "Aku mendengar Imam Syafi'i berkata, 'Aku tidak pernah makan sampai kenyang selama enam belas tahun, kecuali satu kali. Setelah kekenyangan kali itu, aku memasukkan jari ke tenggorokanku untuk memuntahkannya.'”[10]
Kisah ini menggambarkan ketakwaan Imam Syafi'i yang luar biasa, termasuk dalam urusan makanan. Beliau menjaga dirinya agar kekenyangan karena tak ingin semangat ibadahnya berkurang.
Kendati demikian, hal ini berlaku jika seseorang membiasakan diri untuk kekenyangan setiap kali makan atau pada sebagian besar waktu makannya. Adapun jika dia hanya sesekali kekenyangan, maka -- menurut Ibnul Qayyim -- itu tidak menjadi masalah. Contohnya:
- Abu Hurairah pernah meminum susu di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Abu Hurairah berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak menemukan ruang lagi (di perutku) untuk susu ini.”
- Para sahabat pernah makan beberapa kali di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga mereka kenyang.
Selain pemaparan di atas, juga perlu diperhatikan bahwa kekuatan fisik bukan semata ditopang oleh kuantitas asupan, melainkan juga oleh kualitasnya. Oleh karenanya, jika ada orang yang beralasan bahwa dia sengaja makan hingga kekenyangan agar fisiknya kuat, itu keliru karena sebanyak apa pun makanan jika kualitas gizinya tidak baik dan dia tidak dapat dicerna secara maksimal, maka manfaatnya pun tidak signifikan.[11]
Waspadai Pengikis Pahala
Selain mengajarkan amalan-amalan yang dapat mendatangkan pahala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan umatnya tentang hal-hal yang akan mengurangi pahala puasa. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapapun yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang haram, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minuman.” (HR. Bukhari no. 1903)
Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari ini mengingatkan kita bahwa puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk dosa, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Hal ini mengisyaratkan bahwa puasa yang diterima oleh Allah adalah puasa yang tidak hanya menahan fisik dari makan dan minum, tetapi juga menjaga hati dan lisan dari segala bentuk kemaksiatan.
Dalam hadits tersebut terdapat lafal القول الزور(al-qaul az-zur), yang berarti seluruh perkataan haram dan maksiat. Dengan demikian, ucapan yang terlarang ketika seseorang berpuasa mencakup segala bentuk ucapan yang tidak sesuai dengan adab dan ajaran Islam, seperti gosip, fitnah, atau kata-kata kasar.
Adapun lafal والعمل به(wal 'amala bihi), yang berarti seluruh perbuatan haram dan maksiat, mencakup segala bentuk perbuatan yang menyimpang dari hukum syariat, seperti berbohong, berbuat zalim, atau melakukan tindakan yang merusak hubungan di antara manusia.
Kesimpulannya, dua hal tersebut, baik perkataan maupun perbuatan merupakan bentuk kemaksiatan yang dapat mengurangi nilai dan kesempurnaan puasa. Syaikh Al-Khatslan menjelaskan bahwa seseorang yang berpuasa tetapi tidak menjaga adab-adab puasa, misalnya terjerumus dalam kemaksiatan yang berupa perkataan maupun perbuatan, sesungguhnya telah meremehkan dan tidak menghormati puasa sebagai ibadah yang mulia. Puasanya tersebut sah secara syariat dan dia terbebas dari kewajiban qadha, tetapi dia tidak mendapat pahala. Puasa yang bentuknya hanya menahan diri dari makan dan minum, tanpa menjaga kesucian lisan dan perbuatan, tidak akan memberi manfaat yang berarti karena puasa yang sesungguhnya adalah puasa yang menjaga jiwa dan raga dari segala bentuk dosa.[12] Terkait dengan hal ini, Majalah HSI telah menerbitkan e-book dengan 10 Perusak Pahala Puasa Ramadhan yang dapat diunduh di sini.
Ramadhan Sebagai Titik Balik
Ramadhan, walaupun memiliki batas akhir, tetapi bukanlah ujung amal seorang mukmin. Selama nyawa masih belum berpisah dari jasad, seorang mukmin terus beramal shalih untuk mengimplementasikan firman Allah Ta’ala,
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu.” (QS. Al-Hijr: 99)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfiman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Apabila bulan Ramadhan berakhir, ingatlah bahwa ibadah puasa, shalat sunnah, tilawah, dan sedekah masih bisa dilakukan pada bulan-bulan yang lain. Ada puasa sunnah Senin-Kamis, ada shalat tahajud, dan sebagainya.[13]
Ramadhan adalah madrasah untuk meningkatkan iman dan takwa. Dalam bulan ini, setiap muslim diajak untuk menahan hawa nafsu, mengendalikan emosi, dan memperbanyak amal kebaikan. Ramadhan tidak hanya mengajarkan disiplin melalui ibadah puasa, tetapi juga menanamkan kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama.
