Tanya Dokter
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Mitos dan Fakta Seputar Pertumbuhan Anak

Dijawab oleh:

dr. Arifin Kurniawan Kasmir, Sp.A., M. Kes.


Pertanyaan dari ART182-22225 Widya

Dalam keluarga ana, ada keponakan yang kakinya X. Entah apakah saat kecil dibedong atau tidak, ana kurang paham. Hanya saja sekarang anak tersebut sudah kelas 5 SD dan kakinya terlihat seperti bentuk X saat berjalan sehingga dia tidak pernah mau ikut pelajaran olah raga. Dia bobotnya besar sehingga saat berjalan terlihat sangat jelas kaki kiri ke kanan dan kaki kanan ke kiri. Yang ingin ana tanyakan, apakah masih bisa diperbaiki dengan usianya sekarang ini atau memang sudah qodarullah tidak bisa diperbaharui kembali?

Jawaban:

Pertama, posisi kaki anak saat baru lahir memang melengkung karena di dalam kandungan posisinya meringkuk. Oleh sebab itu, saat anak lahir posisi kaki agak melengkung jangan langsung berpikir “anak saya agak berbeda”. Tapi memang ada situasi tertentu yang secara genetik akan terjadi kelainan pertumbuhan. Ini biasanya pada kondisi genu valom, genu album atau CTEV.

Yang dikatakan CTEV (Congenital Talipes Equinovarus) adalah kelainan pada bayi baru lahir dengan posisi angulasi sudutnya jauh lebih ekstrim, biasanya posisi kaki akan lebih menekuk ke dalam. Di luar itu juga ada situasi yang dapat memengaruhi pertumbuhan tulang si kecil, seperti kekurangan vitamin D atau kekurangan kalsium.

Dalam hal ini, apakah penyakit kaki X pasti berhubungan dengan kelainan sebab dibedong? Ini mitos. Tetapi dapat disebabkan oleh faktor lain seperti kekurangan vitamin D, kelainan hormon, atau gangguan pertumbuhan secara umum (contoh : CTEV).

Intervensi yang dapat dilakukan pada kelainan-kelainan pertumbuhan atau perkembangan, prinsipnya adalah deteksi dini. Jadi saat pertama kali ketahuan ada yang aneh, segera periksakan ke dokter. Qodarullah adek ini kondisinya sudah usia 12 tahun, di mana pada usia 12 tahun itu tulangnya sudah terbentuk dengan solid. Meskipun secara teori, dikatakan masih ada ruang untuk tumbuh karena pertumbuhan tinggi anak itu sampai 21 tahun (laki-laki) dan 18 tahun (perempuan).

Pada kondisi seperti ini, apakah masih bisa diintervensi? Wallaahu ‘alam bishawab, tapi secara teori masih bisa diupayakan. Sejauh mana perbaikannya, kami tidak dapat menjanjikan. Tetapi yang namanya ikhtiar harus diupayakan, dibandingkan berdiam diri dengan kondisi yang ada. Jadi saran ana, untuk keponakan Bu Widya, segera konsultasikan ke dokter ortopedi anak. Kalau tidak ada dokter ortopedi anak, bawa dulu ke dokter anak atau dokter ortopedi. Nanti mereka akan melakukan penilaian dengan melakukan rontgen kaki untuk melihat ada kelainan bentuk atau tidak, ada angulasi atau tidak, sudutnya ekstrim atau tidak. Setelah itu akan dilakukan kerjasama dengan dokter rehab medik untuk fisioterapi secara motorik dan pembiasaan melalui sepatu khusus.

Pertanyaan dari ART171-09068 Ima

Terkait persiapan MPASI berarti anak sudah siap duduk. Yang ingin saya tanyakan, sejak kapan anak dapat dilatih untuk posisi duduk? Misal dengan digendong hadap depan posisi duduk, mulai usia berapa? Supaya saat awal MPASI sudah bisa duduk dengan baik. Dan terkait menu MPASI saat usia 6 bulan yang disarankan apa saja?

Jawaban:

Terkait tanda-tanda anak siap mulai MPASI, biasanya orang tua lebih fokus pada minat anak terhadap makanan dan kemampuan duduk. Tetapi yang perlu dipahami, prinsip anak mampu makan yang lebih padat di usia 6 bulan, sebenarnya ada 7 poin, antara lain :

  1. Kemampuan untuk mengendalikan kepala

    Anak dapat menahan kepala dengan kokoh dan stabil. Saat bangun tidak langsung jatuh.

