Nak, Beginilah Hari Raya yang Semestinya
Penulis: Indah Ummu Halwa, Hawwina Fauzia
Editor: Za Ummu Raihan
Di mata anak-anak, hari raya selalu terasa penuh warna dan kegembiraan. Rumah jadi lebih cantik, kue-kue tertata manis di meja, baju terbaik sudah disiapkan, dan mereka menunggu hari itu dengan mata berbinar-binar.
Namun, di tengah ramainya suasana Lebaran zaman sekarang petasan, kembang api, baju baru, uang THR, sampai tren-tren Lebaran di media sosial sebagai orang tua, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, “Sebenarnya, makna Idulfitri apa yang ingin kita tanamkan di hati anak-anak kita?”
Kegembiraan yang Lahir dari Ketaatan
Allah Ta’ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini turun dalam konteks Ramadhan. Artinya, kegembiraan Idulfitri adalah kegembiraan dan rasa syukur karena diberi taufik untuk mengerjakan ketaatan selama bulan Ramadan, bukan semata-mata karena euforia atau hari libur.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Bagi orang yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan: (1) kebahagiaan ketika berbuka, dan (2) kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah.” (HR. Muslim no. 1151)[1]
Ketika Idulfitri, umat muslim yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan di atas, karena Idulfitri adalah hari di mana umat Muslim tidak berpuasa lagi, dengan kata lain kembali berbuka. Sehingga orang yang berpuasa selama Ramadhan akan merasakan kebahagiaan di hari raya. Sedangkan kebahagiaan yang kedua adalah ketika berjumpa dengan Allah. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa maksudnya adalah orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala di sisi Allah.[2] Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِۙ هُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًاۗ
“Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)-nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20)
Inilah yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak: bahwa Lebaran adalah puncak rasa syukur setelah sebulan berjuang menahan diri selama Ramadan. Karena itu, ibadah tetap menjadi yang utama shalat Id, takbir, silaturahmi, serta menjaga akhlak, adab, dan kenyamanan bersama.
Anak-anak tentu boleh bergembira dan bersukacita di hari raya. Namun, kegembiraan itu tetap perlu berada dalam koridor syariat agar tidak mengganggu kenyamanan bersama.
Menghadapi Mental FOMO atau Ikut-ikutan
Di momen yang penuh kebahagiaan ini, sering kali muncul hal-hal yang kurang tepat untuk ditiru oleh anak-anak. Biasanya, mereka melihat dari lingkungan sekitar, lalu tanpa sadar menirunya. Misalnya, ketika teman membeli petasan, ia pun ingin membelinya. Saat sepupu memakai baju bermerek tertentu, ia merasa harus memiliki yang sama. Ketika temannya memamerkan THR dalam jumlah besar, ia mulai membandingkannya dengan miliknya sendiri. Inilah yang dikenal sebagai mental fear of missing out (FOMO). Jika tidak diarahkan dengan baik, sikap ini dapat membentuk pribadi yang mudah merasa kurang, kehilangan jati diri, dan lemah dalam pengendalian diri.
Mari jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk menanamkan jati diri sejak dini pada anak sebagai seorang muslim, sekaligus mengajarkan makna syukur yang sesungguhnya dalam setiap keadaan. Bahwa Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)
Petasan dan Kembang Api: Kesenangan Semu yang Berbahaya dan Mengganggu
Sebagaimana telah kita singgung sebelumnya, salah satu fenomena yang hampir selalu muncul saat Lebaran adalah petasan dan kembang api. Banyak anak merasa momen Lebaran terasa “tidak lengkap” tanpa menyalakan petasan. Padahal, selain termasuk perbuatan mubazir menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan berbahaya risiko yang ditimbulkannya pun nyata.
