Mutiara Hadits
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Pintu Surga Terbaik


Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.



Lafal Hadits

قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
اَلْوَالِدُ ‌أَوْسَطُ ‌أَبْوَابِ الجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kamu bisa sia-siakan pintu itu atau kamu bisa menjaganya.”


Takhrij Hadits

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, nomor 1900 dengan lafalnya; Ibnu Majah, nomor 2089, 3663; Ahmad dalam Musnad-nya, nomor 27511, 27528, dan 27552; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, nomor 2799 dan 7252; serta Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, nomor 7463; dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.

Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini shahih dalam Sunan-nya, 3:311. Imam Al-Hakim juga menilai haditsnya shahih dalam Al-Mustadrak, 2:215 dan 4:168, serta disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Begitu pula, Syaikh Al-Albani rahimahullah menilainya shahih dalam As-Silsilah As-Shahihah, 2:583, nomor 914.

Makna Umum Hadits

Seorang laki-laki datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu lalu berkata, “Aku memiliki seorang istri, sementara ibuku memerintahkanku untuk menceraikannya.” Maka dijawab, “Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Maka sebaik-baik cara untuk bertawasul untuk masuk surga dan meraih derajatnya yang tinggi adalah menaati orang tua serta menjaga hak-haknya. Oleh karena itu, jangan sia-siakan pintu itu dengan melalaikannya atau jagalah ia dengan memelihara hak-hak orang tua.'”[1]

Syarah Hadits

Makna الوَالِدُ:

Kata al-walid (ayah) dalam hadits ini adalah secara jenis (yaitu kedua orang tua), atau jika hukum (keutamaan dan kemuliaan) ayah seperti ini, maka hukum terkait ibu tentu lebih kuat dan lebih utama jika dilihat dari berbagai pertimbangan.[2]

Makna أَوْسَطُ:

Sebaik-baik dan setinggi-tingginya pintu surga. Maksudnya, sebaik-baik jalan untuk masuk surga dan cara untuk mencapai derajatnya yang tinggi adalah dengan menaati ayah dan menjaga perasaannya yaitu memperhatikan hak dan kehormatannya.[3]

Makna أَبْوَابِ الجَنَّةِ:

Surga memiliki beberapa pintu. Adapun pintu yang paling baik untuk dimasuki adalah pintu yang paling tengah. Penyebab untuk bisa masuk melalui pintu tengah itu adalah dengan menjaga hak-hak ayah.[4]

Jalaluddin Al-Bulqini rahimahullah berkata, “Yang tampak bagiku -- wallahu a‘lam -- bahwa hikmahnya adalah karena hubungan manusia terbagi menjadi:

  1. Hubungan dengan Allah ‘Azza wa jalla.
  2. Hubungan dengan orang tua (yang menjadi perantara dalam keberadaan manusia).
  3. Dan hubungan dengan makhluk selain keduanya.

Oleh karena itu, orang tua menempati posisi tengah dalam pertimbangan ini (karena posisinya sebagai perantara antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama makhluk). Di antara pintu-pintu surga juga terdapat pintu silaturahmi, yang mencakup orang yang berbakti kepada orang tuanya maupun kepada selain mereka.”[5]

Dalam keseharian, kita sering memandang orang tua terutama sebagai pelindung, pengasuh, dan pencari nafkah. Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas menggeser fokus itu ke cakrawala ukhrawi, bahwa kedua orang tua adalah pintu surga. Artinya, hubungan anak–orang tua bukan sekadar urusan sosial-ekonomi, melainkan menjadi jalan keselamatan jika dijaga atau menjadi ancaman jika diabaikan.

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menulis risalah khusus birrul walidain yang menghimpun puluhan hadis, atsar salaf, dan pedoman praktis pengabdian. Risalah ini menekankan bahwa setiap kebaikan kecil yang dilakukan untuk orang tua terhitung besar di sisi Allah dan sebaliknya, durhaka membuka pintu murka. Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah ada pada ridha orang tua dan kemurkaan Allah pada kemurkaan orang tua.” (HR. At-Tirmidzi, nomor 1899; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Makna فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوْ احْفَظْهُ : Teruslah menjaga (pintu itu) atau sia-siakanlah, karena keberadaan pintu itu tergantung pada seberapa jauh engkau menjaganya atau melalaikannya.[6] Hal yang dimaksud di sini bukanlah memberi pilihan antara dua perkara, melainkan sebagai bentuk teguran terhadap sikap meninggalkan orang tua dan menyia-nyiakan mereka, serta dorongan untuk menjaga hak-hak keduanya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa jalla

