Pintu Surga Paling Tengah
Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.
Editor: Athirah Mustadjab
Kedudukan Orang Tua dalam Islam
Berbakti kepada orang tua menempati posisi yang sangat tinggi dalam ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an, perintah berbuat baik kepada orang tua selalu disandingkan dengan perintah tauhid. Ini menunjukkan bahwa setelah kewajiban beribadah kepada Allah, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban terpenting. Allah ‘Azza wa jalla berfirman,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu dan bapakmu .…” (QS. Al-Isra’: 23)
Bahkan, di ayat selanjutnya Allah melarang kita mengucapkan kata “ah” (kata kasar sekecil apa pun) kepada orang tua, serta memerintahkan kita merendahkan diri dan mendoakan mereka,
رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)
Ayat tersebut menunjukkan betapa tingginya penghormatan yang harus diberikan kepada orang tua.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempatkan hak orang tua sangat tinggi. Ketika beliau ditanyai,
مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ
“Siapa yang paling berhak diperlakukan dengan baik?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Ditanyai lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ditanyai lagi, “Kemudian siapa?” Beliau (tetap) menjawab, “Ibumu.” Ditanyai lagi, “Kemudian siapa?” Beliau (baru) menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, no. 5971 dan Muslim, no. 2548)
Ini menunjukkan bahwa ibu memiliki tiga kali lipat hak untuk dihormati dibanding ayah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutamakan ibu karena jasa-jasanya begitu besar, mulai dari mengandung dengan susah payah, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, menyusui, hingga merawat kita dengan penuh cinta.[1] Tentu ini tidak mengurangi penghormatan kepada ayah, melainkan penegasan agar setiap anak lebih menyayangi ibu yang pengorbanannya luar biasa.
Begitu mulianya kedudukan orang tua, sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya sebagai “pintu surga paling tengah” bagi seorang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوْ احْفَظْهُ
“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Kamu bisa sia-siakan pintu itu atau kamu bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi, no. 1900; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Hadits ini menunjukkan bahwa cara terbaik meraih surga dan derajat tinggi di akhirat adalah dengan menaati orang tua dan menjaga hak-hak mereka.[2] Dengan kata lain, ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, selama itu bukan dalam hal yang melanggar syariat.

Kewajiban Berbakti dan Ancaman atas Kedurhakaan
Berbuat baik kepada orang tua (birrul walidain) bukan sekadar anjuran, tetapi kewajiban agama yang utama. Kebalikannya, ‘uququl walidain (durhaka kepada orang tua) termasuk dosa besar yang sangat dibenci Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyebut durhaka kepada orang tua sejajar dengan syirik dalam daftar dosa paling besar. Dalam sebuah hadits sahih beliau bersabda,
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ، قُلْنَا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: الْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
“Maukah kalian kuberitahu tentang dosa-dosa terbesar?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua ….” (HR. Bukhari, no. 5976 dan Muslim, no. 87)
Hadits ini menegaskan bahwa durhaka setara dengan syirik dalam hal besarnya dosa. Na’udzubillah!
Banyak peringatan keras yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi anak yang menyakiti atau mengabaikan orang tuanya. Di antaranya adalah sabda beliau,
ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ : مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ
“Tiga golongan yang diharamkan Allah masuk surga: pecandu khamr (pemabuk), anak yang durhaka kepada orang tua, dan dayuts -- yaitu orang yang setuju pada maksiat yang dilakukan anak-istrinya.” (HR. Ahmad, no. 5372 dan 6113; dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
Lebih mengerikan lagi, azab bagi anak yang durhaka akan disegerakan di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ ذنُوبٍ يُؤَخِّرُ اللَّهُ مِنهَا مَا شَاءَ إِلَى يَومِ الِقيَامَةِ إِلَّا البَغْيَ وَعُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ أَو قَطِيْعَةَ الرَّحِمِ يُعَجِّلُ لِصَاحِبِهَا فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الـمَوْتِ
“Semua dosa, Allah menangguhkan (hukumannya) sesuai kehendak-Nya hingga hari kiamat, kecuali kezaliman, durhaka kepada kedua orang tua, dan memutus tali silaturahim; bagi pelakunya Allah segerakan (balasannya) di dunia sebelum kematiannya.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 591; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Hadits ini mengisyaratkan bahwa anak yang durhaka mungkin akan mendapatkan kesulitan, musibah, hidupnya tidak berkah, atau tertimpa hal-hal buruk lainnya sebagai balasan yang disegerakan.
