Pujian Allah Ta’ala untuk Para Sahabat
Penulis: Azhar Abi Usamah
Editor: Athirah Mustadjab
Lafal Ayat
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Tafsir Ringkas[1]
Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan mengenai keridhaan-Nya kepada para pendahulu umat ini, dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang telah mengikuti jalan mereka dengan baik. Juga kabar mengenai keridhaan mereka semua kepada Allah sebab telah diberi balasan surga dan kenikmatan yang kekal.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam).”
Mereka itulah pendahulu umat ini dalam masalah keimanan, hijrah, jihad, serta menegakkan agama Allah Ta’ala.
الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ
“… dari golongan Muhajirin dan Anshar …”
Dari golongan Muhajirin, yaitu mereka yang diusir dari kampung halaman dan hartanya karena mencari keutamaan serta ridha Allah Ta’ala. Mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang jujur.[2]
Adapun orang-orang Anshar ialah mereka yang telah menempati Madinah dan beriman sebelum kedatangan Muhajirin. Kaum Anshar mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa pun yang diberikan kepada Muhajirin. Mereka lebih mengutamakan Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun dalam kesusahan.[3]
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ
“… dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik ….”
Yaitu dalam masalah keyakinan (aqidah), ucapan, serta perbuatan. Ketiga kelompok inilah yang selamat dari celaan dan mendapatkan pujian tertinggi serta karamah teristimewa dari Allah Ta’ala.
رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.”
Keridhaan Allah Ta’ala lebih besar dari kenikmatan surga. Mereka juga ridha kepada Allah yang telah menyiapkan surga-surga yang dialiri sungai di bawahnya layaknya hamparan kebun yang menghijau dialiri sungai.
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
Mereka enggan diganti, juga tak mencarinya. Apa saja yang mereka inginkan, pasti akan mereka peroleh. Apa saja yang mereka kehendaki, pasti akan mereka dapat.
Itulah kemenangan yang besar, yaitu pada saat mereka mendapatkan apa saja yang disukai dan dirasa nikmat oleh jiwa serta badan, juga lenyapnya marabahaya.
Pelajaran yang Dapat Diambil
1. Tazkiyah Allah Ta’ala berbeda dengan rekomendasi manusia.
Rekomendasi dari sesama manusia bersifat ijtihad dan boleh salah. Sangat berbeda dengan rekomendasi dari Allah Ta’ala yang bersifat pasti dan sarat koneskuensi.
Ulama Ahlussunnah dari berbagai disiplin ilmu mempersaksikan bahwa para sahabat adalah generasi terbaik, penjaga syariat, dan orang-orang yang mendapatkan rekomendasi langsung dari Allah Ta’ala. Tak mengherankan bila di dalam kitab-kitab yang membahas masalah aqidah, disebutkan pula hak-hak serta keutamaan para sahabat yang harus kita tunaikan.
Di antara contohnya ialah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pada bagian akhir kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyah.[4] Di sana beliau menyebutkan keutamaan para sahabat, hak-hak mereka, hingga sikap Ahlussunnah terhadap sekte-sekte menyimpang dalam masalah menghormati para sahabat.
Hal senada juga akan kita dapati pada pembahasan akhir Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah. Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah mengatakan, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kami tidak berlebihan dalam mencintai atau berlepas diri dari seorang sahabat Nabi pun. Kami membenci siapa saja yang membenci mereka dan menyebut mereka dengan kedustaan. Kami tidak menyebut para sahabat kecuali dengan perkataan yang baik. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, keimanan, dan ihsan, sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan perbuatan melampaui batas.”[5]
Oleh karena itulah, para ulama juga menjelaskan mengenai hukum bagi siapa saja yang mencela para sahabat Nabi; semua kesimpulan hukumnya berkisar antara fasik hingga kafir.[6] Hal itu berangkat dari dalil-dalil Al-Qur’an maupun hadits yang menyebutkan tazkiyah (rekomendasi) Allah terhadap mereka.
2. Yang dimaksud sebagai “as-sabiqunal awwalun”.
Para ulama telah berselisih terkait definisi "as-sabiqunal awwalun". Di antara mereka ada yang menyatakan:
- Para sahabat yang pernah mengalami fase shalat dengan menghadap dua arah kiblat. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Sa’id bin Al-Musayyib dan yang lainnya.
- Para sahabat yang ikut serta dalam Baiat Ridhwan, saat Perjanjian Hudaibiyah, menurut pendapat Imam Asy-Sya’bi dan sebagian pengikut Asy-Syafi’i.
- Para sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar, menurut pendapat Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi dan Atha’ bin Yasar.
