Generasi Cahaya
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

No FOMO, karena Tak Semua Kereta Harus Dinaiki

Reporter: Dian Soekotjo

Redaktur: Gema Fitria


Di era digital masa kini, informasi bergerak bak kilat. Ia singgah lebih cepat daripada kedipan mata. Sesuatu yang viral hari ini, bisa tiba-tiba basi esok hari, lalu segera berganti dengan satu yang sama sekali baru. Bagi para belia yang tumbuh bersama gawai dan media sosial, arus deras informasi ini menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Muaranya muncul fenomena FOMO atau istilah yang mewakili Fear of Missing Out alias perasaan takut tertinggal atau tidak mengetahui hal yang tengah ramai diperbincangkan. Dorongan itu sangat mungkin menjerumuskan seseorang untuk terus memantau perkembangan hingga mengikuti tren yang viral. Latar belakangnya sepele, hanya karena banyak orang melakukannya dan tak mau stempel kurang gaul tersemat dalam identitas pribadi.

Jika tak bijak menyikapi, FOMO bisa membawa remaja kehilangan fokus terhadap hal-hal yang lebih penting. Padahal, tidak semua tren atau sesuatu yang viral membawa manfaat. Setidaknya perlu keimanan, saringan ketat berdasarkan ilmu, plus keteguhan jiwa untuk berani mengambil sikap. Bukankah tak semua kereta yang melintas harus dinaiki?

Tegas Memberi Batas

Masa remaja adalah masa ketika seseorang mulai belajar mengenali diri sendiri. Pada fase ini, remaja penting memahami bahwa menyayangi diri bukan berarti selalu mengikuti apa yang diinginkan lingkungan. Ia patut memahami bahwa perlu keberanian menentukan batasan yang baik.

Memiliki batasan berarti mengetahui mana yang layak diikuti dan mana yang sebaiknya ditinggalkan. Tidak semua informasi harus diketahui. Tidak semua tren harus dicoba. Ada kalanya seseorang harus tegas berkata, “Ini bukan untukku!"

Hal ini disadari Ukhtuna Fitri Amdani, salah satu santri HSI yang baru duduk di kelas X. Menurutnya, media sosial memang menyenangkan, tetapi ia berusaha membatasi diri agar tidak terlalu larut mengikuti hal-hal yang sedang viral. "Kadang teman-teman membahas tren tertentu yang sedang ramai. Kalau memang tidak bermanfaat, saya memilih tidak ikut. Sempat sih merasa ketinggalan, tapi setelah dirasa-rasa biasa saja karena ternyata tidak ada pengaruhnya," ujarnya.

Pendapat serupa diutarakan Akhuna Muhammad Fathan yang bulan lalu genap berumur 17 tahun. Ia mengaku pernah merasa harus selalu mengetahui berbagai hal yang sedang populer  di internet. Gara-gara ia tak mau dikatakan kudet atau kurang update saat ngobrol bersama teman satu circle. Namun seiring waktu, alhamdulillah, bungsu dari tiga bersaudara itu menyadari bahwa kebiasaan tersebut justru merugikannya karena menyita banyak waktu. “Capek dan tidak ada gunanya,” ujarnya. "Sekarang, saya lebih memilih mengikuti akun-akun yang memberikan manfaat," imbuhnya.

Dari sini, tampak sudah bahwa menentukan batasan bukanlah tanda kurang gaul. Justru itu menunjukkan kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh.

Teguh Pendirian

Memiliki batasan akan lebih mudah dilakukan jika seseorang mempunyai prinsip yang kuat. Prinsip inilah yang menjadi kompas ketika kita harus mengambil keputusan.

Remaja tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Orang tua merupakan tempat terbaik untuk meminta arahan dan pertimbangan ketika menghadapi berbagai pengaruh dari luar.

Tentang ini, Ukhtuna Unaisah mau berbagi pengalaman dan pendapat. Ia mengaku sering berdiskusi dengan sang bunda perihal apa saja, terutama ketika menemukan hal-hal yang membuatnya bingung.

"Termasuk kalau ada sesuatu yang sedang viral dan saya penasaran, biasanya saya tanya dulu ke Bunda. Dari situ saya bisa menilai apakah hal itu baik atau tidak untuk saya ikuti," tutur mojang Priangan tersebut. Ukhtuna Unaisah menambahkan bahwa kebiasaan membagi cerita apapun dengan sang bunda, justru menjadi tameng dan filter dunia pergaulan masa kini yang tak selamanya membawa kebaikan baginya. “Rasanya lebih aman dan tenang kalau sudah cerita ke Bunda. Bagaimanapun orang tua kita memiliki pengalaman hidup dan ilmu agama yang lebih, sehingga beliau-beliau lebih tahu,” ujar sulung dari dua bersaudara itu bijaksana.

