Mutiara Nasihat Muslimah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Muslimah Penyejuk Hati: Engkaukah Itu?

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Athirah Mustadjab


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”

(HR. Muslim no. 1467)

Akhawati fillah, kita begitu sering mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, pengakuan itu kadang hanya terpatri di dalam hati, tanpa bukti yang tampak dalam jiwa dan raga.

Saudariku hafizhakunnallah, mari kita sadari lagi, betapa besar rasa kasih sayang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada umatnya. Hal ini dibuktikan dengan begitu besar pula perhatian beliau terhadap keselamatan setiap muslim, terkhusus kaum wanita. Di dalam banyak kesempatan, beliau secara khusus memberikan nasihat untuk para wanita.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Sering Memberi Nasihat kepada Kaum Wanita

Wanita memiliki peran yang begitu besar dalam Islam karena seorang wanita muslimah yang menjaga agamanya akan menjadi sebab tersebarnya kebaikan di tengah masyarakat. Seorang istri yang bertakwa akan menjadi penyejuk bagi suaminya. Seorang ibu yang shalihah akan melahirkan generasi yang shalih. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga sering memberi nasihat secara khusus untuk kaum wanita. Beliau memberikan arahan yang jelas dan tausiyah yang indah agar para wanita muslimah selamat dari berbagai fitnah dunia.

Kini, lebih dari empat belas abad telah berlalu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah wafat, tetapi nasihat-nasihat beliau tetap hidup hingga hari ini. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi muslimah yang membahagiakan beliau, menjadi penyejuk hati beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengamalkan sunnah-sunnah yang diajarkannya dan memperhatikan nasihat-nasihat yang diberikannya?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Sangat Menginginkan Keselamatan untuk Kaum Wanita

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sosok yang paling penyayang kepada umatnya. Beliau tidak hanya memikirkan keadaan para sahabat yang hidup pada zamannya, tetapi juga memikirkan umat yang akan menjalani ujian di dunia setelah wafatnya beliau.

Salah satu bentuk kasih sayang tersebut tampak nyata dari banyaknya wasiat yang beliau sampaikan kepada kita, kaum wanita. Di antaranya, beliau mengingatkan kita agar menjaga kehormatan, memperbanyak amal shalih, menjaga lisan, menjaga hubungan dengan suami, serta menjauhi berbagai sebab yang dapat menyeret kepada azab Allah, wal ‘iyaadzubillah.

Di Antara Wasiat-Wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk Muslimah

Di antara wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang sangat penting untuk wanita ialah:

1. Kunci agar wanita mudah masuk surga.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana pun yang engkau mau!’” (HR. Ahmad no. 1661 dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ’anhu; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’).[1]

Jalan menuju surga sangatlah dekat bagi seorang muslimah. Bukan kemewahan dunia yang menjadi ukuran, bukan pula popularitas, melainkan keistiqamahan dalam menjalankan kewajiban kepada Allah sebagai seorang hamba dan menjaga amanah dalam rumah tangganya.

2. Menjaga lisan, tidak mudah mengeluh, dan tidak mengingkari kebaikan suami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُرِيْتُ النَّارَ، فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئاً، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

“Diperlihatkan neraka kepadaku, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, mereka kufur.” Para Shahabat bertanya, “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab, “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada istrinya selama setahun, kemudian istrinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sekalipun.’” (HR. Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907).[2]

3. Memperbanyak sedekah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita,

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ ، فَإِنَّكُنَّ أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ.

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah! Meskipun dengan perhiasan kalian. Sesungguhnya pada hari kiamat kalian adalah penghuni neraka Jahannam yang paling banyak. (HR. Bukhari no. 298).[3]

Inilah bukti bahwa Rasulullah sangat menginginkan keselamatan untuk kita, dengan ini beliau memberi peringatan bagi kaum wanita—sebagai bentuk kasih sayang beliau pada umatnya—agar para wanita lebih berhati-hati menjaga lisannya, memperbanyak syukur, bersedekah, dan memperbaiki akhlaknya.

Menjadi Wanita Shalihah di Tengah Fitnah Zaman

Zaman yang kita hadapi hari ini sungguh menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Fitnah syahwat semakin mudah diakses, aurat semakin dianggap remeh, rasa malu yang dengan cepatnya terus memudar. Di zaman seperti ini, wanita muslimah sangat membutuhkan pegangan yang kokoh, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para salaf. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى

“Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, (ketahuilah bahwa) barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha: 123)

Wanita shalihah adalah wanita yang menjaga ketakwaannya, meski tidak ada seorang manusia pun yang melihatnya. Ia menjaga hijabnya karena Allah. Ia menjaga lisannya karena Allah. Ia menjaga kehormatannya karena Allah. Ia mendidik anak-anaknya karena Allah, dan ia terus belajar agama agar setiap langkahnya berada di atas ilmu dan kebenaran.

Menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai Pedoman Hidup

Wanita dalam Islam memegang banyak peran sekaligus. Sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu, sekaligus bagian dari masyarakat. Semua peran tersebut tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak dibangun di atas petunjuk dari Rabb semesta alam. Ingatlah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

“Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat). (QS. An-Nisa': 59)

Dengan demikian, hendaknya kita memahami bahwa standar benar dan salah bukanlah pendapat manusia, budaya, ataupun tren apapun yang sedang hangat diperbincangkan. Seorang muslimah hendaknya senantiasa bertanya pada dirinya, "Apa yang Allah perintahkan? Apa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam contohkan?"

Dengan menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman, wanita muslimah akan memiliki arah hidup yang jelas, sehingga tidak mudah goyah oleh opini manusia, karena ia memahami apa yang seharusnya menjadi rujukan dalam setiap permasalahan hidupnya.

Menjadi Penyejuk Hati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Akhawati fillah hafizhakunnallah, mari kita renungkan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengorbankan begitu banyak hal demi sampainya hidayah kepada kita. Beliau berdakwah di tengah cercaan, boikot, pengusiran, bahkan peperangan. Semua itu dilakukan karena beliau sangat menginginkan keselamatan umatnya.

Sudah sepantasnya rasa cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berhenti pada ucapan atau lantunan selawat semata. Bukti cinta yang paling nyata adalah mengikuti sunnah-sunnah beliau, menggenggam erat-erat ajaran dan teladan dari beliau shallallahu 'alaihi wa sallam hingga akhir hayat kita.

Kini, mari kita bertanya kepada diri sendiri, “Sudahkah kita menjaga shalat dengan baik? Sudahkah kita menutup aurat sesuai syariat? Sudahkah lisan ini lebih banyak dipenuhi zikir daripada hal yang sia-sia? Sudahkah rumah kita menjadi tempat tumbuhnya sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam? Sudahkah kita mengamalkan wasiat-wasiat indah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita, dan berusaha menjadi muslimah yang kelak akan berada di barisan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam?”

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk muslimah yang istiqamah di atas Al-Qur'an dan Sunnah, sehingga kelak dikumpulkan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di surga-Nya. Sungguh, karena itulah kebahagiaan yang sebenar-benarnya.

Referensi:

  • Shahih Al-Bukhari. Imam Al-Bukhari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim. Imam Muslim. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Al-Jami’. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
20