Tarbiyatul Aulad

Menyiapkan Generasi Tangguh yang Pandai Bersyukur dan Kuat Bersabar

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Za Ummu Raihan


Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan mampu menjalani kehidupan dengan hati yang lapang dalam berbagai keadaan. Dalam pandangan Islam, kekuatan tidak semata-mata diukur dari fisik atau kecerdasan intelektual, melainkan terletak pada kemampuan menjaga akhlak mulia, menahan diri dari perbuatan dosa, serta keteguhan hati dalam menghadapi segala situasi dan menerima takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللّٰهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664).[1]

Membentuk anak yang pandai bersyukur dan kuat dalam kesabaran, khususnya saat menghadapi kondisi krisis, bukanlah hal yang instan. Proses ini membutuhkan keteladanan, pendidikan yang konsisten, serta pendekatan yang penuh kelembutan. Oleh karena itu, mari kita tanamkan karakter tersebut sejak dini sebagai bekal bagi anak dalam menghadapi berbagai liku kehidupan. Bagaimana caranya? Mari simak penjelasan berikut.

Makna Syukur dan Sabar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

Sementara tentang sabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)

Terkait makna syukur, Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa bersyukur kepada Allah berarti memujiNya sebagai bentuk balasan atas nikmat yang diberikan, dengan cara menjalankan ketaatan kepadaNya. Senada dengan itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa syukur harus diwujudkan melalui hati, lisan, dan anggota badan.[2]

Berlanjut kepada makna sabar, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah.”[3]

Dengan demikian, syukur merupakan bentuk pengakuan atas nikmat yang Allah anugerahkan, yang tercermin melalui pengakuan hati, ungkapan lisan, serta perbuatan anggota badan dalam bentuk amal shalih. Adapun sabar adalah keteguhan hati dalam menghadapi ujian, konsistensi dalam menjalankan perintah Allah, dan ketabahan dalam menjauhi larangan-Nya.

Menerapkan Syukur dan Sabar dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagai orang tua, kita perlu menanamkan nilai sabar dan syukur dalam kehidupan anak melalui hal-hal sederhana dalam kesehariannya. Dalam hal bersyukur, misalnya saat waktu makan, baik ketika tersedia lauk spesial maupun saat hanya ada hidangan sederhana di meja, ada beberapa hal yang bisa diterapkan.

  1. Selalu tunjukkan sikap bahagia dan menerima atas semua nikmat yang Allah berikan, tanpa membedakan hari istimewa dan hari biasa.
  2. Biasakan berdoa serta memuji Allah atas makanan yang tersedia sebagai bentuk syukur yang tampak melalui lisan.
  3. Ajarkan anak untuk mensyukuri nikmat apa pun dengan mengenalkan kondisi orang lain yang berada di bawah kita. Misalnya, saat makan dengan lauk sederhana, sampaikan pada anak bahwa di luar sana banyak orang yang hanya mampu makan dengan satu lauk untuk sekeluarga atau bahkan tidak memiliki makanan sama sekali dalam sehari.

Dengan cara-cara ini, anak belajar bahwa syukur bukan hanya pada kondisi berlebih, tetapi juga dalam kesederhanaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim no. 2963)[4]

Adapun dalam hal sabar, orang tua dapat mulai menanamkannya kepada anak melalui situasi sederhana, misalnya ketika anak menginginkan sesuatu. Kita dapat mengajarkan kesabaran dengan cara-cara berikut.

  1. Hal pertama dan utama adalah membimbing anak untuk senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala terlebih dahulu atas segala hal yang diinginkan dan dibutuhkannya.
  2. Selanjutnya, ajarkan anak untuk menabung sebagai bentuk usaha nyata. Dengan menabung hingga cukup untuk membeli yang diinginkan, anak belajar menghargai proses dan nilai kesabaran dalam meraih sesuatu.

Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta‘ala, anak akan memahami bahwa doa adalah langkah awal dalam setiap urusan, karena hanya Allah-lah yang mampu mewujudkan segala sesuatu. Di saat yang sama, ia juga akan belajar pentingnya berusaha dan bersabar dalam proses meraih keinginannya. Di samping semua upaya tersebut, orang tua tetap memegang peran penting sebagai teladan nyata dalam menanamkan nilai kesabaran melalui sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengajarkan Sabar Bukan Berarti Mengekang Emosinya

Ayah-Bunda, Aba-Umma, penting untuk kita pahami bahwa mengajarkan kesabaran kepada anak bukan berarti melarangnya mengekspresikan emosi atau memaksanya menahan tangis. Justru, kita sedang membimbing anak untuk belajar mengelola emosinya dengan bijak. Mengajarkan sabar berarti menanamkan pemahaman bahwa tidak semua keinginan harus segera terpenuhi. Ada proses yang harus dilalui, ada usaha, waktu yang perlu ditunggu, bahkan kemungkinan mengalami kegagalan dan semua itu memerlukan kesabaran untuk dihadapi dengan hati yang kuat dan lapang.

