Ramadhan, saatnya Detoks Medsos
Penulis: Hawwina Fauzia Aziz
Editor: Faizah Fitriah
Hidup di era digital membawa banyak pengaruh pada diri manusia. Bersamaan dengan tersebarnya kemudahan-kemudahan yang ada, juga berjuta hal positif lainnya, mirisnya, tak sedikit dari kita yang justru menjadi “korban” dari imbas negatifnya akibat kurangnya pengendalian diri dalam penggunaan media sosial.
Sebagai seorang Muslimah, bermuhasabah diri merupakan hal esensial (yang perlu kita lakukan) dalam setiap fase kehidupan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
ييَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."[1]
Akhawaati fillaah, perlu kita sadari bahwa untuk sampai dan berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan ini, benar-benar merupakan suatu nikmat dari Allah subhanahu wata’ala yang tidak ternilai harganya. Berapa banyak saudara-saudara kita yang masih berjumpa dengan Ramadhan di tahun lalu, namun jatah usia yang diberikan-Nya tidak menyampaikannya pada Ramadhan di tahun ini. Begitu pula, berapa banyak dari kita yang mungkin sudah berpuluh-puluh kali melewati bulan Ramadhan, namun belum sepenuhnya menyadari keutamaannya, belum totalitas dalam memanfaatkan momennya, bahkan menyia-nyiakannya untuk hal yang tidak bermanfaat yang merugikan dirinya kelak di akhirat, wal ‘iyaadzu billaah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara (tanda) baiknya ke-Islam-an seseorang adalah dia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Tirmidzi).[2] (HR. Tirmidzi no. 2317).
Akhawaati fillaah, sudahkah kita menyadari dahsyatnya fitnah gawai yang ada dalam genggaman ini? Banyak sekali hal-hal yang sejatinya tidak baik menurut agama, namun seakan menjadi hal yang "biasa" ketika seseorang terlalu sering menemuinya di media sosial. Sebagai contoh: musik, aurat, konten-konten tidak mendidik, tren tidak berfaedah, quotes-quotes berupa opini yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kredibilitas kreatornya, dan sebagainya. Sungguh, terlalu banyak hal sia-sia yang bertebaran di dunia maya, yang jika kita tidak mampu mengontrol diri dengan bijak, maka akan begitu dahsyat efek negatif yang berimbas kepada diri kita. Semenit dua menit tidak akan terasa, hingga terkumpul menjadi berjam-jam waktu dari jatah usia kita habis hanya untuk scrolling medsos.
Bisa kita bayangkan, betapa meruginya orang-orang yang masih terlalaikan dengan hal yang sia-sia di bulan Ramadhan yang mulia ini. Bulan di mana kita semua berkesempatan besar untuk meraih derasnya ampunan juga pemberat amal kebaikan untuk akhirat kelak, namun kesempatan ini terlewatkan begitu saja. Sedangkan, sungguh, kita tidak pernah tahu, apakah kita masih akan berjumpa dengan Ramadhan selanjutnya? Ataukah ini yang terakhir untuk kita?
Akhawaati fillah, selagi raga kita masih bernapas, maka belum ada kata terlambat untuk bertobat, dan Ramadhan ini adalah momen yang sangat mendukung bagi kita untuk bermuhasabah diri. Mau sampai kapan waktu kita habis untuk hal yang sia-sia? Mau sampai kapan diri kita menjadi target konsumen dari konten-konten tidak berfaedah itu? Mari kita usahakan menjadi Muslimah yang all out memperbaiki diri dengan mengatur konsumsi digital kita, dan “lulus” dari bulan Ramadhan sebagai Muslimah yang terbiasa menyibukkan diri pada ilmu dan hal bermanfaat lainnya.
Berikut beberapa tips dalam mengatur konsumsi digital yang bisa kita terapkan, untuk membantu diri kita menjadi pribadi yang khusyuk beribadah di bulan Ramadhan, dan membangun kebiasaan yang lebih produktif untuk ke depannya:
1. Sadari dan Evaluasi Kebiasaan
Gunakan fitur screen time di HP untuk melihat berapa lama waktu yang dihabiskan di media sosial. Berlatihlah untuk mengurangi durasi itu secara perlahan di setiap harinya. Sadarilah, bahwa nikmat waktu dan kesehatan yang kita miliki ini adalah hal berharga yang diinginkan oleh mereka yang sedang duji dengan sakit, dan mereka yang jasadnya telah tertimbun tanah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu: yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”.[3] (HR. Bukhari no. 6412).
2. Batasi Akses dengan Aturan Waktu
Atur batas waktu harian untuk aplikasi media sosial (misalnya maksimal 1 jam sehari). Gunakan teknik "No Social Media Before X", misalnya tidak membuka media sosial sebelum menyelesaikan membaca 1 juz Al-Qur’an, merangkum 1 kajian atau membaca 10 halaman buku. Bisa juga dengan menetapkan waktu tertentu untuk mengecek media sosial, misalnya setelah shalat Ashar dan sebelum tidur, pasang timer selama 30 menit. Bayangkan, bahwa seseorang yang mengkhususkan waktunya selama satu jam saja dalam sehari untuk hal bermanfaat, maka ia akan mendapatkan 365 jam waktu produktif dalam setahunnya.
