Tausiyah Ustadz
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)
Diringkas oleh Tim Majalah HSI dari rekaman kajian Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah.
Tautan: https://youtu.be/O2IPCQYmz5M

Pengaruh Perilaku Orang Tua dalam Pendidikan Anak


Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo

Editor: Faizah Fitria


Orang Tua Wajib Menjaga Perilaku tatkala Mendidik Anak

Anak adalah amanah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada orang tua. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan dan masa depan anak-anak mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Tanggung jawab ini bukan hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan lahiriah seperti makan, minum, dan tempat tinggal, tetapi juga mencakup pendidikan akhlak, iman, dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang ia pimpin." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)

Tanggung jawab orang tua mencakup kesejahteraan fisik dan moral anak. Di hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menanyakan tentang bagaimana orang tua mendidik anak-anak mereka. Salah satu hadits yang mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga amanah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Cukuplah seseorang dinilai berdosa apabila dia menyia-nyiakan orang-orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Bukhari)

Selain itu, disebutkan pula di dalam sebuah ayat, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)

Mari kita renungkan, apakah kita sudah menjaga anak-anak kita? Ketahuilah, ini adalah peringatan bagi orang tua untuk menjaga anak-anak mereka dengan cara mengarahkan pada keselamatan di akhirat. Salah satu cara menjaga anak dari neraka adalah dengan mengajarkan iman, amal shalih, dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Berikut adalah poin-poin penting yang semestinya hadir dalam proses menjalani peran sebagai orang tua:

1.  Fokus pada masa depan akhirat anak

Meskipun banyak orang tua yang sibuk mempersiapkan masa depan dunia anak-anak mereka, seperti mendidik anak menjadi seorang profesional atau sukses di dunia, namun tidak sedikit yang lalai mempersiapkan masa depan mereka di akhirat, padahal, kehidupan di akhirat lebih kekal dan lebih baik daripada kehidupan di dunia.

2. Keutamaan mendidik anak dengan tarbiyah islamiyah

Mendidik anak dengan tarbiyah islamiyah adalah investasi besar untuk kebahagiaan orang tua di akhirat. Seperti yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang shalih." (HR. Muslim no. 1631).

Anak-anak yang shalih yang akan mengingatkan dan mendoakan orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua harus mengutamakan pendidikan agama untuk anak-anak mereka, membekali mereka dengan pengetahuan tentang iman dan amal yang baik, agar mereka menjadi anak yang shalih yang akan menjadi tabungan amal bagi orang tuanya di akhirat kelak.

Ketahuilah bahwasanya anak-anak adalah aset besar kita. Mereka adalah investasi besar kita untuk kebahagiaan kita di akhirat. Tidaklah ini diperoleh kecuali kita berusaha sebagai orang tua untuk mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, mendidik mereka dengan tarbiyah islamiyah, cara-cara Islami yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3.  Peran besar orang tua dalam mentarbiyah anak

Peran kita sebagai ayah dan ibu sangat besar dalam kehidupan anak-anak. Mereka adalah makhluk yang masih suci fitrahnya. Yang pertama kali mereka lihat, dengar, dan berinteraksi dengannya secara intens adalah orang tua mereka sendiri. Orang tua adalah panutan pertama bagi mereka, baik dalam ucapan, sikap, maupun perilaku sehari-hari.

Siapa yang pertama kali akan mewarnai anak-anak kita? Jawabannya: kita sebagai orang tua. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits menegaskan pentingnya peran orang tua dalam tarbiyah (pendidikan) anak-anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya. Kedua orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Setiap anak lahir dalam keadaan suci, siap menerima kebenaran, dan terbuka untuk iman. Namun, perubahan mereka terjadi karena pengaruh terbesar datang dari orang tuanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa orang tualah yang mengarahkan anak-anak tersebut ke dalam agama dan cara hidup mereka.

