Puasa Ramadhan bagi Penderita Penyakit Maag
Penulis: dr. Avie Andriyani
Editor: Happy Chandraleka
Ibnul Qayyim menuliskan di antara petunjuk Rasulullah Shalallahu‘alaihi wasallam pada bulan Ramadhan, adalah memperbanyak berbagai ibadah. Kesungguhan tersebut tampak di mana beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak bershadaqah, berbuat baik, membaca Al-Qur’an, shalat, dzikir, dan i’tikaf. Dan kala Ramadhan, beliau Shalallahu‘alaihi wasallam mengkhususkan ibadah-ibadah yang tidak beliau khususkan pada bulan lainnya, sehingga beliau Shalallahu‘alaihi wasallam terkadang menyambung waktu malam dan siangnya untuk beribadah (Kitab Zadul Ma'ad II/32)
Sumber : almanhaj.or.id
Bulan Ramadhan yang demikian istimewa, rasanya sia-sia jika dilalui tanpa memperbanyak amal ibadah. Termasuk jika tidak mengamalkan ibadah utamanya, yaitu puasa. Meskipun ada keringanan bagi orang sakit untuk tidak berpuasa Ramadhan, bukan berarti semua kondisi sakit menghalangi seseorang untuk melaksanakannya. Banyak kondisi sakit yang ditimbang medis, aman bagi sang penderita untuk tetap berpuasa. Salah satunya adalah penyakit maag atau gangguan pada lambung, meskipun tak berlaku untuk semua kondisi. Edisi Ramadhan ini, Rubrik Kesehatan Majalah HSI hendak mengupas hal tersebut. Mari simak ulasan tentang kriteria penyakit maag, perbedaannya dengan GERD, hingga tips bagi penderita penyakit maag agar tetap lancar berpuasa. Selamat membaca..
Mengenal Penyakit Maag
Penyakit maag atau gastritis merupakan penyakit yang menyerang organ lambung dan ditandai dengan peradangan. Gastritis digolongkan dalam dua kelompok, yaitu organik dan fungsional. Dikatakan organik bila pada endoskopi, yaitu pemeriksaan lambung dengan memasukkan alat yang dilengkapi kamera, ditemukan kelainan di kerongkongan, lambung, atau usus 12 jari. Sedangkan dikatakan fungsional, bila pada endoskopi tidak ditemukan kelainan organ. Gejala yang sering dikeluhkan penderita penyakit maag sangat bervariasi, seperti rasa tidak nyaman di ulu hati, mual, muntah, kembung, rasa panas di ulu hati, sering bersendawa, sering kentut, cepat kenyang, hingga mulut terasa asam atau pahit. Serangan penyakit maag dapat datang tiba-tiba dan biasanya kambuh-kambuhan. Durasi sakitnya juga tidak menentu. Terkadang sepanjang hari, terkadang hanya sebentar dan hilang timbul.
Sakit maag bisa dipicu oleh banyak faktor. Bisa karena infeksi bakteri (H.pylori), adanya perlukaan di dinding lambung, produksi asam berlebihan, atau konsumsi obat-obatan tertentu yang memicu iritasi lambung seperti aspirin juga ibuprofen, dan lain-lain. Kondisi tersebut biasanya menjadi kian parah dengan kebiasaan terlambat makan, hobi mengonsumsi makanan ekstrim pedas atau ekstrim asam, serta faktor stres.
Apa Perbedaan Gastritis dan GERD?
Meski sama-sama gangguan lambung, GERD atau Gastro Esophageal Reflux Disease biasanya memiliki gejala lebih parah dari gastritis. Pada GERD, asam dari lambung naik ke kerongkongan (esofagus) sehingga menimbulkan sensasi seperti terbakar (heartburn), sulit menelan, sensasi tersumbat pada kerongkongan, sensasi tertekan di bagian dada, hingga sesak nafas.
Gejala GERD terkadang menyerupai gejala serangan jantung, sehingga memerlukan pemeriksaan yang teliti supaya penanganannya tepat. Gejala khas GERD yaitu heartburn, terjadi karena sfingter esofagi atau cincin pada kerongkongan melemah. Situasi ini menyebabkan asam dari lambung yang seharusnya bisa ditahan untuk diturunkan kembali ke bawah, justru meluap naik tanpa terhalang sehingga mengiritasi dan memicu rasa terbakar pada dada.
Bolehkah Penderita Sakit Maag Berpuasa?
