Catatan Sang Qawwam

Qawwam yang Lapang Menerima Nasihat

Reporter: Muhammad Wildan Zidan

Redaktur: Gema Fitria


Allah Ta’ala berfirman,

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ 

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya."

[QS. An-Nisa: 34]

Ayat di atas kerap dipahami sebagai otoritas laki-laki belaka. Padahal, amanah seorang qawwam tidak selesai pada permasalahan tersebut. Di balik kata qawwam yang melekat pada ayat ini, terkandung beban tanggung jawab yang jauh lebih berat daripada sekadar hak untuk didengar sebagai pemimpin. Kepemimpinan dalam Islam mengandung tanggung jawab atas orang-orang yang dipimpin, dan amanah itu terlihat dari cara memperlakukan istri dan anak setiap hari.

Seorang qawwam tetap membutuhkan ilmu untuk menimbang keputusan dan nasihat untuk mengenali kekurangan diri. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, manusia paling mulia di muka bumi, tetap membuka ruang musyawarah dalam perkara strategi perang hingga urusan yang lebih personal. Jika teladan sebaik itu saja masih membutuhkan masukan dari orang lain, bagaimana mungkin seorang qawwam di rumah tangga zaman ini merasa cukup dengan ilmu dan pengalamannya sendiri?

Kenyataannya, tidak sedikit rumah tangga yang retak bukan karena sang suami tidak peduli, melainkan karena dirinya merasa sudah cukup tahu. Ego yang tumbuh diam-diam ini membuat nasihat sekecil apa pun, seramah apa pun cara penyampaiannya, terasa seperti serangan terhadap harga diri. Majalah HSI berbincang dengan dua santri yang juga kepala keluarga, Akhuna Abu Ayla dan Akhuna Agung Abigana, untuk menelusuri bagaimana ego bisa menjadi penghalang paling senyap bagi seorang qawwam dalam menerima kebenaran.

Qawwam Tidak Selalu Benar

Tidak ada rumah tangga yang sepenuhnya luput dari kekeliruan. Suami dapat salah menilai keadaan, mengambil keputusan, atau menyikapi keluarganya. Abu Ayla, santri HSI pemilik NIP ARN222-12066, mengenali hal itu dalam perjalanan rumah tangganya. Ayah dua anak perempuan ini mengakui kekeliruannya yang kadang tidak mau disalahkan.

Santri lainnya, Agung Abigana, menempatkan pengakuan salah sebagai bagian dari tanggung jawab. "Qawwam justru berarti memikul amanah dan tanggung jawab lebih besar terhadap keluarga," tutur pemilik NIP ARN162-05008 ini. "Kalau ana menyadari keputusan ana keliru, maka yang harus dilakukan adalah mengakui, memperbaiki, dan meminta maaf jika kesalahan tersebut berdampak kepada keluarga," ucapnya.

Pertanyaannya kemudian, apakah kesalahan seorang suami harus disimpan rapat-rapat? Abu Ayla memandang kesalahan sebagai semacam aib yang cukup diketahui sendiri, kecuali jika keterbukaan itu diperlukan demi perbaikan diri. "Kesalahan seorang suami itu merupakan aib yang cukup disimpan sendiri, terkecuali untuk berbenah diri, maka saya akan menceritakan kepada pasangan," jelasnya. Pak Agung melangkah lebih jauh. "Kesalahan tidak perlu diumbar kepada orang lain karena kehormatan keluarga harus dijaga. Tetapi bukan berarti kesalahan harus ditutup-tutupi dari istri dan anak. Dalam rumah tangga, istri adalah pasangan untuk saling membantu dalam kebaikan. Kalau ada kekeliruan, maka bicarakan dengan baik, empat mata jika diperlukan, tanpa saling mempermalukan," papar lelaki yang tinggal di Kabupaten Bogor ini.

Keduanya bertemu pada satu titik yang sama: kesalahan bukan sesuatu yang harus diumbar kepada orang lain, tetapi juga bukan sesuatu yang layak disembunyikan dari pasangan sendiri. Pak Agung merangkum semangat itu dalam satu kalimat: "Prinsipnya bukan siapa yang salah, tetapi bagaimana kita memperbaikinya ke depan."

