Kesehatan
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Mikroplastik di Sekitar Kita: Ancaman Kecil yang Tak Terlihat

Reporter : dr. Sri Setya Wahyu Ningrum

Redaktur : dr. Avie Andriyani


Di tengah gaya hidup modern yang serba praktis, ancaman mikroplastik terasa semakin nyata. Akhir-akhir ini mikroplastik menjadi isu kesehatan yang ramai diperbincangkan, terutama tentang ancaman bahayanya bagi tubuh. Apalagi bahan plastik sangat sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti peralatan rumah tangga, spare part kendaraan bermotor, kosmetik, pakaian, dan masih banyak lagi. Tanpa disadari, setiap hari tubuh kita terpapar partikel-partikel plastik yang berukuran sangat kecil ini.

Mikroplastik tidak terlihat oleh mata, namun dapat masuk melalui air minum, makanan, kulit, dan udara yang kita hirup. Yuk, simak pembahasan artikel Majalah HSI Edisi 89 seputar mikroplastik sebagai upaya menjaga kesehatan dan lingkungan!

Apa itu mikroplastik?

Mikroplastik adalah partikel plastik yang memiliki diameter sangat kecil (< 5 mm). Mikroplastik ada dua jenis, yaitu mikroplastik primer dan sekunder.

Mikroplastik primer adalah partikel plastik yang sengaja diproduksi dalam bentuk produk atau benda seperti sabun cuci muka, pasta gigi, kosmetik, dan pakaian sintetis. Sedangkan mikroplastik sekunder bersumber dari pemecahan atau fragmentasi benda-benda plastik berukuran lebih besar yang mengalami proses degenerasi, seperti kantong plastik yang besar dan botol kemasan plastik.

Dari mana mikroplastik masuk ke tubuh?

Tanpa kita sadari penggunaan berulang benda berbahan plastik memicu meningkatnya paparan mikroplastik terhadap tubuh. Paparan yang paling sering melalui makanan dan minuman yang kita konsumsi. Air minum kemasan, garam dapur, ikan laut, buah dan sayur yang terkontaminasi air limbah ikut menyumbang sumber mikroplastik.

Mikroplastik juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara yang dihirup seperti debu rumah, serat tekstil sintetis, dan polusi udara perkotaan. Selain lewat pencernaan dan pernafasan, mikroplastik juga bisa masuk lewat kulit melalui penggunaan kosmetik dan pakaian sehari-hari.

Penelitian terkait Mikroplastik

Penelitian yang dilakukan oleh BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) tahun 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di ibu kota. Partikel-partikel plastik mikroskopis tersebut terbentuk dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara akibat aktivitas manusia. Rata-rata, peneliti menemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta.

Fenomena ini terjadi karena kini siklus plastik telah menjangkau atmosfer. Mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri, kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama hujan. Proses ini dikenal dengan istilah atmospheric microplastic deposition.

Meski penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan, studi global menunjukkan bahwa paparan mikroplastik dapat menimbulkan dampak kesehatan serius, seperti stres oksidatif, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan. Dari sisi lingkungan, mikroplastik yang terkandung dalam air hujan berpotensi mencemari sumber air permukaan dan laut. Kita tahu muaranya, sumber air tercemar akhirnya masuk ke rantai makanan.

Dampak mikroplastik bagi kesehatan

Partikel-partikel mikroplastik yang terus menumpuk dalam tubuh ini dapat memberikan dampak negatif jangka panjang di antaranya gangguan pernapasan, saluran cerna, neurologis, hingga sistem reproduksi.

Gangguan pernapasan yang paling sering terjadi adalah bronkiolitis, pneumonitis, hingga kanker paru. Sedangkan dampak negatif mikroplastik pada sistem pencernaan berupa ketidakseimbangan mikrobiota usus, peradangan usus, penyakit liver, dan bahkan kanker di organ pencernaan.

Gejala neurologis seperti nyeri kepala, pusing, lemas maupun penurunan kesadaran berisiko pula terjadi akibat paparan mikroplastik. Tidak hanya itu, menurunnya kualitas sperma dan resiko berat bayi lahir rendah juga dapat meningkat.

Cara mengurangi paparan mikroplastik

Setelah mengetahui bahaya paparan mikroplastik bagi tubuh, saatnya mulai mengurangi paparan mikroplastik dengan cara sebagai berikut:

  • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti botol, kantong, dan kemasan). Jika terpaksa menggunakan bahan plastik untuk makanan, cukup digunakan sekali pakai.
  • Tidak menggunakan tempat makan plastik apabila suhu makanan masih panas.
  • Memilih bahan alternatif yang lebih aman sesuai kebutuhan (kaca, kayu, atau stainless steel)
  • Mengatur pola konsumsi dan kebiasaan sehari-hari jauh dari plastik
  • Membangun gaya hidup sehat dan ramah lingkungan
  • Melakukan perubahan-perubahan kecil yang berdampak besar secara konsisten

Di tengah ancaman bahaya mikroplastik, sebagai umat muslim kita hendaknya berdoa memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah, kemudian ikhtiar dengan meminimalkan penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Tetap waspada tetapi bukan berarti serta-merta menjadi anti plastik. Jaga kesehatan dan lingkungan yang telah Allah amanahkan kepada kita. Dengan menjaga lingkungan saat ini sama artinya kita menjaga kehidupan generasi keturunan kelak.

Sumber :

  • https://ayosehat.kemkes.go.id/mikroplastik--wujudnya-tak-nampak-dan-dampaknya-tak-terduga
  • https://www.brin.go.id/news/125226/air-hujan-jakarta-mengandung-mikroplastik-brin-ingatkan-bahaya-polusi-dari-langit
  • Chartres N, 2024, Effects of Microplastic Exposure on Human Digestive, Reproductive, and Respiratory Health: A Rapid Systematic Review, Environmental Science Technology (58), pp. 22843-22864
  • Hasteti M, 2023, Komposisi dan Kepadatan Mikroplastik di Sedimen Perairan Pulau Los, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Journal of Marine Research, Vol. 12(3), pp. 455-464
  • Winiarska E, 2024, The potential impact of nano- and microplastics on human health: Understanding human health risks, Environmental Research, pp. 1-13
8