Kasus luka bakar, kebakaran, hingga berbagai kemungkinan terburuk lainnya sudah banyak terjadi. Belum lagi suara bising yang ditimbulkan dapat mengganggu kenyamanan tetangga, keluarga yang memiliki bayi, lansia, orang sakit, bahkan hewan peliharaan. Sedangkan jelas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَار
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 250).[3]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan/bahayanya.” (HR. Bukhari no. 6016 dan Muslim no. 46).[4]
Kita memahami bahwa melarang anak dari hal-hal yang mereka sukai tentu bukan perkara mudah. Oleh karena itu, orang tua perlu mengedepankan dialog yang lembut dan penuh pemahaman. Jelaskan dampak serta risikonya, dan ajak anak berpikir tentang manfaat dari apa yang ingin mereka lakukan.
Hindari sekadar melarang dengan nada keras atau panik tanpa penjelasan yang memadai. Cobalah bertanya dengan tenang, “Menurutmu, apa yang membuat petasan itu terasa seru?” Lalu arahkan dengan bijak, “Bersenang-senang itu boleh, tetapi apakah hal tersebut baik dan aman? Apakah tidak mengganggu orang lain?”. Dengan cara seperti ini, biidznillah, anak akan belajar memahami hubungan sebab dan akibat dari setiap tindakannya. Mereka juga belajar menumbuhkan empati, bukan sekadar patuh tanpa memahami alasan dan maknanya.
Orang tua pun dapat menawarkan alternatif kegiatan yang tetap seru, menyenangkan, dan aman, misalnya:
- Bermain permainan bersama keluarga
- Mengadakan lomba kecil antarsaudara atau keluarga besar
- Membuat prakarya bertema Idulfitri
- Memasak bersama
- Menghias rumah bersama, dan sebagainya
Baju Baru dan Seragam Keluarga
Mengenakan pakaian terbaik memanglah merupakan bagian dari sunnah-sunnah di hari raya, sebagaimana bisa kita simak penjelasannya pada Rubrik Utama juga Mutiara Nasihat Muslimah. Dan kita perlu tahu bahwa pakaian ada dua macam, yakni pakaian dzahir dan pakaian bathin.[5] Memperhatikan penampilan dzahir kita adalah hal yang sangat baik, karena Allah Ta’ala juga menyukai keindahan. Akan tetapi, janganlah kita lupa, bahwa Allah Ta’ala berfirman,
يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26)
Mengenakan baju baru atau seragam keluarga (sarimbit) saat hari raya tentu diperbolehkan sebagai bentuk kebersamaan dan ungkapan kebahagiaan. Namun, jangan sampai anak memandangnya sebagai suatu keharusan sehingga merasa rendah diri ketika tidak memilikinya.
Tanamkan kepada anak bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa “keren” pakaiannya, melainkan oleh seberapa baik akhlaknya dan bagaimana ia bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang tak terhingga. Itulah hakikat ketakwaan, dan sebaik-baik pakaian adalah pakaian takwa.
Uang Lebaran: Momen untuk Belajar Mengelola Amanah dan Keuangan Sejak Dini
Bagi sebagian besar anak, momen yang paling dinantikan saat Lebaran adalah menerima uang THR. Pada saat itulah mereka mulai belajar menghitung uang, membandingkan jumlah nominal, bahkan terkadang memamerkannya kepada teman atau saudara. Di sinilah peran pendampingan orang tua menjadi sangat penting.
Mari jadikan momen menerima dan berbagi THR sebagai sarana melatih literasi keuangan sekaligus menanamkan sikap amanah. Pada kesempatan ini, orang tua dapat mengajarkan cara mengelola uang dengan bijak serta membagi alokasinya secara seimbang, misalnya: sebagian untuk ditabung, sebagian untuk sedekah, dan sebagian untuk kebutuhan pribadi.