Adapun perintah berbakti itu berlaku tanpa memandang keadaan orang tua. Selama bukan dalam kemaksiatan, kita wajib menaati dan menghormati mereka, meskipun orang tua kita bukan muslim. Allah ‘Azza wa jalla berfirman,
وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفًا
“Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka jangan patuhi keduanya. Akan tetapi, bergaullah dengan keduanya di dunia dengan baik,” (QS. Luqman: 15)
Dengan demikian, sekalipun orang tua berstatus nonmuslim atau berperilaku kurang baik, anak tetap harus memperlakukan mereka dengan baik. Tentu, ketaatan tidak boleh diberikan dalam hal maksiat, tetapi sikap hormat dan kebaikan secara umum tetap wajib diberikan.
Ruang Lingkup Bakti kepada Orang Tua
Berbakti kepada orang tua mencakup segala perkataan, sikap, dan perbuatan yang menyenangkan dan meringankan beban mereka, serta menjauhi hal-hal yang menyakiti perasaan mereka. Ruang lingkup birrul walidain sangat luas, antara lain:
1. Berkata dengan lembut dan sopan.
Sekadar ucapan “ah” yang ditujukan kepada orang tua saja terlarang dalam Islam, maka tentunya sikap dan ucapan yang lebih buruk dari itu lebih keras lagi larangannya, misalnya menghardik, membentak, memasang muka masam, atau menatap tajam. Sebaliknya, seorang anak diperintahkan oleh syariat untuk berbicara dengan penuh sikap hormat dan kasih sayang kepada orang tuanya. Allah ‘Azza wa jalla berfirman,
فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلاً كَرِيمًا
“Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23)
2. Taat dan membantu mereka.
Selama perintah orang tua tidak melanggar syariat, anak wajib menaatinya. Membantu pekerjaan rumah, memenuhi kebutuhan, atau merawat saat mereka tua adalah bentuk bakti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ. قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
“Celaka, celaka, celaka!” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya berusia lanjut, tetapi ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim, no. 2551)
3. Membahagiakan hati mereka.
Membuat orang tua senang bisa dengan akhlak baik, prestasi, atau hal kecil seperti berkunjung, menelepon, dan meluangkan waktu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa membahagiakan seorang mukmin termasuk amalan yang utama, terlebih lagi jika yang dibahagiakan adalah orang tua sendiri. Beliau bersabda,
مِنْ أَفْضَلِ العَمَلِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الـمُؤْمِنِ
“Di antara amalan yang paling utama adalah memasukkan kebahagiaan kepada seorang mukmin.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 7273; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 5897)
Perhatian anak tak kalah berharga dari dukungan material. Sebaliknya, sikap acuh, misalnya tak pernah mengunjungi orang tua atau sibuk dengan ponsel tatkala berada di depan orang tua, adalah hal yang bisa menyakiti hati mereka.
