Pelatihan Calon Musyrifah HSI ART251

Reporter: Gema Fitria

Editor: Hilyatul Fitriyah

Salah satu persiapan yang rutin dilakukan HSI AbdullahRoy dalam menyambut santri baru adalah pelatihan calon musyrifah. Pelatihan untuk Musyrifah yang bertugas di Angkatan 251 ini dimulai dari tanggal 7 Oktober hingga 11 November 2024.

Ketua koordinator pelatihan calon musyrifah ART251, Ukhtu Surya Sari, menyampaikan bahwa anggota panitia seleksi terdiri dari 5 orang koordinator ART251. Tahapan seleksi mencakup pendaftaran calon musyrifah, pembekalan materi teknis, dan materi tambahan.

Materi yang diberikan selama pelatihan terdiri dari materi teknis dan tambahan. Materi teknis terdiri dari :

  1. Pengenalan HSI.
  2. Tugas dan kewajiban Musyrifah
  3. Pemahaman tata tertib HSI.
  4. Pemahaman tata tertib evaluasi dan penjelasan NIP.
  5. Cara menghitung nilai.
  6. Teknis dasar Whatsapp dan praktik pembuatan grup.
  7. Adab komunikasi online.

Adapun materi tambahan yaitu berupa materi silsilah ‘Ilmiyyah Beginilah Para Sahabat Menuntut Ilmu Agama'.

Pada periode ini, ada 230 calon musyrifah yang mendaftar. “230 di awal. Masuk pelatihan 101,” tutur Ukhtu Sari.

Bagaimana kisah seru dari para trainer dan para calon musyrifah yang berkesempatan mengikuti pelatihan kali ini? Simak sampai selesai, ya..

Berawal Dari Kekecewaan

Domisili nun jauh di Swedia dengan selisih waktu lima jam dari Jakarta, tak mengurangi semangat Ukhtu Anin untuk mengambil bagian sebagai trainer. Bukan tanpa alasan, keikutsertaannya berawal dari kisah pribadi yang kurang menyenangkan.

”Awalnya karena ada kekecewaan sama tandem yang ana rasa kurang komitmen dan akhirnya beberapa kali ada grup yang agak terlantar karena musyrifahnya yang kurang fokus,” ucap santri pemilik nama lengkap Anindhita Friandhini ini.

“Lalu ana pikir, kalau banyak musyrifah yang kurang fokus dalam bertugas, lama-lama nanti HSI akan kekurangan sumber daya yang baik yang bisa membantu dakwah. Akhirnya pada saat ada kesempatan untuk menjadi trainer, ana coba dengan niat supaya dakwah ini lebih maju, berarti harus mulai dari musyrifah yang fokus benar-benar ikhlas karena Allah dan harus komitmen,” papar Ukhtu Anin menambahkan.

Sebagai trainer, Ukhtu Anin harus bertanggung jawab mulai dari memberikan pertanyaan terkait materi yang sudah dibagikan, menjelaskan tugas musyrifah, hingga memberikan rekomendasi calon musyrifah yang dianggap layak bertugas.

Tak pelak, Ukhtu Anin pun membagikan kesannya pada pelatihan kali ini. Berbeda dengan pelatihan ART242, Ukhtu Anin yang kala itu juga menjadi trainer, ia sangat mengapresiasi para calon musyrifah yang tetap berusaha aktif.

“Di training angkatan lalu, calon musyrifah ana rata-rata masih muda usia 20-30an masyaallah sangat antusias, aktif, rajin bertanya yang mereka tidak paham. Rasanya grup selalu ramai. Ritmenya pun cepat. Qaddarullah, angkatan sekarang rata-rata sudah berumur di atas 40 tahun, jadi agak lebih hati-hati dalam menjawab dan terasa ritme di grup lebih lambat ya, tapi masyaallah mereka tetap berusaha aktif dalam menjawab pertanyaan yang ana tanyakan,” pungkasnya mengakhiri sesi wawancara.

Berbagi Ilmu dan Pengalaman

Berpindah ke tanah air, di Yogyakarta ada Ukhtu Heni Ridayati yang juga menjadi trainer. Keinginan berbagi ilmu dan pengalaman adalah alasan kuat yang melatarbelakangi keputusannya mendaftar sebagai trainer.

Pelatihan ini adalah kedua kalinya bagi Ukhtu Heni. Ia memegang satu grup yang beranggotakan kurang lebih 10 orang calon musyrifah. Tugasnya menjawab pertanyaan selama tiga sesi, membimbing pemahaman materi, menganalisa kemampuan dan keaktifan, memberikan gambaran tentang tugas musyrifah, serta memberikan rekomendasi kelulusan.

Ukhtu Heni menceritakan aktifnya para calon musyrifah di grupnya sebagai pengalaman yang berkesan baginya.

