Generasi Cahaya
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Ramadhan, Waktunya Healing Sebenarnya

Reporter: Putri Oktaviani

Redaktur: Gema Fitria


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah: 183]


Usia remaja identik dengan gejolak. Perasaan mudah berubah, semangat kadang tinggi lalu tiba-tiba lelah tanpa sebab yang jelas. Saat rumah belum terasa nyaman, pilihan yang muncul sering kali sederhana: pergi, nongkrong, atau menjauh sejenak. Istilahnya healing. Padahal tidak semua yang disebut healing benar-benar menyembuhkan. Ada yang hanya mengalihkan, bukan memulihkan. Di tengah pencarian itu, Ramadhan hadir membawa suasana yang berbeda. Lebih tenang, lebih teratur, seolah memberi jeda dari riuhnya dunia.

Allah juga telah menegaskan tujuan puasa, “...agar kamu bertakwa” [QS. Al-Baqarah: 183]. Artinya, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan membangun kendali diri dan mendekat kepada-Nya. Takwa tidak tumbuh dari pelarian, melainkan dari hati yang belajar menahan diri dan kembali kepada Allah. Di situlah healing yang sebenarnya, yaitu ketika hati lebih terjaga dan langkah lebih terarah.

Mengurangi yang Tidak Perlu

Ramadhan mengajarkan kita untuk mengurangi hal-hal yang tidak membawa manfaat. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari kebiasaan yang melelahkan hati.

Ukhtuna Diah Fika, santri HSI kelas 1 SMA, mencoba “puasa media sosial” saat Ramadhan tahun lalu. Awalnya, itu saran dari ibunya agar lebih hemat kuota. Namun, ternyata dampaknya lebih dari sekadar penghematan.

“Awalnya susah banget. Rasanya tangan gatal mau buka notifikasi. Tapi lama-lama jadi biasa. Malah sampai sekarang jadi jarang posting,” ujarnya. Ia merasa tidurnya lebih teratur dan pikirannya lebih tenang.

Akhuna Fitrah, santri dari Bekasi yang akan lulus SMA, juga merasakan hal serupa. Biasanya ia menghabiskan sore Ramadhan dengan ngabuburit tanpa tujuan jelas. “Sebenarnya nggak ada faedahnya, cuma muter-muter,” katanya jujur. Ramadhan lalu ia isi dengan mengikuti kajian remaja. “Capeknya beda. Lebih bermakna. Masih bisa ketemu teman, malah nambah teman baru,” tuturnya.

Mengurangi nongkrong yang tidak perlu atau membatasi media sosial bukan berarti anti pergaulan. Justru itu cara menjaga energi agar tidak habis untuk hal yang sia-sia. Ramadhan memberi kesempatan untuk memilah: mana yang penting, mana yang bisa dikurangi.

Menambah yang Menguatkan

Jika selama ini waktu lebih banyak dihabiskan di luar rumah, Ramadhan seperti mengajak kita kembali ke dalam. Ukhtuna Naima, 15 tahun dari Pasuruan, awalnya merasa bosan karena lebih banyak di rumah. Sekolah banyak libur, kegiatan berkurang. Namun, perlahan ia menemukan sisi lain Ramadhan.

Ia jadi lebih sering berbincang dengan ayah dan ibunya. Lebih banyak melakukan hal bersama dua kakaknya. Bahkan ia belajar menyiapkan takjil dan menguasai beberapa resep sederhana. Di akhir Ramadhan, ia ikut membagikan zakat bersama kakaknya. “Biasanya jarang ngapa-ngapain bareng karena sama-sama sibuk,” katanya. Ramadhan membuat kebersamaan itu terasa lebih nyata.

Akhuna Dwi, santri yang tinggal di Bogor, memilih menata ulang jadwalnya. Pagi untuk sekolah dan membantu pekerjaan rumah. Sore istirahat dan persiapan berbuka. Malam untuk tarawih dan tadarus.

