Mutiara Nasihat Muslimah

Pahami Dirimu, Temukan Bahagiamu

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Athirah Mustadjab


Akhawati fiddin, dunia maya adalah belantara. Barang siapa tersesat, belum tentu bisa menemukan jalan pulang. Dunia maya adalah belantara; semua ada, pilihan bertebaran di mana-mana. Namun, di balik setiap pilihan itu, ada konsekuensi. Oleh karena itu, setiap pilihan harus diambil secara hati-hati, tak gegabah.

Akan tetapi, betapa menyedihkannya tatkala hari ini sebagian Muslimah menjadikan media sosial sebagai sumber pandangan hidup dalam hal apa pun — keluarga, agama, kesehatan mental, hubungan, seksualitas, sampai identitas diri. Tiada lagi usaha untuk menyaring informasi karena semuanya terasa bagus, meski belum tentu benar.

Pengaruh Lingkungan

Akhawati fillah, dunia yang begitu luas kini bisa diakses dalam satu genggaman tangan. Dalam satu genggaman itu, ribuan, bahkan jutaan manusia bisa bebas bercerita tentang kehidupan pribadinya. Penghuni jagat maya seakan berlomba untuk menjadi orang yang paling didengar, sehingga berbagai cara digunakan untuk memancing orang lain agar melihat konten yang dibuatnya. Jika ia masih menggenggam ketakwaan, ia akan menjadikan batasan Allah sebagai “pagar” yang menjaganya. Akan tetapi, jika takwa tak lagi ada, di sanalah segala yang jernih dan kotor bercampur tak keruan: demi konten yang menarik, semua hal dibahas dan semua cara dihalalkan.

Dengan adanya kemerdekaan di dunia digital, para promotor keburukan tak mau melepas kesempatan. Para pelaku dan pendukung penyimpangan seksual, misalnya, tidak malu-malu lagi untuk menunjukkan fahisyah (perbuatan menjijikkan) yang mereka lakukan. Bahkan, tanpa sungkan mengajak orang lain untuk masuk ke lubang kotoran yang sama. Wal’iyadzubillah.

Kecenderungan seksual menyimpang yang terjadi pada diri seseorang sebenarnya memiliki banyak faktor yang begitu kompleks dan tidak mungkin jika kita bedah semua di sini. Akan tetapi, berdasarkan penelitian, salah satu penyebab terjadinya kecenderungan seksual pada individu adalah pengaruh lingkungan sosial. Tentu saja, di era smartphone saat ini, lingkungan sosial itu juga mencakup dunia maya.

Faktor lingkungan sangat signifikan dalam membentuk identitas gender seseorang. Seseorang yang pada awalnya memiliki orientasi seksual yang normal, tetapi terbiasa bergaul dengan kondisi lingkungan tertentu, misalnya bergabung dengan komunitas-komunitas gay atau lesbian, terbiasa menonton dan menyimak konten-kontennya, atau mungkin juga terbiasa menonton video-video dan film-filmnya, di kemudian hari dapat terpengaruh secara psikis. Jika pun tidak terkena dampak secara langsung, minimal tidak mustahil jika dia memiliki niat atau pikiran untuk berperilaku yang sama, agar dapat diterima dalam komunitas tersebut.[1] 

Memilih Panutan

Di media sosial, keahlian dalam berbicara, menulis, atau bercerita dapat dengan mudah membuat orang lain terharu, menangis, tersentuh, merasa dimengerti, bahkan mengubah cara pandang mereka terhadap diri sendiri. Inilah yang menjadi alasan seorang Muslimah harus terus berusaha memperkokoh dinding keimanan dan jati diri keislamannya. Seorang Muslimah menggunakan akal sehat dan firah yang lurus untuk menyaring setiap hal yang dia lihat atau dengar dari media sosial. Tidak semua pengalaman atau pendapat bisa serta-merta disetujui, diterima, maupun diikuti. Seorang Muslimah akan mengingat firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Akhawati fillah, dalam ayat tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla telah memperingatkan kepada kita semua berupa kehati-hatian dalam menerima informasi karena semua hal yang kita dengar, lihat, dan Yakini kelak semuanya pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Oleh karena itu, dalam mencerna atau menikmati sebuah informasi, seorang Muslimah selayaknya membiasakan diri dengan bertanya pada dirinya sendiri, “Siapa yang berbicara? Bagaimana keilmuannya? Apakah kesimpulan atau pesan yang disampaikan merupakan fakta yang sesuai dengan pedoman hidup seorang Muslim, hanya sebatas berbagi pengalaman pribadi, opini, atau lainnya?”

