Pendidikan Adab: Warisan Terbaik untuk Anak
Penulis: Hawwina Fauzia Aziz
Editor: Za Ummu Raihan
Ayah-Bunda, Aba-Umma, pernahkah kita merenung sejenak, “Apa sesungguhnya yang ingin kita wariskan kepada anak-anak kita?” Rumah, tabungan, atau pendidikan tinggi? Itu memang penting. Namun, sadarkah kita bahwa ada “warisan” yang jauh lebih abadi? Yaitu, pendidikan akhlak dan adab.
Mungkin, selama ini kita sudah terlalu larut dan terfokus sekadar pada target akademik dan pencapaian duniawi saja untuk anak-anak kita, hingga kita lalai pada sesuatu yang lebih abadi, sesuatu yang jauh lebih dibutuhkan oleh anak-anak di kehidupan mendatang, yakni penanaman karakter yang baik dan adab berdasarkan aturan Allah ‘Azza wa Jalla dan tuntunan dari teladan terbaik kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Sebagaimana yang telah kita simak dalam rubrik-rubrik sebelumnya mengenai esensi adab dan akhlak dalam agama kita, dari sana—biidznillah, kita pasti akan memahami bahwa pendidikan akhlak dan adab merupakan bekal utama dari pendidikan Islam yang sejati.
Mari kita lihat adab-adab yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini.
Pertama: Hormati Orang yang Lebih Tua
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
“Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra: 24)
Anak-anak adalah peniru ulung. Adab tidak akan tertanam pada dirinya jika orang tua sekadar menasehatinya panjang lebar dengan nilai dogmatis. Mereka butuh teladan; itulah tugas kita sebagai orang tua. Mengajarkan adab bukan hanya soal menyampaikan kepada anak, melainkan membiasakan anak untuk hidup dengannya. Anak yang terbiasa dengan lingkungan dan suasana yang santun akan tumbuh dengan karakter kesantunan dalam dirinya.
Berdasarkan hal tersebut, orang tua perlu berusaha untuk selalu menciptakan suasana yang santun dan hangat di dalam rumah. Ajari anak untuk menghormati orang lain dan memiliki empati atau peka terhadap perasaan orang lain, dimulai dari keluarganya karena anak yang sudah paham mengenai cara menghormati setiap anggota keluarganya, terlebih orang tuanya, juga akan terbiasa untuk menghormati orang lain.
Kiat Praktis
- Ciptakan suasana yang santun dalam kehidupan anak dengan berusaha semaksimal mungkin untuk berbicara santun (tidak keras, kasar, atau emosional) pada siapa pun, termasuk pada anak.
- Selalu contohkan dan terapkan untuk mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” (atau jazakallahu khairan, jazakillahu khairan, atau barakallahu fik) kepada anak. InsyaAllah mereka akan menirunya.
- Ketika anak bersikap kurang sopan, orang tua tidak langsung marah, melainkan mengajak bicara dengan lembut sambil duduk berhadapan dan mengatakan padanya, “Nak, itu perkataan/sikap yang tidak baik. Bunda/Ayah sedih kalau kamu bicara seperti itu. Yuk, kita belajar bicara yang baik, ya.”
Kedua: Amalkan Sunnah ketika Makan dan Minum
Makan bersama keluarga bukan hanya soal kenyang dan bergizi, melainkan juga merupakan golden time dalam menanamkan adab. Mengucap bismillah, makan dan minum dengan duduk, menggunakan tangan kanan, tidak mencela makanan, serta tidak mubazir atau membuang-buang makanan adalah sesuatu yang mungkin tidak terlalu menjadi perhatian utama dalam pendidikan di sekolah.
Semua ini adalah adab makan dan minum dalam Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak hadits yang menjelaskan perihal adab dalam makan dan minum, di antaranya,
يَا غُلاَمُ سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Wahai anak muda, sebutlah nama Allah (bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari hidangan yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari no. 5061)[1]
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum.” (HR. Muslim no. 2734)[2]
Ketiga: Adab ketika Masuk dan Keluar Rumah
Siapa pun tentu bahagia jika rumahnya dipenuhi kehangatan. Sebagian orang akan fokus pada dekorasi rumah atau sesuatu yang kasar mata. Namun, sadarkah kita bahwa ada hal penting yang justru sering luput dari perhatian kita? Ya, ikhtiar “sederhana: tersebut adalah membiasakan seluruh anggota keluarga untuk mengamalkan adab ketika masuk dan keluar rumah.
فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةًۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
“Apabila kamu memasuki rumah-rumah itu, hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah.” (QS. An-Nur: 61)
إذا لقي الرجل أخاه المسلم فليقل: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
“Jika seorang bertemu dengan saudaranya sesama muslim maka hendaklah dia mengucapkan (salam), ‘Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” (HR. Tirmidzi no. 2721. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1403.)[3]
“Assalamu ’alaikum!” yang bermakna: “Semoga keselamatan dari Allah ‘Azza wa Jalla tercurah untuk kalian.” Kalimat yang mudah diucapkan juga mengandung doa indah di dalamnya, serta menghidupkan dan menghangatkan suasana.
Keempat: Pakaian adalah Cerminan Identitas Diri
يَا بَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26).
لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari no. 5886).[4]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِاليُمْنَى وَإِذَا خَلَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ
“Apabila salah seorang di antara kamu memakai sandal (sepatu), maka mulailah dengan yang kanan dan apabila melepasnya mulailah dengan yang kiri.” (HR. Bukhari no. 5517)[5]
Pakaian akan merepresentasikan identitas dan jati diri seseorang. Sebagai seorang muslim, tentu kita juga sangat perlu untuk memperhatikan adab-adab terkait hal ini. Anak yang belajar berpakaian sopan sejak kecil akan tumbuh dengan rasa malu dan kenyamanan dalam berpakaian yang sopan, serta memahami bahwa berpakaian adalah bagian dari ibadah dan bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dengan cara ini, kita tidak hanya mengajarkan adab dalam berpakaian, tetapi juga menanamkan rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain sesuai dengan ajaran Islam.
Kiat Praktis
- Orang tua harus menjadi teladan dalam berpakaian sopan dan menutup aurat setiap kali keluar rumah atau berhadapan dengan non-mahram.
- Pilih pakaian anak bersama-sama dan beri pilihan pakaian yang sopan sesuai dengan fitrahnya.
- Bimbing anak untuk berdoa atau mengucapkan “bismillah” setiap kali hendak mengenakan pakaian, dan ajarkan untuk memulai mengenakan pakaian dari sisi kanan.
Kelima: Doakan Anak
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Doa orang tua tak boleh luput dalam setiap usaha mendidik anak-anak karena doa adalah senjata ampuh para orang tua. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Tiga doa yang mustajab yaitu doa orang yang terdzalimi, doa musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi no. 3448. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad)[6]
Demikian yang dapat kami bagikan, semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla berikan kemudahan kepada Ayah-Bunda, Aba-Umma, dalam menanamkan akhlak mulia serta adab-adab Islam kepada diri ananda dan semoga Allah ‘azza wajalla karuniakan kepada kita semua berupa keturunan yang salih-salihah lagi menyejukkan hati dan pandangan. Amin. Barakallahu fikum.
Referensi:
- Al-Qur’an Al-Karim.
- Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Shahih Al-Bukhari. Damaskus: Dar Ibn Katsir.
- Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi. Shahih Muslim. Turki: Dar Ath-Thiba’ah Al-‘Amirah.