Kendati demikian, siapa saja yang berhijrah (ke Madinah) sebelum peristiwa pemindahan arah kiblat (ke Ka’bah), maka ia termasuk golongan "as-sabiqunal awwalun", berdasarkan kesepakatan ulama.[7]
Maksud para sahabat “mendahului” kita dalam konteks ini mencakup tiga hal: dengan sebab sifat (keimanan),[8] sebab waktu, dan sebab tempat.[9]
3. Urgensi mengikuti jalan para sahabat.
Para ulama Ahlussunnah bersepakat bahwa generasi terbaik umat ini adalah para sahabat yang menyertai Nabi-Nya. Di antara argumentasi yang mendasari kesepakatan mereka adalah penjelasan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, “Sesungguhnya Allah telah melihat hati para hamba, lalu Dia mendapati hati Muhammad adalah yang terbaik. Dia pun memilih Muhammad untuk-Nya dan mengutusnya membawa risalah. Setelah itu Allah melihat kepada hati para hamba selain Muhammad, lalu Dia dapati hati para sahabatnya adalah hati yang terbaik. Allah pun menjadikan mereka sebagai pembantu Nabi-Nya ….”[10]
Hati mereka jauh dari sifat-sifat tercela, pemahaman mereka yang sempurna, serta niat-niat mereka yang tulus dibandingkan dengan generasi setelahnya. Oleh sebab itu, pemahaman dan metode para sahabat merupakan hal mutlak yang kita butuhkan saat mengamalkan ajaran agama Islam.[11]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian setelah mereka, lalu setelahnya.”[12] Imam An-Nawawi mengatakan, “Para ulama bersepakat, bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Nabi, dan maksudnya ialah para sahabat beliau.”[13] (Syarh Shahih Muslim, 8:314, yang dikutip dalam Al-Fitnah Bainas Shahabah, hlm. 19)
Allah Ta’ala sendiri dalam ayat lain (Surah An-Nisa’ ayat 115) mengancam siapa saja yang tidak mengikuti jalan beragama para sahabat yang merupakan.
4. Apakah para sahabat murtad sepeninggal Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?
Menurut keyakinan kelompok semisal Syi’ah Rafidhah, mayoritas sahabat telah murtad sepeninggal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Jelas saja, klaim ini nyata kebatilannya.
Ibnu Katsir Al-Qurasyi rahimahullah berkomentar mengenai ayat di atas di dalam Tafsir-nya, “Alangkah celaka bagi siapa saja yang murka atau mencela mereka (Muhajirin dan Anshar) semua atau sebagian dari mereka, terlebih sahabat yang paling mulia setelah Rasulullah, yaitu Ash-Shiddiq Al-Akbar dan Khalifah Agung, Abu Bakar bin Abu Quhafah radhiyallahu 'anhu. Sekte Rafidhah yang hina telah memusuhi sebaik-baik sahabat, memurkai, serta mencela mereka. Wal ‘iyadzubillah. Hal ini menunjukkan bahwa akal pikiran dan hati mereka telah rusak. Maka, di manakah keimanan mereka terhadap ayat Al-Qur’an saat mencela orang-orang yang diridhai oleh Allah?”[14]
Imam Ath-Thahawi rahimahullah menyatakan, “Siapa saja yang berbicara dengan baik tentang para sahabat, istri-istri Rasulullah yang terhormat, dan keturunan beliau yang dihindarkan dari celaan, sungguh ia telah berlepas diri dari kemunafikan.”[15]
5. Pemahaman para sahabat yang semakin asing.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mensinyalir tentang fenomena keterasingan agama Islam di akhir zaman, “Islam mulai dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”[16]
Syahdan, fenomena mayoritas kaum muslimin merasa asing dengan metode beragama yang telah dicontohkan oleh para sahabat yang mulia sudah banyak kita jumpai. Misalnya, tatkala terjadi praktik kezaliman dari para pemimpin kaum muslimin, sikap tetap menjaga persatuan dan kepatuhan dalam hal yang baik seakan menjadi sesuatu yang dilupakan.
Jangankan dengan metode beragama yang sesuai dengan jalan para sahabat atau hak-hak para sahabat yang harus kita tunaikan, bahkan sebagian kaum muslimin tidak bisa mengidentifikasi nama para sahabat kecuali Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma saja, atau tidak dapat mengenali mereka sama sekali. Allahul Musta’an.
Referensi:
- Taisirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Dar Ibnu Hazm, Arab Saudi.
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, cet. 1, tahun 1434 H/2012 M, Ad-Dar Al-‘Alamiyah, Mesir.
- Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Abu Abdillah Syamsuddin Al-Qurthubi, cet. 2, tahun 1384 H, Darul Kutub Al-Mishriyah, Mesir. (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
- Syarhul ‘Aqidah Ath-Thahawiyah, Ali Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi, cet. 3, tahun 2014 M, Mu’assaah Ar-Resalah, Lebanon.
- Syarhul ‘Aqidah Al-Wasithiyah, Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, cet. 1, tahun 2005 M, Darul ‘Ashimah, Saudi Arabia.
- Al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fit Tarbiyah wal Ishlah, Abdullah bin Shalih Al-Ubailan, cet. 2, tahun 2009 M, Ghiras lin Nasyri wat Tauzi’, Kuwait.
- Al-Idhahul Mubin fi Syarhil Arba’in, Dr. Anis bin Nashir Al-Mush’abi, cet. 2, tahun 2023 M, tanpa penerbit.