Mutiara Al-Quran

Meraih Pahala yang Besar dengan Cara Bersabar

Penulis: Azhar Rizki, Lc.

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc.


LAFAL AYAT

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah, ‘Hai para hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabbmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.’” (QS. Az-Zumar: 10)

TAFSIR AYAT[1]

Firman Allah Ta’ala,

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ

Di sini, Allah Ta’ala menyeru makhluk-makhluk pilihan-Nya, yaitu orang-orang yang beriman. Allah memerintahkan mereka untuk melakukan tugas yang paling mulia, yaitu bertakwa dan menyebutkan latar belakang yang membuat mereka harus melakukannya. Yaitu karena Allah yang memiliki hak rububiyah atas mereka dan Allah yang memberi nikmat kepada mereka. Di antara nikmat itu adalah keimanan yang menjadi landasan dasar bagi setiap amal shalih serta ketakwaan. Seakan-akan Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang mulia ini, “Wahai sang Dermawan, bersedekahlah! Wahai sang Pemberani, berjihadlah!”

Firman Allah Ta’ala,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ

Di sini Allah Ta’ala menyemangati orang-orang yang bertakwa. Adapun maksud “perbuatan baik” adalah beribadah kepada Allah, Rabb mereka. Oleh karena itu, siapa saja yang beribadah kepada Allah Ta’ala, dia akan mendapatkan kebaikan berupa rezeki yang luas, ketenangan jiwa, serta hati yang lapang.

Firman Allah Ta’ala,

وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ

Di sini, Allah Ta’ala memberi isyarat, yaitu jika kamu dilarang melakukan ibadah di sebuah tempat, maka hijrahlah (pindah) ke tempat lainnya yang memungkinkanmu untuk tetap menjalankan ibadah kepada Allah dengan tenang dan leluasa, sehingga kamu mendapatkan kebaikan yang dijanjikan.

Bisa jadi sebagian orang mempunyai pikiran liar, “Jika orang-orang yang beramal shalih dan beriman di muka bumi akan mendapatkan kebaikan di dunia, lalu bagaimana dengan nasib orang-orang yang beriman dan tertindas di negara mereka? Bukankah mereka tidak mendapatkan kebaikan itu?” Jawaban dari keraguan tersebut ialah, “Berhijrahlah! Bumi Allah itu luas!” Dengan berhijrah, kamu akan menemukan kebaikan yang Allah Ta’ala janjikan kepadamu, dan bumi Allah untuk melakukan hijrah ini amatlah luas.

Firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Pada bagian ini, Allah Ta’ala menjelaskan tentang balasan tak terhingga di akhirat bagi orang yang bersabar ketika hidup di dunia. Balasan itu didapat dari setiap jenis kesabaran yang dilakukan; sabar menerima takdir yang menyakitkan tanpa marah dan kecewa, sabar meninggalkan maksiat serta sabar dalam mengerjakan ketaatan sehingga bisa menyelesaikannya.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

1. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan[2] tentang makna sabar, “Menurut bahasa Arab, sabar artinya menahan. Adapun secara istilah, maknanya adalah menahan jiwa dari gusar (akibat amarah), menahan lisan agar tak berkeluh kesah, serta mengekang anggota badan dari menampar wajah, mengoyak baju, dan yang selainnya.” Selanjutnya, beliau rahimahullah menerangkan, “Kesabaran itu ialah kuatnya dorongan nalar (logika) dan syar’i dalam menghadapi dorongan hawa nafsu serta syahwat. Maknanya, hawa nafsu akan selalu mengajak kepada yang ia inginkan, sedangkan akal sehat dan agama akan menahannya. Pergolakan antara dua kekuatan ini akan terus berlangsung secara imbang, terkadang kalah dan terkadang menang. Tempat pertempuran itu semua terjadi di dalam hati seorang hamba: dalam sikap sabarnya, keberaniannya, serta keteguhannya (dalam menghadapi masalah).”

2. Di antara sebutan “sabar” ditinjau dari objek yang dijadikan untuk bersabar adalah:[3]

a. Sabar menahan hawa nafsu kemaluan disebut ‘iffah (menjaga diri).

b. Sabar menahan syahwat perut, disebut syaraf an-nafsi (kemuliaan jiwa).

c. Sabar terkait menahan godaan kemewahan disebut zuhud.

d. Sabar terkait bertahan dari sedikitnya rezeki disebut qana’ah.

e. Sabar terkait ajakan amarah disebut al-hilm (santun/tenang).