3. Terapkan Digital Detox Secara Bertahap
Jangan ragu untuk mulai uninstall aplikasi-aplikasi yang membuat kecanduan, unfollow, delete, atau mute akun-akun dan juga kontak yang kita sadari tidak terlalu banyak manfaat yang bisa kita ambil darinya, atau bahkan yang hanya berisi hal-hal sia-sia. Kita usahakan untuk membersihkan pandangan dan pendengaran kita secara totalitas dari segala hal yang berpotensi mengotori hati selama bulan Ramadhan ini dan seterusnya.
4. Buat Jadwal Aktivitas Harian atau Daftar Aktivitas Offline yang Positif
Buatlah jadwal aktivitas harian sedari bangun tidur hingga kembali tidur malam, beserta detail waktu dan target yang didapatkan, atau tentukan aktivitas offline apa saja yang ingin dilakukan sebagai pengganti kebiasaan scrolling media sosial. Jika ingin bekerja atau berkarya, aktifkan mode do not disturb atau silent mode pada gawai dan kita bisa gunakan metode pomodoro (beraktivitas 25 menit, lalu istirahat 5 menit secara berulang) agar tetap fokus dan tidak terdistraksi untuk membuka medsos.
5. Pasang Mindset dan Gunakan Media Sosial dengan Lebih Sadar
Ubah tujuan penggunaan media sosial, misalnya hanya untuk belajar, bekerja, atau mencari inspirasi. Sebelum membuka media sosial, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini benar-benar perlu?” Jika sudah mulai merasa terlarut dalam laman media sosial yang tidak bermanfaat, katakan pada diri sendiri bahwa, “Ini tidak akan ada habisnya, ini hanya akan menyita waktuku, tidak semua hal harus kusimak dan aku tidak akan mendapat kerugian apapun jika aku melewatkan hal-hal ini”.
6. Manfaatkan Teknologi dengan Sadar dan Bijak, Yakni untuk Kebaikan
Banyak aplikasi yang bisa kita manfaatkan untuk meraih banyak kebaikan selama Ramadhan, semisal aplikasi “Qur’an Tadabbur” oleh Ustaz Dr. Firanda Andirja M.A. hafizhahullah untuk membaca Al-Qur’an beserta tafsirnya, agar kita tetap bisa menyelesaikan target tilawah dan mentadaburi Al-Qur’an meski sedang haid, termasuk juga media sosial. Pilih akun-akun bermanfaat untuk di-follow sebagai sarana untuk mengakses cuplikan nasihat, faedah dan info kajian-kajian online.
Dalam sebuah platform tanya jawab, seseorang yang membagikan pengalamannya mengenai dampak positif yang dirasakan setelah mencoba untuk berpuasa medsos selama beberapa waktu, di antara yaitu; menjadi lebih tenang, lebih produktif, fokus pada proses diri sendiri dan tidak membandingkan diri dengan yang lain, memahami bahwa hidup bukan untuk “kejar-kejaran”, meredam peluang untuk overthinking (memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan secara berlebihan), oversharing (membagikan informasi pribadi secara berlebihan) dan mengurangi intensitas mengeluh.[4]
Bagaimanapun, nikmat sehat seringnya tidak akan benar-benar dirasakan kecuali oleh orang-orang yang sedang sakit. Nikmat fisik yang lengkap serta kekuatan untuk beribadah tidak akan benar-benar dihargai kecuali oleh mereka yang tidak memilikinya atau yang telah tua renta dan sakit-sakitan. Nikmat sempat dan waktu luang tidak akan benar-benar dihargai kecuali oleh mereka yang telah tertimbun tanah.
Mungkin seseorang mengatakan, "Ah, hanya lima menit aku gunakan untuk mendengarkan (hal yang sia-sia)", "Ah, hanya satu menit aku gunakan untuk menonton (apapun itu hal yang sia-sia, bahkan yang diharamkan-Nya)." Bukankah Allah subhanahu wata’ala berfirman,
حَتّٰى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِۙ
"Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia)..
لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ
...agar aku dapat beramal salih yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan."[5]
Ya, waktu memang terasa tidak berharga kecuali bagi mereka yang telah tertimbun tanah, mereka juga berangan-angan diberi lima menit saja kembali ke dunia untuk bertaubat, beramal salih dan bertobat. Kita tak pernah tahu, sampai kapan jatah usia kita tersisa. Mari, kita manfaatkan momen Ramadhan ini untuk totalitas dalam memperbaiki diri, dimulai dari bermuhasabah diri, sampai kepada detoksifikasi konsumsi digital kita. Semoga Allah beri taufik kepada kita semua dan semoga kita termasuk dari hamba-hamba-Nya yang mendapat ampunan juga derasnya kebaikan di bulan yang mulia ini, aamiin.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim
- Al-Fauzan, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah. Al-Minhatu ar-Rabbaaniiyatu fii Syarhi al-Arba’iin an-Nawawiyyah. Kairo: Daar al-Atsariyyah li an-Nasyr wa at-Tauzii’, 1432 H.
- Al-Ju’fi, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Shahih al-Bukhari. Damaskus: Daar Ibnu Katsir, 1414 H.
- Mesta, Diakses dari https://id.quora.com/Apakah-Anda-pernah-puasa-medsos-tidak-bermain-media-sosial-selama-1-3-bulan-bahkan-lebih-dan-apa-dampak-positif-yang-Anda-rasakan