Tausiyah Ustadz


Diringkas oleh Tim Majalah HSI dari rekaman kajian Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah.
Tautan rekaman: https://youtu.be/X_i94iz3L7I

Pada Akhirnya, Kita Akan “Mudik”

Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo

Editor: Faizah Fitriah


Hari ini kita bergembira karena Allah telah menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan, salah satu rukun Islam yang agung. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Saudaraku akramakumullah, suasana mudik yang kita saksikan setiap tahun mengingatkan kita pada hakikat hidup ini. Kita pun sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman yang sesungguhnya yakni surga.

Ketika Allah menciptakan Nabi Adam dan istrinya ‘alaihimassalam, keduanya dipersilakan tinggal di surga yang penuh kenikmatan. Mereka bebas menikmati apa saja, kecuali satu pohon. Namun iblis—karena kedengkian dan permusuhannya—membisiki, menghiasi kesalahan, bahkan bersumpah seolah-olah memberi nasihat. Akhirnya keduanya tergelincir, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan mereka ke bumi hingga waktu yang ditentukan.

Sejak itu, manusia hidup di dunia yang penuh ujian. Dunia bukan tempat tinggal abadi. Ia hanyalah tempat singgah, sedangkan surga adalah kampung halaman kita. Sebagaimana keluarga di kampung menginginkan kita pulang dengan selamat dan membawa bekal, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menghendaki kita kembali ke surga dalam keadaan selamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ كَأَنَّكَ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadikah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang yang menyebrang jalan.” (HR. Bukhari)

Seorang musafir tidak berlama-lama di persinggahan. Ia fokus pada tujuan, membawa bekal, dan berhati-hati dari bahaya. Demikianlah seorang muslim seharusnya memandang dunia.

Tiga Bekal Menuju Surga

Sebagai “musafir” yang ingin kembali ke surga, kita membutuhkan tiga perkara:

1. Mengetahui Jalannya

Allah telah menjelaskan jalan menuju surga melalui kitab-Nya dan para rasul-Nya.

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 38)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara; kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Al-Baihaqi)

Oleh karena itu, menuntut ilmu agama dari sumber yang benar adalah jalan keselamatan.

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

2. Membawa Bekal yang Cukup

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰ

“Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Sesungguhnya, bekal utama adalah tauhid, mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dan menjauhi syirik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَن لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ به شيئًا دَخَلَ الجَنَّةَ 

“Barang siapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, maka ia masuk surga.” (HR. Bukhari)

Sebaliknya, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka Allah haramkan baginya surga.” (QS. Al-Maidah: 72)

Di antara bentuk ketakwaan sebagai bekal menuju surga adalah:

  • Menjaga shalat lima waktu
  • Menunaikan zakat
  • Berpuasa Ramadhan
  • Haji bagi yang mampu
  • Berbakti kepada orang tua
  • Taat dalam kebaikan
  • Memperbanyak amalan sunnah
  • Meninggalkan berbagai kemaksiatan seperti zina, riba, khamr, dusta, dan lain sebagainya

3. Menghindari Penghalang

Saudaraku kaum Muslimin rahimakumullah, sadarilah bahwasanya penghalang terbesar adalah iblis. 

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6)

Iblis bertekad menghalangi manusia dari jalan yang lurus, menyesatkan dengan syahwat dan syubhat agar manusia tidak kembali ke surga. Maka dari itu, seorang muslim harus waspada dan tidak tertipu oleh gemerlap dunia.

Perbaiki Sisa Umur yang Masih Ada

Saya mewasiatkan kepada diri saya dan para pembaca untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Dikisahkan, Fudhail bin Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar dan guru dari Al-Imam Asy-Syafi’i, pernah bertanya kepada seorang laki-laki, “Berapa umurmu?” Ia menjawab, “Enam puluh tahun.”

Fudhail berkata, “Selama enam puluh tahun engkau berjalan menuju Rabbmu, dan hampir saja engkau sampai.” Ketika laki-laki itu mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, Fudhail menjelaskan bahwa maknanya adalah kita milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Siapa yang sadar akan kembali kepada Allah, ia akan berdiri di hadapan-Nya dan dimintai pertanggungjawaban.

Laki-laki itu bertanya, “Apa jalan keluarnya? Usiaku sudah tua dan banyak waktu terbuang.” Fudhail menjawab, “Tidak ada kata terlambat. Perbaikilah sisa umurmu. Jika engkau memperbaiki yang tersisa, Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu. Namun jika tetap lalai, engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas semuanya.”

Nasihat ini mengajarkan bahwa selama hayat masih ada, pintu taubat tetap terbuka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan, meneguhkan kita di atas tauhid dan ketakwaan, serta mengantarkan kita kembali ke kampung halaman yang sesungguhnya: jannatul firdausil a’la yang penuh kenikmatan. Aamiin. Wallahu a’lam.

26