3. Memotivasi diri untuk beramal shalih dengan kebaikan yang akan didapat di dunia adalah boleh, selama motivasi akhirat tetap menjadi prioritas utama dan tidak terlupakan. Imam Ath-Thahir Ibnu ‘Asyur rahimahullah menjelaskan tentang motivasi dari Allah Ta’ala kepada kaum muslimin dalam ayat di atas agar mereka berhijrah sehingga memperoleh kebaikan yang dijanjikan di dunia. Hal itu lantaran Allah Ta’ala sedang memberikan semangat kepada kaum muslimin yang mengalami gangguan dan cobaan dalam agama mereka. Dengan sebab ujian itu, Allah perintahkan mereka untuk berhijrah demi menyelamatkan agama. Adapun untuk pahala dan balasan di akhirat, maka itu sudah menjadi sesuatu yang diketahui bagi mereka.[4]

4. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyebutkan, “Allah memberi balasan yang tak terkira bagi orang-orang yang bersabar. Hal ini menunjukkan tentang keutamaan dan kedudukan sikap sabar di sisi Allah Ta’ala. Di samping itu, bersabar merupakan pendukung utama keberhasilan dalam segala hal.”[5]

5. Keadaan seorang yang beriman selalu baik. Kebaikan itu didapatkan saat dia ditimpa musibah dengan cara bersabar, serta saat diberi kelonggaran dan nikmat dengan cara bersyukur. Demikianlah seharusnya kita bersikap, sebagaimana yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sabdakan,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Menakjubkan sekali urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik. Itu semua tak akan didapat kecuali bagi orang mukmin. Jika diberi nikmat, ia bersyukur. Itulah yang terbaik buatnya. Adapun jika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Itu juga lebih baik baginya.” (HR. Muslim no. 7692)

6. Terkhusus pahala orang-orang yang bersabar terhadap musibah dan cobaan, Allah Ta’ala berjanji akan memberikan pahala yang berlipat ganda. Mereka akan mendapatkan salawat (pujian) dan rahmat dari Allah, serta akan diberi petunjuk.[6] Di samping itu, Allah Ta’ala menjanjikan surga bagi siapa saja yang bersabar dalam ketaatan dan menghadapi gangguan dalam urusan agama.[7]

7. Berhijrah dari tempat yang buruk menuju tempat yang lebih baik dan kondusif untuk menyelamatkan agama merupakan perintah syariat yang akan terus berlangsung di manapun tempatnya hingga hari kiamat, selama sebabnya masih ada. Bagaimanapun, melakukan ibadah kepada Allah adalah sebuah tujuan utama kita diciptakan di dunia.[8]

8. Ayat di atas turun berkenaan dengan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu serta rombongan kaum muslimin yang hijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia). Allah Ta’ala memerintahkan untuk berhijrah dengan kalimat yang tidak tegas, melainkan dalam bentuk anjuran, lantaran meninggalkan kampung halaman merupakan hal yang berat bagi jiwa dan membutuhkan kesabaran.[9]

9. Dengan ayat di atas serta beberapa riwayat hadits, para ulama berdalil bahwa pahala puasa itu tidak terbatas. Ketika menjelaskan firman Allah dalam hadits, "Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”, Ibnu Rajab berkata, "... maka setiap amal dilipatgandakan pahalanya oleh Allah dari 10 sampai dengan 700, kecuali puasa karena pahala puasa tidak dibatasi pelipatgandaannya oleh jumlah tersebut, tetapi Allah melipatgandakan pahalanya dengan pelipatgandaan yang banyak tanpa dibatasi jumlah tertentu, karena puasa termasuk kesabaran. Allah Ta'ala telah berfirman, 'Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.' Itulah sebabnya telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya bulan Ramadhan itu dinamakan juga sebagai bulan kesabaran dan Nabi juga bersabda bahwa puasa adalah separuh dari kesabaran. Ibnu Rajab kemudian berkata, "Dan kesabaran itu ada tiga macam: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari hal-hal yang diharamkan Allah, dan sabar atas takdir Allah yang menyakitkan. Ketiga macam kesabaran itu berkumpul dalam puasa; karena di dalamnya terdapat kesabaran dalam ketaatan kepada Allah, kesabaran dari hal-hal yang diharamkan Allah atas orang yang berpuasa dari syahwat, dan kesabaran atas apa yang dialami orang yang berpuasa berupa rasa lapar dan haus, serta lemahnya jiwa dan badan." Wallahu a'lam.[10]

Referensi:

  1. Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Dar Ibnu Hazm, Arab Saudi.
  2. Mukhtashar ‘Uddah ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, diringkas oleh Prof. Dr. Ahmad bin Utsman Al-Mazid, Madar Al-Wathan, Arab Saudi.
  3. At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad Ath-Thahir Ibnu ‘Asyur, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  4. Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  5. Tazkiyatu An-Nufus, Ahmad Farid, Dar Al-‘Aqidah, Mesir.
  6. Al-Hanbaly, Ibnu Rajab Abdurrahman bin Ahmad. 1999 M/1420 H. Lathaifu al Ma'arif: Fima al Mawasim al 'Am mina al Wazhaifi Cetakan ke-5. Damaskus: Daar Ibnu Katsir
0