Panduan Hidup Sederhana Ala Ibu Rumah Tangga
Reporter: Loly Syahrul
Redaktur: Gema Fitria
Muharam selalu mengingatkan kaum muslimin kepada peristiwa hijrah, sebuah perjalanan agung yang bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan juga perubahan cara pandang dan cara hidup demi meraih keridhaan Allah. Kaum Muhajirin meninggalkan kampung halaman, harta benda, dan berbagai kenyamanan yang mereka miliki. Sementara kaum Anshar menyambut saudara-saudaranya dengan keikhlasan luar biasa, bahkan mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri mereka sendiri. Kedua generasi mulia ini memberikan pelajaran berharga tentang kesederhanaan, qanaah, serta kemampuan menempatkan dunia di tangan tanpa membiarkannya memenuhi hati.
Dalam kehidupan rumah tangga, semangat tersebut tetap relevan untuk diteladani. Di tengah budaya konsumtif yang semakin kuat, keluarga muslim membutuhkan pegangan agar tidak terjebak dalam gaya hidup berlebihan. Seorang ibu, dengan perannya dalam mengelola rumah tangga dan mendidik anak-anak, memiliki pengaruh besar dalam menumbuhkan nilai-nilai kesederhanaan di dalam keluarga. Dari sikap ibu dalam memandang rezeki, mengatur kebutuhan, memanfaatkan waktu, hingga mensyukuri nikmat Allah, akan lahir budaya hidup yang membentuk karakter seluruh anggota keluarga.
Memaknai Hidup Sederhana
Hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan merupakan salah satu akhlak yang diajarkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat telah memberikan teladan terbaik dalam hal ini. Kesederhanaan bukan berarti menampakkan diri sebagai orang yang kekurangan atau menutupi nikmat harta kekayaan yang Allah karuniakan. Sebaliknya, hidup sederhana adalah kemampuan menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, menggunakan nikmat Allah dengan penuh tanggung jawab, serta menjauhi sikap boros dan berlebih-lebihan.
Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai cara. Meski latar belakang dan kondisi setiap keluarga berbeda, tapi esensi kesederhanaan idealnya tetap bersandar pada tuntunan Islam. Beberapa santri HSI dari kalangan ummahat membagikan pandangan mereka tentang makna hidup sederhana yang menjadi pedoman mereka dalam menjalani keseharian.
Ukhtuna Ratu Gumy, santriwati HSI angkatan 252 menjelaskan definisi sederhana yang jadi patokan baginya. “Hidup semampunya, sewajarnya, dan sepantasnya,” ujarnya.
Sementara Ukhtuna Salma Fiqa yang berada satu angkatan di atas Ukhtuna Ratu Gumy memandang bahwa hidup sederhana bermula dari penguasaan diri. “Sederhana itu merasa cukup, tahu batas, tidak mengedepankan rasa kekurangan sehingga bisa menyiksa diri sendiri. Sederhana adalah mendahulukan kebutuhan dibanding keinginan,” paparnya mengemukakan pendapat.
Sementara Ukhtuna Hanna, santriwati HSI Angkatan 212 mempunyai sudut pandang berbeda. “Konsep hidup sederhana yang jadi pegangan saya adalah tidak terlalu bergantung kepada dunia secara berlebihan, dengan mengedepankan kebutuhan dari pada keinginan,” tutur ibu dua putra dan satu putri ini.
Meski diungkapkan dengan cara yang berbeda pandangan para ummahat di atas, memiliki benang merah yang sama, yaitu sikap qanaah. Sikap ridha dan merasa cukup dengan nikmat yang Allah karuniakan. Dengan qanaah, seseorang mampu memandang dunia secara proporsional, tidak berlebihan dalam mengejarnya dan tidak pula larut dalam rasa kurang atas apa yang telah Allah tetapkan baginya.
Mengisi Waktu dengan yang Bermanfaat
Kesederhanaan tidak hanya tercermin dalam cara seseorang membelanjakan harta atau memenuhi kebutuhan hidup. Lebih dari itu, kesederhanaan juga tampak pada bagaimana ia memperlakukan waktu yang Allah amanahkan. Sebagaimana seorang muslim berusaha tidak berlebihan dalam urusan dunia, maka ia juga akan berusaha tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Setiap detik kehidupan adalah nikmat yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena itu, mengelola waktu dengan baik menjadi bagian penting upaya menjalani hidup yang lebih terarah, produktif, dan bernilai ibadah.
“Waktu adalah investasi terbaik, maka kita harus hati-hati mempergunakannya sehingga waktu tidak terbuang sia-sia. Semua kita tujukan untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan akhirat, misalnya kita mengisinya dengan berolahraga secara rutin agar tetap sehat dan kuat untuk melakukan ibadah badaniyah. Selain itu bekerja sama dengan keluarga untuk melakukan tugas domestik rumah tangga sehingga ibu masih punya waktu untuk menuntut ilmu agama dan beribadah lainnya,” ungkap Ukhtuna Salma Fika yang akrab disapa Salma ini.
