Qurban Tak Sekadar Pesta Kuliner Tahunan
Penulis: Hawwina Fauzia Aziz
Editor: Faizah Fitriah
Momen hari raya menghadirkan suasana yang berbeda. Ada kehangatan interaksi dengan keluarga, ada rasa sukacita dalam setiap kumandang takbir, serta hadirnya rasa syukur yang berwujud amal-amal shalih di hari raya. Setelah berhari raya pada 1 Syawwal yang lalu, insyaallah kita akan kembali berhari raya pada 10 Dzulhijjah mendatang. Berbicara tentang Idul Adha barangkali yang lekat di ingatan adalah hari-hari di mana aroma sate dan gulai mulai merebak dari pagi hingga malam. Tak jarang, pembicaraan di kalangan para wanita—khususnya ibu-ibu—grup keluarga, hingga obrolan ringan di rumah lebih ramai soal agenda makan-makan, daftar resep masakan, teknik mengolah, daging dan menyimpannya agar awet. Tentu bukan hal yang salah manakala kita ikut mengisi momen Idul Adha dengan membuat hidangan yang lezat atau berbagi resep masakan, akan tetapi, ada hal lain yang tak kalah penting untuk sama-sama kita persiapkan. Sudahkah kita jujur kepada diri sendiri: apakah esensi dari ibadah qurban itu telah benar-benar kita pahami?
Esensi Ibadah Qurban
Saudariku yang semoga senantiasa dirahmati Allah, sadarilah bahwa Idul Adha sejatinya bukan sekadar “pesta kuliner” tahunan. Ibadah qurban bukan tentang siapa yang hewan qurbannya paling mahal, bukan tentang siapa yang olahan dagingnya paling lezat, bukan tentang siapa yang memanggang sate dengan panggangan tercanggih, bukan pula tentang siapa yang agenda keluarganya paling seru. Ketahuilah, ibadah qurban menyimpan makna yang lebih dalam daripada sebatas hal-hal tersebut, sebagaimana yang kita pahami dari sajian pada rubrik utama, fikih dan lainnya, qurban adalah ibadah yang Allah ‘Azza wa Jalla syariatkan di dalam Islam. Ia adalah perwujudan dari tauhid, ketundukan, juga kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya, Allah Ta’ala. Di antara dalilnya ialah dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar, ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
"Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah!"
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Allah memerintahkan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini; yaitu shalat dan berqurban, yang keduanya menunjukkan pendekatan diri kepada Allah, sikap tunduk, merasa butuh dan husnuzhan kepada-Nya, kekuatan hati dan ketenangan kepada Allah terhadap janji-Nya. Berbeda jauh dengan keadaan orang yang sombong lagi kaya yang tidak merasa butuh dalam ibadah shalat mereka kepada Allah, yang mereka tidak menyembelih karena takut miskin.[1]
Peran Muslimah dalam Menyambut Idul Adha
Di antara peran penting muslimah dalam menyambut Idul Adha, selain berusaha menyisihkan harta untuk berqurban bagi dirinya sendiri bila memang memiliki kemampuan, kita pun dapat ikut menyemangati suami maupun anggota keluarga lainnya untuk berqurban. Walau hanya Allah takdirkan mampu untuk berqurban dengan seekor kambing dengan cara anggota keluarga yang lain ikut berserikat dalam hal pahala dengan seekor kambing tersebut, maka hal demikian ini diperbolehkan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala menyembelih qurbannya beliau berkata:
بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
“Bismillah. Ya Allah, terimalah qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” (HR. Muslim no. 1967).[2]
Mengapa istri perlu memotivasi suaminya untuk berqurban? Karena boleh jadi, tidak sedikit dari suami yang tidak terlintas di pikirannya untuk berqurban, sebab merasa belum memiliki kemampuan untuk melakukannya, bahkan bisa jadi karena belum memahami hukum serta keutamaan dari ibadah qurban itu sendiri. Padahal, jika dimotivasi, didukung dan direncanakan bersama, berqurban walau hanya dengan seekor kambing —atau lebih dari itu biidznillah masih sangat bisa diusahakan. Di sinilah peran kita sebagai muslimah yang menyemangati serta mendukung suami dan keluarga menuju ketaatan.
Akhawati fillah, cobalah untuk membuka ruang diskusi bersama suami dengan kelembutan. Sungguh kalimat sederhana yang diucapkan dengan eloknya tutur kata, biidznillah dapat menggugah kesadaran dan mengubah keputusan (keputusan yang sebelumnya tidak ingin berqurban, kemudian biidznillah menjadi ingin melakukannya). Ambil peran untuk turut membantu mengelola keuangan agar hewan qurban dibeli karena prioritas, bukan sebatas tergantung sisa anggaran.
Jangan Sampai Qurban Menjadi Ajang Menimbun Daging
Sebuah fenomena menyedihkan yang terjadi di kalangan kaum muslimin, entah kebiasaan atau mungkin sudah menjadi tren tahunan, yakni secara sengaja menimbun daging qurban di kulkas tanpa tujuan yang jelas hingga berbulan-bulan. Bahkan boleh jadi, di antara kita ada yang masih menyimpan daging qurban tahun lalu, hingga pada akhirnya belum juga diolah sampai Idul Adha berikutnya datang.
