Tarbiyatul Aulad
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Mewujudkan Anak yang Berbakti


Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Za Ummu Raihan


Setiap orang tua tentu berharap agar kelak anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang lembut, santun, dan berbakti. Anak yang ketika berbicara berusaha memilih kata-kata yang sopan, ketika diberi nasihat atau dimintai pertolongan tidak membantah, dan ketika melihat orang tuanya bersedih, ia peka serta berusaha menenangkan dengan penuh kasih sayang.

Namun, membentuk anak seperti itu bukanlah perkara mudah. Terlebih di era modern ini, para orang tua harus berjuang lebih keras di tengah derasnya arus teknologi, perubahan nilai, serta pergeseran budaya yang sering kali tidak sejalan dengan nilai-nilai moral dan agama. Pengaruh media sosial, tayangan hiburan yang tidak mendidik, serta lingkungan pergaulan yang bebas dapat menjadi tantangan besar dalam menjaga kemurnian hati dan karakter anak.

Kiat Mencetak Anak-Anak Berbakti

Berikut adalah beberapa kiat yang dapat kita ikhtiyarkan sebagai orang tua agar dapat mencetak anak-anak yang memiliki akhlaq yang mulia dan berbakti pada kedua orang tua.

1.  Meminta kepada Allah: Awal dari Segala Usaha

Di antara doa terpopuler yang termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Furqan ayat 74, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Wahai Rabb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

Doa ini menjadi pengingat bahwa cita-cita memiliki anak yang shalih dan berbakti bukanlah sekadar hasil dari usaha pendidikan dan pengasuhan semata, melainkan karunia yang hanya dapat terwujud dengan pertolongan dan taufik dari Allah. Oleh karena itu, doa orang tua untuk anaknya merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‌ثَلَاثُ ‌دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga doa yang mustajab yaitu doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi no. 3448. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad)[1]

Hadits ini menegaskan bahwa doa orang tua memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Ia mampu menembus langit, melampaui batas waktu, dan menjadi sebab turunnya keberkahan dalam kehidupan anak. Oleh karena itu, seorang ayah dan ibu seharusnya tidak pernah berhenti berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat anak-anaknya, bahkan ketika anak tersebut sudah dewasa atau mungkin belum menampakkan tanda-tanda ketaatan.

Doa bukanlah pelengkap setelah usaha, melainkan pondasi dari setiap usaha. Sebelum mengajarkan anak berbicara dengan lembut, tunduk pada nasihat, atau berbakti kepada orang tua, tanamkan terlebih dahulu permohonan dalam sujud yang penuh harap. Sebab, hanya dengan izin Allah benih kebaikan itu bisa tumbuh menjadi akhlak yang indah dan hati yang lembut.

2.  Menjadi Teladan dalam Menciptakan Suasana Santun Sejak Dini

“Children see, children do.” Ungkapan ini bukan sekadar pepatah populer, melainkan sebuah kenyataan yang didukung oleh penelitian ilmiah dan pengalaman kehidupan sehari-hari. Dalam teori Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial), yang dikemukakan oleh psikolog terkenal Albert Bandura (1977), dijelaskan bahwa anak-anak belajar banyak hal melalui proses mengamati dan meniru perilaku orang di sekitarnya, terutama orang tua mereka.

‘Ala kulli haal, prinsip ini sejatinya telah lebih dulu ditegaskan oleh Islam jauh sebelum dunia psikologi modern menelitinya. Al-Qur’an banyak menampilkan kisah keteladanan sebagai sarana pendidikan, bukan sekadar nasihat secara lisan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan sejati lahir dari keteladanan nyata, bukan sekadar dari kata-kata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menyampaikan ajaran Islam lewat sabda, tetapi juga menunjukkannya lewat tindakan, akhlak, dan kelembutan perilaku. Beliau menjadi teladan dalam setiap aspek kehidupan dalam beribadah, berkeluarga, bersosial, hingga dalam menghadapi ujian dan perbedaan.

Prinsip ini juga sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh orang tua dalam membentuk karakter dan keyakinan anak. Sikap, tutur kata, dan kebiasaan orang tua sehari-hari adalah “pendidikan pertama” bagi anak. Apabila di rumah anak sering mendengar ucapan lembut, melihat ayah menghormati ibu, atau menyaksikan ibunya bersabar dalam menghadapi kesulitan, maka nilai-nilai kesantunan, sikap hormat, dan kasih sayang akan tertanam kuat dalam jiwanya. Sebaliknya, jika rumah dipenuhi dengan amarah, caci maki, atau bentakan, maka anak akan tumbuh dengan hati yang keras dan mudah meniru ketidaksantunan itu. Dengan demikian, membangun anak yang santun harus dimulai dari suasana rumah yang santun pula.