Hindari memaksa anak untuk menyerahkan seluruh uang yang dimilikinya tanpa penjelasan. Karena secara syariat, harta yang diberikan kepada anak adalah miliknya. Orang tua tidak boleh mengambilnya sepihak tanpa alasan yang dibenarkan.[6] Namun bagi anak yang belum baligh dan belum mampu mengatur, orang tua berhak membimbing dalam pengelolaannya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik” (QS. An Nisa’: 5)
Ayat ini menjadi dasar bahwa pengelolaan harta anak kecil atau yang belum baligh berada dalam tanggung jawab walinya. Maka, ajaklah anak-anak untuk berdiskusi bersama-sama, membuat kesepakatan, dan mencatatnya. Dengan ini, anak akan belajar mengenai nilai dan fungsi uang sejak dini, juga bagaimana cara mengelolanya dengan baik, sehingga ke depannya, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bijak dalam hal keuangannya, biidznillah.
Ide Aktivitas Edukatif: Agar Waktu Libur Lebaran Tidak Terbuang Sia-sia
Agar masa libur hari raya tidak diisi dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, orang tua dapat merencanakan kegiatan sederhana tetapi bermakna bersama anak, misalnya:
- Menyusun “Rencana Uang Lebaran” dengan duduk bersama dan menuliskan rencana penggunaan uang THR di buku catatan anak.
- Menulis cerita berjudul “Hal Terbaik dari Lebaran Tahun Ini” sebagai bentuk refleksi dan ungkapan syukur kepada Allah Ta’ala.
- Mengajak anak berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan, dan kegiatan positif lainnya.
Dengan cara ini, Lebaran akan menjadi momen yang berharga bagi anak-anak. Mereka tetap merasakan sukacita, tetapi juga mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Yang terpenting, terjalin kedekatan yang hangat antara orang tua dan anak melalui kebersamaan dalam kegiatan-kegiatan positif.
Menjadikan Syari’at sebagai Koridor Kegembiraan
Hari raya bukanlah tentang siapa yang paling meriah. Bukan pula tentang siapa yang paling “seru” atau paling mewah. Hari raya adalah tentang hati yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala yang tak terhitung jumlahnya yang telah Dia anugerahkan kepada kita.
Orang tua memegang peran penting untuk memastikan bahwa kegembiraan anak di setiap momennya senantiasa berada dalam koridor syariat tidak melampaui batas, tidak mengganggu, dan tidak menjadikan tren sebagai kiblat.
Sebab tugas kita sebagai orang tua bukan sekadar membuat anak bahagia di dunia, melainkan membimbingnya agar kelak dapat meraih kebahagiaan bersama di kehidupan yang abadi, di surga Allah‘Azza wa Jalla. Inilah makna hari raya yang sejati bagi seorang muslim.
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar at-Thiba’ah al-Amiroh: Turki, Al-Maktabah Asy-Syamilah
- Nashiruddin al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Al-Maktabah Asy-Syamilah
- Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha’if al-Ma’arif, Dar Ibnu Hazm, Al-Maktabah Asy-Syamilah
- Ibnu ‘Utsaimin, Syarh Riyadhish Shalihin, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
TTS (Bonus Rubrik Tarbiyatul Aulad)

Pertanyaan Mendatar:
2. Menahan diri dari makan, minum dan berbagai pembatalnya mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari
4. Hukum berpuasa di bulan Ramadhan
6. Perasaan umat muslim saat merayakan Idulfitri
7. Nama bulan setelah Ramadhan
8. Zakat yang diwajibkan oleh Allah 'Azza wa Jalla atas umat Islam terkait dengan berakhirnya ibadah puasa di bulan Ramadhan
9. Seseorang akan selalu merasa cukup jika ia ber ...
Pertanyaan Menurun:
1. Mengapa kita tidak boleh bermain petasan?
3. Dikumandangkan sejak matahari terbenam di akhir Ramadhan hingga imam berdiri untuk shalat Id
5. Dalam surah Al-A'raf ayat 26, Allah Azza wa Jalla berfirman mengenai sebaik-baik pakaian adalah ...
6. Menyambung hubungan dengan keluarga dan kerabat yang memiliki hubungan nasab