Anak yang awalnya seperti kertas putih, mulai "diwarnai" oleh nilai-nilai, keyakinan, dan perilaku yang diajarkan oleh orang tuanya. Anak akan tumbuh menjadi muslim yang taat, fasik, atau murtad bergantung pada pendidikan dan contoh yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

Orang tua adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anak mereka. Rumah adalah lingkungan awal tempat anak tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, jangan sampai kita sebagai orang tua melepaskan tanggung jawab ini, mengandalkan sepenuhnya pada sekolah atau guru, lalu berharap anak akan tumbuh menjadi shalih tanpa peran nyata dari figur orang tua. Benar, orang lain seperti guru atau lingkungan memiliki peran dalam pendidikan anak, namun peran orang tua jauh lebih besar dan lebih menentukan.

4.  Jadikan metode keteladanan sebagai langkah efektif

Berbagai metode untuk mendidik anak memang banyak, namun satu hal penting yang harus kita pahami adalah: keteladanan merupakan metode yang paling kuat dan paling membekas dalam jiwa anak-anak.

Seorang ayah dan ibu harus menjadi contoh nyata dalam perilaku sehari-hari. Anak-anak belajar tidak hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi lebih kuat pengaruhnya dari apa yang mereka lihat langsung dari orang tuanya. Dalam pepatah Arab disebutkan,

"Seorang anak belajar dengan matanya lebih banyak daripada dengan telinganya."

Maksudnya, penglihatan lebih berpengaruh daripada sekadar mendengar. Apa yang dilihat anak dari kebiasaan orang tuanya, itulah yang akan tertanam dalam dirinya dan membentuk kepribadiannya.

Sebagai contoh: jika orang tua sering menyuruh anak shalat, tetapi mereka sendiri malas, sering terlambat bangun, atau bahkan tidak menjaga shalat berjamaah di masjid, maka anak akan melihat kontradiksi itu. Akibatnya, nasihat lisan menjadi kurang berarti, karena yang lebih membekas dalam diri anak adalah perilaku nyata yang mereka lihat setiap hari. Anak belajar dari sikap, bukan hanya kata-kata. Maka, keteladanan adalah pendidikan paling efektif yang bisa ditanamkan orang tua.

Pentingnya Menjadi Teladan bagi Anak-anak

Lantas, bagaimana agar kita bisa menjadi qudwah, uswah hasanah, serta teladan yang mampu menginspirasi dan membimbing anak-anak kita ke jalan yang benar?

Setelah kita pahami, ternyata cara ini adalah salah satu metode yang paling efektif untuk mendidik anak, maka kita mengetahui bahwa menjadi teladan adalah jurus yang paling jitu untuk membentuk anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan kebanggaan di dunia dan di akhirat.

Berikut adalah beberapa langkah untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita:

1.  Meluruskan niat karena Allah

Langkah pertama dan paling mendasar adalah meluruskan niat. Tanamkan bahwa tujuan kita adalah untuk mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala, menjalankan amanah sebagai orang tua, serta mengantar anak-anak kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Memang tidak mudah karena menjadi teladan artinya kita harus melawan hawa nafsu kita sendiri. Akan tetapi, perjuangan ini akan terasa ringan bagi mereka yang ikhlas dan diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

2.  Mengiringi perbuatan dengan nasihat

Teladan terbaik bukan hanya berupa perbuatan, tapi juga harus disertai dengan nasihat. Anak-anak perlu tahu alasan di balik tindakan kita. Misalnya, ketika mereka melihat kita rutin shalat berjamaah di masjid, kita sampaikan hadits atau ayat yang menjelaskan keutamaannya. Dengan begitu, anak tahu bahwa perbuatan kita bukan sekadar kebiasaan, melainkan berdasarkan ilmu dan dalil.

Perbuatan yang disertai penjelasan akan lebih mudah dicerna dan ditiru oleh anak-anak. Namun, tetap disesuaikan dengan kemampuan dan usia anak. Kata-kata bijak dan sederhana yang diiringi kasih sayang akan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian mereka.

3.  Menyatukan ucapan dan perbuatan

Salah satu kunci utama dalam menjadi teladan adalah konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Jangan sampai kita menyuruh anak melakukan sesuatu, tapi kita sendiri melanggarnya. Ini akan menimbulkan kebingungan dan bahkan mengurangi kepercayaan anak kepada kita.