Ego yang Menghalangi Datangnya Ilmu

Jika kesalahan bisa diterima secara konsep, mengapa dalam praktiknya hal itu begitu sulit diakui? Pak Agung menyebut akar masalahnya secara langsung. "Tentu sebagai manusia, ana bisa keliru. Yang menjadi masalah bukan semata-mata pernah salah, tetapi ketika seseorang sudah tahu dirinya salah namun tetap mempertahankan kesalahan karena gengsi," ungkapnya. Abu Ayla mengalami hal serupa dari sisi yang lebih personal. Ia menyadari keputusannya pernah keliru, namun ada dorongan untuk tidak mau disalahkan, dan ia sendiri mengakui dorongan itu sebagai kekeliruan tersendiri.

Gengsi juga muncul dalam bentuk yang lebih sederhana berupa rasa enggan bertanya atau meminta pendapat orang lain. "Tentang meminta pendapat kepada orang lain dalam masalah rumah tangga, iya, saya pernah merasa gengsi dan malu bercerita," Abu Ayla berkata terus terang. Pak Agung merasakan hal serupa, tapi memilih melawannya. "Jujur, perasaan seperti gengsi atau takut dianggap tidak mampu bisa saja muncul. Tetapi kita perlu melawannya. Ana belajar bahwa bertanya bukan berarti tidak mampu memimpin. Justru orang yang mau bertanya menunjukkan bahwa dia tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan ego dan keterbatasan dirinya," tegasnya. "Kalau menghadapi persoalan yang ana tidak mampu selesaikan sendiri, ana lebih baik bertanya kepada orang yang berilmu, amanah, dan bijaksana daripada mempertahankan ego lalu keluarga yang jadi korban," tambah karyawan swasta ini.

Ego juga kerap muncul dalam bentuk yang lebih tajam, yaitu amarah. "Perasaan saya ketika istri atau anak mencoba meluruskan kekeliruan saya pribadi, saya sedikit merasa tersinggung bahkan marah dengan sikap cuek atau acuh jika menasihati seolah-olah menghakimi saya," ungkap Abu Ayla. Meski begitu, ia mengakui nasihat dari istri maupun anak sebenarnya relevan dengan kondisinya saat itu. "Saya tipe orang yang suka menerima nasihat, namun yang saya sadari, terkadang masih ada ego yang keliru dalam diri saya," aku sales produk herbal ini jujur.

Ego yang lain lahir dari rasa jumawa, menganggap diri lebih benar hanya karena pengalaman hidup lebih banyak. Pak Agung mengingatkan bahwa anggapan ini keliru. "Pengalaman memang penting, tetapi itu bukan berarti seseorang selalu benar. Anak-anak mungkin belum memiliki pengalaman sebanyak orang tua, tetapi mereka bisa melihat sesuatu yang terkadang tidak kita sadari. Demikian pula istri yang setiap hari hidup bersama kita bisa mengetahui sisi diri kita yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain," katanya bijak. "Karena itu, ana tidak ingin menggunakan usia atau pengalaman sebagai alasan untuk menutup pintu nasihat. Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena datang dari orang yang lebih muda," lanjutnya.

Ego yang terus dirawat bukan hanya membuat hubungan menjadi kaku, tetapi yang paling berbahaya adalah menghalangi datangnya ilmu. Ilmu hanya akan menetap di hati yang bersih, jauh dari penyakit. Jika demikian adanya, sungguh seseorang berada dalam kesia-siaan yang nyata. Sudahlah jauh dari rumah tangga sakinah, nihil ilmu agama pula.

Dampak Terhadap Keluarga

Ego yang tidak dikelola dengan baik tidak akan pernah berhenti pada diri sendiri. Efek buruknya akan menjalar ke seluruh rumah. Pak Agung menilai kenyamanan istri untuk bersuara sebagai ukuran penting keberhasilan seorang qawwam. "Kalau istri selalu diam karena takut dimarahi, takut disalahkan, atau takut suami tersinggung, maka mungkin secara lahiriah rumah tangga terlihat tenang, tetapi belum tentu ada komunikasi yang sehat," jelasnya. "Saya berharap istri bebas mengatakan 'menurut saya ini kurang tepat' tanpa khawatir dianggap melawan suami. Tentu nasihat tetap harus disampaikan dengan adab, tetapi seorang suami juga harus menciptakan suasana di mana keluarganya berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik," tambahnya.

