Menunggu Hadirnya Modul Belajar

Reporter: Gema Fitria

Redaktur: Dian Soekotjo


Pernah atau tidak antum merasa kesulitan saat mencatat materi HSI? Mungkin kita semua setuju bahwa memahami perkataan yang Ustadzuna sampaikan melalui audio materi, insyaallah, tidak sulit. Namun, pada bagian hadits, atsar, atau penggalan kitab-kitab ulama, sepertinya perlu ketelitian ekstra sekaligus kemampuan. Salah mengutip bisa runyam akibatnya, apalagi kalau poin tersebut keluar sebagai soal evaluasi. Wah, bisa meleset jawaban..

Nah, apakah antum adalah santri yang berharap HSI menerbitkan modul? Jika ya, semoga liputan Majalah HSI kali ini menjadi kabar gembira.

Tidak lama lagi, insyaallah, modul belajar HSI akan segera hadir. Bisik-bisiknya, modul tersebut akan tersedia di HSI Pernik dan siapapun santri HSI dapat memilikinya dengan cara membeli. Rencana tersebut dibenarkan oleh Divisi KBM, sang pencetus program. Apa latar belakang dan harapan Divisi KBM terhadap modul tersebut, bagaimana spesifikasi cetakannya, serta bagaimana tanggapan para santri, Majalah HSI hendak mengulasnya di edisi kali ini.

Fasilitas Program Takhashus

Penanggung jawab (PJ) KBM ART251, Uktuna Surya Sari, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, mengatakan bahwa modul belajar yang akan dicetak sebenarnya merupakan fasilitas Program Takhashus. Sekilas tentang program ini telah dilaporkan Majalah HSI dalam Rubrik KBM edisi terdahulu.

“KBM program aqidah (reguler, red), berencana membuka Program Takhashus dan berbayar yang salah satu fasilitasnya adalah modul atau kitab belajar per level, yang akan dicetak oleh Pernik,” ucap Mbak Sari, sapaan akrab Ukhtuna Surya Sari di HSI.

Modul cetak dalam bentuk fisik ini, menurut Mbak Sari, diharapkan akan memudahkan proses belajar santri. “Diharapkan santri punya pegangan modul atau kitab sehingga memudahkan saat belajar, memahami materi, dan lebih mudah untuk muraja’ah berulang kali,” paparnya.

Namun, kemungkinan besar, selain menjadi fasilitas cuma-cuma dalam Program Takhashus, modul belajar nantinya akan dijual bebas oleh Divisi Pernik, sehingga para santri tetap bisa memiliki kitab tersebut meskipun tidak mendaftarkan diri mengikuti Program Takhashus.

Hasil Kerja Bersama Lintas Divisi

Diungkapkan Mbak Sari, pengerjaan modul belajar HSI merupakan kerja bersama beberapa tim dari berbagai divisi.

Porsi tugas masing-masing divisi diungkapkan oleh Manajer HSI Pernik, Akhuna Adi Dwi Priyono, kepada Majalah HSI. “KBM Reguler ART (kelompok akhwat, red) merupakan pemilik proyek dan yang menyetujui hasil akhir. HSI IT bertugas menyiapkan audio materi. HSI DPME bertindak sebagai transkriptor audio ke teks. Majalah HSI bagian desain dan layout. Terakhir, Pernik HSI bertanggung jawab atas QC (Quality Control, red) dan editing,” ungkap Akhuna Adi.

Akhuna Adi menambahkan bahwa saat ini, pengerjaan modul sudah memasuki editing tahap ke-2 sejak dilakukannya persiapan dan koordinasi pada awal Januari lalu. “Modul ditargetkan bisa dibeli santri pada bulan Juni 2025,” tegasnya.

Spesifikasi Modul

Meskipun sejatinya tujuan awal pencetakan modul ialah untuk fasilitas Program Takhashus, tapi HSI akhirnya memutuskan kitab tersebut dapat juga dimiliki para santri HSI tanpa kecuali. Tinggal berkunjung ke web HSI Pernik dan melakukan pembelian, insyaallah, kitab akan sampai ke rumah.

Hingga saat ini, menurut Akhuna Adi, harga jual belum ditetapkan. Mudah-mudahan, ketika selesai penggarapan, HSI menentukan harga yang pas dan terjangkau sehingga banyak santri bisa memiliki kitab tersebut.

Sebagai gambaran, Akhuna Adi membocorkan spesifikasi modul yang akan dicetak. ”Insyaallah buku akan dicetak dengan spesifikasi: ukuran B5, finishing soft cover, isi buku berbahan hvs 80 gsm, 380 halaman, cetak BW (black-white atau hitam putih, red), shrink,” ujarnya.

Lebih Memudahkan Muraja’ah

Santri-santri yang dihubungi Majalah HSI, kompak menyatakan rasa senangnya atas rencana pembuatan modul. Salah satunya ialah santri angkatan 201, Ukhtuna Irma Sulista Arief. Ukhtuna Irma mengaku selama belajar di HSI beberapa kali menemukan kesulitan saat menulis materi terutama jika perlu mencatat dalil.