Contoh: Seorang ayah melarang anaknya bermain ponsel terlalu lama, tetapi ia sendiri justru asyik dengan ponselnya sepanjang hari.

Bukankah hal ini akan menimbulkan pertanyaan dalam benak anak, “Mana yang harus aku ikuti? Ucapan ayah atau perbuatannya?" Ketika ucapan selaras dengan tindakan, maka anak akan lebih mudah meniru dan menanamkan nilai-nilai yang kita ajarkan.

4. Kuncinya adalah konsistensi dalam keteladanan

Seorang ayah atau ibu harus menjaga sikap dan perilakunya, baik ketika berada di rumah bersama anak-anak, maupun saat berada di luar rumah. Anak-anak adalah pengamat yang tajam, mereka melihat dan memperhatikan bagaimana orang tua bersikap dalam berbagai situasi.

Jika mereka melihat bahwa orang tua bersikap berbeda di luar rumah dibandingkan di dalam rumah, hal ini bisa menjadi penghalang bagi mereka untuk meneladani orang tuanya. Misalnya, ada orang tua yang tampak ramah, lembut, dan religius di hadapan orang lain, namun ketika berada di rumah, justru menunjukkan sikap kasar, keras, atau lalai dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Oleh karena itu, jadilah pribadi yang shadiq, jujur dan konsisten di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik saat di rumah maupun di luar rumah. Jaga ketakwaan kita di setiap tempat dan keadaan. Konsistensi inilah yang menjadi fondasi utama dalam membentuk keteladanan yang kuat bagi anak-anak kita.

5.  Memohon kepada Allah dengan doa

Selain berusaha secara nyata, seorang orang tua juga harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dijadikan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Allah Ta’ala mengajarkan doa yang indah dalam Al-Qur’an,

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan hidup dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74).

Doa ini mencerminkan harapan seorang mukmin untuk tidak hanya memiliki keluarga yang menyejukkan hati, tetapi juga untuk menjadi imam, pemimpin dan teladan dalam ketakwaan.

Maka, berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dimudahkan untuk menjadi sosok yang dapat diteladani dalam kebaikan dan ketakwaan, khususnya oleh anak-anak kita sendiri. Sesungguhnya hidayah dan keteladanan sejati datang dari Allah Ta’ala semata.

Jadilah Teladan dalam Setiap Kondisi

Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat banyak praktik nyata keteladanan yang bisa kita lakukan. Keteladanan ini mencakup berbagai aspek, seperti akidah, ibadah, akhlak, dan kebiasaan hidup. Contohnya, orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menjauhi perbuatan syirik, seperti menggunakan jimat, mendatangi dukun, atau mempercayai tahayul misalnya mempercayai pertanda dari suara burung atau penampakan ular.

Dalam aqidah

Orang tua yang benar-benar memegang teguh tauhid, akan menunjukkan secara langsung kepada anak-anaknya bagaimana cara bertawakal hanya kepada Allah, bergantung hanya kepada-Nya, takut hanya kepada-Nya, dan berharap hanya kepada-Nya. Dengan keteladanan seperti itu, anak-anak akan memahami bahwa tauhid adalah bekal utama dalam hidup, bahkan jika suatu saat orang tua mereka telah tiada, mereka akan tetap teguh dalam tauhid karena telah melihat dan merasakan langsung teladan dari orang tuanya.

Dalam ibadah

Selain itu, orang tua juga menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya dalam menjaga shalat tepat waktu dan berjamaah. Ketika anak-anak melihat orang tuanya selalu bersiap sebelum adzan dan segera menuju masjid, maka hal itu akan membentuk kebiasaan baik dalam diri mereka, sebab kebiasaan yang dibentuk sejak dini akan terbawa hingga dewasa.

Dalam akhlak atau perbuatan

Di samping itu, orang tua yang menjadi teladan dalam akhlak seperti jujur dan amanah, akan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Anak-anak akan meniru kejujuran orang tuanya dalam berbicara dan bermuamalah dengan orang lain, serta bagaimana mereka menjaga lisan dan menepati janji.

