Ramadhan 1447 H: Catatan dari Meja Data hingga Pintu Penerima
Reporter: Leny Hasanah
Editor: Subhan Hardi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Di bulan Ramadhan, kebaikan sering kali bergerak dalam senyap. Sebagian orang menyiapkan makanan untuk berbuka, sebagian lainnya menyalurkan bantuan, dan sebagian lagi bekerja di balik layar agar semuanya sampai kepada yang membutuhkan.
Bagi banyak muslim, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah pribadi, tetapi menjadi momentum memperluas manfaat bagi sesama. Kesadaran akan keutamaan amal di bulan ini mendorong berbagai pihak berlomba menghadirkan program kebaikan dan membantu kepada sesama.
Salah satunya dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) HSI Berbagi, yang setiap tahun menyelenggarakan Program Ramadhan.
Tahun ini, LAZ HSI Berbagi menghadirkan enam program utama: Berbagi Ifthar Ramadhan (BIRR), Berbagi Paket Sembako (BPS), Berbagi Paket I’tikaf, Bantuan Tunai Ramadhan, Fidyah, dan Zakat Fitrah.
Pada dua pekan pertama Ramadhan, dua program pertama menjadi prioritas.
Hingga 2 Maret 2026, program BIRR telah menyalurkan dana sebesar Rp183.395.000,00 untuk 9.513 porsi ifthar. Penyaluran dilakukan bersama 24 mitra/lembaga yang tersebar di 10 provinsi, yaitu Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara, program BPS telah menjangkau 1.588 penerima manfaat. Setiap paket berisi kebutuhan pokok di antaranya beras 5 kilogram, minyak goreng 1 kilogram, dan gula pasir 1 kilogram. Program ini disalurkan melalui 25 mitra yayasan di 9 provinsi, dengan total anggaran Rp212.700.000. Wilayah distribusi meliputi Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Secara keseluruhan, 11.101 penerima manfaat telah merasakan program berbagi yang menjangkau 10 provinsi di Indonesia. Namun, sampainya bantuan hingga ke tangan para penerima bukanlah hasil kerja satu pihak semata. Di balik layar program Ramadhan LAZ HSI Berbagi, terdapat kerja kolektif banyak orang, mulai dari perencanaan di meja kerja hingga distribusi ke pintu rumah para penerima.

Kebaikan dari Balik Meja
Sebelum paket sembako dibagikan dan hidangan ifthar tersaji menjelang maghrib, ada proses panjang yang dikerjakan jauh dari sorotan.
Ketua Program Ramadhan LAZ HSI Berbagi, Akhuna Cipto Roso, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan diawali dari tahap perencanaan. Tim terlebih dahulu menyusun anggaran, kemudian menentukan calon mitra berdasarkan rekomendasi yang masuk. Setelah itu donasi dibuka kepada para muhsinin.
“Setelah dana terkumpul, kami menentukan alokasi untuk masing-masing mitra yang telah terverifikasi,” ujarnya.
Mitra di daerah kemudian melakukan pendataan calon penerima manfaat sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Data tersebut tidak langsung digunakan, melainkan kembali diverifikasi oleh tim pusat LAZ HSI Berbagi agar bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak.
“Setelah data dikumpulkan oleh mitra, tim pusat kembali melakukan pengecekan agar penyaluran benar-benar tepat sasaran,” katanya.
Sebagian besar mitra yang terlibat memang berasal dari jaringan yang telah dikenal sebelumnya. Meski demikian, proses verifikasi tetap dilakukan, termasuk pengecekan legalitas lembaga, kesiapan tim, serta komitmen menjalankan prosedur penyaluran dan pelaporan.
Menurut Akhuna Cipto, mitra yang dipilih harus memiliki sejumlah kriteria, seperti amanah, memahami kondisi masyarakat setempat, memiliki tim yang jelas, serta sejalan dengan visi dan misi yayasan.
Menebar Jaringan di Berbagai Daerah
Dalam praktiknya di lapangan, proses tersebut dijalankan oleh para mitra yang mengenal kondisi masyarakat secara langsung. Mereka menjadi penghubung penting antara bantuan yang dihimpun di pusat dengan warga yang membutuhkan di daerah.
Salah satunya Yayasan Mush’ab Bin Umair Indonesia, yang kembali terlibat dalam program Ramadhan tahun ini.
Ketua Yayasan, Ukhtuna Ika mengungkapkan bahwa informasi mengenai program Ramadhan tahun ini mereka peroleh dari seorang verifikatur lapangan relawan LAZ HSI Berbagi yang juga aktif di lingkungan yayasan.