Puasa yang dijalani penderita gangguan lambung jenis fungsional, terbukti dapat meringankan keluhan bahkan menyembuhkan. Memang pada hari-hari awal puasa, terasa tidak nyaman. Seiring waktu, pola makan yang cukup dan teratur, justru membuat kondisi kesehatan penderita maag tipe fungsional semakin membaik biidznillah.
Sedangkan penderita gangguan lambung jenis organik harus lebih berhati-hati. Jika ingin berpuasa, hendaknya melakukan konsultasi medis terlebih dulu dan menyediakan obat yang direkomendasikan dokter. Pada tipe ini, ada faktor penyebab yang perlu diperhatikan. Bila ada polip atau tumor, ada luka atau ulkus, terjadi perdarahan, atau nyeri hebat, maka lazimnya dokter merekomendasikan untuk menunda puasa.
Frekuensi kekambuhan juga menjadi pertimbangan. Kondisi penyakit maag yang sering kambuh dan berat, acap kali menjadi acuan medikus untuk menyarankan penundaan puasa. Maka penderita sakit maag dapat mencoba berpuasa selama beberapa hari terlebih dahulu, guna mengetahui apakah sakit lambungnya gampang kambuh atau tidak.
Puasa dan Kesehatan Lambung
Secara umum, puasa bermanfaat untuk kesehatan dan bahkan bisa menjadi terapi bagi orang-orang yang memiliki masalah pada lambungnya. Puasa bisa meredakan gejala GERD karena mengurangi gerakan atau motilitas usus dan mengistirahatkan kerja lambung. Manfaat puasa dalam meredakan gejala naiknya asam lambung pada kasus GERD, telah dibuktikan dan hasilnya dipublikasikan dalam Jurnal Acta Medica Indonesiana pada tahun 2016.
Puasa teruji pula bisa mengontrol pengeluaran asam lambung yang berlebihan. Ketika puasa, jadwal makan justru cenderung teratur. Kondisi mental orang yang berpuasa, biasanya relatif lebih stabil karena ada tuntunan untuk bisa mengendalikan diri sepanjang Ramadhan. Kondisi mental yang baik dan minim stres, bisa mencegah produksi asam lambung berlebih sehingga menekan potensi kekambuhan para penderita gangguan lambung.
Tips dan Strategi agar Lancar Berpuasa
Faktanya tidak ada larangan berpuasa yang mutlak, bagi seorang penderita sakit maag. Bahkan jika dilaksanakan dengan tepat mengikuti rambu-rambu, puasa justru mendatangkan limpahan manfaat kesehatan. Berikut ini beberapa tips agar penderita sakit maag bisa tetap berpuasa Ramadhan:
- Sangat dianjurkan untuk makan sahur karena bermanfaat sebagai persiapan puasa.
- Dianjurkan segera berbuka dan tidak menunda makan dan minum.
- Jangan makan dalam porsi besar sekaligus.
- Mengunyah makanan dengan perlahan.
- Kurangi makanan berlemak dan makanan yang merangsang produksi asam lambung berlebih seperti terlalu asam atau terlalu pedas.
- Batasi konsumsi makanan yang banyak mengandung gas seperti buncis, kubis, sawi putih, bawang, atau telur.
- Hindari minuman bersoda, kopi, atau alkohol.
- Jika perlu, bisa mengonsumsi makanan ekstra dengan porsi kecil setelah shalat tarawih.
- Hindari langsung tidur setelah makan. Usahakan tidur minimal setelah dua jam dari waktu makan terakhir.
- Kelola stres dengan baik untuk meminimalisir lonjakan produksi asam lambung.
Seorang mukmin tentu ingin maksimal beribadah di bulan Ramadhan. Namun demikian, jika Qadarullah ditakdirkan memiliki masalah kesehatan lambung, maka sebaiknya lebih berhati-hati.
Tetaplah berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan puasa karena tingkat keparahan sakit maag tiap penderita berbeda-beda. Mudah-mudahan ini menyempurnakan upaya tawakal seorang hamba kepada Rabbnya, sehingga tetap bernilai pahala.
Selamat berpuasa, Ikhwah.. Semoga Allah senantiasa karuniakan sehat wal’afi at dan kelancaran beribadah puasa bagi kita semua. Aamiin.. Baarakallahu fiikum.
Referensi :
- https://ayosehat.kemkes.go.id/3-manfaat-puasa-ramadhan-untuk-kesehatan-lambung
- https://www.actamedindones.org/
- Mardhiyah, et all. The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease, Acta Medica Indonesiana Vol 48 nomor 3, tahun 2016.