Mutiara Nasihat Muslimah

Muslimah dan Seni Menikmati Hari Raya dengan Ringan

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Faizah Fitriah


Hari Raya Idul Fitri merupakan hari yang sangat dinanti-nanti oleh kaum muslimin. Ia adalah hari umat Islam merayakan “kemenangan”, menampakkan syiar Islam, serta hari yang dipenuhi rasa syukur, pelukan hangat, dan kebahagiaan. Namun, tak jarang, bagi para muslimah, hari raya juga memiliki sisi lain yang kerap membuat helaan napas terasa lebih panjang karena dalam menyambut hadirnya banyak daftar panjang tuntutan dan pekerjaan, seperti rumah yang harus kinclong, toples jajanan yang harus terisi penuh dengan segala variasinya, pakaian lebaran yang harus serasi, hampers yang mewah, dan lain sebagainya.

Barangkali, tanpa disadari, para muslimah memikul segalanya sendirian. Akibatnya, ia lelah secara fisik, juga tertekan secara mental. Seyogianya, hari raya adalah waktunya untuk bersukacita, bukan menimbulkan banyak tekanan maupun kegundahan.

Maka, mulai saat ini, pertanyaannya bukan lagi, “Bagaimana agar hari raya kita sempurna?” melainkan, “Bagaimana agar Idul Fitri dijalani dengan ringan, penuh sukacita dan penuh keberkahan?”

Rumah yang Bersih dan Nyaman, Tidak Harus Sempurna

Menjelang lebaran, deep cleaning terasa seperti tuntutan. Gorden wajib diganti baru, interior dibongkar, seisi rumah didekorasi ulang, dan seterusnya. Tidak sedikit muslimah yang kelelahan, bahkan sebelum takbir berkumandang. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan hal ini—membersihkan rumah untuk menyambut para tamu di hari raya dengan sebaik-baiknya—akan tetapi, jangan menjadikan kesempurnaan atau totalitas itu sebagai syarat, sehingga menjadi sesuatu yang menzalimi diri sendiri, hingga terlalu lelah, terlalu menekan batin, mubadzir, bahkan sampai memicu konflik baru antar-keluarga menjelang hari raya.

Lalu, bagaimana batasan agar kita tidak berlebih-lebihan namun juga tidak abai dalam menyambut momen hari raya ini?

Kita hanya perlu fokus pada area yang memang akan digunakan untuk menerima tamu, kuncinya adalah cukup dengan dua hal: bersih dan nyaman. Penting untuk diingat, rumah tangga bukan tanggung jawab satu orang. Libatkan suami dan anak-anak untuk bekerja sama, dengan demikian kita bisa sambil mengajarkan kepada anak-anak, bahwa sebagai seorang muslim, menyambut hari raya dan berusaha untuk memuliakan tamu dengan sebaik mungkin merupakan bagian dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 47).[1]

Menyajikan Suguhan Lebaran Tanpa Tekanan

Akhawati hafizhakunnallah, segenap kegiatan untuk berbelanja bahan-bahan kue, masakan, ditambah suasana pasar yang ramai, harga bahan baku yang melonjak, daftar menu yang banyak hanya karena mengikuti tren-tren yang viral, jika dituruti semuanya, tentunya hanya akan memicu tekanan menjelang lebaran. Terlebih lagi, jika membuat persepsi pada diri sendiri bahwa sinyal hari raya dibuktikan dengan toples di rumah yang wajib diisi beragam dan melimpah, standar tersebut hanya akan membuat lelah.

Akhawati fillah, memuliakan tamu tidak harus dengan belasan jenis kue dan camilan. Dua-tiga jenis camilan favorit pun cukup, serta yang terbaik adalah yang sesuai kemampuan kita, dan disiapkan dengan hati yang tenang dan bahagia.

Menu utama juga bisa disederhanakan, ketupat dan satu lauk favorit keluarga sudah cukup untuk menghadirkan kebersamaan. Ingatlah saudariku, yang membuat meja terasa hangat bukan semata tentang beragamnya hidangan; tetapi cinta, keikhlasan, dan kebahagiaan yang menyertainya.

Tradisi Pakaian Baru dan Tren Sarimbit

Sebagamana kita tahu, tradisi baju baru begitu melekat dengan hari raya. Khususnya, tren sarimbit keluarga yang terlihat indah dan kompak. Namun, dari tradisi inilah sering kali muncul begitu banyak tekanan jika tidak mengikutinya—entah itu takut dianggap kurang modis, khawatir dibandingkan, sehingga tak sedikit yang terjebak berutang demi “menyelamatkan” gengsi.

Memang, mengenakan pakaian terbaik adalah bagian dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari raya, sebagaimana diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fitri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum’at.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahih-nya, no. 1766).[2]

Tetapi, cobalah renungkan kembali, apakah pakaian terbaik disyaratkan pakaian baru? Haruskah sarimbit agar terlihat kompak? Dalam menyederhanakan hidup kita, lihatlah teladan terbaik kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa pakaian terbaik di hari ‘id haruslah pakaian yang baru, haruslah kompak sekeluarga, melainkan pakaian terbaik adalah pakaian yang bersih, rapi, nyaman dipakai, dan sesuai syari’at.

Dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata tentang keluarnya wanita saat shalat ‘id,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ :لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab, “Hendaklah saudaranya yang memiliki jilbab memberikan pakaian untuknya.” (HR. Bukhari no. 344 dan Muslim no. 890)[3]

Ini menjadi bukti bahwa para sahabat wanita dahulu tidak mewajibkan diri memakai jilbab baru untuk berhari raya. Mari kita jalani segala aspek dalam kehidupan kita dengan mencontoh generasi terbaik yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para salafush shalih, bukan membiarkan diri terombang-ambing “disetir” oleh standar media sosial atau apapun yang di luar dari syari’at. Duhai saudariku, selain pakaian yang bersih, rapi, dan sesuai syari’at, ketakwaan dan hati yang bersih adalah sebai-baik hiasan yang paling indah untuk dikenakan di hari raya.