Jadilah teladan dalam kelembutan. Tunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan pada kerasnya suara, tetapi pada ketenangan hati dan kendali diri sebab sebelum kita bisa mendidik anak dengan lisan, kita harus mendidik mereka dengan teladan perbuatan.

Begitulah hakikat pendidikan: apa yang dilakukan lebih membekas daripada apa yang diucapkan. Bahkan secara fitrah, manusia cenderung lebih mudah menerima nasihat dari seseorang yang telah lebih dahulu mencontohkan kebaikan tersebut. Nasihat yang keluar dari lisan akan berhenti di telinga, tetapi nasihat yang keluar dari keteladanan akan menetap di hati. Demikian pula dengan anak-anak. Mereka belajar bukan hanya dari instruksi, tetapi dari sesuatu yang mereka saksikan setiap hari di rumah. Ketika ayah dan ibu mencontohkan adab berbicara yang sopan, kesabaran dalam menghadapi masalah, serta saling menghargai satu sama lain, maka anak-anak akan meniru sikap itu tanpa perlu diminta. Sebaliknya, jika orang tua mudah marah, berkata kasar, atau berbuat tidak jujur, maka anak pun akan menyerap kebiasaan yang sama.

Oleh sebab itu, tugas terbesar orang tua adalah menjadi teladan yang hidup bagi anak-anaknya teladan dalam tutur kata, dalam cara menyikapi ujian, dalam bersyukur atas nikmat, dan dalam berinteraksi dengan sesama. Dengan begitu, rumah akan menjadi “madrasah pertama” yang menumbuhkan kesantunan, empati, dan akhlak mulia dalam diri anak-anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya mengenai apa yang telah dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)[2]

Aba dan Umma, ingatlah bahwa karakter itu dibangun dari kebiasaan, bukan sekadar nasihat. Ketika sejak kecil anak terbiasa berada dalam lingkungan yang santun, penuh adab dan kelembutan, di situlah karakter untuk terus berbakti dan memuliakan orang tua mulai mengakar dalam jiwanya hingga dewasa kelak, insyaallah. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku.” (HR. At Tirmidzi no. 3895 dan Ibnu Majah no. 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas, dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 285)[3]

Aba dan Umma, menjadi teladan bukan berarti harus menjadi sempurna. Justru ketika orang tua berani menurunkan ego, mengakui kesalahan, dan berusaha memperbaikinya, di situlah anak belajar tentang tanggung jawab, kerendahan hati, kasih sayang, dan ketulusan. Anak tidak butuh orang tua yang tidak pernah salah, tetapi orang tua yang tulus untuk terus belajar menjadi lebih baik.

3. Menceritakan Teladan dari Al-Qur’an dan Kisah Para Salafus Shalih

Kisah adalah salah satu cara efektif untuk menanamkan nilai dan karakter pada anak sejak usia dini. Dunia anak adalah dunia imajinasi dan rasa, sehingga mereka lebih mudah tersentuh oleh cerita yang hidup daripada “ceramah” yang panjang dan kaku. Melalui kisah, nilai-nilai kebaikan menjadi nyata, tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa dan membekas dalam hati mereka.

Al-Qur’an sendiri menggunakan kisah sebagai salah satu metode pendidikan yang paling lembut dan mengesankan. Allah menuturkan kisah-kisah para nabi, orang saleh, dan umat terdahulu bukan untuk hiburan, melainkan sebagai pelajaran (ibrah) bagi hati yang ingin mengambil hikmah.

Salah satu kisah teladan yang bisa diceritakan kepada anak adalah kisah Nabi Ismail ‘alaihissalam yang begitu taat dan berbakti kepada ayahnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ketika diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihnya, Nabi Ismail dengan penuh kepasrahan berkata,

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللّٰهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kisah ini mengajarkan kepada anak tentang ketaatan, kepasrahan, dan cinta sejati kepada Allah dan orang tua. Anak belajar bahwa berbakti bukan sekadar patuh, tetapi juga memahami bahwa setiap perintah yang benar dari orang tua adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.[4]

Selain dari Al-Qur’an, kisah juga bisa diambil dari perjalanan hidup para salafus shalih, orang-orang shalih terdahulu yang penuh teladan dalam bakti dan kelembutan. Misalnya, kisah Uwais Al-Qarni, yang rela tidak berjumpa langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memilih berbakti kepada ibunya yang sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memerintahkan para sahabat untuk meminta doa dari Uwais karena keutamaannya dalam berbakti. Kisah seperti ini memberi contoh konkret tentang prioritas birrul walidain (berbakti kepada orang tua) di atas ambisi pribadi.