Warga Depok ini yakin proses belajar akan sangat terbantu dengan adanya modul. “Lebih memudahkan dalam muraja’ah, semua jadi serba jelas, dalil-dalil yang ada juga jelas bagaimana bacaannya, dan juga untuk menghindari salah tangkap suara Ustadz yang terkadang terdengar samar, seperti contoh kata: berapa dan betapa,” tuturnya memberi perumpamaan.

Agar Maksimal Memahami Ilmu sehingga Mendapat Keberkahan

Hal yang kurang lebih sama dikemukakan Ukhtuna Rita Widianti. Teh Rita, sapaan akrabnya, mengaku senang dan menyambut baik pengadaan modul belajar. “Maasyaa Allah.. Allahu yubaarik fiikum. Sungguh ini adalah kabar yang sangat membahagiakan. Saya sudah menantikannya sejak tahun-tahun belakang,” tutur Teh Rita tampak meluapkan kegembiraan.

Teh Rita mengaku kerap kesulitan mencatat materi. “Sebagai manusia biasa, Qadarullah, tentu saya memiliki banyak tantangan seiring dengan naik turunnya iman dan ghirah dalam menimba ilmu,” ungkapnya. “Terkhusus dalam hal mencatat materi, sering kali saya merasa kesulitan ketika Ustadz menyebutkan dalil-dalil atau istilah-istilah dalam bahasa Arab yang belum saya ketahui lafaznya dengan benar. Kadang kala, ada audio materi yang tidak terdengar jernih sehingga kurang jelas,” sambungnya lagi.

Level belajar yang semakin tinggi, membuat Teh Rita merasa kian kesulitan. “Terlebih jika sudah masuk pembahasan kitab dengan durasi audio lebih panjang, itu membuat saya merasa lebih berat lagi dalam mencatat, karena memerlukan waktu berjam-jam di tengah kesibukan saya sehari-hari,” tambahnya mencurahkan isi hati.

Teh Rita mengaku mempunyai tujuan lebih besar yang ingin digapainya. “Saya teringat akan pesan Ustadz bahwa meskipun kita berada di dalam satu majelis yang sama, namun bisa saja keberkahan yang masing-masing kita dapatkan berbeda-beda tergantung bagaimana pengagungan kita terhadap ilmu itu sendiri,” tukasnya menukil perkataan Ustadzuna. Dengan kehadiran modul, Teh Rita berharap dapat lebih dekat dan lebih memahami ilmu. Ia berangan-angan usaha tersebut terhitung sebagai upaya mengagungkan ilmu, sehingga ilmu yang didapatnya akan jauh lebih barakah. “Terlebih, ini merupakan suatu kemudahan yang mana tidak ada alasan lagi bagi saya untuk bermalas-malasan dalam belajar,” tutupnya di akhir wawancara.

Menjadi Catatan yang Lengkap

Setali tiga uang, dengan yang dirasakan Ukhtuna Welly Desrina, santri Angkatan 212. Ia menyatakan juga sangat menanti hadirnya Modul. Ukhtuna Welly mengatakan rutin mencatat materi dari rekaman suara Ustadz yang dibagikan.

“Saya catat dari awal sampai selesai materi secara detail, karena menurut saya yang disampaikan Ustadz semuanya ilmu yang insyaallah sangat bermanfaat,” tutur Ibu dua anak ini.

Namun, proses mencatat tersebut tak selalu mulus. Ada beberapa kendala yang dialaminya. Ukhtuna Welly mengaku membutuhkan waktu yang panjang untuk mencatat sebab harus mengulang-ulang audio agar materi yang dicatat tidak salah dan tidak ada kata yang terluput.

Kebutuhan terhadap adanya teks, semakin terasa ketika Ukhtuna Welly harus mencatat dalil. “Dalam mencatat surat Al-Qur’an dan Hadist yang disampaikan dalam materi, saya hanya bisa mencatat nama surat dan ayat. Sedangkan hadist, hanya mencatat artinya saja. Dan saya akan kesulitan lagi dalam mengerjakan Evaluasi karena tidak tahu bahasa Arab dari hadits tersebut,” ujarnya lagi.

Ukhtuna Welly berharap bisa belajar lebih baik dengan adanya modul, karena kesulitan yang disebutkannya di atas, diakuinya terkadang menimbulkan rasa malas dalam mencatat.

Jika tepat sesuai rencana, insyaallah, Juni nanti, modul sudah bisa kita miliki. Semoga Allah memberikan kelancaran dan ketepatan waktu dalam proses produksi. Mudah-mudahan benar bermanfaat mengatasi kesulitan yang umum dialami para santri HSI seperti tiga santri di atas. Kita doakan bersama ya.. Jangan lupa ramai-ramai membeli modul belajar di HSI Pernik nantinya... Barakallahu fiikum.

0