Panen Kebaikan dari Keberkahan Berbakti Kepada Orang Tua
Reporter: Loly Syahrul
Editor: Hilyatul Fitriyah
هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُ
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)
Kebaikan selalu mempunyai cara untuk kembali kepada pelakunya. Kadang dalam bentuk yang sama, kadang dalam wujud yang jauh lebih besar dari yang pernah kita bayangkan. Sekecil apapun kebaikan yang dikerjakan, ia seperti benih yang tumbuh menjadi pohon rindang kemudian berbuah kebaikan lain yang sambung-menyambung.
Kisah Ukhtuna Feurah Dihan Bahar, santri HSI Angkatan 221, adalah salah satu bukti nyata. Dari satu langkah kecil berbakti kepada orang tua, Allah bukakan lautan keberkahan dan hidayah yang menenangkan.
Kebaikan Dibalas dengan Kebaikan
Ukhtuna Dihan tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan shalat dan mengaji. Namun ia mengaku pernah mengalami masa di mana ia belum merasakan kedekatan sesungguhnya dengan Allah, Sang Khaliq. “Shalat itu cuma rutinitas. Sekadar menggugurkan kewajiban, belum ada rasa dilihat oleh Allah, apalagi merasakan kehadiran-Nya,” tutur ibu sepasang putra-putri ini, mengakui keadaannya di masa lalu.
Namun, ada satu hal yang demikian lekat dengan keyakinannya kala itu, yaitu bahwa berbuat baik adalah kewajiban dan Allah-lah satu-satunya tempat meminta. Ia merasakan betul bagaimana Allah mengabulkan doa-doa dengan cara yang tak disangka. Ramadhan tahun 1993, mungkin menjadi salah satu titik awal kesadaran akan luasnya kasih sayang Allah dalam dirinya terbangun.
Saat itu, ia masih menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Suatu malam ia memutuskan menemani nenek dan bibi ayahnya i’tikaf di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan. Hanya atas kehendak Allah, Ukhtuna Dihan tergerak untuk menemani kedua neneknya itu hanya lantaran ingin berbuat kebaikan.
Sembari menemani sang nenek, Ukhtuna Dihan menyempatkan diri berdoa. Ia tahu, malam-malam akhir Ramadhan adalah saat-saat doa diijabah. “Waktu itu ana cuma berdoa dengan bahasa sendiri, belum tahu tata caranya. Tapi ana minta tiga hal besar dalam kehidupan,” kenangnya. Tampaknya kebaikan Ukhtuna Dihan malam itu, Allah balas sekaligus.
Dalam waktu kurang dari satu tahun, ketiga doa Ukhtuna Dihan, Allah kabulkan. Salah satunya, Ukhtuna Dihan dipertemukan dengan lelaki shalih yang kini menjadi sang suami. Ternyata, mengantarkan nenek beribadah adalah wasilah kebaikan yang membuka pintu kebaikan lain. Allah memberi balasan dari arah yang tak pernah ia sangka.
Berbakti Kepada Orang Tua
Setelah menikah, Ukhtuna Dihan sepakat tinggal bersama ibu mertua. Ini keputusannya mematuhi ajakan sang suami karena ayah mertua Ukhtunan Dihan wafat tak lama setelah pernikahan mereka.
“Saat itu ana belum paham benar bahwa orang tua adalah pintu surga paling tengah. Ana hanya merasa, siapa lagi yang bisa menemani ibu selain kami,” ungkapnya.
Awalnya, sang ibu mertua masih sehat, tapi seiring waktu, kondisi kesehatan beliau menurun. Ukhtuna Dihan justru kian bulat melayani sang mertua. Masih dengan latar belakang sama, yakni ingin berbuat kebaikan. Siapa sangka dari sanalah justru keberkahan kian deras mengucur dalam kehidupan keluarganya.
Suaminya, yang dulu hanya guru sekolah menengah, perlahan menapaki karier hingga menjabat di instansi pemerintah daerah. Sementara Ukhtuna Dihan sendiri, berhasil menyelesaikan dua gelar magister di bidang kesehatan, hingga dipercaya menjadi Direktur RSUD Tugu Koja, Jakarta Utara.
“Maasyaa Allah, ternyata kebaikan kecil seperti merawat orang tua, bisa membuka pintu rezeki dan keberkahan dari arah yang tak disangka,” ucapnya bernada syukur.