  1. Kemampuan hisap dan menelan

    Anak dapat menggerakkan makanan dari mulut ke belakang dengan lidahnya.

  1. Hilangnya reflek muntah

    Seringkali ketika anak memasukkan jari tangan ke mulut, orangtua menarik tangan anak. Yang harus diperhatikan, bukan berarti tidak boleh memasukkan tangan ke mulut, yang tidak boleh adalah memasukkan tangan yang kotor ke mulut. Ketika anak memasukkan tangan ke mulut secara bertahap, sebenarnya bermanfaat bagi bayi untuk menghilangkan reflek muntahnya. Allah sudah mengatur sedemikian rupa dengan cara itu. Reflek muntah anak dapat hilang. Pastikan tangannya tidak kotor agar tidak muncul masalah infeksi pencernaan seperti muntah dan diare. Hilangnya reflek muntah sekitar 4-6 bulan dan pada usia ini biasanya anak sudah siap makan.

  1. Minat anak pada makan

    Kalau melihat orang tua makan, anak tertarik untuk makan. Sejatinya, anak akan tertarik dengan apa yang ada di depannya sehingga jangan menjadikan ini sebagai satu-satunya parameter anak siap makan.

  1. Kebutuhan makanan tambahan

    Kita memiliki dalil yang kuat bahwa ASI adalah nutrisi mutlak pada saat usia 0 sampai 6 bulan. Setelah 6 bulan, nutrisinya tidak cukup hanya dari ASI saja sehingga memerlukan makanan pendamping ASI. Makanan Pendamping ASI (MPASI) bukanlah pengganti ASI. ASI tetap dilanjutkan sampai usia 2 tahun. Dalilnya jelas shahih, berlaku untuk umum, dan secara ilmiah juga terbukti. Bukan disubsitusi tetapi ditambahkan, didampingkan dengan MPASI.

  1. Kemampuan duduk dengan dukungan

    Anak bisa duduk dengan dibantu. Kata kuncinya, anak tidak harus duduk sendiri tetapi sudah bisa duduk dengan bantuan dan bisa menahan tubuhnya dengan baik. Bukan berarti bahwa kalau anak dari posisi terlentang belum bisa langsung posisi duduk, maka belum boleh makan dengan posisi duduk. Kemampuan bayi untuk duduk biasanya muncul pada usia 4-6 bulan. Pada rentang usia itu, lakukan stimulasi dengan cara menggendong hadap ke depan. Kemudian saat sedang posisi tiduran terlentang, Tarik tangannya seperti gerakan sit up.

  1. Kehilangan reflek lidah

    Reflek lidah yang dimaksud adalah lidah melet-melet. Biasanya ada anak yang saat masuk makanan ke mulut kemudian dilepeh. Apabila reflek ini sudah hilang, artinya anak sudah siap MPASI.

Pertanyaan kedua terkait menu MPASI, rekomendasi dari WHO maupun Kemenkes dan IDAI adalah menggunakan menu lengkap sejak awal MPASI. Menu lengkap sama halnya dengan menu Piringku. Ada karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak, vitamin, dan mineral. Kalau awal MPASI menunya menu tunggal, misal pure pisang, ini hanya untuk memperkenalkan tekstur saja kepada si kecil. Yang perlu diperhatikan juga saat MPASI adalah tepat waktu (saat anak benar-benar lapar), tepat tekstur (tidak terburu-buru naik tekstur), dan tepat jumlah (tidak berlebihan sesuai sunnah Rasul).

Pertanyaan dari ART172-20021 Agung Rahmadani di Tangerang Selatan

Anak laki-laki usia 2 tahun 8 bulan komunikasi dua arahnya masih minim, kadang menjawab kadang tidak dan anaknya aktif sekali. Paham instruksi dan sudah bisa 24 kata dalam satu kalimat, misal mau makan, mau minum. Apakah ini termasuk speech delay?

Jawaban:

Kemampuan anak secara umum terdiri dari tumbuh dan berkembang. Tumbuh artinya semakin besar, semakin gemuk, dan semakin tinggi. Berkembang artinya dari yang tidak bisa menjadi bisa. Perkembangan ada empat komponen, yaitu komponen motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan sosial.

Motorik kasar artinya dia merangkak, duduk, berdiri, berjalan. Motorik halus artinya yang sebelumnya menggenggam sesuatu, kemudian bisa menggunakan jari satu per satu. Perkembangan bahasa dan sosial artinya sudah bisa untuk berkomunikasi secara verbal, bukan secara gestur.