4. Memberi nafkah dan dukungan finansial.
Jika orang tua kekurangan, anak wajib menafkahi sesuai kemampuan sebab membantu biaya hidup, pengobatan, atau kebutuhan mereka termasuk ibadah besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ
“Engkau dan hartamu milik ayahmu” (HR. Ibnu Majah, no. 2291; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)
5. Mendoakan kebaikan untuk mereka.
Doa dari anak adalah sumber kebaikan yang akan terus mengalir manfaatnya untuk orang tua. Allah mengajarkan doa,
رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
“Rabbirhamhuma kama rabbayani shaghira (Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: ...أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: ... atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631)
6. Berbakti setelah wafat.
Bakti tidak berhenti dengan wafatnya orang tua. Mendoakan, melunasi janji dan utang, menyambung silaturahim keluarga besar, dan memuliakan sahabat mereka adalah contoh birrul walidain yang tetap bisa dilakukan oleh seorang anak selepas wafatnya kedua orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَبَرُّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ
“Sebaik-baik bentuk bakti adalah menyambung hubungan dengan sahabat karib ayahnya (setelah ia tiada).” (HR. Muslim, no. 2552)
Bahkan, seorang anak dibolehkan untuk bersedekah atau berhaji atas nama orang tuanya yang telah wafat. Semua amal shalih yang diniatkan untuk orang tua insyaallah bermanfaat bagi mereka di alam kubur. Betapa luasnya ladang bakti, bahkan setelah kedua orang tua berpulang sekalipun.
Kisah Inspiratif: Pelajaran dari Pengabdian Seorang Anak
Untuk mengilustrasikan indahnya birrul walidain, mari simak sebuah kisah tentang tiga pemuda yang terperangkap di dalam gua.
Alkisah, suatu ketika, tiga orang tengah berjalan lalu berteduh di sebuah gua. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh menutupi pintu gua, mengurung mereka di dalamnya. Mereka saling berkata, “Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita kecuali doa dengan menyebut amal shalih yang pernah kita lakukan ikhlas karena Allah.” Maka masing-masing mulai berdoa dengan menyebut satu amal terbaik mereka.
Salah satu pemuda berdoa dengan menyebut bakti kepada orang tuanya. Ia berkata, “Ya Allah, aku memiliki dua orang tua yang sudah sangat tua renta. Aku selalu memberikan minum susu kepada mereka setiap malam sebelum aku memberikan kepada istri, anak-anak, dan budakku. Suatu hari aku terlambat pulang mencari nafkah hingga orang tuaku ketiduran. Setibanya di rumah, aku mendapati mereka telah tidur. Aku pun memerah susu untuk minuman mereka. Namun, aku tak tega membangunkan mereka dan tak ingin mendahulukan istri dan anakku sebelum orang tuaku minum. Karenanya, aku berdiri di samping mereka sambil tetap memegang wadah susu itu menunggu mereka bangun, hingga fajar menyingsing. Barulah setelah mereka terjaga, kuminumkan susu itu kepada keduanya, padahal selama itu, anakku menangis di kakiku meminta jatah susu, namun aku tahan demi orang tuaku. Ya Allah, jika perbuatanku itu Engkau nilai dilakukan ikhlas mengharap ridha-Mu, maka lapangkanlah kesulitan kami di sini.”
Kemudian, apa yang terjadi? Allah pun mengabulkan doa pemuda berbakti tersebut. Batu besar yang menutup mulut gua bergeser, terbuka sedikit. Dua orang lain melanjutkan berdoa dengan menyebut amal shalih mereka (yang satu menjaga amanah gaji pekerja, satu lagi menjaga diri dari zina), hingga akhirnya batu itu bergeser cukup lebar dan mereka bertiga dapat keluar dengan selamat.[3]
Demikian pula seorang lelaki dari Yaman yang menggendong ibunya dalam tawaf bertanya kepada Ibn ‘Umar apakah ia sudah membalas jasa ibunya. Ibnu ‘Umar menjawab: “Tidak, bahkan tidak sebanding dengan satu tarikan napas ketika ia melahirkanmu.”[4]
Kisah nyata di atas menunjukkan betapa ketulusan berbakti pada orang tua bisa menjadi penyelamat di saat sulit. Bahkan, sebesar apa pun bakti seorang anak, ia tidak akan pernah mampu menandingi pengorbanan orang tuanya. Ini mengajarkan kita bahwa berbuat baik kepada orang tua tidak akan sia-sia; balasannya bisa kita rasakan bahkan di dunia, apalagi di akhirat kelak.
