Khotbah Jumat
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Menyikapi Perang Iran vs Amerika dan Israel

Penulis: Abu Ady

Editor: Athirah Mustadjab


Khotbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالتَّثَبُّتِ وَنَهَانَا عَنِ الْعَجَلَةِ وَالظُّنُونِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْفِتَنِ فِي آخِرِ الزَّمَانِ فِتْنَةَ الْأَخْبَارِ وَالْإِشَاعَاتِ وَالْبَلْبَلَةِ الْفِكْرِيَّةِ، حَتَّى يُصْبِحَ الْمَرْءُ يُقَاتِلُ وَيُوَالِي وَيُعَادِي وَهُوَ لَا يَدْرِي عَلَى أَيِّ شَيْءٍ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta‘ala ….

Kita hidup di zaman ketika peperangan tidak hanya berlangsung dengan rudal, tank, dan pesawat tempur. Di zaman ini, peperangan juga berlangsung melalui layar ponsel, media sosial, potongan video, propaganda, dan permainan opini. Setiap hari manusia diseret ke dalam arus informasi yang deras. Berita datang bertubi-tubi, narasi dibentuk sedemikian rupa. Emosi dipancing tanpa henti, hingga banyak manusia akhirnya berbicara sebelum berpikir, membela sebelum memahami, dan memusuhi sebelum tabayyun.

Perang Iran melawan Amerika dan Israel, yang menjadi perhatian dunia hari ini, telah membuka kembali kenyataan pahit itu. Banyak kaum muslimin terseret dalam arus fanatisme dan propaganda tanpa ilmu. Sebagian manusia mengira bahwa setiap pihak yang memusuhi Amerika dan Israel otomatis berada di atas kebenaran. Sebagian lain larut dalam emosi politik hingga melupakan kaidah-kaidah syariat dan prinsip aqidah. Padahal, agama ini dibangun di atas ilmu, keadilan, dan ketenangan, bukan di atas emosi yang meledak-ledak.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta‘ala ….

Perang bukan hanya senjata, tetapi juga propaganda. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan satu kaidah penting dalam peperangan,

اَلْحَرْبُ خُدْعَةٌ

“Perang itu adalah tipu daya.” (HR. Al-Bukhari no. 2864 dan Muslim no. 1739)

Dalam peperangan, setiap pihak akan berusaha menampilkan dirinya sebagai pembela kebenaran. Setiap pihak akan membangun citra seolah-olah mereka paling dizalimi, paling suci, paling peduli terhadap agama dan kemanusiaan. Media dijadikan senjata. Potongan video dipilih sesuai kepentingan. Fakta disusun untuk menggiring opini.

Karena itulah, seorang muslim tidak boleh menjadi orang yang emosinya mudah digiring. Allah Ta‘ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kalian menyesal.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Peringatan ini bukan hanya berlaku untuk berita kecil. Justru semakin besar suatu peristiwa, semakin besar kewajiban tabayyun terhadapnya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta‘ala memerintahkan untuk melakukan tabayyun (memastikan kebenaran) terhadap berita yang dibawa oleh orang fasik, sebagai bentuk kehati-hatian, agar tidak langsung memutuskan perkara berdasarkan ucapannya karena bisa jadi, pada hakikatnya, sumber itu berdusta atau keliru. Jika seseorang memutuskan berdasarkan perkataannya, berarti ia telah mengikuti jejaknya. Allah ‘Azza wa Jalla telah melarang mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.”[1]

Betapa banyak manusia hari ini menjadi korban propaganda. Mereka mengira sedang membela Islam, padahal mungkin sedang menjadi alat penyebar narasi kelompok tertentu. Mereka mengira sedang berjihad dengan tulisan dan komentar, padahal mungkin sedang membantu menyebarkan kebohongan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta‘ala ….

Di antara ciri Ahlus Sunnah adalah berhati-hati dalam berbicara, terutama dalam perkara besar yang belum jelas hakikatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 5672 dan Muslim no. 47)

Di zaman media sosial, banyak manusia merasa wajib berkomentar tentang seluruh konflik dunia. Seolah-olah setiap orang harus menjadi analis perang, komentator politik, dan ahli geopolitik. Padahal berbicara tanpa ilmu termasuk dosa besar. Allah Ta‘ala berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)

Bagaimana mungkin seorang yang baru membaca beberapa unggahan media sosial kemudian merasa mampu menyimpulkan seluruh konflik dunia? Sungguh, diam tanpa ilmu di bidangnya lebih selamat daripada berbicara lalu menyesatkan manusia.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta‘ala ….

