Rubrik Utama

Meraih Keberkahan Waktu

Penulis: Ary Abu Ayyub

Editor: Athirah Mustadjab


Manusia modern mengalami paradoks dalam hal waktu: semakin banyak tool penghemat waktu yang dibuat, tetapi selalu merasa kekurangan waktu. Apakah hal itu berkaitan dengan manajemen waktu yang buruk atau malah manajemen diri yang kurang baik? Banyak orang merasa bahwa waktunya terbuang sia-sia, sehingga berusaha mendalami ilmu manajemen waktu dan menerapkannya. Ada yang berhasil dan ada yang tidak.

Beberapa ahli mulai membuat terobosan baru dengan menjadi produktif bukan tentang manajemen waktu, tetapi tentang manajemen pikiran[1]. Manajemen waktu dianggap hanya membuang-buang waktu dan menciptakan robot/zombi yang dikontrol oleh waktu. Sebagai muslim, sudah sepantasnya kita melihat-lihat bagaimana teladan kita, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para salaf memahami dan menyikapi waktu. Ada satu kata kunci di dalam Islam yang tidak didapatkan dalam konsep manajemen waktu mana pun, yaitu: keberkahan.

Hakikat Waktu

1. Pengertian waktu

Waktu, dalam bahasa Indonesia, berarti seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Waktu juga bermakna saat tertentu untuk melakukan sesuatu.[2] Dalam bahasa Arab, kata yang bermakna “waktu” sangat banyak, di antaranya:

أمَد، آن، أوَان، تَارِيْخ، تَوْقِيْت، حِيْن، زَمَان، زَمَن، عَصْر، فَيْنَة، مُدَّة، مَوْسِم، مَوْعِد، مَوْقِت، مِيْقَات، وَقْت، يَوْم.[3]

Menurut kamus Lisanul Arab, waktu bermakna ukuran dari suatu masa yang tertentu.[4]

Sayyid Thaha Ahmad berkata dalam أهمية الوقت فى الإسلام, “Waktu adalah umur seseorang dan modalnya dalam kehidupan ini karena setiap hari yang telah berlalu dari seseorang, berarti mengurangi jatah hidupnya dan semakin mendekatkannya kepada kematian.”[5]

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam Jawabul Kafi, “Waktu seseorang adalah umurnya yang sebenarnya. Ia dapat digunakan untuk mencapai kehidupan yang penuh nikmat nan abadi atau kehidupan yang sempit penuh dengan siksaan yang pedih di akhirat. Waktu itu berlalu lebih cepat daripada berlalunya awan ….”[6]

2. Waktu dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran, waktu diungkapkan dalam berbagai macam kata, di antaranya:

a. Ad-Dahr. Maknanya: Masa yang amat panjang dari penciptaan sampai dengan hancurnya alam semesta ini.[7] Kata ini disebutkan di surah Al-Jatsiyah: 25 dan Al-Insan: 1.[8]

b. Ajal. Maknnya: Batas waktu, waktu datangnya kematian, jatuh tempo, durasi dari sesuatu.[9] Kata ini banyak sekali disebutkan di Al-Quran.[10]

c. Waqt. Maknanya: Suatu jangka waktu, bagian dari ad-dahr, batas peluang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.[11] Kata ini sebutkan sebanyak 10 kali di Al-Quran.

d. Sa’ah. Maknanya: Hari akhir, hari kiamat, saat. Kata ini disebutkan sebanyak 26 kali di Al-Quran.[12]

e. Amadan. Maknanya: Suatu jangka waktu yang tidak diketahui batasnya. Dapat pula bermakna “waktu tertentu” sesuai konteks kalimatnya.[13] Kata ini disebutkan dalam 4 surah di Al-Quran, misalnya di surah Al-Jin: 25.[14] Masih banyak lagi yang lain.

