Fiqih
๐ŸŽง Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Panduan Puasa di Bulan Haram
Bedakan antara Amalan Sunnah dan Amalan Bidโ€™ah

Penulis: Jaโ€™far Ad-Demaky, S.Ag.

Editor: Athirah Mustadjab


Keutamaan Puasa di Bulan Muharram

Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu berkata, โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูู’ุถูŽู„ู ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู… ุจูŽุนู’ุฏ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ุดูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ู…ูุญูŽุฑู‘ูŽู…

โ€˜Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram.โ€™โ€ (HR. Muslim, no. 1982)

Keutamaan Puasa Asyura

Pertama: Menghapuskan dosa setahun lalu.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุตููŠูŽุงู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆู’ุฑุงูŽุก ุฃูŽุญู’ุชูŽุณูุจู ุนูŽู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒูŽูู‘ูุฑูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู†ูŽุฉูŽ ุงู„ุชููŠ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡

โ€œPuasa hari Asyura; aku mengharap pahala dari Allah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.โ€ (HR. Muslim no. 1976)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, โ€œ(Puasa Asyura) menghapus seluruh dosa kecil. Maksudnya, menghapuskan seluruh dosa selain dosa besar.โ€ (Majmuโ€™ Syarah Al-Muhadzdzab, 6:279)

Kedua: Nabi sangat bersemangat untuk berpuasa pada hari tersebut.

Ibnu Abbas radhiyallahu โ€˜anhu berkata,

ู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‰ ุตููŠูŽุงู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ููŽุถู‘ูŽู„ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ: ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽู‡ู’ุฑูŽ ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุดูŽู‡ู’ุฑูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ

โ€œAku tidak pernah melihat Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam begitu bersungguh-sungguh memilih untuk berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan dibanding selain hari ini, yaitu Hari Asyura, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadan." (HR. Bukhari no. 2006 dan Muslim no. 1132)

Makna lafal ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‰ adalah meniatkan puasa untuk mendapatkan pahalanya. (https://islamqa.info/ar/answers/21775)

Ketiga: Hari tatkala Allah menyelamatkan Bani Israil.

Ibnu Abbas berkata, โ€œNabi tiba di Madinah; dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Nabi bertanya, โ€˜Puasa apa ini?โ€™ Mereka menjawab, โ€˜Hari ini adalah hari yang baik; hari tatkala Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, sehingga Musa berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah. Kami pun ikut berpuasa.โ€™ Nabi berkata, โ€˜Kami lebih berhak terhadap Musa (lebih berhak untuk mengikuti Musa) daripada kalian.โ€™ Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa juga.โ€ ( HR. Bukhari no. 2004 dan Muslim no. 1130)

Juga terdapat hadits yang sangat panjang, "Sesungguhnya Allah mewajibkan Bani Israil untuk berpuasa sehari dalam setahun, yaitu di hari Asyura (10 Muharram). Mereka diperintahkan untuk membuat pesta makanan bagi keluarga โ€ฆ. Itu adalah hari tatkala Allah mengangkat Idris ke tempat yang tinggi, Allah menyelamatkan Ibrahim dari kobaran api, Allah mengeluarkan Nuh dari perahu, dan Allah menurunkan Taurat kepada Musa; hari tatkala Ismail diganti dengan kambing, tatkala Allah mengeluarkan Yusuf dari penjara, tatkala Allah mengembalikan indera penglihatan Yaโ€™qub, tatkala Allah menyingkap ujian yang dialami Ayyub, tatkala Allah mengeluarkan Yunus dari perut ikan paus โ€ฆ,โ€ hingga sampai pada lafal, โ€œโ€ฆ Itulah hari pertama yang Allah ciptakan di dunia.โ€

Para ulama menyatakan dengan yakin bahwa hadits tersebut palsu. Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, โ€œHadits ini, bagi orang yang menggunakan akalnya, tidak meragukan lagi bahwa merupakan hadits palsu. Orang yang membuat hadits ini terlalu mengada-ada secara terang-terangan, tanpa malu. Dia menyebutkan sesuatu yang mustahil, yaitu pernyataan, โ€˜Itulah hari pertama yang Allah ciptakan di dunia.โ€™ Sebabnya, orang yang mengarang hadits tersebut lupa bahwa hari tersebut dinamakan Asyura jika sudah didahului oleh sembilan hari sebelumnya.โ€ (Al-Maudhuโ€™at, 2:201)

Selain itu, As-Suyuti juga menyebutkan status palsu riwayat ini dalam kitabnya, Al-Laโ€™ali Al-Mashnuโ€˜ah fi Al-Ahadits Al-Mauduโ€˜ah, 2:93.