Ketika anak mengalami kegagalan, merasa sedih karena harapannya tidak terpenuhi, atau menginginkan sesuatu yang belum dapat dimilikinya, hindarilah memberikan hiburan secara instan, mengabaikan emosinya, atau memaksanya segera berhenti menangis. Sebaliknya, temani anak dalam menghadapi rasa kecewanya. Peluk ia dengan hangat, lalu bantu ia memahami situasi tersebut melalui penjelasan yang lembut dan membangun. Misalnya dengan mengatakan:

"Nak, tidak semua hal yang kita inginkan di dunia ini bisa langsung kita dapatkan, ya. Apapun yang terjadi sekarang, Allah-lah Yang Maha Tahu mana yang terbaik untuk (nama anak). Kalau belum bisa didapat sekarang, mungkin memang belum waktunya. Bisa jadi kalau kita dapatkan sekarang, itu belum tentu membawa kebaikan. Mungkin Allah sedang ingin kita belajar bersabar dulu, atau sedang menyiapkan pahala yang lebih besar untuk kita. Yuk, kita berdoa dulu sama Allah, lalu kita usaha dan menabung pelan-pelan, ya."

Dengan cara ini, anak tidak hanya merasa didengar dan dipahami, tetapi juga belajar menyikapi rasa kecewa dengan cara yang sehat dan berlandaskan iman.

Mengajarkan kesabaran juga berarti menanamkan pada anak semangat untuk tidak mudah menyerah baik dalam belajar, menghafal, maupun dalam menghadapi persaingan secara sehat. Dalam hal ini, selain melalui keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan yang positif, orang tua juga perlu berikhtiar memberikan dukungan nyata. Salah satunya adalah dengan menyekolahkan anak atau memberinya akses pada pendidikan yang mengasah keterampilan sesuai bakat dan minatnya. Dengan demikian, anak akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai situasi sulit di masa depan dengan sikap tangguh, sabar, dan percaya diri.[5]

Sebaliknya, hindarilah kebiasaan memanjakan anak dengan selalu memberikan segala sesuatu secara instan tanpa usaha, meskipun kondisi keluarga memungkinkan. Anak-anak yang terbiasa dipenuhi keinginannya tanpa perjuangan akan cenderung mengalami kesulitan dalam menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu sesuai harapan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat membuat mereka lebih mudah merasa frustrasi, putus asa, atau tidak tahan menghadapi tantangan di berbagai aspek kehidupan.

Menanamkan Syukur dengan Berbagi

Mengajarkan syukur berarti menanamkan kepekaan pada anak untuk mengenali dan menghargai nikmat sekecil apa pun sejak dini. Hal ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan mengatakan,

"Lihat, Nak, masyaallah, bulannya indah. Alhamdulillah, Allah beri kita mata untuk melihat keindahan bulan,' atau, 'Alhamdulillah, kita diberi kesehatan sehingga bisa belajar bersama hari ini. Ini adalah nikmat besar dari Allah."

Biasakan anak mengucapkan “Alhamdulillah” dalam berbagai aktivitas, seperti setelah makan, setelah belajar, setelah bermain, dan lainnya. Lebih dari itu, ajarkan bahwa bentuk syukur tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga melalui sikap dan perbuatan. Bersyukur bisa diwujudkan dengan berbagi kepada orang yang membutuhkan, tidak memboroskan apa yang dimiliki, serta tidak mengeluh terhadap keadaan. Dalam hal ini, orang tua dapat melatih anak dengan membiasakan berbagi, menghargai makanan, dan menghindari perilaku berlebihan.

Ceritakan Kisah Para Salafus Shalih

Menjelang tidur, anak-anak biasanya sangat senang mendengarkan cerita. Ini adalah momen berharga yang bisa dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai syukur dan sabar melalui kisah para salafus shalih. Ceritakan, misalnya, bagaimana Nabi Ayyub ‘alaihissalam tetap bersyukur dan bersabar meski diuji dengan penyakit yang sangat lama, atau bagaimana Nabi Yusuf ‘alaihissalam tetap tegar menghadapi fitnah dan penjara yang menimpanya. Pada akhirnya, mereka semua dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala karena kesabaran dan rasa syukur mereka yang luar biasa. Kisah-kisah seperti ini, insyaallah, akan lebih mudah membekas dalam ingatan anak dibandingkan hanya dengan nasihat langsung semata.

Wabillahit taufiq, wallahu a’lam.

Referensi:

  1. Al-Qur’anul Karim.
  2. Asy-Syaukani, Fathul Qadir, Maktabah Syamilah.
  3. Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah.
  4. Ibnu Utsaimin, Syarhu Tsalatsatil Ushul lil Utsaimin, Maktabah Syamilah.
  5. Ibnu Taimiyyah, Majmu’ul Fatawa, Maktabah Syamilah.
0