3. Kekhususan waktu

a. Waktu tidak bisa dipaksa. Waktu akan terus berjalan, tidak peduli apa pun yang menimpa kepada kita atau sekeliling kita. Hanya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang dapat memaksanya.

b. Waktu terus berjalan ke depan, tidak bisa dikembalikan ke belakang meskipun sedetik atau kurang dari itu. Sesuatu yang telah terlewat adalah masa lalu yang tidak akan pernah kembali.

c. Manusia selalu membutuhkan waktu, tidak ada kegiatan apa pun yang dilakukan manusia tanpa memerlukan waktu.

d. Waktu adalah dimensi yang dapat diukur dengan satuan tertentu, misalnya detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan sebagainya.

e. Tidak seorang pun tahu berapa jatah waktunya di dunia.

4. Pentingnya waktu

Ungkapan “waktu adalah uang”, “waktu itu laksana pedang”, “waktu itu lebih berharga daripada emas”, dan sejenisnya menunjukkan betapa berharganya waktu. Bagi seorang muslim, pentingnya waktu ditunjukkan oleh hal-hal berikut ini.

a) Waktu termasuk nikmat Allah yang terbesar

Ketika menyebutkan tentang nikmat-nikmat-Nya, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menunjuk pergantian siang dan malam (waktu) sebagai salah satunya, kemudian Dia mengakhiri dengan ungkapan, “Dan jika kamu hendak menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya.”

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَاۤىِٕبَيْنِۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah pula menundukkan bagimu malam dan siang. Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur. (QS. Ibrahim: 33-34)

Nabi صَلَّى اللهُ عُلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (HR. Bukhari no. 6412)

b) Nikmat Waktu akan dimintai pertanggungjawaban atasnya di akhirat

Setiap nikmat yang Allah karuniakan kepada kita akan dimintai pertanggungjawabannya, termasuk nikmat waktu. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu). (Q.S. At-Takatsur: 8)

Nabi صَلَّى اللهُ عُلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يُسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفِيمَ أنفقَهُ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ

Kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang umurnya, bagaimana dia menghabiskannya, tentang ilmunya, apa yang dia lakukan dengannya, tentang hartanya, dari mana dia mendapatkannya dan bagaimana dia menghabiskannya, dan tentang tubuhnya, bagaimana dia menggunakannya. (HR. Tirmidzy dalam Shahih At-Turmudzy No. 2417)[15]

c) Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى bersumpah dengan waktu

Di dalam Al-Quran Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى banyak sekali bersumpah dengan waktu seperti: demi masa (وَالعَصْرِ), demi waktu Dhuha (وَالضُّحَى), demi waktu fajar (وَالفَجْرِ) dan lain-lain.

Syeikh Utsaimin berkta, “Di antara faedah Allah bersumpah dengan makhluk-Nya adalah untuk mengisyaratkan agungnya kedudukan makhluk tersebut karena Allah tidaklah bersumpah melainkan dengan sesuatu yang agung.”[16]

d) Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengaitkan waktu dengan tujuan penciptaan, yaitu beribadah kepada-Nya

Tujuan penciptaan jin dan manusia agar beribadah kepadanya[17], yaitu agar mereka mengakui kehambaan mereka kepada Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa[18]. Selain itu, manusia juga ditugasi sebagai khalifah di bumi[19], yang bermakna memakmurkannya dari generasi ke generasi, dari abad ke abad, dan secara turun-temurun[20].