Tantangan Birrul Walidain di Era Modern
Di era modern dan digital seperti sekarang, bakti kepada orang tua tetap relevan meski menghadapi tantangan baru. Jarak geografis membuat anak sering merantau, sehingga komunikasi secara langsung tak bisa dilakukan sekerap sebelumnya. Teknologi bisa menjadi solusi, melalui telepon dan video call, tetapi juga bisa jadi penghalang jika berlebihan, misalnya anak lebih sibuk dengan gawai daripada berinteraksi dengan orang tua.
Perubahan budaya juga berpengaruh. Nilai individualisme membuat sebagian orang menganggap merawat orang tua bukan lagi kewajiban anak, tetapi urusan panti jompo, padahal Islam menekankan agar anaklah yang merawat mereka dengan penuh hormat, kecuali jika ada kebutuhan medis. Selain itu, kesenjangan generasi sering menimbulkan konflik pandangan dalam pendidikan, karier, atau jodoh. Alhasil, anak dituntut tetap berbakti, meski tidak selalu sependapat dengan orang tua.
Ini menunjukkan tantangan besar, yaitu memanfaatkan teknologi dan budaya modern untuk mendekatkan diri kepada orang tua, bukan menjauhkan, serta menjaga nilai syukur dan hormat agar birrul walidain tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Menyikapi Tantangan Zaman dengan Bijak
Menghadapi tantangan-tantangan di atas, kewajiban berbakti tidak boleh kendur, justru kita harus lebih kreatif dan bijak dalam menjalankannya di era modern. Berikut ini beberapa cara menyikapi agar tetap berbakti di tengah perubahan budaya dan teknologi.
1. Gunakan teknologi untuk mendekatkan hati.
Bagi yang jauh, rutinlah menelepon, melakukan video call, atau berkirim kabar dan bantuan. Bagi yang bisa bertemu langsung, batasi penggunaan gawai tatkala bersama orang tua; sediakan waktu khusus untuk mengobrol, makan bersama, atau rekreasi sekeluarga.
2. Bangun empati dan komunikasi dua arah.
Pahami perbedaan generasi dengan sabar. Sampaikan pendapat tanpa membentak, tetap minta restu mereka, dan yakinkan bahwa perbedaan bukan berarti kurang hormat.
3. Seimbangkan karier dan keluarga.
Jangan sibuk hingga lupa orang tua. Luangkan waktu menjenguk, mengantar ke dokter, atau sekadar menanyakan kabar. Ingatlah, bahwa merawat orang tua di masa tua adalah pintu masuk surga.
4. Tetap hormat meski orang tua kurang ideal
Kekurangan yang ada pada mereka tidak boleh dijadikan alasan durhaka terhadap mereka. Jika berbeda pandangan, tetap bersikap santun dan cari alternatif yang membuat mereka merasa dihargai.
5. Ajak serta istri dan anak.
Bagi yang telah berkeluarga, berusahalah untuk menunaikan setiap hak pada tempatnya: tunaikan hak orang tua, tetapi jangan abaikan hak istri dan anak. Berjuanglah dan terus berdoa agar Allah memberi kemudahan dalam menunaikan hak istri dan anak, maupun hak orang tua. Hak tersebut mencakup hak lahiriah, misalnya nafkah material, maupun hak batin, misalnya perhatian dan kasih sayang.
Berusahalah untuk memadukan antara hubungan baik dengan orang tua serta hubungan baik dengan istri dan anak. Idealnya, seorang lelaki memenuhi kebutuhan istri dan anaknya serta mengajak mereka untuk berbakti kepada orang tua si lelaki. Jika itu terjadi, sungguh surga dunia telah ada di genggamannya. Sungguh indah tatkala orang-orang yang dicintai dapat hidup rukun dan saling menyayangi.