Dalam kasus ini, anak lebih banyak bicara dengan gestur. Yang harus dipahami bahwa perkembangan memiliki milestone (tahapan). Awalnya bubbling, kemudian mulai bisa mengucapkan kata-kata. Usia 18 bulan paling tidak sudah bisa mengucapkan 30 kosakata dengan jelas. Kemudian bertahap bisa merangkai kata dan kalimat.

Untuk mendeteksi keterlambatan pada anak, kita menggunakan rules of four. Usia anak dibagi menjadi empat, yaitu kemampuan dia secara umum yang harus kita pahami. Usia 1 tahun paling tidak 25% kebutuhan dan kemampuan anak untuk bisa kita pahami. Usia 2 tahun 50% kemampuan bahasa yang bisa kita ketahui dan saat usia 4 tahun 100% kemampuan bahasanya dapat kita pahami. Usia 2 tahun seharusnya anak sudah mulai bisa membentuk kalimat dengan subjek dan predikat, tetapi apabila anak belum bisa artinya ada keterlambatan bahasa.

Gangguan bahasa ada dua yaitu gangguan bahasa reseptif, gangguan bahasa ekspresif, dan gangguan perilaku khusus. Gangguan bahasa reseptif sederhananya tidak dapat memahami apa yang diinstruksikan sehingga anak tidak bisa berkata-kata. Gangguan bahasa ekspresif adalah kondisi anak yang tidak bisa berkata-kata dengan baik karena tidak bisa berartikulasi dengan baik. Gangguan perilaku khusus adalah situasi khusus yang akibatnya anak mengalami gangguan interaksi sosial dan komunikasi. Untuk menghindari gangguan bahasa pada anak, hentikan stimulasi yang membahayakan atau membuat dia semakin bermasalah perkembangan bahasanya seperti interaksi digital yang melebihi batas wajar. Berikan stimulasi yang baik untuk si kecil.

Pertanyaan dari ART211-59223 Raffinia Meidina di Solo

Jika anak usia 5 tahun belum pernah diimunisasi kecuali setelah lahiran apakah masih bisa dikejar imunisasi yang terlewat?

Jawaban:

Imunisasi adalah iktiar berbasis bukti untuk melakukan pencegahan penyakit PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi). Ikhtiar adalah upaya kita yang hasilnya tergantung Allah bagaimana hasilnya. Secara literatur dan bukti ilmiah dikatakan bahwa imunisasi tidak dapat mencegah 100% penyakit, tetapi minimal ada dua manfaat yang bisa kita dapatkan.

Manfaat pertama, apabila di sekitar kita ada yang sedang sakit, resiko kita terjangkit penyakit tersebut akan lebih kecil. Manfaat kedua, apabila qadarullah terkena penyakit tersebut, akan cenderung lebih ringan gejalanya dan resiko mengalami komplikasi lebih kecil.

Contoh kasus : Dalam satu klaster anak-anak terkena campak termasuk anak kita yang sudah mendapat imunisasi MR. Gejala yang dialami anak kita demam sumer-sumer dan sempat ada kemerahan di kulit tetapi sembuh dalam dua hari. Sedangkan anak-anak lainnya yang tidak diimunisasi mengalami gejala demam, batuk pilek, mata merah, beruntusan sekujur badan, dan diare (gejala lebih berat, bahkan hingga beresiko kematian). Konsep ini yang harus kita pahami bahwa imunisasi bisa melindungi tetapi tidak memberikan proteksi 100%. Hanya saja bisa mencegah risikonya menjadi lebih ringan.

Apabila anak terlambat belum diimunisasi, sebenarnya dalam konteks imunisasi tidak ada kata terlambat kecuali jenis imunisasi tertentu karena ada imunisasi yang memang tidak boleh diberikan melebihi batas usia tersebut. Contoh imunisasi yang memiliki batas usia pemberian adalah imunisasi rotavirus yang tidak disarankan untuk usia diatas 6 bulan. Untuk vaksin lainnya seperti Hepatitis B, Polio, DPT, PCV, dan lainnya masih bisa dikejar dengan jadwal khusus. Disarankan jika tertinggal jadwal imunisasi, segera datang ke puskesmas atau dokter anak untuk dibantu mengejar imunisasi yang tertinggal sesuai kebutuhan.

0