Sementara, Akhuna Nizam Arsyad yang baru lulus SMA, menilai keberanian untuk berkata adalah keterampilan penting yang harus dimiliki remaja. “Selain punya sikap, kita mesti berani mengungkapkan. Kalau terus mengiyakan karena merasa tidak enak dan tidak berani bicara, bisa-bisa kita terseret ke pergaulan atau hal buruk,” ungkapnya.

Nizam kemudian membagi pengalamannya. Ia berkisah, "Sering ada teman yang mengajak ikut tren tertentu. Kalau saya merasa itu tidak ada manfaatnya atau bahkan mengarah pada hal yang kurang baik, saya akan menolak.”

“Harus berani,” imbuhnya. “Dengan cara yang sopan tentunya," lanjutnya.

Bersikap tegas memang tidak selalu mudah. Namun seseorang yang memiliki prinsip, tidak akan mudah berubah hanya karena tekanan lingkungan atau keinginan untuk diterima oleh orang lain.

Memilih Pertemanan yang Baik

Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan bertindak seorang remaja. Teman yang baik dapat menjadi pengingat ketika seseorang mulai terbawa arus yang kurang bermanfaat.

Karena itu, memilih teman bukan hanya soal kecocokan hobi atau kesamaan minat, tetapi juga tentang siapa yang dapat membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Menurut Unaisah, keberadaan teman-teman yang memiliki tujuan hidup yang baik sangat membantunya untuk tetap fokus. "Di lingkaran pertemanan, kami sering saling mengingatkan, saling menasihati, saling menjaga. Jadi tidak terlalu sibuk mengikuti hal-hal yang sedang viral. Ukurannya adalah ketaatan, tidak melanggar aturan Allah, tidak melawan orang tua," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Akhuna Muhammad Athaya Ramadhan, santri HSI yang memilih sejenak jeda dari kegiatan belajar di HSI, karena tengah mondok. Ia merasa lebih termotivasi melakukan kegiatan positif karena lingkungan pertemanannya mendukung hal tersebut. "Kalau kesibukan kita dengan teman-teman adalah hal-hal positif, waktu jadi lebih bermanfaat, daripada hanya update media sosial," katanya.

Pertemanan yang baik ibarat pagar yang membantu menjaga seseorang agar tetap berada di jalan yang benar ketika godaan datang dari berbagai arah.

Memilih Jalan yang Diridhai Allah

Bagi seorang muslim, ukuran keberhasilan hidup tidak ditentukan oleh seberapa sering ia mengikuti tren, melainkan seberapa dekat dirinya dengan Allah Ta'ala.

Menumbuhkan rasa bangga sebagai remaja muslim dapat menjadi benteng yang kuat untuk menghadapi tekanan lingkungan. Ketika seseorang memahami identitas dan tujuan hidupnya, ia tidak akan mudah terbawa arus.

Akhuna Arfan Syamil Rizky mengaku merasa lebih tenang sejak berusaha memperbaiki ibadahnya. "Saat lebih fokus pada ibadah dan menuntut ilmu, saya jadi tidak terlalu memikirkan apa yang sedang ramai di media sosial," ujarnya.

Remaja berusia 15 tahun yang ibundanya belajar di HSI ini membagikan mimpinya untuk mempunyai masa depan nan cemerlang. Karenanya ia sadar untuk menjaga tiap detik waktunya sejak dini agar selalu dalam kebaikan.

"Saya berusaha bertanya pada diri sendiri, apakah hal ini mendekatkan saya kepada Allah atau tidak. Pertanyaan itu cukup membantu ketika kita harus menentukan pilihan," katanya.

Istiqamah dalam ketaatan dan ibadah bukanlah perkara mudah. Namun usaha tersebut akan membantu para remaja memiliki arah hidup yang jelas sehingga tidak mudah terbawa arus tren yang datang silih berganti.

Menjadi remaja pada era digital memang penuh tantangan. Akan selalu ada tren baru, informasi baru, dan hal-hal viral yang menarik perhatian. Namun tugas utama seorang pelajar tetaplah belajar, beribadah, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang bermanfaat.

Tidak mengikuti semua tren bukan berarti ketinggalan zaman. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia mengikuti keramaian, tetapi oleh kualitas ilmu, akhlak, dan amal yang dimilikinya. Karena itu, saat banyak kereta berlalu di hadapan kita, ingatlah bahwa tidak semua kereta harus dinaiki. Pilihan terbaik adalah tetap berada di jalur yang diridhai Allah Ta'ala. Selamat berjuang, teman-teman generasi cahaya. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba kesayangan-Nya senantiasa.

0