Mayoritas ibadah di dalam Islam pelaksanaannya dikaitkan dengan waktu-waktu tertentu. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang shalat,

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin (yakni diwajibkan untuk waktu-waktu tertentu)[21]. (Q.S. An-Nisa: 103)

Tentang ibadah zakat, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

“Dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya (yakni di hari dilakukan penakaran hasilnya dan setelah diketahui jumlah takarannya.)[22]” (Q.S. Al-An’am: 141

Tentang ibadah puasa, Allah berfirman,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Oleh karena itu, barang siapa di antara kamu mendapati pada bulan itu, berpuasalah.” (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Tentang ibadah haji, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. (yakni Bulan Syawwal, Bulan Dzul-Qa'dah, dan sepuluh hari bulan Zul-Hijjah[23])” (QS. Al-Baqarah: 197)

5. Perintah صَلَّى اللهُ عُلَيْهِ وَ سَلَّمَ untuk menjaga waktu dengan baik

Nabi bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim)[24]

6. Perkataan para ulama tentang pentingnya waktu

Banyak sekali perkataan para salaf yang menunjukkan pentingnya waktu, di antaranya:

Abu Bakar Ash-Shidiq رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki hak pada waktu siang; Dia tidak akan menerimanya di waktu malam. Dan Allah juga memiliki hak pada waktu malam; Dia tidak akan menerimanya di waktu siang.”[25]

Umar bin Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata, “Aku sangat benci jika mendapati salah seorang di antara kalian yang menyia-nyiakan waktu, tidak menyibukkan dengan urusan dunia maupun urusan akhirat kalian.”[26]

Umar bin Abdul Aziz رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka beramalah pada malam dan siang itu.”[27]

Hasan Al-Bashri رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap berlalu satu hari, maka maka berkurang pula sebagian dari dirimu.”[28]

Hafsah bintu Sirin رَحِمَهَا اللهُ berkata, “Wahai para pemuda, pergunakanlah masa muda kalian dengan baik. Sesungguhnya demi Allah, aku tidak melihat saat terbaik untuk beramal (kebaikan) kecuai pada waktu muda.”[29]

Keberkahan Waktu

1. Makna “berkah” dan keberkahan waktu

Berkah bermakna tetapnya kebaikan ilahi di dalam sesuatu, sebagaimana menetapnya air di dalam sendang,[30] tetapnya kebaikan dan langgengnya, atau banyaknya kebaikan dan bertambahnya kebaikan itu.[31] Dikatakan, jika berkah turun pada sesuatu yang sedikit, maka akan melimpah, dan jika turun pada sesuatu yang banyak, maka akan bermanfaat. Dan buah terbesar dari berkah dalam segala hal adalah penggunaannya dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla.[32]

Keberkahan berasal dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semata. Dia meletakkan keberkahan itu pada apa-apa yang Dia kehendaki, termasuk waktu yang adalah ciptaan-Nya. Secara khusus Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menetapkan waktu-waktu tertentu memiliki keberkahan yang sangat banyak, misalnya: sepertiga malam terakhir, waktu pagi, sepuluh hari pertama Bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Selain yang dikhususkan tersebut, maka keberkahan waktu seorang muslim diukur dengan banyaknya amal kebaikan yang dilakukan pada waktu tersebut. Syeikh Ibnu Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Terkadang Allah Ta’ala menurunkan keberkahan kepada manusia di dalam waktunya, sehingga dia dapat menyelesaikan dalam waktu singkat apa yang tidak dapat dia selesaikan dalam waktu lama.”[33] Maka berkahnya waktu adalah ketika waktunya dipenuhi dengan ketaatan kepada Allah dan manfaat bagi manusia, seolah-olah jam-jam dalam sehari lebih panjang dari jam-jam dan hari-hari orang biasa.[34]

2. Sebab-sebab berkahnya waktu

Sebab-sebab yang akan mendatangkan keberkahan waktu adalah sebagai berikut.

a. Bertakwa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Takwa adalah pintu segala kebaikan dan benteng dari segala keburukan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Q.S. Al-A’raf: 96)

Ketakwaan berpengaruh besar terhadap berkahnya waktu karena ketakwaan menjadikan kita fokus dan disiplin.

b) Berdoa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Dengan tulus memohon kepada pemilik waktu, insyallah Dia akan menurunkan berkahnya kepada waktu kita. Nabi صلى الله عليه وسلم banyak sekali mencontohkan kepada kita doa untuk meminta keberkahan, baik dalam waktu, harta, anak, hewan, rumah, pengantin, dan lain-lain.