Keempat: Pada awalnya, puasa Asyura diwajibkan.

Dahulu puasa Asyura diwajibkan, sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Hal ini menunjukkan keutamaan puasa Asyura. Ibnu Umar berkata, โ€œNabi dahulu berpuasa Asyura dan memerintahkan manusia agar ikut berpuasa. Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, puasa Asyura tidak diwajibkan lagi.โ€ (HR. Bukhari no. 1892 dan Muslim no. 1126)

Kelima: Dikerjakan di bulan haram.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ุดูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูุญูŽุฑู‘ูŽู…ู

โ€œPuasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Al-Muharram.โ€ (HR. Muslim no. 1982)

Sejarah Puasa Asyura

Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram. Asyura adalah hari yang mulia yang menyimpan sejarah yang tidak bisa dilupakan. Terdapat beberapa fase dalam pensyariatan puasa Asyura.

  • Fase pertama: Beliau berpuasa di Mekkah, tetapi tidak memerintahkan sahabat untuk berpuasa.
  • Fase kedua: Beliau datang ke Madinah dan mengetahui orang-orang Yahudi berpuasa. Beliau juga berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Bahkan, para sahabat juga melatih anak-anak mereka untuk berpuasa.
  • Fase ketiga: Setelah diturunkannya kewajiban puasa Ramadhan, beliau tidak lagi memerintahkan para sahabat untuk berpuasa Asyura dan juga tidak melarang; beliau membiarkannya menjadi perkara sunnah.
  • Fase keempat: Di akhir hayatnya, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ingin berpuasa pada tanggal 9 Muharram untuk menyelisihi orang-orang Yahudi.

Hukum dan Tingkatan Puasa Asyura

Hukum puasa Asyura adalah sunnah muakkadah yang pada awalnya diwajibkan. Puasa Asyura memiliki tiga tingkatan

  • Tingkatan pertama: Berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja. Orang yang berpuasa hanya pada tanggal 10 telah mendapatkan keutamaan puasa hari Asyura, yaitu diampuni dosa-dosanya setahun yang telah berlalu.
  • Tingkatan kedua: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Inilah yang paling banyak ditunjukkan oleh hadits. Ibnu Rajab mengatakan, โ€Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafiโ€™i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.โ€ (Lathaโ€™iful Maโ€™arif, hlm. 99)
  • Tingkatan ketiga: Berpuasa sebelum dan sesudahnya, yaitu tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Puasa tiga hari tersebut termasuk dalam keumuman hadits untuk puasa tiga hari setiap bulan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu; ia berkata,

ุฃูŽูˆู’ุตูŽุงู†ูู‰ ุฎูŽู„ููŠู„ูู‰ ุจูุซูŽู„ุงูŽุซู ู„ุงูŽ ุฃูŽุฏูŽุนูู‡ูู†ูŽู‘ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฃูŽู…ููˆุชูŽ ุตูŽูˆู’ู…ู ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉู ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ู…ูู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽู‡ู’ุฑู ุŒ ูˆูŽุตูŽู„ุงูŽุฉู ุงู„ุถูู‘ุญูŽู‰ ุŒ ูˆูŽู†ูŽูˆู’ู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูุชู’ุฑู

โ€œKekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasihat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati, (1) berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) mengerjakan shalat Dhuha, (3) dan mengerjakan shalat witir sebelum tidur.โ€ (HR. Bukhari no. 1178)

Adapun tentang dalil wajibnya berpuasa pada tanggal 11 Muharram, haditsnya berstatus dhaif,

ุตููˆู…ููˆุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽุŒ ูˆูŽุฎูŽุงู„ููููˆุง ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏูŽุŒ ุตููˆู…ููˆุง ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู

โ€œBerpuasalah pada Asyura (10 Muharram), dan selisihilah orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, berpuasalah satu hari sebelumnya (9 Muharam) dan satu hari sesudahnya (11 Muharram).โ€ (HR. Ahmad no. 2154)