Sementara Ukhtuna Ratu Gumy mengingatkan bahwa kita harus menyiasati waktu dengan menjadwalkan kegiatan harian, sehingga bisa tahu bagaimana mengelola sisa waktu yang kita punya di luar jadwal ibadah wajib. “Bila diperlukan, kita siapkan kartu yang masing-masing berisi kegiatan positif yang tidak bisa dikerjakan ketika sibuk, sehingga ketika ada waktu luang kita tidak lantas bengong dan membiarkan waktu berlalu begitu saja,” tutur sarjana arsitektur yang juga seorang pengajar ini menyarankan.
Membelanjakan Rezeki
Salah satu ujian dalam hidup sederhana adalah bagaimana seseorang memperlakukan rezeki yang Allah titipkan. Tidak sedikit keluarga yang merasa cukup penghasilannya, tetapi tetap merasa kurang karena tidak memiliki prioritas yang jelas. Sebaliknya, ada keluarga yang mampu hidup tenang karena memahami kebutuhan mereka dan mengelola rezeki dengan bijak.
“Untuk pembelanjaan rezeki, kami melakukan budgeting sebelumnya. Kami membuat skala prioritas berdasarkan kebutuhan bukan keinginan, serta kami tak lupa mempersiapkan pos untuk sedekah, sebab setiap rezeki yang kita terima di dalamnya ada hak orang lain yang perlu kita keluarkan. Kami selalu yakin bahwa Allah-lah yang membimbing dan menggerakkan kita untuk berbelanja maka senantiasa memohon kepada Allah agar Allah cukupkan semua keperluan kita dan kita hanya belanja apa-apa yang bermanfaat,” ucap Ukhtuna Hanna menyampaikan pola pikirnya.
Bagi Ukhtuna Salma, yang paling penting sebelum belanja adalah mendudukkan konsep dasar belanjanya, yakni jujur melihat kemampuan rezeki yang diterima, tidak memaksakan di luar kemampuan, menerapkan prinsip bahwa tidak semua keinginan harus didapat sekarang, dan tidak membandingkan hidup kita dengan orang lain. Dengan, dasar-dasar inilah, maka belanja dilakukan sesuai dengan ukuran yang Allah tetapkan. “Alhamdulillah hidup kita menjadi tenang, karena nikmat sedikit atau banyak yang kita terima terasa melimpah. Tidak ada yang membebani jiwa,” ucap wanita yang memutuskan berhenti bekerja setelah mendapatkan momongan ini terdengar bernada penuh syukur.
Menjadi Orang yang Bersyukur
Rasa syukur membuat seseorang tidak mudah silau oleh apa yang dimiliki orang lain. Ia lebih fokus melihat nikmat yang sudah ada di hadapannya. Dari sinilah lahir ketenangan yang menjadi salah satu buah hidup sederhana.
Tampaknya prinsip inilah yang dipegang oleh keluarga Ukhtuna Hanna dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurutnya, sikap syukur dan sabar perlu terus dilatih, sekaligus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini.
“Bersyukur dalam segala keadaan dan bersabar atas ketetapan Allah yang tidak disukai adalah sesuatu yang jadi pegangan kami dalam menjalani kehidupan ini. Insyaallah sikap kami ini bisa jadi contoh buat anak-anak kami. Tak lupa kami juga memberitahukan kepada anak-anak hal-hal apa saja yang Allah sukai agar putra-putri kami bisa memahami bahwa jika kita hanya fokus kepada apa yang Allah cintai, insyaallah kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat,” pungkas Ukhtuna Hanna.
Mencari Keberkahan
Berkah dalam hidup adalah bertambahnya kebaikan dan kebahagiaan dari setiap nikmat yang kita peroleh. Oleh sebab itu, hidup sederhana itu anjuran, akan tetapi mencari keberkahan adalah keharusan. Apapun yang kita usahakan dalam menjalani kehidupan ini, jika mengutamakan keberkahan, maka Allah akan memudahkan semua urusan kita biidznillah. Keberkahan hidup pasti akan membawa kita kepada kehidupan yang baik, dan di akhirat kita akan memperoleh yang jauh lebih baik.
Terkait keberkahan hidup, Ukhtuna Salma menekankan, “Hidup sederhana adalah pilihan dan keberkahan adalah kunci kebahagiaan. Merasa cukup dengan apa yang kita terima adalah jalan menuju keridhaan Allah,” ucapnya.
Pada akhirnya, hidup sederhana bukan tentang seberapa banyak atau sedikit yang dimiliki seseorang. Kesederhanaan adalah kemampuan mengelola nikmat Allah dengan bijak, memanfaatkan waktu dengan baik, membelanjakan rezeki sesuai kebutuhan, serta menjaga hati agar tetap dipenuhi rasa syukur. Dari sanalah keberkahan tumbuh dan menghadirkan ketenangan dalam kehidupan keluarga muslim. Baarakallahu fiikunna.