c) Memahami pentingnya waktu

Salah satu penyebab hilangnya berkah waktu adalah tidak mengetahui pentingnya waktu; karena jika seseorang mengetahui nilai sesuatu, dia akan menjaganya, sehingga dia mendapatkan keberkahan dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Seharusnya manusia mengetahui kehormatan waktunya dan nilai waktunya, sehingga dia tidak menyia-nyiakan satu momen pun dalam hal selain kedekatan kepada Allah, dan dia memprioritaskan yang terbaik dari yang terbaik dalam ucapan dan perbuatan, dan niatnya untuk kebaikan harus tetap ada tanpa kelesuan dalam hal yang tidak melemahkan tubuhnya untuk bekerja”[35]

d) Membaca Al-Quran

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah memberkahi Al-Quran dan memberkahi apa-apa yang terkait dengannya baik waktu, pekerjaan, pembaca, pengajar, dan selainnya. Allah berfirman,

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29)

Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berkata, "Dan Al-Quran itu lebih berhak untuk diberkahi daripada segala sesuatu, karena banyaknya kebaikan dan manfaatnya, dan berbagai aspek keberkahan di dalamnya[36]"

Syeikh Sulaiman Ar-Ruhaily حَفِظَهُ اللهُ berkata, “Di antara sebab keberkahan suatu hari adalah membaca Al-Quran. Demi Allah, jika Anda membaca Al-Quran setiap hari, maka Anda akan dapat menyelesaikan pekerjaan yang tidak selesai dalam beberapa hari. Di antara sebab terbesar berkahnya waktu adalah bersemangat membaca Al-Qur’an. Jika kesungguhan kita dalam membaca Al-Quran lemah, maka pergilah keberkahan waktu itu dari kita.”[37]

e) Mengingat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sepenuh hati, memahami besarnya karunia-Nya berupa waktu dan mensyukurinya.

Dengan memahami pentingnya waktu seseorang tidak akan menyia-nyiakannya. Adapun dengan bersyukur, kita berharap Allah akan menambahkan keberkahan pada waktu kita. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا

Syeikh Ibnu Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Dalam ayat ini terdapat isyarat tentang pentingnya kehadiran hati saat mengingat Allah. Seseorang yang mengingat Allah hanya dengan lisan, bukan dengan hati, akan kehilangan berkah dari perbuatan dan waktunya. Sehingga urusannya menjadi sia-sia, dia akan menghabiskan waktu berjam-jam tanpa hasil. Namun, jika urusannya bersama Allah, maka dia akan mendapatkan berkah dalam semua perbuatannya.”[38]

f) Meninggalkan Yang Tidak bermanfaat

Ciri waktu yang tidak berkah adalah jika dipenuhi dengan perkara yang tidak bermanfaat. Bahkan hal itu merupakan tanda Allah berpaling dari hamba-Nya. Sebaliknya, meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat akan menjadikan waktu kita berkah. Nabi bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)

Imam Hasan Al-Bashri رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Di antara tanda Allah berpaling dari seorang hamba, Allah menjadikannya sibuk dalam hal yang sia-sia sebagai tanda Allah menelantarkannya”[39]

Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya”[40]

3. Penghancur keberkahan waktu

a. Bermaksiat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Kemaksiatan-kemaksiatan itu menghapus keberkahan, dan di antara konsekuensinya adalah menghapuskan keberkahan umur, rezeki, ilmu, amal, dan ketaatan. Secara keseluruhan, maksiat menghapuskan keberkahan di dalam perkara agama dan perkara dunia, maka tidaklah engkau dapati keberkahan yang lebih sedikit di dalam umur, agama, dan dunia daripada orang yang bermaksiat kepada Allah. Dan tidaklah keberkahan itu dicabut dari bumi kecuali karena kemaksiatan makhluk.”[41]

b. Taswif/prokrastinasi

Taswif atau prokrastinasi adalah sikap menunda-munda pekerjaan. Ini terlarang dalam agama dan sangat buruk dampaknya, seperti menurunkan kualitas kerja dan menyebabkan stress. Nabi صَلَّى اللهُ عُلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