Siapakah yang benar-benar lulus dari Madrasah Ramadhan? Yaitu orang yang mampu membawa nilai-nilai Ramadhan ke dalam kehidupannya sehari-hari, meski bulan Ramadhan telah berlalu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Penutup
Jangan biarkan bulan Ramadhan berlalu tanpa makna yang mendalam. Ikhlaskan niat, susun rencana yang jelas, tetapkan target ibadah, dan evaluasi pencapaian dari tahun sebelumnya agar kita dapat mengoptimalkan setiap detik pada bulan penuh berkah ini.
Bayangkan andai Ramadhan kali ini adalah yang terakhir,[14] sehingga setiap amal ibadah yang dilakukan harus maksimal. Jangan sampai kita lengah atau menunda-nunda hingga tiba akhir bulan. Sungguh, kesempatan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah sangatlah berharga.
Persiapkan diri dengan penuh semangat, tingkatkan ibadah dan ketaatan sejak awal, serta ikatlah tekad dan ikhtiar lebih kuat lagi agar kita dapat meraih keberkahan yang sempurna pada bulan yang istimewa.
Semoga tulisan ini menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua. Akhir kata, kami memohon kepada Allah dengan segala asma’ dan sifat-Nya agar memberkahi dan meridhai tulisan ini. Wabillahit taufiq ila aqwamith thariq.
Referensi
- Shahih Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, As-Sulthaniyah, Tahqiq beberapa ulama, Mesir, 1311 H, Maktabah Syamilah.
- Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj, Isa Al-Babi Al-Habitual, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Kairo, 1374 H / 1955 M, Maktabah Syamilah.
- Sunan Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dan Muhammad Fuad Abdul Baqi, Isa Al-Babi Al-Halabi, Cet. 2, Kairo, 1395 H / 1975 M, Maktabah Syamilah.
- Sunan Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib, Tahqiq Hasan Abdul Mun’im Syalabi, Muassasah Ar-Risalah, Cet. 1, Beirut, 1421 H / 2001 M, Maktabah Syamilah.
- Musnad Ahmad, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, Dar Al-Hadits, Cet. 1, Kairo, 1416 H / 1995 M, Maktabah Syamilah.
- Arba’un Darsan liman Adraka Ramadhan, Abdul Malik Al-Qasim, Dar Al-Qashim, Riyadh, tanpa tahun.
- Majalis Syahri Ramadhan, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Al-Khairiyah, Qasim Unaizah, Cet. 8, 1443 H / 2021 M.
- 'Uqud Al-Juman fi Durus Syahri Ramadhan, Prof. Dr. Sa'ad bin Turki Al-Khatslan, Dar Athlas Al-Khadra, Riyadh, Cet. 1, `1444 H / 2023 M.
- Durus fi Ramadhan, Abdul Aziz bin Abdullah Ar-Rajihi, tanpa tahun.
- Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Muhammad bin Abu Bakr Ibnul Qayyim, Dar Atha’at Ilmi, Riyadh, Cet. 3, 1440 H / 2019 M, Maktabah Syamilah.
- Fathul Bari bi Syarh Al-Bukhari, Ahmad bin Ali Ibnu Hajar, Maktabah As-Salafiyah, Mesir, Cet 1, 1390 H, Maktabah Syamilah.
- Siyar A’lam Nubala, Muhammad bin Ahmad Ad-Dzahabi, Darul Hadits, Kairo Mesir, 1427 H / 2006 M, Maktabah Syamilah.
- Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh, Cet. 1, 1415 H / 1995 M, Maktabah Syamilah.
- Bulan Ramadhan dan Kebahagiaan Seorang Muslim, Royanullah dan Qomari, JPIB: Jurnal Psikologi Islam dan Budaya, Vol. 2, No. 2, 2019 M.
- Budaya Konsumen Bulan Ramadhan Bagi Masyarakat Modern di Indonesia, Arif Hidayat, IBDA’: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya, Vol. 14, No. 2, 2016 M.n