Akhawati fillah, tahukah kita bahwa salah satu dari hikmah berqurban ialah sebagai bentuk simpati kita terhadap sesama kaum muslimin. Ketika seorang muslim menyembelih hewan qurbannya, sesungguhnya ia telah mencukupi dirinya, keluarganya, teman, tetangga dan fakir miskin sehingga mereka semua merasakan kebahagiaan di hari raya ini.[3] Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menyebutkan salah satu manfaat berqurban dalam firman-Nya:
لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ
"(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir." (QS. Al-Hajj: 28)
Demikian pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
فَكُلُوا وَادَّخرُوْا وَتَصَدَّقُوْا
“Makanlah kalian, simpanlah, dan bersedekahlah.” (HR. Muslim no. 1971)[4]
Dari ayat dan hadits di atas, kita sama sekali tidak dilarang untuk memakan juga menyimpan daging qurban, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga menganjurkan untuk menyimpannya. Namun, jika menyimpan di sini adalah menimbun tanpa suatu tujuan dan alasan yang jelas, melainkan hanya karena hawa nafsu saja, hingga akhirnya daging-daging itu hanya menganggur di lemari es, entah karena lupa, tidak sempat atau yang lainnya, bukankah ini merupakan bentuk dari kelalaian? Ya, kelalaian kita dalam menyia-nyiakan kesempatan untuk berbagi juga kesempatan untuk memetik salah satu hikmah dari berqurban, yakni berbagi atau bersedekah kepada orang-orang di sekitar kita yang ternyata jauh lebih membutuhkan? Inilah salah satu fenomena yang sangat penting untuk menjadi muhasabah bagi diri kita masing-masing. Dengan demikian, kita berharap bisa lebih bijak dan bisa lebih banyak meraup hikmah juga pahala dari ibadah qurban di tahun ini. Amin.
Jadilah Muslimah yang Peka dan Berempati
Di antara solusi yang bisa diberikan untuk menanggapi fenomena ini ialah dengan menjadi muslimah yang peka dan berempati. Peka terhadap isi simpanan kulkas sendiri, juga berempati terhadap keadaan saudara-saudara atau masyarakat di sekitar. Apabila seiring berjalannya waktu, ternyata daging yang masih tersimpan di kulkas itu sudah terlalu banyak, sedangkan kita beserta anggota keluarga lainnya merasa sudah cukup, alangkah baiknya kita bersegera untuk membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sungguh, bisa kita bayangkan betapa bermakna momen Idul Adha yang diisi dengan saling membahagiakan satu sama lain, dengan bersedekah kepada mereka yang tengah kelaparan lagi membutuhkan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk lebih peka dan berempati terhadap keadaan saudara-saudara kita di sekitar, terutama bagi mereka yang membutuhkan, Amin.
Penutup: Dari Lezatnya Masakan hingga ke Surga
Tidak ada yang salah dengan berusaha menyiapkan bumbu sate terbaik. Tidak keliru pula dengan berusaha menyajikan rendang dan gulai istimewa untuk keluarga di hari raya. Namun, jangan sampai kita membiarkan momen Idul Adha ini hanya menjadi sebuah pesta kuliner. Jangan sampai hati kita lebih rela membeli perlengkapan memasak yang terbaik daripada turut membeli hewan untuk berqurban (yang diniatkan ikhlas karena mengharapkan Wajah Allah ‘Azza wa Jalla semata). Perbaikilah selalu niat kita ketika membeli hewan qurban. Pastikan bukan karena, misalnya hanya FOMO (red: merasa khawatir tertinggal jika tidak ikut serta) untuk eksistensi di media sosial atau tujuan-tujuan lain yang tidak semestinya. Tahun ini, saatnya kita bermuhasabah diri, meluruskan kembali niat dengan memahami esensi dari ibadah qurban yang sesungguhnya. Mari manfaatkan momen Idul Adha kali ini dengan lebih baik lagi dari sebelumnya. Beri semangat kepada suami, anak-anak, juga sanak saudara dalam menyambut hari raya ini dengan menanamkan pemahaman yang baik dan benar tentang keutamaan, serta hikmah di balik ibadah di hari raya Idul Adha ini. Semoga Idul Adha kali ini lebih bermakna, lebih terasa indahnya, bukan hanya di meja makan, namun juga di catatan amal kebaikan kita kelak. Amin.
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim
- Alu Syaikh, Abdurrahman bin Hasan. Fathul Majid Syarah Kitab at-Tauhid. Maktabah Syamilah.
- An-Naisaburi, Abu al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi. Shahih Muslim. (Turki: Daar ath-Thibaa’ah al-‘Aamiroh, 1334 H).
- At-Thayyar, Dr. Abdullah bin Muhammad. Ahkam al-‘Idain wa Asyr Dzil Hijjah. Diakses dari www.alukah.net.