Di tengah gelombang berita dan fitnah yang sangat dahsyat, keselamatan hanya ada dengan kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat. Jangan jadikan media sosial sebagai guru utama. Jangan jadikan potongan video sebagai sumber ilmu. Jangan jadikan emosi sebagai kompas, jangan gegabah, jangan bicara tanpa ilmu, dan jangan bangun cinta dan benci semata karena propaganda. Jadilah Muslim yang tenang.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَجْعَلَهُ ثَابِتًا عِنْدَ الْفِتَنِ، لَا تَسْتَفِزُّهُ الشَّائِعَاتُ، وَلَا تُحَرِّكُهُ الدِّعَايَاتُ، بَلْ يَكُونُ مُتَمَسِّكًا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ عَلَى فَهْمِ السَّلَفِ الصَّالِحِ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta‘ala ….

Di antara perkara penting dalam konflik hari ini adalah memahami bahwa memperingatkan bahaya Syiah Rafidhah bukan berarti membela Amerika atau Israel. Amerika dan Israel adalah musuh Islam yang nyata; kejahatan mereka telah diketahui oleh kaum muslimin. Tidak ada seorang muslim pun ridha terhadap kezaliman mereka.

Namun, Syiah Rafidhah memiliki bahaya lain karena mereka tampil dengan wajah Islam. Mereka berbicara atas nama Ahlul Bait atau keluarga Nabi. Mereka mengangkat slogan pembelaan terhadap Palestina dan kaum tertindas. Padahal, nyatanya, aqidah mereka penuh penyimpangan berbahaya terhadap Al-Qur’an, sahabat Nabi, dan prinsip-prinsip agama.

Syiah Rafidhah adalah kelompok pendusta yang tidak boleh dipercaya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata “Aku menerima persaksian seluruh pengikut hawa nafsu, kecuali Rafidhah karena sebagian mereka memberikan kesaksian untuk membela sebagian yang lain.” Beliau juga berkata ‘Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih banyak memberikan kesaksian palsu daripada kaum Rafidhah.”[2]

Lihatlah kerasnya sikap Imam Syafi‘i terhadap Syi‘ah Rafidhah! Beliau menilai mereka tidak dapat dipercaya dalam persaksian dan periwayatan karena fanatisme golongan yang sangat kuat, sampai-sampai sebagian mereka rela berdusta demi membela kelompoknya.

Di mana Syiah Rafidhah itu berada? Mereka adalah Syiah Imamiyah yang saat ini berpusat di Iran. Dalam menolak pemahaman Syiah Imamiyah yang ada di Iran, seorang ulama terkemuka Indonesia yang menjadi ketua MUI pertama, yaitu Buya Hamka rahimahullah, berkata, “Ketika saya di Iran, datang 4 orang pemuda ke kamar hotel saya, dan dengan bersemangat mereka mengajari saya tentang revolusi dan menyatakan keinginannya untuk datang ke Indonesia guna mengajarkan revolusi Islam Syiah itu di Indonesia. Kami menerimanya dengan senyum simpul. ‘Boleh datang sebagai tamu, tetapi ingat, kami adalah bangsa yang merdeka dan tidak menganut Syiah,’ ujar saya.[3] Buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia. (Teks ini dikutip dari Artikel Buya Hamka di Harian Umum Kompas, tanggal 11-12-1980, dengan tajuk “Majelis Ulama Indonesia, Bicaralah!”)

Mengapa Buya Hamka menolak mereka? Karena kesesatan mereka sudah melampaui batas. Banyak ulama yang menyebutkan bahwa Syiah Rafidhah adalah musuh Islam. Mereka sangat berbahaya bagi kedaulatan sebuah negara Islam dan merusak persatuan kaum Muslimin. Ini dapat dilihat dari berbagai kerusakan yang mereka sebabkan yang ditulis oleh ahli sejarah. Oleh karena itu, dapat kita pahami bahwa perang Iran dengan Amerika dan Israel adalah dua pihak yang sama-sama memusuhi Islam dari sisi yang berbeda. Karena itulah, seorang muslim jangan ikut-ikutan membela salah satu dari dua musuh Islam tersebut. Daripada berkomentar tanpa ilmu, diam adalah jalan yang lebih selamat. Allah Ta‘ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan karena Allah.” (QS. An-Nisa’: 135)

Keadilan dalam Islam bukan berarti membela semua pihak. Akan tetapi, menempatkan segala sesuatu sesuai ukurannya berdasarkan ilmu dan dalil.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta‘ala ….

Mari kita tutup khotbah kita ini dengan mengucapkan salawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan diakhiri dengan doa kebaikan untuk kita bersama.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ وَالْفَوَاحِشِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالسُّنَّةِ.

اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْ لمِينَ، وَاخْذُلْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِلْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالثَّبَاتِ عَلَى السُّنَّةِ حَتَّى نَلْقَاكَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِينَ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Referensi

  • Shahih Bukhari, Imam Imam Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, Nashirus Sunnah, cetakan kedua, 2013.
0