Hampers dan THR: Keberkahan Lebih Utama dari Nominal

Budaya saling berkirim hampers kini juga semakin berkembang. Standarnya pun terasa makin tinggi. Tidak sedikit yang merasa “tidak enak” jika tidak membalas dengan nilai yang setara atau yang lebih baik. Bukan berarti kita tidak perlu membalas pemberian orang dengan sesuatu yang spesial, akan tetapi berilah sebaik mungkin, sesuai dengan kemampuan kita.

Begitu pula dengan THR, siapkan sesuai kemampuan. Niatkan sebagai sedekah dan bentuk berbagi untuk bersukacita di hari raya. Jangan sampai setelah lebaran justru dibayang-bayangi oleh beban finansial. Dalam hal ini, jadikanlah hadits berikut ini sebagai tuntunan dan motivasi,

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barang siapa menjaga kehormatan dirinya maka Allah akan menjaganya, dan barang siapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 1361).[4]

Perhatian terhadap Manajemen Logistik dan Emosi

Bagi sebagian besar orang, lebaran bukan hanya soal rumah dan makanan, tetapi juga logistik; daftar belanja, jadwal mudik, rencana kunjungan, pembagian waktu antara keluarga sendiri dan keluarga besar. Di sinilah komunikasi dengan suami menjadi sangat penting. Banyak konflik muncul bukan karena masalah besar, melainkan karena kelelahan dan kurangnya saling memahami.

Bicarakan anggaran bersama dengan tenang, tanpa tuntutan standar di luar syari’at. Susun prioritas bersama. Tentukan jadwal kunjungan yang realistis. Kenyataannya, kelelahan fisik seringkali menjadi pintu masuk emosi yang bisa merusak hangatnya suasana hari raya. Sungguh, ini bukanlah sesuatu yang kita harapkan.

Sebuah Jejak Keteladanan: Para Salaf dalam Berhari Raya

Hari raya adalah hari penuh rasa syukur, maka semestinya, di hari yang mulia dan penuh kebahagiaan ini tidak dijadikan sebagai ajang pembuktian, membanding-bandingkan, iri, dengki, apalagi hasad. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam berhari raya, mereka juga saling bersukacita, mereka bersilaturahim, saling mendoakan dengan ucapan, “Taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian).[5] Akan tetapi, sebagaimana isi doa itu, fokus mereka bukan pada tampilan luar, melainkan pada diterimanya amal ibadah maupun taubat kita selama di bulan Ramadhan.

Kemudian, di tengah kesibukan dan padatnya aktivitas hari raya, jangan sampai kita lalai dari menjaga shalat tepat waktu, dzikir, dan rutinitas ibadah-ibadah sunnah lainnya yang sudah dibangun selama di bulan Ramadhan. Berakhirnya Ramadhan bukan berarti berakhirnya ketaatan kita kepada Rabbul’aalamiin. Selama satu bulan kita belajar menjadi hamba yang menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan dengan semaksimal kemampuan kita, maka jangan sampai kita berbalik arah. Rumah kita boleh saja lebih tertata rapi, indah, dan bersih di momen hari raya, tetapi kebersihan hati dan “tertatanya” ibadah kita selepas Ramadhan, harus tetap menjadi prioritas. Ketahuilah akhawati fiddin, sepanjang hidup, ibadah adalah tujuan utama dari diciptakannya kita di dunia.

Menyambut dengan Ringan, Merayakan dengan Syukur

Muslimah yang bijak tahu kapan harus berhenti. Ia tahu bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kesempurnaan tampilan, tetapi dari ketenangan hati.

Rumah yang siap menyambut hari raya dengan bahagia adalah cukup dengan rumah yang bersih dan nyaman. Kue dan camilan di hari raya tidak harus berderet puluhan jenis dengan toples yang wajib serasi nan estetis, beberapa camilan favorit dengan toples yang bersih itu sudah sangat mencukupi dan sungguh tidaklah mengapa. Pakaian terbaik bukan berarti harus pakaian baru, tetapi pakaian yang bersih, nyaman, sopan dan sesuai syari’at. Hampers tidak harus yang paling mewah, melainkan yang terbaik sesuai dengan kemampuan kita. Dengan demikian, kita akan bersama-sama menyambut hari raya dengan hati lapang, jiwa yang bahagia, dan hubungan yang tetap hangat.

Tanamkan pada diri, lebaran bukan sebatas tentang seberapa rapi rumah kita, tetapi seberapa bersih hati kita. Bukan tentang seberapa banyak hidangan, tetapi seberapa tulus kita bersyukur. Bukan tentang bagaimana kita dipandang oleh manusia, melainkan bagaimana kita dipandang oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga hari raya kita tahun ini bukan hanya indah di mata, tetapi juga tenang di hati dan ringan di jiwa. Sesungguhnya Islam adalah agama yang indah dan membawa ketenangan hidup bagi para pemeluknya. Semoga Allah Ta’ala menerima amal-amal shalih kita semua. Amin.

Referensi:

  • Imam Bukhari, Shahihul Bukhari, Matba’ah Al-Kubra Al-Amiriyah: Mesir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Imam Bukhari, Shahihul Bukhari, Dar Ibnu Katsir: Damaskus, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar At-Tiba’ah Al-Amiroh: Turki, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Ibnu Hajar, Fathul Bari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
20