“Semangat untuk membuat pertanyaan bagi para calon musyrifah saat pertanyaan dari Koordinator telah selesai diberikan semua ke calon musyrifah sedangkan kala itu waktu belum selesai, aktifnya calon musyrifah dalam bertanya membuatnya bersemangat untuk memberikan jawaban terbaik,” ucap wanita yang berprofesi sebagai seorang guru ini.

Semangat menjadi trainer juga berasal dari rekan-rekan sesama trainer. “Bertemu teman baru di grup trainer selama pelatihan. Canda, tawa, sembari berbagi ilmu membuat kangen serta menjadikan para trainer lebih bersemangat dalam memberikan yang terbaik untuk dakwah HSI,” ungkapnya.

Ingin Memanfaatkan Waktu

Kali ini beralih ke calon musyrifah, salah satu pendaftar yang berhasil diwawancarai oleh Majalah adalah Ukhtu Amita Nucifera Nida Silmi. Selepas mengundurkan diri dari kesibukannya sebagai pengajar di sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor pada tahun 2023, Ukhtu Mita, demikian ia akrab disapa, menyadari waktunya lebih longgar dan fleksibel. Hal inilah yang membuatnya termotivasi mendafar menjadi calon musyrifah.

“Selain itu ana ingin memperluas persaudaraan dengan teman-teman yang insyaallah saling mengingatkan dalam kebaikan, menambah wawasan dalam pergaulan juga dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari Ustadz Abdullah Roy hafidzahullah,” tutur Ukhtu Mita. “Ana juga ingin memberi teladan bagi anak-anak ana bahwa sebagai seorang muslimah, kita pun dapat berdakwah tanpa perlu menonjolkan diri ke public karena gadget kita pun dapat menjadi ladang amal,” sambungnya.

Pelatihan calon musyrifah ART251 merupakan pengalaman kedua bagi santri pemilik NIP ART181-11005 ini. Pada periode sebelumnya Ukhtu Mita sempat mencoba ikut seleksi. “Di awal-awal seleksi qaddarullah ana terpaksa mengundurkan diri karena saat itu ana sedang menjalani ibadah haji dan tidak memungkinkan untuk bergerak cepat dalam menjawab setiap pertanyaan di grup. Tapi sudah berniat jika ada lagi, mau mencoba kembali,” ujar ibu dari lima anak tersebut menceritakan.

Kali ini niat tersebut pun akhirnya dapat terlaksana. Ukhtu Mita merasa pelatihan calon musyrifah ini sangat berkesan. “Kesan ana sih pelatihan ini mengasyikkan deh. kayak naik roller coaster gitu. Ada naik turun. Deg-degan. Cepet-cepetan jawab dan berusaha menjawab sebaik-baiknya. Jadi tengok-tengok hp lebih intens, padahal udah dikasih jadwal untuk pengajuan pertanyaan tapi pengen paling cepat,” ucap Ukhtu Mita diakhiri tawa.

Lewat pelatihan ini pula, Ukhtu Mita juga bisa belajar membagi waktu dan mengaku wawasannya bertambah terkait HSI, materi dan sistem pembelajarannya.

Senang Menambah Ilmu

Ummu Ibroohim, calon musyrifah lainnya memutuskan ikut seleksi setelah membaca kabar berita di beranda web edu. Senang menambah ilmu dan muraja’ah menjadi salah satu motivasinya ingin turut andil menjadi musyrifah.

Ummu Ibroohim mengungkapkan rasa terima kasihnya atas diadakannya pelatihan calon musyrifah. “Maasyaallah, jazaakumullahu khairan wa baarakallahu fiikum untuk tim HSI Abdullah Roy. Maasyaallah telah mengupayakan dengan baik program belajar ini, salah satunya dengan seleksi calon musyrifah HSI,” tuturnya bersyukur.

“Perencanaan seleksi yang sudah disiapkan dengan baik mulai dari materi, adanya jadwal materi hingga kegiatan kuis serta tanya jawab yang harus diikuti para calon musyrifah sudah disampaikan di awal sehingga memudahkan para peserta seleksi menyesuaikan dengan kegiatan masing-masing. Selain itu, pada akhir seleksi akan ada evaluasi untuk mengukur kompetensi calon musyrifah,” lanjut santri angkatan 201 ini.

Semoga dari pelatihan yang baru berjalan selama sembilan hari saat liputan ini ditulis, terlahir para musyrifah yang bisa mengemban amanah dan bertanggung jawab dengan komitmennya membantu dakwah HSI. Semoga Allah mudahkan urusan semua pihak yang terlibat, dan Allah beri pahala yang sempurna atas sumbangsih masing-masing. Barakallahufiikum.

0