Pengalaman Abu Ayla menjadi contoh nyata betapa halusnya ego bisa menyusup ke ruang ini. "Dari pengamatan saya tentang kondisi istri ketika menasihati atau mengkritik, saya menilai istri sebagai orang yang terbuka hingga saya mengira terlalu lancang menghakimi saya," tuturnya. Sebuah pengakuan jujur yang menunjukkan bagaimana ego seorang suami bisa membuat ruang bersuara istri terasa lebih sempit dari yang seharusnya, meski tidak pernah diucapkan sebagai larangan.

Dampak ego tidak berhenti pada istri. Anak-anak, tanpa disadari, turut merekam pola yang sama. "Anak-anak bukan hanya mendengarkan nasihat kita, tetapi juga mengamati bagaimana kita bersikap ketika dinasihati. Anak akan belajar dari perilaku, bukan dari kata-kata," Pak Agung mengingatkan. "Karena itu, saya harus menjadi contoh. Kalau salah, akui. Kalau dinasihati, dengarkan. Kalau perlu diperbaiki, segera perbaiki. Jangan sampai kesalahan yang sama terus berulang hanya karena kita sebenarnya sudah pernah dinasihati, tetapi tidak mau mendengarkan," imbuhnya.

Melatih Kerendahan Hati

Melatih kerendahan hati dimulai dari kalimat paling sederhana, namun paling berat diucapkan seorang kepala keluarga: "saya tidak tahu." Abu Ayla mengakui hal ini tidak mudah baginya. "Saya tidak mudah mengakui kesalahan pribadi dan ini adalah sikap keliru. Bagaimana memperbaikinya? Tentunya dengan menyadari, memohon maaf segera, dan meminta rekomendasi solusi atau nasihat dari istri atau anak," ujar pria 31 tahun ini.

Kepekaan terhadap keadaan rumah juga perlu dilatih melalui muhasabah. Pak Agung menyampaikan pertanyaan yang ia gunakan untuk merenungi, "apa perbuatan ana hari ini yang menyakiti istri? Apa yang membuat anak ana menjauh? Apa yang perlu ana perbaiki sebagai ayah?”

Budaya saling menasihati memerlukan adab yang dijaga bersama. "Adabnya tentu harus dijaga, seperti berbicara dengan lembut, tidak memotong pembicaraan, tidak merendahkan, tidak membuka aib, tidak menggunakan suara keras sebagai senjata, dan tidak menjadikan musyawarah sebagai ajang mencari siapa yang menang," ungkapnya.

Dari dua rumah tangga yang berbeda, kita dapat mengambil satu benang merah, yaitu bahwa menerima nasihat dengan hati yang lapang tidak pernah meruntuhkan wibawa seorang qawwam, justru sebaliknya. Abu Ayla menutup perbincangan dengan mengutip nasihat yang pernah ia dengar dari Ustadz Firanda, yang mengutip firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

"Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri) menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya."

[QS. An-Nisa: 19]

"Bersabarlah wahai suami terhadap istrimu, dan sampaikan ini kepada teman-temanmu yang menjadi suami," pesannya kepada Majalah HSI.

Pak Agung menutup renungannya dengan pesan yang layak menjadi pegangan setiap qawwam. "Kepada para ayah, jangan takut kehilangan wibawa hanya karena mengakui kesalahan. Qawwam bukan berarti harus selalu menang dalam setiap perdebatan. Qawwam adalah orang yang bersedia bertanggung jawab ketika keputusan harus diambil dan bersedia tunduk kepada kebenaran ketika keliru," pesannya. "Wibawa seorang ayah bukan dibangun dari rasa takut keluarganya kepada dirinya, tetapi dari keteladanan, keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan keteguhan dalam kebenaran," tegasnya lagi.

Menerima nasihat dengan hati lapang memberi keluarga alasan untuk menghormati seorang qawwam. Istri dan anak menyaksikan kesediaannya bertanggung jawab atas kekeliruan, lalu memperbaikinya. Semoga Allah menolong kita menjaga amanah itu dengan kerendahan hati, termasuk ketika kebenaran datang melalui teguran orang-orang terdekat. Barakallahufiikum.

6