إن قامتِ السَّاعةُ وفي يدِ أحدِكم فسيلةٌ فليغرِسْها

“Jika kiamat telah datang, dan ketika itu kalian memiliki cangkokan tanaman, tanamlah!” (HR. Al Bazzar, 14:17. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash Shahihah no. 9).

Hadits di atas mengisyaratkan agar kita berlomba dengan waktu, bersegera beramal dan tidak menundanya meskipun kesempatannya sudah sangat tipis.

Di antara keburukan dari taswif adalah:

(1) Persangkaan bahwa akan ada waktu longgar di hari esok, padahal kenyataan seringkali membuktikan bahwa bertambahnya usia seseorang seringkali menambah kesibukannya dan mengurangi waktu longgarnya.

(2) Setiap waktu ada pekerjaannya sendiri, sebenarnyalah tidak ada yang namanya waktu luang.

(3) Tidak ada jaminan bahwa seorang hamba masih akan hidup esok hari.

(4) Sekalipun kita masih hidup sampai esok hari, tetapi tidak ada jaminan bahwa esok hari kita terbebas kesibukan, rintangan, musibah, dan penyakit yang menghalangi kita melakukan sesuatu.

(5) Menunda-nunda, jika sudah menjadi kebiasaan, akan sulit untuk menghentikannya.[42]

c. Banyak tidur

Terlalu banyak tidur dapat mematikan hati, memberatkan badan, membuang waktu, dan menyebabkan banyak kelalaian dan kemalasan.[43]

d. Pergaulan yang tidak bermanfaat

Di antara rahmat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى bagi hamba-Nya adalah dimasukkan dalam pergaulan yang baik yang akan membantunya mempelajari ilmu-ilmu agama yang merupakan pintu terbesar menuju kebaikan dan salah satu pintu terbesar untuk menginvestasikan waktu. Pergaulan yang paling bagus adalah pergaulan dengan para ulama. Mereka ibarat makanan yang tidak dapat ditiadakan siang dan malam, dan besar manfaatnya jika bergaul dengannya.[44]

Manajemen Waktu vs Manajemen Pikiran vs Keberkahan Waktu

Dalam hubungannya dengan waktu, berbagai teori dan praktik pengelolaan hubungan waktu, manusia, dan kinerja telah dibahas dan dibukukan oleh banyak ahli. Ada yang mengemasnya dalam tajuk Manajemen Waktu, Manajemen Pikiran, dan keberkahan waktu.

1. Manajemen waktu[45]

Manajemen waktu adalah metode pengelolaan waktu secara praktis untuk memaksimalkan produktivitas dan efisiensi. Cara ini mengandalkan pengaturan jadwal yang ketat, menetapkan prioritas, serta penggunaan alat dan teknik seperti to-do list, kalender, atau aplikasi pengingat agar tugas dan pekerjaan selesai tepat waktu. Kuncinya adalah pada perencanaan yang terstruktur dengan memanfaatkan setiap jam seefisien mungkin.

Cara ini diklaim efektif untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi risiko penundaan. Hasilnya, evaluasi capaian kerja terukur, jelas panduannya, dan waktu digunakan secara efektif. Namun cara ini juga mengakibatkan manusia terjebak pada produktivitas tanpa mempertimbangkan kualitas dan kedalaman makna setiap aktivitasnya. Perencanaannya yang cenderung kaku berpotensi menimbulkan stress jika ada sesuatu yang meleset dari perencanaan.

