Generasi Cahaya
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Menyala, Generasi Muda! Amal Boleh Ringan, Semangat Jangan Padam!

Reporter: Putri Oktaviani

Redaktur: Gema Fitria


Rasulullah ﷺ bersabda, salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah,

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ

“Dan (di antaranya) seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.”

(HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)[1]

Bulan Ramadhan telah berlalu dan liburan panjang sudah usai. Anak-anak muda yang umumnya pelajar kembali menekuni aktivitas akademik. Sekolah-sekolah dan tempat-tempat kursus kembali riuh. Generasi penerus menyambung impian duniawi mereka dengan hafalan rumus-rumus, menekuni bacaan-bacaan, dan mengerjakan soal-soal latihan. Mungkin hanya sedikit yang masih menyambung hafalan Al-Qur’an atau bahkan sekadar tilawah rutin satu-dua halaman setiap malam.

Pola kebiasaan yang bergeser ini tak semata-mata salah mereka. Kelelahan yang tersisa usai Ramadhan ditambah lingkungan yang kurang mendukung turut memengaruhi perubahan perilaku seseorang. Namun, bulan Dzulqa’dah telah tiba terasa sayang jika disambut dengan hati yang terlanjur lalai selepas Ramadhan. Ya, sebagian kaum muslimin apalagi remaja, barangkali tidak mengetahui bahwa Dzulqa’dah adalah satu dari empat bulan haram.

Perintah mengerjakan amal shalih dan larangan melakukan dosa berlaku sepanjang waktu. Namun, balasan dari perbuatan tersebut lebih ditekankan lagi di bulan-bulan haram. Maka sebagai orang yang beriman, sesungguhnya kita tidak punya pilihan selain bersungguh-sungguh melakukan kebaikan dan meminimalkan dosa. Mungkin suasana hangatnya ibadah pasca Ramadhan kadung meredup, tapi semangat tidak boleh padam.

Memuliakan Bulan Haram

Ada 4 bulan haram yang ditetapkan Allah. Dzulqa’dah adalah penghulu dari 3 bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram) selain Rajab yang terpisah sendiri. Dalam literatur disebutkan bahwa masyarakat Arab sangat menghormati bulan-bulan haram, baik di masa jahiliyah maupun ketika Islam datang. Mereka mengadakan pasar-pasar tertentu untuk menggelar pertunjukan syair, pamer kehormatan suku dan golongan sambil berdagang di sekitar Makkah, diikuti dengan melaksanakan ibadah haji. Dzulqa’dah menjadi bulan yang aman bagi semua penduduk. Satu sama lain tidak boleh mengganggu.

Jika masyarakat Arab jahiliyah saja begitu memuliakan bulan Dzulqa’dah, maka seharusnya pengagungan kita lebih besar lagi. Bara semangat harus tetap dijaga nyalanya. Tak harus besar, yang penting tidak padam. Ukhtuna Disty Sri Wahyuni, santri HSI angkatan 252 mengambil batas minimal menjaga ibadah wajib. “Menurut aku pribadi sih sesibuk apapun, tetap ibadah paling penting apalagi shalat 5 waktu,” ujarnya. “Sebenarnya iman aku pun sering sekali naik-turun, tapi aku selalu berusaha untuk menjalani kewajiban sebagai seorang muslim,” lanjutnya.

Jika amalan wajib adalah kadar minimal, maka amalan sunnah ibarat vitamin yang mendukung imunitas spiritual dan menambal kekurangan pada amalan wajib. Ukhtuna Maryam Haniyah, santri HSI ART-242 mengungkapkan dirinya berupaya tidak menjadikan ibadah sebagai beban dengan cara mengerjakan amalan sunnah yang dirasa ringan. “Saya cuma berusaha ngelanjutin yang sudah dibiasakan saat Ramadhan saja, kayak dzikir pagi-petang, shalat witir, shalat sunnah fajar, dan tilawah Al-Qur’an,” tukasnya membulatkan tekad.

Ketika sudah terbiasa, amalan sunnah yang ringan pun akan bertambah seiring dengan berjalannya waktu, seperti Ukhtuna Faqiha Khairunnisa Hafiza, santri HSI ART-222 yang terbiasa melakukan ibadah sunnah sedari kecil. “Biasanya Qiha (nama panggilannya, red), rutin shalat Dhuha di sekolah, muraja’ah hafalan Al-Qur’an, dan mengikuti rangkaian pembelajaran di HSI Reguler,” paparnya.

Amalan seperti yang dilakukan Ukhtuna Qiha, walaupun terlihat ringan, bisa jadi tercatat sebagai pahala besar di sisi Allah karena Allah menyukai amalan kecil yang ikhlas akan tetapi dilakukan terus menerus.