6. Libatkan nilai agama dalam keluarga.
Ajak orang tua mengaji atau menghadiri majelis ilmu bersama jika memungkinkan, sehingga sama-sama paham posisi mulia orang tua dalam Islam. Dengan ilmu agama, keluarga lebih harmonis dan anak tidak mudah terpengaruh budaya individualis. Selalu tanamkan dalam sanubari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Ridha Allah ada pada ridha orang tua dan murka Allah pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi, no. 1899; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Penutup
Pada akhirnya, birrul walidain adalah ajaran sepanjang zaman yang tidak akan lapuk dimakan modernitas. Orang tua adalah alasan kita hadir di dunia. Melalui merekalah Allah memberi kita kehidupan, kasih sayang, dan pendidikan. Tak terhitung jasa mereka sejak sebelum kita lahir hingga dewasa. Oleh sebab itu, berterima kasih dan berbuat baik kepada mereka semestinya menjadi prioritas hidup kita. Jika hari ini kita merasa sudah berbakti, tingkatkanlah terus. Akan tetapi, jika kita merasa kurang dalam bakti atau pernah menyakiti hati orang tua, segeralah minta maaf dan perbaiki sikap selagi masih ada waktu. Tidak ada kata terlambat untuk berbakti, selama kita mau berubah dan orang tua masih ada. Adapun teruntuk anak yang orang tuanya telah tiada, tetaplah mendoakan orang tua dan lakukan kebajikan atas nama mereka – itulah tanda bakti yang tak putus.
Sebagai renungan terakhir, mari tanyakan pada diri: sudahkah kita menjaga “pintu surga paling tengah” kita dengan baik? Pintu surga itu bisa terbuka lebar dengan ridha orang tua, tetapi bisa pula tertutup jika kita menyia-nyiakan mereka. Jangan tunggu penyesalan datang. Selagi mereka masih hidup, buatlah mereka tersenyum bahagia setiap hari.
Demikian yang bisa Penulis sajikan tentang berbakti kepada orang tua, ruang lingkupnya, tantangannya di era modern, dan cara menyikapinya. Semoga ulasan ini bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan membuahkan amal di kemudian hari. Akhir kata, kami memohon kepada Allah subhanahu wata’ala dengan segala nama dan sifat-Nya agar memberkahi dan meridhai tulisan ini. Wabillahi taufiq ila aqwamith thariq.
Referensi:
- Shahih Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim Al-Bukhari, As-Sulthaniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
- Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mathba'ah 'isa Al-Babi Al-Halabi-Kairo, Cet. Tahun 1374 H/1955 M.
- Sunan At-Tirmidzi, Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyadh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebut tahun.
- Sunan Ibni Majah, Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Al-Qazwaini Ibnu Majah, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyadh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebutkan tahun.
- Al-Adab Al-Mufrad, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Takhrij sesuai hukum Syaikh Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif-Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1419 H/1998 M.
- Musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal, Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal, Tahqiq Syu’aib Al-Arnauth, Mu’asasah Ar-Risalah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1416 H/1996 M.
- Syu'ab Al-Iman, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin ‘Ali Al-Baihaqi Al-Khurasani, Tahqiq DR. Abdul ‘Ali Abdul Hamid, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1423 H/2003 M.
- Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir Wa Ziyadatuh, Abu Abdurrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Al-Maktab Al-Islami, tanpa menyebut cetakan dan tahunnya.
- Tuhfah Al-Ahwadzi Bi Syarh Jami' At-Tirmidzi, Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubar Kafuuri, Darul Hadits, Kairo, Cet. 1, Tahun 1421 H/2001 M.
- Al-Jami’ Liahkam Al-Qur’an, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi, Tahqiq Ahmad Al-Barduni dan Ibrahim Athfisy, Dar Al-Kutub Al-Mishriyah-Kairo, Cet. 2, Tahun 1384 H/1964 M.