Puasa Tasuโ€™a

Dalam rangka menyelisihi Yahudi, kita diperintahkan berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu pada hari kesembilan (Tasuโ€™a). Abdullah bin Abbas radhiyallahu โ€™anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melakukan puasa hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, โ€œWahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.โ€ Lantas beliau mengatakan,

ููŽุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู…ู ุงู„ู’ู…ูู‚ู’ุจูู„ู โ€“ ุฅูู†ู’ ุดูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู โ€“ ุตูู…ู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุงุณูุนูŽ

โ€œApabila tiba tahun depan, insyaallah (jika Allah menghendaki), kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.โ€

Ibnu Abbas melanjutkan, โ€œBelum sampai tahun depan, Nabi shallallahu โ€™alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.โ€ (HR. Muslim no. 1134)

Terkait dengan keutamaan menyelisihi ahli kitab, terdapat riwayat dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุดูŽุจูŽู‘ู‡ูŽ ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’

โ€œBarangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.โ€ (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih, sebagaimana beliau sebutkan dalam Irwaโ€™ul Ghalil no. 1269)

Sebagai tambahan, perlu diketahui, berpuasa pada tanggal 9 Muharram saja adalah amalan yang tidak ada dalilnya. Orang yang mendukungnya keliru dan kurang teliti dalam memahami hadits yang ada. (Lihat Zadul Maโ€™ad, 2:72)

Selain berpuasa Tasuโ€™a pada tanggal 9 Muharram, amalan lain yang berpahala karena termasuk tindakan menyelisihi ahli kitab adalah sahur ketika puasa[1] dan memelihara jenggot[2].

Tujuan dan hikmah menyelisihi ahli kitab

Terdapat beberapa tujuan dan hikmah dianjurkannya menyelisih ahli kitab, di antaranya:

  • Untuk menjaga kemurnian ajaran agama.
  • Menjaga identitas kaum muslimin.
  • Menumbuhkan loyalitas kepada islam dan kaum muslimin.
  • Menampakkan kemulian dan ketinggian syariat Islam.
  • Sebagai bentuk ketaatan kepada Rasulullah.
  • Menghilangkan kekaguman dan ketundukan secara batin kepada ahli kitab.

Tata Cara Puasa Sunnah

Pertama: Niat puasa

Berniat dalam sebuah ibadah adalah wajib, dan seseorang akan mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ุฃุนู…ูŽุงู„ ุจุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุงุชู ูˆุฅูู†ู‘ูŽู…ุง ู„ููƒูู„ู‘ู ุงู…ุฑูŠุกู ู…ุง ู†ูŽูˆูŽู‰

โ€œSesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan โ€ฆ.โ€ (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menyebutkan dua fungsi niat. Pertama, membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, atau membedakan antara ibadah dan kebiasaan. Kedua, membedakan tujuan seseorang dalam beribadah, yaitu apakah seseorang beribadah karena mengharap wajah Allah โ€˜Azza wa Jalla ataukah beribadah karena selain Allah, misalnya mengharapkan pujian manusia. (Jamiโ€™ul Ulum wal Hikam, hlm. 67)

Niat puasa sunnah tidak harus dilakukan pada malam hari sebelumnya; niat boleh dilakukan di pagi hari, asalkan sebelum waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat). Dalilnya adalah hadits riwayat Aisyah berikut ini,

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ูŽู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ู‡ูŽู„ู’ ุนูู†ู’ุฏูŽูƒูู…ู’ ุทูŽุนูŽุงู…ูŒ ยป. ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูู„ู’ู†ูŽุง ู„ุงูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ุฅูู†ูู‘ู‰ ุตูŽุงุฆูู…ูŒ ยป

Biasanya, jika Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menemuiku, beliau berkata, โ€˜Apakah kalian memiliki makanan?โ€™ Jika kami jawab, โ€˜Tidak,โ€™ beliau berkata, โ€œKalau begitu, aku berpuasa.โ€™โ€ (HR. Muslim no. 1154 dan Abu Daud no. 2455)