Misalnya, saat seseorang menemukan kalimat-kalimat semacam “tubuhku adalah milikku”, “aku berhak menentukan apa yang kulakukan dengan tubuhku”, atau “tidak ada orang lain yang berhak mengatur tubuhku”, dia harus berhati-hati. Ungkapan-ungkapan tersebut adalah beberapa contoh narasi yang banyak kita temukan dalam pembahasan modern tentang seksualitas dan identitas. Dalam Islam, tubuh kita memang memiliki hak yang harus ditunaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari no. 1874)[2] 

Akan tetapi, hadits tentang "seseorang memiliki hak atas tubuhnya" di sini tidak menunjukkan bebasnya setiap orang mengikuti dan memenuhi hawa nafsu. Yang benar, kita adalah hamba Allah Ta’ala yang harus yakin bahwa tubuh, akal, perasaan, bahkan waktu dan kehidupan yang kita miliki dan jalani ini adalah amanah dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, menjaga amanah tersebut dilakukan dengan menggunakan segala sesuatu yang Allah berikan untuk hal yang Dia cintai, serta menjaga diri dari sesuatu yang dibenci oleh-Nya dan terlarang dalam syariat.

Mengendalikan Hati

Pelaku penyimpangan seksual, misalnya suka sesama jenis, kadang menjadikan alasan “ini adalah cinta” sebagai dalih untuk membenarkan perilakunya. Padahal, rasa cinta dan sayang, yang dikenal dalam Islam, bukan sekadar tentang adanya “rasa”, melainkan wajib berpedoman pada rambu “boleh dan benar”. Berdasarkan perspektif Islam, manusia memang memiliki hawa nafsu, sehingga dibutuhkan adanya arah dan batas yang dipandu oleh syariat.

Perasaan yang bertentangan dengan syariat dapat muncul tatkala seseorang memasuki pintu maksiat. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, di Ad-Da’ wad Dawa’[3], menyebutkan empat pintu maksiat. Dua di antaranya adalah:

1. Pandangan. Melalui pandangan, seseorang akan terlena. Oleh karenanya, Islam mengajarkan pemeluknya untuk menundukkan pandangan jika berpapasan dengan sesuatu yang sepatutnya tidak patut dilihat. Ingatkanlah selalu diri kita bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)

2. Lintasan atau bisikan jiwa yang buruk. Salah satu hal yang bisa menjerumuskan seseorang dalam kemaksiatan adalah mendengarkan dan menuruti semua bisikan jiwanya hingga hawa nafsunya pun sulit dikendalikan. Padahal, bisikan jiwa yang buruk bagaikan fatamorgana: tampak segar di mata orang yang merasakan dahaga, tetapi ketika didatangi ternyata hanya berupa tanah kering.[4]

Muslimah Memahami Dirinya

Sebagai seorang Muslimah, konsep “menjadi diri sendiri” dan “memahami diri” yang benar adalah dengan mempelajari ilmu syar’i agar ia mengenali hakikat dirinya sebagai hamba Allah ‘Azza wa Jalla. Dengannya, ia mengenali arah hidupnya, sehingga ia dapat memperbaiki diri dan menundukkan hawa nafsu demi mewujudkan hidup yang diridhai oleh Allah Ta’ala.

Pada akhirnya, setiap insan yang beriman akan kembali pada satu inti kehidupan, yaitu menjadi makhluk ciptaan Allah yang hidup demi beribadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Akhawati fiddin, dengan berbekal ayat ini, mari kita perkuat lagi arah dan tujuan hidup kita di dunia. Sebagai Muslimah, kita tentu tak ingin membentuk pemahaman dan identitas diri kita sekadar berbekal tren, hawa nafsu, atau bisikan jiwa. Dengan panduan Al-Qur’an dan As-sunnah sesuai pemahaman para salaf, semoga kita menemukan hidup kita terarah dengan benar, menuju kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Referensi:

  • Shahih Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir: Damaskus, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Da’ wad Dawa’, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Abu Yusuf Wisnu Prasetya, Pelangi yang Ternoda, Pustaka An-Nafidzah.
  • Dody Riswanto, Aswar, “Prosedur Konseling Rational Emotive Behavior Dalam Penanganan Pelaku LGBT”, Jurnal Advice Vol. 2 (1), Juni 2020, https://journal.univetbantara.ac.id
17