Cara Agar Mudah Memulai Amalan

Untuk memulai ibadah, terkadang seseorang perlu memaksakan diri. Memaksa bukan berarti menyiksa, namun melatih diri agar semakin berkembang. Ketika sudah mengambil langkah pertama, langkah berikutnya akan terasa lebih mudah. Langkah awal yang dapat dilakukan yaitu menyimak kajian. Kajian adalah sumber ilmu, pemahaman, dan motivasi yang bisa menjadi perantara hidayah dari Allah.

“Motivasi saya paling sering sepertinya dari diri sendiri, dan ini biasanya setelah baca perkataan ulama, atau mendengarkan kelas online yang saya ikuti,” ujar Ukhtuna Maryam yang saat ini duduk di kelas 12. Melalui kajian, seseorang akan belajar tentang cara ibadah yang benar dan juga mendapat nasihat dari para ulama yang akan meningkatkan ketakwaan. Kajian tidak harus membahas kitab ulama yang berat dengan durasi berjam-jam. Menyimak beberapa menit kajian tetap dapat meningkatkan iman jika dilakukan dengan niat yang lurus. Pemahaman akan tumbuh dan menjadi bekal untuk belajar materi selanjutnya.

Selain motivasi dari diri sendiri, dukungan dari lingkungan sangat berpengaruh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi, atau kamu membeli darinya, ….” (HR. Bukhari dan Muslim)[2]. Teman yang baik akan saling memotivasi dalam kebaikan.

Biasanya seseorang akan lebih semangat mengerjakan sesuatu ketika ada teman yang menemaninya. Ukhtuna Disty berkata bahwa ketika malas, ia terinspirasi oleh teman-temannya yang bersekolah di pesantren dan ikut bersemangat seperti mereka. Begitu juga dengan Ukhtuna Qiha, ia dan teman-temannya saling memotivasi untuk ibadah. “Teman ana juga ada yang mengajak ana untuk beribadah seperti saat ana ketiduran, lalu teman kelas ana mengajak ana untuk berwudhu karena sebentar lagi shalat Dzuhur,” kata siswa kelas 8 tersebut.

Jangan Sia-siakan Kehadiran Bulan Haram

Jiwa muda yang bergejolak cenderung mengajak kepada keburukan. Syahwat yang mencapai puncak kerap menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kemaksiatan. Maka, beratnya perjuangan melawan godaan masa muda akan dibalas Allah dengan naungan khusus pada hari kiamat bagi siapapun yang menghabiskan masa mudanya untuk beribadah. Ukhtuna Maryam berpesan, “Apabila memungkinkan, terutama bagi yang masih muda dan belum punya tanggungan keluarga dan pekerjaan, isilah waktu dengan banyak menuntut ilmu dan menghafalkan Al Qur’an.”

Untuk menjaga semangat, para remaja bisa membuat target ibadah. Ukhtuna Qiha, misalnya, mendapat motivasi ibadah dari target yang diberikan orang tua dan gurunya. “Biasanya orang tua dan guru saya juga sering memotivasi diri sendiri seperti memberikan target yang ingin dicapai,” imbuhnya. “Aktivitas tanpa target dan tujuan akan cenderung dilakukan lebih santai sehingga terkadang waktu terbuang tanpa ibadah. Target bisa berupa puasa sunnah Senin-Kamis, tilawah Al-Qur’an setiap hari, atau menambah jumlah shalat sunnah. Target ibadah akan membantu introspeksi diri dan menjaga konsistensi. Ana memiliki target untuk menyelesaikan setoran juz 29 dalam waktu dekat,” papar Ukhtuna Qiha optimis.

Bulan Dzulqa’dah memiliki kemuliaan yang berbeda dibanding Ramadhan. Larangan mendzalimi diri berlaku lebih tegas dibanding bulan lain. Bentuk berbuat baik pada diri sendiri adalah dengan tetap menjaga ibadah, membuat target ringan yang logis dan sesuai kemampuan. Meskipun tidak ada ibadah khusus pada bulan Dzulqa’dah, namun pahala dan dosa akan berlipat, sehingga jangan sampai kita melewatkannya tanpa catatan kebaikan sama sekali.

Ramadhan seharusnya menjadi titik awal untuk membangun kebiasaan baik dan menjaga ketakwaan sepanjang tahun. Maka, hidupkan lagi semangatmu di bulan Dzulqa’dah ini, yaa Ukhty! Shalat sunnah tak harus langsung banyak. Hafalan pun tak harus langsung mutqin. Namun, lakukan aktivitasmu seperti biasa, dan hiasilah dengan amalan ringan yang mudah dijaga karena lebih mudah menjaga nyala semangat dari pada menyulut kembali semangat yang padam. Semoga Allah mudahkan. Baarakallahu fikum.

28