Kedua: Adab-adab puasa

Hendaknya seseorang mengamalkan adab-adab puasa sunnah, meski โ€œhanyaโ€ puasa sunnah, agar puasanya memperoleh pahala di sisi Allah. Di antara adab-adab tersebut adalah:

  1. Makan sahur. Beberapa sunnah yang berkaitan dengan makan sahur adalah mengakhirkan sahur, bersahur dengan tamr (kurma kering), dan tetap berusaha bersahur meskipun sekadar minum air.
  2. Menahan diri dari hal yang membatalkan puasa, misalnya makan minum dengan sengaja, muntah dengan sengaja, dan jimaโ€™.
  3. Menjauhi perkara yang merusak pahala puasa, misalnya berdusta, berkata jorok, dan ghibah.
  4. Memperbanyak amal shalih, seperti belajar agama, berbakti kepada orang tua, membaca Al-Qurโ€™an, bersedekah, berzikir, melaksanakan qiyamul lail, dan memperbanyak doa kepada Allah.

Bidโ€™ah terkait Puasa

Puasa akan dinilai keliru jika tidak sesuai dengan tuntunan syariat, yaitu dilakukan bukan demi Allah, dan dilakukan dengan tata cara yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Contoh bidโ€™ah dalam puasa

  • Secara khusus berpuasa pada tanggal 1 Muharram. Tidak ada dalil khusus yang memerintahkan atau mengkhususkan puasa awal tahun. Jika ada yang menganggapnya wajib atau bernilai pahala, meski anggapan itu tidak ada dasarnya, maka hal tersebut tergolong bid'ah.
  • Berpuasa pada akhir/awal tahun Hijriah. Melakukan puasa khusus di akhir bulan Dzulhijjah dan awal bulan Muharram secara bersamaan tidak ada dalil shahihnya.
  • Puasa Ngrowot. Puasa Ngrowot adalah salah satu jenis puasa dalam tradisi Jawa yang bertujuan untuk mengolah diri (olah roso) dengan menghilangkan nafsu makan. Dalam puasa ini, pelakunya tidak memakan nasi atau makanan pokok berbahan dasar beras atau terigu. Sebagai gantinya, ia hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan hasil krowotan atau pala kependhem (makanan yang tumbuh di dalam tanah) seperti ubi, ketela pohon, talas, gadung, atau jagung.
  • Puasa Mutih, yaitu tradisi tirakat Jawa yang membatasi konsumsi hanya pada sesuatu yang berwarna putih, seperti nasi putih tawar dan air putih, selama jangka waktu tertentu. Ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang mau menikah, dengan tujuan membersihkan jiwa dan hawa nafsu.
  • Puasa Wishal, yaitu menyambung puasa dua hari atau lebih secara berturut-turut tanpa berbuka (makan atau minum) di malam hari. Puasa ini terlarang karena dapat mendatangkan bahaya, melemahkan badan, dan mendatangkan kejemuan. Bahkan, menyambungkan puasa hingga lebih dari satu hari dapat menyebabkan terganggunya aktivitas ibadah harian, seperti melaksanakan shalat fardhu secara sempurna dan sering membaca Al-Qurโ€™an.

Referensi

  • Al-Maudhu'at. Ibnul Jauzi.
  • Irwa'ul Ghalil fi Takhrij Ahadits Manaris Sabil. Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  • Jami'ul 'Ulum wal Hikam. Ibnu Rajab Al-Hanbali.
  • Shahih Al-Bukhari. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.
  • Shahih Muslim. Muslim bin Al-Hajjaj.
  • Sunan Abi Daud. Abu Daud As-Sijistani.
  • Jami' At-Tirmidzi. Muhammad bin Isa At-Tirmidzi.
  • Sunan An-Nasaโ€™i. Ahmad bin Syu'aib An-Nasaโ€™i.
  • Sunan Ibni Majah. Muhammad bin Yazid Ibnu Majah.
  • Latha'if Al-Ma'arif. Ibnu Rajab Al-Hanbali.
  • Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab. Yahya bin Syaraf An-Nawawi.
  • Misykat Al-Mashabih. Waliuddin Muhammad At-Tibrizi.
  • Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir wa Ziyadatuh. Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Yahya bin Syaraf An-Nawawi.
  • Zad al-Ma'ad fi Hadyi Khair Al-'Ibad. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr.
  • https://islamqa.info/ar/answers/21775
0