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23)

Namun demikian, ketaatan kepada orang tua itu dibatasi hanya pada perkara yang ma‘ruf, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang disepakati keshahihannya,

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma‘ruf.” (HR. Al-Bukhari nomor 7257)[7]

Berbakti kepada orang tua adalah menjaga pintu surga yang paling utama. Apa pun zamannya, birr al-walidain bukan sekadar kenangan masa lalu, tetapi kunci peradaban, menguatkan keluarga, meringankan beban sosial dan melahirkan generasi beradab. Bahkan, menurut data dari The Open Psychology Journal, kebahagiaan lansia muslim meningkat jika mendapat dukungan keluarga dan terlibat dalam ibadah.[8] Hal ini mencerminkan dampak sosial dari birr (berbakti). Dalam bioetika maqashid, merawat lansia atau orang sakit termasuk menjaga jiwa (hifzh an-nafs) dan menjaga keturunan (hifzh an-nasl).[9] Maka mulailah dengan doa, perhatian, dan kelembutan kepada orang tua sebab ridha mereka adalah ridha Allah dan pintu itu terbuka sejauh mana kita menjaganya.

Faedah Hadits

Betapa agungnya kedudukan orang tua sebab ridha Allah sangat terkait dengan ridha mereka.

Orang tua merupakan penyebab terbesar terbukanya pintu surga.

Birrul walidain termasuk amal ibadah. Dia bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga syariat yang berpahala surga.

Birrul walidain bisa menjadi sebab diampuninya dosa.

Teguran terhadap sikap anak yang meninggalkan orang tuanya dan menyia-nyiakan mereka, serta dorongan untuk menjaga hak-hak keduanya.

Hadits di atas sejalan dengan ayat Al-Qur’an (Al-Isra’: 23) dan (Luqman: 14–15) yang mewajibkan sikap ihsan (berbuat baik) kepada orang tua.

Durhaka kepada orang tua (ʿuquq) termasuk dosa besar yang menghalangi anak masuk surga.

Menjaga pintu surga berarti menjaga adab, melayani kebutuhan, mendoakan, dan tidak menyakiti mereka.


Referensi

  1. Shahih Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari, As-Sulthaniyyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
  2. Sunan At-Tirmidzi, Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyadh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebut tahun.
  3. Sunan Ibni Majah, Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Al-Qazwini Ibnu Majah, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyadh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebutkan tahun.
  4. Musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal, Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal, Tahqiq Syu’aib Al-Arnauth, Mu’asasah Ar-Risalah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1416 H/1996 M.
  5. Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al-Hakim, Tahqiq Mushtafa Abdul Qadir Atha, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1411 H/1990 M.
  6. Syu'ab Al-Iman, Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi Al-Khurasani, Tahqiq Dr. Abdul Ali Abdul Hamid, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1423 H/2003 M.
  7. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah Wa Syai’ Min Fiqhiha Wa Fawa`idiha, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy, Maktabah Al-Ma’arif, Cet. Tahun 1995 M/1415 H.
  8. Fath Al-Qarib Al-Mujib ‘Ala At-Targhib Wa At-Tarhib, Abu Muhammad Hasan bin Ali Al-Fayyumi Al-Qahiri, Tahqiq Prof. Dr. Muhammad Ishaq Muhammad Alu Ibrahim, Maktabah Dar As-Salam-Riyadh, Cet. 1, Tahun 1439 H/2018 M.
  9. Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Mashabih, Abul Hasan Ali bin Muhammad Nuruddin Al-Mula Al-Harawi, Dar Al-Fikr-Beirut, Cet. 1, Tahun 1422 H/2002 M.
  10. Taufik, Taufik, dkk. “Elderly Muslim Wellbeing: Family Support, Participation in Religious Activities, and Happiness.” The Open Psychology Journal, vol. 14, no. 1, Mei 2021, hlm. 76–82. doi.org (Crossref), https://doi.org/10.2174/1874350102114010076.
  11. Alfahmi, Manal Z. “Justification for Requiring Disclosure of Diagnoses and Prognoses to Dying Patients in Saudi Medical Settings: A Maqasid Al-Shariah-Based Islamic Bioethics Approach.” BMC Medical Ethics, vol. 23, no. 1, Desember 2022, hlm. 72. doi.org (Crossref), https://doi.org/10.1186/s12910-022-00808-6.
  12. Website hadeethenc.com, https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/65995. Diakses tanggal 24 September 2025.
  13. Website dorar.net, https://dorar.net/hadith/sharh/65451. Diakses tanggal 24 September 2025.
89