“Kalau sudah ada jadwal, rasanya lebih terarah. Nggak kebanyakan rebahan,” ujarnya. Ia bahkan menargetkan khatam Al-Qur’an lima kali selama Ramadhan. Baginya, target sederhana itu membuat harinya lebih produktif.

Menambah yang menguatkan tidak harus sesuatu yang besar. Kadang cukup dengan pulang lebih cepat, duduk lebih lama bersama keluarga, atau disiplin menjaga waktu ibadah.

Amal Simpel yang Sering Terlupa

Sering kali kita membayangkan pahala besar hanya datang dari amal besar. Padahal di bulan Ramadhan, hal sederhana pun bernilai besar dari pelipatgandaan.

Membantu ibu menyiapkan berbuka. Mencuci piring tanpa diminta. Bangun lebih awal untuk menata meja sahur, atau banyak pilihan lainnya. Ukhtuna Amelia yang baru kelas 2 SMP dan ikut HSI sejak dua tahun lalu, mengaku awalnya membantu sang mama karena diminta. Lama-lama, ia merasa ringan melakukannya. “Mama kelihatan senang,” katanya. Dari situ ia merasa hubungannya dengan sang mama lebih dekat.

Lia, begitu Ukhtuna Amelia akrab disapa di rumahnya, juga bercerita bahwa ia menyadari bahwa suasana rumahnya ternyata demikian hangat apalagi sejak ia peduli untuk membantu kesibukan-kesibukan di rumah. Obrolan kecil di dapur menjelang berbuka menjadi momen yang ia tunggu. “Biasanya habis itu mama suka cerita-cerita,” ujarnya. Dari hal sederhana itu, ia belajar bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tapi juga tentang memperbaiki sikap dan menghadirkan diri untuk keluarga. “Saya harus banyak bersyukur masih memiliki mama atau keluarga yang bisa saya ajak bicara,” ungkapnya.

Ada pula anak muda yang memanfaatkan Ramadhan untuk berlomba dalam kebaikan bersama saudara. Ukhtuna Salma dan Ukhtuna Zahra, dua kakak beradik yang tinggal di Pekanbaru itu, membuat target murāja’ah bersama. Mereka saling menyimak hafalan dan mencatat progres di dinding kamar. Ide ini pertama dilontarkan ayah mereka yang bahkan menjanjikan hadiah jika target tercapai.

“Kalau sendirian suka malas. Kalau bareng jadi semangat,” ujar Salma. “Meskipun awal tujuannya dapet hadiah…hihihi…,” timpal Zahra sang adik. Keduanya saat ini memang tidak tercatat sebagai santri HSI. Zahra sempat mendaftar di Angkatan 231 tetapi Rasib di silsilah kedua dan belum berani kembali mengambil program mengulang silsilah karena merasa belum bisa membagi waktu. Tapi keduanya mengaku akan segera mendaftar agar tetap bisa belajar seperti sang bunda yang tekun di Angkatan 211.

Ternyata, healing bisa sesederhana duduk bersama keluarga dan membaca Al-Qur’an. Tidak perlu suasana ramai. Tidak perlu pergi jauh. Cukup hati yang tenang, terikat bersama keluarga, dan tunduk pada ketaatan.

Ramadhan membuka banyak kesempatan kita mengerjakan hal-hal sederhana tapi menenangkan karena hakikat ketenangan adalah bersandar dan taatnya kita pada Sang Maha Pencipta. Kadang yang kita butuhkan bukan suasana baru, tapi hati yang diperbarui. Jika selama ini rumah terasa membatasi, mungkin Ramadhan ingin menunjukkan bahwa rumah juga bisa menjadi tempat tenang, mengasah peduli, dan bertumbuh.

Healing bukan selalu tentang menjauh. Kadang justru hadir saat kita memilih untuk mendekat. Mendekat kepada keluarga. Dan yang paling utama, mendekat kepada Allah. Ramadhan adalah momen itu. Bukan untuk lari, tapi untuk kembali.


854