Atas izin Allah juga, anak-anak mereka pun tumbuh menjadi pribadi yang terbilang cerdas dan berbakti. Buktinya keduanya telah menyelesaikan pendidikan di Universitas Indonesia dan kini telah bekerja. Satu di Perusahaan Astra dan satu lagi di sebuah perusahaan asal negeri tirai bambu. Ditambah di antara semua kesibukan putra-putri Ukhtuna Dihan, mereka setia mendampingi sang nenek terutama ketika menderita stroke. Sekarang, saat sang ibu mertua lumayan pulih, anak lelaki Ukhtuna Dihan tetap mau menemani sang nenek saat tidur malam.
Keinginan berbuat kebaikan Ukhtuna Dihan tak berhenti sampai di sana. Tahun 2019 giliran kedua orang tuanya yang diboyong untuk tinggal bersama. Namun, di tengah kebahagiaan berkumpul dengan kedua orang tua dan bisa mendampingi mereka di usia senja, qadarullah, tak lama berselang, ayahanda Ukhtuna Dihan berpulang. Tinggal ibunda Ukhtuna Dihan dan ibu mertuanya yang kini tinggal bersamanya.
“Ana nggak tenang kalau mereka tinggal sendiri. Rasanya ingin selalu dekat, karena orang tua itu ladang pahala,” bisiknya lirih kepada reporter Majalah.
Cahaya Hijrah
Dalam perjalanan mencari ridho Allah, Ukhtuna Dihan pernah kerap bertanya dalam hati mengapa ada orang yang tampak begitu bersemangat saat azan berkumandang sementara dirinya tidak demikian. Tampaknya hal ini memicu kegelisahan dalam sanubarinya. Hingga Ukhtuna Dihan menemukan jawaban, tentu atas anugerah hidayah dari Allah. “Ana menjalani shalat atau pakai hijab, hanya karena kewajiban. Ibadah terasa seperti gerakan tanpa ruh,” kenangnya.
Akhir tahun 2020, sebuah ajakan sederhana dari teman membuka jalan. Ia diajak mengikuti kelas tahsin untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Dari sanalah Allah bukakan pintu ilmu yang lebih luas. “Subhanallah, ternyata di kelas itu kami bukan hanya belajar membaca Al-Qur’an, tapi juga belajar tafsir dan hadits. Dari situ ana paham kenapa orang yang bertakwa bergegas ketika mendengar azan,” tuturnya.
Sejak itu, ia mulai merasakan manisnya iman. Shalat tak lagi sekadar rutinitas, tapi bentuk cinta dan penghambaan. Di tengah kesibukan sebagai direktur rumah sakit, ia menyempatkan diri mendengarkan kajian saat perjalanan menuju kantor. Allah datangkan ilmu bahkan di sela-sela waktu padat Ukhtuna Dihan mengurus berbagai peran dalam kehidupan sehari-harinya.
Dari kelas tahsin tersebut, Ukhtuna Dihan kemudian mengenal dan memutuskan bergabung dengan HSI AbdullahRoy. Ia menjadi santriwati angkatan 221. “Belajar di HSI membuat ana mengenal Allah lebih dekat. Hati terasa tenang, semua urusan dunia terasa ringan karena ana tahu siapa tempat bergantung,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, dua orang stafnya juga ikut bergabung nyantri di HSI atas ajakannya. Ia ingin menularkan nikmatnya mengenal tauhid kepada orang-orang di sekitarnya. “Mudah-mudahan kelezatan iman ini Allah jaga sampai akhir hayat,” ucapnya demikian berharap.
Sekelumit perjalanan Ukhtuna Dihan mengajarkan bahwa birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah salah satu jalan menuju ridha Allah. Jalan lapang nampaknya karena berbagai kemudahan dan nikmat lantas datang bertubi-tubi menghinggapi ia yang mengamalkannya. Kita bisa belajar dari kisah Ukhtuna Dihan. Allah bukakan banyak keberkahan, keluarga yang harmonis, karier yang berkah, anak-anak yang shalih, dan hidayah yang menenteramkan hati kemudian.
Sungguh, janji Allah itu nyata. Kebaikan tak pernah sia-sia. Dari satu langkah kecil, Allah bisa melipatgandakan dengan kebaikan lain tanpa batas. Jadi jangan tunggu sempurna untuk berbuat baik. Mari kita mulai dari hal kecil dengan niat yang tulus. Karena kebaikan selalu tahu jalan pulang, kembali kepada hati yang menanamnya. Insyaallah, biidznillah…