Keliling HSI

Merindukan Kumandang Takbir di Negeri Siam

Reporter: Anastasia Gustiarini

Redaktur: Hilyatul Fitriyah


وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ

Artinya, “Dan sempurnakanlah bilangan Ramadhan, dan bertakbirlah kalian kepada Allah”. [QS. Al-Baqarah: 185]

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush sholihaat, atas karunia-Nya, kita diberikan kesempatan istimewa untuk kembali menikmati Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, di mana segala ibadah terasa kian ringan kita tunaikan dan Allah ganjar dengan berlipat. Inilah momen untuk memupuk amal kebaikan dan menggerus cela serta dosa.

Muslim tanah air meneguk suka cita itu dengan kemujuran nan berlipat. Irama kehidupan segera menyelaras. Raungan sirine, ketukan bedug, atau maklumat dari para pengurus masjid lantas menggaung teratur sebagai penanda berbuka dan sahur. Terdengar Indah lantunan ayat suci Al-Qur’an yang bersahutan tanpa henti dari siapa saja yang menekuni lembaran-lembarannya dari setiap sudut ruangan manapun. Mukmin-mukminah saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Mengerahkan seluruh upaya demi meraup pahala yang besar.

Sekolah dan perkantoran pun tak pelak turut menyesuaikan jadwal jam kerja. Libur bersama juga ditetapkan pemerintah. Sebagian besar kaum muslimin sudah berancang-ancang jauh hari merencanakan mudik lebaran untuk bisa berkumpul dengan sanak keluarga di kampung halaman. Begitulah semarak Ramadhan di Indonesia, terasa demikian sentosa.

Dua Puluh Dua Kali Ramadhan

Kalau dihitung-hitung, dua puluh dua kali Ramadhan sudah dilalui Ummu Kaka nyaris tanpa perayaan. Sejak suaminya mendapat mandat bertugas ke Thailand tahun 2003, Ummu Kaka sekeluarga harus meninggalkan Tangerang, tempat tinggalnya dahulu. Karena sang suami bekerja kepada sebuah perusahaan optik Jerman, keluarga kecil itu pun mau tak mau harus diboyong pindah. Sekeluarga, mereka terbang ke Bangkok.

“Waktu pindah anak-anak masih kecil. Anak pertama saya laki–laki usia 9 tahun dan adiknya perempuan masih 7 tahun,” kenangnya. Sejak itu, ia resmi menjadi warga Bangkok. “Selama ini di Bangkok terus. Tapi pernah sih pindah ke Hongkong sebentar. Kalau gak salah kira-kira setahun setengah lah,” ungkap perempuan asli Padang tersebut.

Sejak kala itu pula, Ummu Kaka sekeluarga harus rela menjalani Ramadhan yang nyaris dilalui bak hari-hari biasa. Meskipun, itu hanya berlaku di luar rumah saja, karena kala kembali pulang, Ummu Kaka mengubah jadwal hariannya. Setidaknya jadwal memasak berubah. Sekarang, anak-anak beranjak dewasa dan sibuk dengan kegiatan belajar. “Mereka tidak lagi tinggal dengan kami.” Artinya, Ummu Kaka tinggal memasak untuk dirinya dan suami. “Kami berdua makannya juga diet, jadi masaknya juga yang sederhana saja,” tutur alumnus UI tersebut.

Seperti Hari-hari Biasa

Tinggal di negeri yang mayoritas penduduknya non-Islam, tentu perlu penyesuaian lebih. Tidak seperti momen Ramadhan di tanah air yang biasanya meriah. Ummu Kaka sekeluarga harus rela kehilangan suasana itu.

Mereka benar-benar harus mandiri, termasuk dengan rutinitas baru kala Ramadhan, seperti untuk buka puasa dan makan sahur. Tidak ada penanda buka apalagi ajakan makan sahur yang dikumandangkan dari masjid-masjid. Bahkan, masjid di sana pun masih terbilang jari.

“Kami mengandalkan jam saja,” ujarnya. Ia mengaku biasanya sang suami akan mendapat selebaran jadwal imsakiyah dari masjid Islamic Center, mirip yang banyak beredar di tanah air. Sang suami terbiasa sholat Jumat di sana. Dari jadwal itulah pasangan suami istri ini bisa mengatur sendiri aktivitas Ramadhan mereka.

Tarawih di Masjid Islamic Centre of Thailand Masjid

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok sebenarnya juga menghimpun masyarakat Indonesia untuk berbuka bersama dan tarawih sepekan sekali di hari Sabtu. Namun karena jadwal yang hanya sedikit, Ummu Kaka dan suami lebih memilih sering berbuka di Masjid Islamic Center.

Alasan lainnya yang sempat diutarakan, “karena apartemen kita lumayan jauh dari KBRI, kita sholat di Masjid Islamic Center.” Di Masjid tersebut, mereka tidak hanya menunaikan sholat tarawih saja, tetapi juga datang sejak sebelum buka dan menyantap ifthar bersama muslim lainnya. “Di masjid ini cuma kita berdua yang orang Indonesia,” tutur perempuan kelahiran 1968 tersebut.

The Foundation of the Islamic Centre of Thailand Masjid adalah bangunan besar yang berdiri di atas dua lantai dengan halaman yang cukup luas. “Kalau mereka sedang mengadakan bazar, saya dan suami sering datang. Di sana biasanya baru kelihatan, ternyata muslim Thailand itu banyak,” kisahnya antusias.

”Untuk lantai 1 terdapat meja–meja makan dan kursi seperti di restoran,” cerita Ummu Kaka. Kala Ramadhan tiba, meja-meja berjajar rapih di sepanjang lantai satu sebagai tempat dijajakan air minum, kurma, dan makanan kecil seperti kue-kue yang manis. Tentu saja kue-kue khas Thailand.