Kita juga bisa mengambil kisah dari pengalaman nyata di keluarga atau tayangan inspiratif yang sesuai nilai islami, misalnya cerita tentang seorang anak yang rela menunda cita-citanya demi merawat ibunya atau tentang anak yang menabung untuk membahagiakan ayahnya. Cerita yang disampaikan dengan hati, apalagi disertai keteladanan nyata dari orang tua, akan lebih melekat dalam ingatan dan jiwa anak daripada nasihat panjang yang diucapkan tanpa perasaan.

Jadikan kisah sebagai bagian dari keseharian di rumah. Ceritakan dengan lembut sebelum tidur atau jadikan bahan obrolan ringan setelah salat berjamaah. Kisah yang dituturkan dengan cinta bukan hanya menghibur, tapi juga membentuk hati yang lembut, penuh hormat, dan cinta kepada orang tua serta Rabb-nya.

4.  Menjalin Komunikasi yang Hangat dan Terbuka

Anak-anak zaman ini tumbuh di tengah dunia digital yang penuh distraksi. Informasi datang dari segala arah, cepat, dan sering kali tanpa filter. Dalam situasi seperti ini, komunikasi hangat antara orang tua dan anak menjadi kebutuhan yang sangat penting. Jika orang tua tidak menyediakan ruang untuk berbicara, mendengar, dan memahami, anak akan mencarinya di tempat lain pada teman, media sosial, bahkan figur yang tidak pantas dijadikan panutan. Oleh karena itu, Aba dan Umma, jadilah tempat paling nyaman bagi anak untuk bercerita. Dengarkan mereka dengan penuh perhatian, bahkan ketika yang mereka ceritakan tampak sepele. Jangan terburu-buru memotong, menasihati, apalagi menghakimi ketika anak sedang berproses memahami dirinya. Kadang, anak hanya butuh didengarkan, bukan diadili. Ketika orang tua mampu menahan diri dan memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan pikirannya, di situlah kepercayaan dan kedekatan hati mulai tumbuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dalam berkomunikasi. Beliau tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan hati. Dalam setiap pertemuan, beliau menatap wajah lawan bicaranya, memanggil dengan panggilan terbaik, dan tidak pernah menyela pembicaraan. Sifat lembut dan penuh perhatian itulah yang membuat hati para sahabat begitu terpaut kepadanya. Disebutkan dalam riwayat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbicara dengan seseorang, beliau menghadap sepenuhnya kepadanya, seolah-olah hanya orang itulah yang sedang beliau perhatikan. Itulah bentuk penghargaan sejati dalam komunikasi, memberikan kehadiran yang utuh.

Dalam keluarga, sikap seperti ini adalah kunci untuk menjaga jembatan hati antara orang tua dan anak. Sejatinya, komunikasi yang baik tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan.

Oleh sebab itu, Aba dan Umma, biasakanlah berbicara dari hati ke hati. Tatap mata anak ketika berbicara, dengar keluhannya tanpa tergesa menasihati, dan beri pelukan sebagai tanda bahwa mereka diterima dengan kehangatan. Dengan begitu, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, percaya diri, dan memiliki hati yang lembut karena ia belajar dari rumah bahwa cinta dimulai dengan mendengar.

Tantangan Zaman dan Strategi Menghadapinya

1. Gadget dan dunia digital

Anak akan mudah kehilangan adab karena terlalu larut dalam dunia maya. Solusinya bukan sekadar melarang, tetapi mendampingi untuk mencari aktivitas pengganti dan mengarahkannya untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat.

Selain itu, buat kesepakatan waktu penggunaan, pilih konten yang bermanfaat, dan jadilah contoh nyata. Jika orang tua sibuk dengan ponsel di meja makan, anak pun akan meniru. Atur momen “bebas gawai” di rumah agar hubungan antar anggota keluarga tetap hangat.[5]

2. Beda generasi, beda cara pandang

Salah satu tantangan terbesar dalam mendidik anak di era modern adalah perbedaan nilai dan cara pandang antar generasi. Banyak anak yang merasa bahwa nasihat orang tua tidak lagi relevan dengan kehidupan mereka. Mereka hidup di dunia yang serba cepat, terbuka, dan penuh perubahan—sementara orang tua tumbuh dalam suasana yang berbeda, lebih sederhana dan penuh batasan.