2. Manajemen pikiran

Berlawanan dengan Manajemen waktu, sebagian ahli tidak mau diperbudak oleh waktu dan jadwal. Mereka mengembangkan apa yang disebut Manajemen pikiran, yaitu upaya untuk mengelola pikiran dan emosi agar tetap fokus, tenang, dan tidak mudah terdistraksi. Caranya dengan membedakan mana yang prioritas dan bukan, mengendalikan respon emosional terhadap tekanan, dan mengelola distraksi yang ada. David Kadavy dalam bukunya إدارة العقل وليس إدارة الوقت menyebutkan beberapa hal seperti: menjadi produktif bukan tentang mengelola waktu, tetapi tentang mengelola pikiran, manajemen waktu meningkatkan sumber daya waktu, sedangkan manajemen pikiran meningkatkan sumber daya energi kreatif secara optimal, habiskan jam pertama hari Anda untuk mengerjakan kebutuhan dan tujuan terpenting Anda, dan lain-lain.[46]

Dengan metode ini seseorang diklaim akan lebih terkontrol pikirannya, produktif waktunya, tenang dalam menghadapi masalah, dan tidak mudah terdistraksi karena metode ini mengajarkan kesadaran diri, fokus, dan kemampuan mengambil keputusan dengan baik. Namun, metode ini tidak mudah untuk dikuasai dan perlu lebih banyak belajar mengenali diri dan lingkungan.

3. Keberkahan waktu

Konsep waktu yang berkah tidak semata-mata mengandalkan ukuran-ukuran fisik dan material. Bisa saja dia digabungkan dengan konsep manajemen waktu maupun pikiran, tetapi intinya adalah pemanfaatan waktu di dalam ketaatan kepada Allah dan menghasilkan ridha-Nya. Prinsip ini sebenarnya telah menggabungkan antara manajemen waktu dan manajemen pikiran dengan saringan yang dituntunkan oleh syariat sehingga menghasilkan sesuatu yang bukan hanya terukur, tetapi juga bermakna.

Renungan

Tidak banyak waktu yang kita miliki di dunia ini. Jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat, dunia hanya sekelebat saja. Allah berfirman,

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوٓا۟ إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَىٰهَا ۝٤٦

Pada hari ketika melihatnya (hari Kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi. (QS. An-Nazi’at: 46)

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَاَنْ لَّمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُوْنَ بَيْنَهُمْۗ قَدْ

(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (seperti ketika) mereka (sejenak) saling mengenal di antara mereka (setelah dibangkitkan dari alam kubur). (QS. Yunus: 45)

Malaikat maut berkata kepada Nuh عَلَيْهِ السَّلاَمُ, “Wahai Nabi yang paling panjang umur, bagaimana kamu mendapati dunia” Nuh عَلَيْهِ السَّلاَمُ menjawab, “Aku mendapatinya seperti ia memiliki 2 pintu. Aku masuk dari pintu satu dan keluar dari pintu lain.”

Di sisi lain, kita hidup pada zaman yang fokus memanfaatkan waktu menjadi tantangan yang semakin berat. Begitu banyak yang mengalihkan kita dari hal-hal yang bermanfaat. Gawai di genggaman kita menyuguhkan dunia tersendiri—dengan media sosial, peramban, dan aplikasi-aplikasi yang seakan tiada habisnya untuk dijelajahi. Hiburan, olahraga, dan kegiatan-kegiatan rekreasi lainnya pun semakin beragam bentuknya serta kian menarik kemasannya. Ini menjadikan hari-hari kita jauh berbeda dari dua atau tiga dekade lalu, apalagi dibandingkan dengan generasi terdahulu yang lebih sederhana. Akibatnya, waktu terasa semakin cepat berlalu; banyak dari kita merasa kehabisan waktu. Sering kali, tugas dan pekerjaan belum selesai, tetapi hari sudah berganti. Tak banyak amal shalih yang sempat dikerjakan, seakan durasi waktu dalam sehari jauh lebih singkat daripada zaman dahulu.