“Alhamdulillah, tahun ini kami kembali menjadi mitra Ramadhan. Informasinya kami dapatkan dari verifikator lapangan relawan LAZ HSI Berbagi yang juga menjadi relawan di tempat kami,” ujarnya.
Bagi mereka, kerja sama ini bukan yang pertama. Sejak tahun 2021, yayasan ini telah beberapa kali terlibat dalam program Ramadhan bersama LAZ HSI Berbagi. Namun, tahun ini ada sedikit perbedaan.
“Proses seleksi menjadi lebih ketat. Ada persyaratan administrasi yang perlu dilengkapi, termasuk legalitas lembaga dan penandatanganan MoU (nota kesepahaman),” katanya.
Dalam menentukan penerima bantuan, yayasan menggunakan dua jalur pendataan: seleksi internal panitia dan rekomendasi dari beberapa ketua RT di sekitar lokasi kegiatan. Dengan cara itu, data penerima manfaat dinilai lebih akurat. “Hal ini kami lakukan agar data yang didapat lebih valid dan tepat sasaran,” ujar Ika menjelaskan.
Penerima bantuan sendiri berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari peserta HSI dan aktivis dakwah yang membutuhkan, hingga para janda serta kaum dhuafa di sekitar wilayah kegiatan.
Sukarela, Mencari Ridha Allah
Di tengah koordinasi antara lembaga pusat dan mitra di daerah, terdapat peran lain yang tak kalah penting, yaitu PIC (Person in Charge). Salah satunya adalah Ukhtuna Ira Rozusi, anggota tim Program Ramadhan LAZ HSI Berbagi.
Ramadhan tahun ini menjadi pengalaman pertamanya mendampingi mitra penyaluran secara langsung.
“Tujuan utama mendaftar sebagai PIC Ramadhan tentu mencari ridha Allah. Kebetulan di bulan Ramadhan kegiatan KBM HSI libur, jadi saya mencoba mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat,” ujarnya.
Ia mengaku merasakan suasana kerja tim yang hangat selama menjalankan tugas tersebut.“Alhamdulillah timnya masih teman-teman yang itu juga, jadi saling membantu satu sama lain,” katanya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya terjadi saat mendampingi mitra di Lubuk Linggau, Sumatra Selatan. Di sana, penyaluran bantuan melibatkan pihak kecamatan.
“Biasanya mitra berupa yayasan, tapi kali ini ada kecamatan yang terlibat. Rasanya menarik sekali karena ada pemerintah daerah yang mulai mengenal dakwah sunnah,” ujarnya.
Menurut Ukhtuna Ira, komunikasi dengan mitra berjalan lancar karena adanya kerja sama yang baik dari berbagai pihak, termasuk dari camat setempat.
Ia memandang peran PIC sebagai penghubung antara dua pihak yang memiliki tanggung jawab besar. “PIC itu seperti jembatan antara mitra dengan LAZ HSI Berbagi, agar harapan mitra bisa tersampaikan sekaligus menjaga amanah penyaluran dana dari para muhsinin,” katanya.
Menjaga Amanah, Alirkan Kebaikan dalam Senyap
Bagi tim LAZ HSI Berbagi, tantangan terbesar dalam menjalankan program ini justru terletak pada waktu Ramadhan yang relatif singkat, sementara kegiatan yang harus dilakukan cukup padat. Karena itu, koordinasi dan komunikasi yang cepat menjadi kunci.
“Jika ada kendala di lapangan, mitra segera melapor kepada tim Ramadhan. Kami kemudian mengevaluasi dan mencari solusi bersama agar distribusi tetap berjalan,” ujar Akhuna Cipto.
Sejak berada di bawah naungan LAZ HSI Berbagi, sistem kerja program ini juga semakin tertata. Administrasi, proses verifikasi, hingga pelaporan keuangan kini mengikuti standar lembaga zakat.
“Kami berusaha menjaga amanah para donatur dengan pencatatan keuangan yang tertib, laporan berkala, serta dokumentasi kegiatan,” terangnya meyakinkan.
Di balik laporan-laporan itu, sesungguhnya terdapat banyak tangan yang bekerja dalam diam, mulai dari relawan yang memeriksa data, mitra yang mendata warga, hingga tim yang memastikan bantuan sampai ke tujuan.
Dari meja data hingga pintu rumah para penerima, kebaikan Ramadhan bergerak melalui kerja sama tim dan para mitra. Selama semangat berbagi itu terus dijaga, harapannya sederhana: agar manfaatnya semakin luas, menjangkau lebih banyak saudara kita yang membutuhkan.