Jadikan Keteladanan sebagai Kebiasaan Hidup

Jadikan membaca Al-Qur’an, zikir, salam, dan ucapan-ucapan yang baik, sebagai kebiasaan hidup atau aktivitas yang menjadi rutinitas. Bi’idznillah hal ini akan meninggalkan pengaruh besar dalam diri anak-anak. Misalnya, membiasakan membaca Al-Qur’an setelah Maghrib, atau membiasakan kegiatan yang bermanfaat setiap hari, maka anak-anak yang menyaksikannya secara konsisten akan terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut.

Dampak Buruk Jika Orang Tua Tidak Menjadi Teladan

Jika orang tua hanya mengikuti hawa nafsu, tidak peduli terhadap pentingnya keteladanan, maka akibatnya bisa sangat fatal, kecuali jika Allah memberi rahmat dan pertolongan. Berikut beberapa dampak buruk yang bisa terjadi:

1.  Anak bingung dan kehilangan arah.

Ketika anak melihat bahwa perkataan orang tua tidak sesuai dengan perbuatannya, maka ia akan kebingungan. Ia mungkin bertanya dalam hatinya, "Mana yang benar?"

Kondisi ini akan berdampak buruk bagi perkembangan jiwa dan moral anak. Ia akan sulit mempercayai nasihat orang tuanya, dan lama-lama bisa kehilangan arah hidup. Sebaliknya, jika ada konsistensi antara ucapan dan perbuatan orang tua, maka anak akan merasa tenang. Nilai-nilai kebaikan akan lebih mudah masuk dan tertanam kuat dalam hati mereka.

2.  Anak meniru kebiasaan buruk.

Anak adalah peniru ulung. Apa yang ia lihat, itulah yang akan ia tiru. Jika anak melihat orang tuanya malas berpuasa, lalai dalam shalat, maka ia pun akan cenderung meniru kebiasaan itu, dan akhirnya menjadi pribadi yang juga malas beribadah.

3. Hubungan orang tua dan anak menjadi renggang.

Ketika ucapan orang tua tidak sejalan dengan perbuatannya, anak akan merasa kecewa dan tidak diperlakukan adil. Dari sinilah bisa muncul rasa tidak hormat, kecewa, bahkan menjauh dari orang tua. Hubungan pun menjadi renggang dan tidak hangat.

4. Masa depan anak terancam.

Bukan hanya masa depan di dunia, tapi juga masa depan di akhirat.

Sebagian ulama salaf pernah berkata kepada anak-anak mereka, "Aku sengaja memanjangkan shalatku, wahai anakku, agar Allah merahmati dan menjaga kalian."

Ini menunjukkan bahwa orang tua melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai bentuk usaha menjaga anak-anaknya agar berada dalam lindungan dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Hidayah di Tangan Allah Jalla wa ‘Ala

Setelah semua usaha dilakukan, kita harus sadar bahwa hidayah adalah milik Allah, bukan di tangan kita sebagai orang tua. Allah berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS. Al-Qashash: 56)

Jika Allah menghendaki seseorang mendapat hidayah, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Namun, jika Allah menghendaki kesesatan bagi seseorang, maka tidak ada satu pun manusia yang bisa memberinya hidayah. Maka dari itu, tugas kita sebagai orang tua yaitu:

  1. Berusaha menjadi teladan yang baik.
  2. Terus mendoakan anak-anak.
  3. Memberikan nasihat yang lembut dan penuh hikmah.
  4. Mengajak mereka menghadiri majelis ilmu.
  5. Mencarikan lingkungan dan teman yang baik bagi mereka.

Setelah semua itu, kita serahkan hasil akhirnya kepada Allah. Semoga Allah memudahkan kita semuanya untuk mendidik anak-anak dan hendaknya kita sering berdoa meminta kepada Allah dan mengatakan,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Demikian yang bisa disampaikan. Wallahu a’lam bishshawab.

71