Kenyataannya, waktu kita dengan waktu orang-orang terdahulu adalah sama; 24 jam. Siang dan malamnya tidak ada perbedaan signifikan. Tetapi lihatlah diri kita. Jangankan menghasilkan ratusan jilid tulisan seperti para ulama zaman dahulu, sekadar membaca tulisan mereka pun belum tentu sejilid dua jilid bisa kita selesaikan. Semua itu menunjukkan kurangnya keberkahan pada waktu kita.

Dengan menyadari pentingnya waktu, betapa singkatnya dia, dan bagaimana kita akan dimintai pertanggungjawaban dalam memanfaatkannya, maka hendaknya kita segera menata diri dan waktu kita dengan cara sebagai berikut.

  1. Pahami tujuan hidupmu. Mereka yang tidak tahu tujuan hidupnya akan banyak menyia-nyiakan waktu seakan hari tiada berakhir dan maut tidak mengejarnya.
  2. Lakukan sebab-sebab yang mendatangkan keberkahan waktu dan tinggalkan apa yang akan menghancurkannya.
  3. Jadikan waktu sebagai modal, investasikan pada amal shalih, seperti: Membaca Al-Quran, menuntut dan memperdalam ilmu agama, berdakwah di jalan Allah, memakmurkan masjid, berdzikir, membantu menunaikan hajat sesama, menjaga pergaulan yang bermanfaat, dan lain-lain.
  4. Jadikanlah waktu-waktu shalat sebagai pusat kegiatan sehingga jadwal yang lain menyesuaikannya. Ini akan membuat kita lebih disiplin dan mengombinasikan antara kebutuhan kita akan efisiensi waktu serta kebutuhan spiritual.
  5. Pilihlah metode pengaturan waktu atau pengaturan diri yang paling cocok dengan diri dan keadaan Anda. Sah saja menggunakan sarana modern, misalnya: daftar tugas (dalam format "to do list"), kalendar, alarm, dan lain-lain dalam mendisiplinkan diri Anda dalam menggunakan waktu.
  6. Lakukan muhasabah/evaluasi diri atas penggunaan waktu.

Referensi

  1. Abu Ghuddah, Abdul Fattah. Tanpa tahun. Qimatu Az-Zaman ‘inda Al-Ulama. Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah
  2. Al-Bilawi Abu Muhammad, Anwar bin Sa’id. 2015. Al-waqtu baina hirshi as-salafi wa tafrithi al khalafi. Iskandariyah: Darul Iman.
  3. Asy-Syaqawi, Amin bin Abdillah. 1431 H. Al-Barakah: Kaifa Yahshulu Al-Muslimu ‘alaiha fi Malihi wa Waqtihi wa Sa’iri Umurihi. Riyadh: Maktabah Al-Malik Fahd.
  4. Al-Jauziyah, Ibnul Qayyim. 1417 H/1996 M. Al-Jawabul Kafi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawa’i Asy-Syafi. Tahqiq dan Tahrij: ‘Amru Abdul Mun’im Salim. Kairo: Maktabah Ibnu Taimiyyah.
  5. Al-Qurtubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad. 1427 H/2006 M. Al’Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an wa Al-Mubayyinu Lima Tadlammanahu min As-Sunnati wa Ayi Al-Furqani. Tahqiq: Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turkiy dan Muhammad Ridwan ‘Irqaswy. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
  6. Abdul Baqi’, Muhammad Fuad. Al-Mu’jamu Al-Mufahras Li Alfadh Al-Qur’ani Al-Karim. Kairo: Darul Hadits.
  7. Ahmad, Sayyid Thaha. Ahamiyatu Al-Waqti fi Al-Islami. E-book.
  8. Ibnu Katsir, Abul Fida’ Ismail. 1420 H/2000 M. Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim. Beirut: Dar Ibnu Hazm.
14