Ketika anak tampak sulit memahami larangan atau nasihat, bukan berarti mereka menolak kebenaran. Kadang mereka hanya belum memahami alasan di balik aturan yang diberikan. Di sinilah pentingnya orang tua menjelaskan dengan pendekatan iman, bukan sekadar otoritas. Misalnya, saat meminta anak untuk berbicara lembut dan tidak membantah orang tua, orang tua bisa berkata dengan nada lembut, “Nak, Allah yang memerintahkan kita untuk berkata lembut kepada orang tua. Kelak, ketika kamu menjadi ayah atau ibu, pasti kamu juga ingin diperlakukan dengan lembut, bukan? Yuk, kita sama-sama belajar menjadi lembut seperti yang Allah ajarkan.”

Ucapan seperti ini tidak hanya menyampaikan aturan, tetapi juga menanamkan makna spiritualitas di baliknya. Anak tidak lagi melihat aturan sebagai batasan, melainkan sebagai bentuk kasih sayang dan ketaatan kepada Allah. Dengan cara ini, nilai tauhid tumbuh dalam jiwa anak secara alami—mereka belajar bahwa berbuat baik bukan sekadar agar disukai orang tua, tetapi karena Allah yang memerintahkannya.

Perbedaan generasi memang tidak bisa dihapus, tetapi dapat dijembatani dengan hikmah, kesabaran, dan kelembutan komunikasi. Ketika orang tua menjelaskan dengan kasih, bukan dengan emosi, anak akan lebih mudah menerima. Sebab, hati yang disentuh dengan iman akan lebih cepat luluh dibanding hati yang ditekan dengan kekuasaan. Oleh karenanya, Aba dan Umma, jangan lelah menjelaskan dengan penuh cinta. Jadikan setiap nasihat bukan sekadar larangan, tetapi jembatan menuju pemahaman dan kedekatan hati. Dengan begitu, anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya paham aturan, tetapi juga menghayati makna ibadah di balik setiap kebaikan yang diajarkan.

3. Perbedaan kultur antara rumah dan sekolah

Banyak anak kebingungan karena di rumah diajarkan sopan, tetapi di luar rumah, misalnya, ternyata ada temannya terbiasa berbicara kasar. Dengan demikian, sebagai orang tua, kita harus berusaha menjadikan rumah sebagai pusat utama dalam membangun sebuah nilai. Ketika rumah menjadi tempat yang menenangkan, santun dan beradabb, anak akan terbiasa dengan karakter, suasana, dan nilai di rumah yang menjadi tuntunan bagi anak di mana pun mereka berada, insyaallah.

Buah dari Kesabaran Panjang

Mencetak anak yang berbakti tentu bukan sesuatu yang instan, seperti menanam pohon yang tumbuh perlahan, dipupuk dengan doa, disiram oleh keteladanan, dan dijaga dengan kesabaran. Kadang, hasilnya belum begitu tampak sekarang. Namun, percayalah, setiap kesabaran orang tua dalam menjaga amanah berupa anak keturunan pasti akan dibalas dengan kebaikan oleh-Nya ‘Azza wa Jalla.

Aba dan Umma, berbakti kepada orang tua bukan hanya kewajiban anak, tetapi amanah bagi orang tua untuk menumbuhkannya. Oleh karenanya, jadilah orang tua yang bukan hanya ingin dihormati, tetapi juga berusaha agar mudah untuk dicintai dan ditaati oleh anak dengan sepenuh hati. Wabillahit taufiq. Wallahu a’lam.


Daftar Referensi:

  1. Al-Qur’anul Karim.
  2. Al-Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il. Shahih al-Bukhari. Maktabah Syamilah.
  3. Al-Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Adab Al-Mufrad lil Imam Al-Bukhari. Maktabah Syamilah.
  4. Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah. Maktabah Syamilah.
  5. Galanaki, Evangelia E., & Malafantis, K. D. (2022). Albert Bandura’s experiments on aggression modeling in children: A psychoanalytic critique. Frontiers in Psychology. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.988877 Diakses dari: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9733593/
58