Bisanya bapak–bapak akan duduk di meja depan, sedangkan para ibu umumnya memilih meja di bagian belakang. “Tapi ada juga keluarga-keluarga yang memilih duduk dalam satu meja.” ujarnya.

Berbuka dengan Bekal Sendiri

Setelah berkendara mobil pribadi dengan jarak tempuh kira-kira 30 menit dari apartemen, keduanya akan sampai di Islamic Center. “Kira2 sepuluh menit sebelum berbuka, biasanya ada seorang bapak berbicara di depan. Sayangnya kita ngga ngerti ya beliau bicara apa hahaha…,” candanya. Meski sudah lumayan lama berada di Bangkok, Ummu Kaka mengaku hanya memahami bahasa Thailand yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Ia masih kesulitan untuk mengerti bahasa resmi Thailand, seperti salah satunya yang dipakai oleh siaran-siaran televisi nasional negeri gajah putih itu.

“Ketika adzan Maghrib dikumandangkan, kita berbuka bersama dengan teman-teman semeja,” ujar Ummu Kaka menyambung cerita. Namun ia dan suami sering memilih menyantap makanan yang dibawa dari rumah karena hal ini lumrah. “Beberapa orang juga membawa makanan sendiri, bahkan berbagi makanan mereka dengan teman semeja,” jelasnya.

Seperti Masakan Indonesia

Setelah berbuka, kemudian dilanjut sholat Maghrib berjamaah di lantai dua. Selepas itu, barulah jamaah dipersilahkan untuk makan. Pihak masjid juga menyediakan nasi beserta lauk pauk. “Biasanya ayam. Ya ayam goreng, sup ayam, kari ayam, dan ada sayur-mayur,” terang Ummu Kaka.

Makanan Thailand yang disuguhkan sebagai hidangan berbuka puasa menurutnya tidak jauh berbeda dengan makanan Indonesia. Setidaknya, hal ini membuatnya tidak terlalu merasa asing di negeri perantauan.

“Karena muslim Thai itu biasanya dari Selatan, perbatasan dengan Malaysia,” ungkapnya. Kebanyakan dari mereka bisa berbahasa Melayu jadi santapan makanannya yang dihidangkan pun berasal dari Melayu, seperti Nasi Briyani, ayam goreng, kari atau gulai ayam, sup daging, sup ayam, ikan goreng, dan lain-lain.

Hanya Ada Takbir di KBRI

Selama tinggal di Bangkok, Ummu Kaka telah beberapa kali merasakan Idul Fitri di negeri yang tak pernah dijajah bangsa asing ini. Jika suasana Ramadhan hanya bak hari-hari biasa di Thailand, tak jauh berbeda halnya dengan suasana perayaan Ied di sana.

Ummu Kaka tidak pernah mendengar riuh lantunan takbir menggema layaknya di Indonesia. Mungkin bisa saja ada takbiran di masjid, tetapi tak sampai terdengar hingga ke sudut-sudut rumah saking jarangnya masjid di sana.

Namun, setidaknya, jika ia dan suami menunaikan sholat Ied di KBRI, maka kerinduan pada gema takbir itu sedikit terobati. Takbir akan dikumandangkan jelang shalat ied di lapangan wisma KBRI, tempat warga negara Indonesia melaksanakan shalat setiap tahunnya.

Meski demikian, Ummu kaka merasa bahagia karena masih berkesempatan melaksanakan sholat Idul Fitri walaupun tidak lagi bisa merasakan semarak lebaran bak di tanah air juga harus rela jauh dari sanak keluarga. “Teman-temanku senasib yang sama-sama jauh dari keluarga lah yang menjadi pengganti keluarga,” hiburnya. Biasanya pada momen lebaran di KBRI inilah mereka bisa berkumpul. “Kita sama-sama tidak bisa mudik lebaran, jadi kita nikmati saja yang ada di hadapan kita,” ujar Ummu Kaka bijak.

Persiapan Kembali Pulang

Agaknya situasi jauh dari kampung halaman ini tidak akan lama lagi dirasakan Ummu Kaka dan suami. Saat wawancara dilakukan awal Ramadhan lalu, Ummu Kaka mengaku juga baru saja melakukan perjalanan pulang ke tanah air.

“Alhamdulillah, sekarang sering pulang karena persiapan pensiun. Kemarin mudik. Ya ke rumah, ya ke rumah orang tua,” kisahnya. Kedua orang tuanya yang dahulu tinggal di Padang sejak ia masih duduk di bangku kuliah, kini telah berpindah dan menetap di Tangerang.

Dari keluarga kecil inilah kita bisa mengambil ibrah, dimanapun kita melangkahkan kaki, meski di negeri perantauan yang jauh dari sanak keluarga sekalipun, tidak lantas menyurutkan semangat kita untuk menghidupkan bulan Ramadhan dan turut merasakan semarak Idul Fitri dengan rasa syukur.

Berdasarkan perhitungannya, sekitar tiga atau empat tahun lagi, ia dan suami akan pulang kembali ke Indonesia. “Jadi, ya siap-siap rumah yang di Tangerang,” ujarnya penuh antusias. Mudah-mudahan Ummu Kaka dan suami bisa pulang ke kampung halaman lagi, merasakan kembali meriahnya Ramadhan di tanah air. Tentu yang terpenting, bisa mendengar sayup-sayup takbir dikumandangkan dengan lantang dan penuh suka cita bersama sanak keluarga. Selamat datang kembali di tanah air tiga tahun ke depan, insya Allah. Semoga Allah memudahkan urusan keduanya. Aamiin

0