Menua Bersama Ilmu di Tanah Minoritas
Reporter : Loly Syahrul
Redaktur : Ridzky Aditya Saputra
ู ููู ุณููููู ุทูุฑููููุง ููููุชูู ูุณู ููููู ุนูููู ูุง ุณูููููู ุงูููููู ูููู ุทูุฑููููุง ุฅูููู ุงููุฌููููุฉู
โBarang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahka baginya jalan menuju Surga.โ (HR. Muslim)
Seorang muslim tidak akan mampu beramal dengan benar sebelum ia memahami agamanya. Ketika Allah Subhanahu wa Taโala membukakan pemahaman agama kepada seorang hamba, saat itulah pintu menuju Surga terbuka baginya.
Pemahaman agama yang lurus tidak hadir dengan sendirinya, melainkan diraih melalui jalan ilmu. Mereka yang menapaki jalan ini adalah hamba-hamba pilihan. Allah juga yang meneguhkan langkah mereka untuk terus menghadiri majelis ilmu dan menumbuhkan kecintaan terhadap proses belajar.
Semangat Ingin Tahu yang Besar
Salah satu santriwati HSI yang tampak konsisten menapaki jalan menuntut ilmu adalah Ukhtuna Latifa Bay Fakhrudin. Di saat sebagian santri hadir dalam berbagai kesempatan belajar sekadar memenuhi keharusan aturan, santri Angkatan 212 ini menunjukkan sikap berbeda. Ia tidak hanya datang, tetapi juga membawa rasa ingin tahu yang besar.
Namanya kerap muncul dalam daftar peserta Zoom HSI. Bukan sekedar menyimak, Umm Latifa tak segan mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan. Keaktifan inilah yang membuatnya dikenali. Seolah usia yang melampaui 60 tahun, tak sedikitpun meredupkan kobar semangat belajar beliau.
Ibu Latifa, demikian ia kerap disapa di lingkungan HSI, merupakan keturunan India-Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebelum memasuki masa pensiun, ia dikenal sebagai seorang perempuan karier yang aktif berkecimpung di berbagai NGO/LSM internasional, khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi perempuan.
Saat masa pensiun tiba, Ibu Latifa menetap di Denpasar, Bali. Di sana energi dan waktunya tidak ia habiskan sekadar untuk beristirahat. Ia justru mengalihkannya untuk menuntut ilmu agama yang syarโi. Menurut Ibu Latifa, belajar agama bukan hanya untuk memperbaiki kualitas ibadah pribadi, melainkan juga bekal berharga bagi keluarga. Ia berharap ilmu tersebut dapat dibagikan kepada anak-anak dan suami yang seorang mualaf berkebangsaan Indo-Belanda.
Awal Mengenal HSI
Ibu Latifa mengenal HSI melalui seorang teman di majelis taโlim. Setelah mendengar informasi mengenai HSI, Ibu Latifa pun bergegas mendaftar. โWaktu penerimaan santri baru (Angkatan) 212, ana cari di internet tentang HSI. Bismillah, ana mendaftar,โ kata Ibu Latifa.
Baginya, HSI merupakan sarana belajar untuk memperoleh pemahaman baru dalam beragama. Sebelumnya, Bu Latifa merasa belum banyak hal yang ia pahami, khususnya terkait tauhid dan aqidah. Namun, seiring proses belajar di HSI, ia merasakan adanya arah dan pegangan kuat dalam belajar.
โSebelumnya ana tidak tahu, sekarang ana tahu. Kadang ana juga merasa takut, apakah ana sudah mengenal tauhid dan aqidah dengan benar? Apakah ibadah ana sudah sesuai dengan fiqih yang sunnah? Apakah ana sudah menjadi muslim yang kaffah?โ ujarnya menirukan suara hati.
Ia menambahkan, โAlhamdulillah, setelah menjadi santri di HSI, ana merasa memiliki pegangan dalam belajar. Baik melalui pembelajaran online secara umum, maupun program Reguler dan Takhassus. Semoga ana tetap istiqamah dalam belajar di HSI dan meninggal dalam keadaan husnul khotimah Allahumma aamiin.โ
Ibu Latifa menjalani makna tauhid secara sederhana. Contohnya ketika merasa sedang terpuruk, ia memilih untuk mendirikan shalat dan berdoa. Usai mengucapkan salam di akhir sholat, Ibu Latifa selalu merasakan ketenangan di dalam hatinya. Ia juga menuturkan bahwa proses belajar di HSI membantunya lebih dekat mengenal Allah. โHSI mengantar ana untuk mengenal Allah lebih dekat. Hal ini membawa perubahan yang cukup signifikan pada kepribadian ana. Ana lebih bisa menahan emosi dan syahwat, misalnya tidak berlebihan dalam belanja yang tidak perlu. Alhamdulillah,โ Ibu Latifa menjelaskan.
Aktif Berkegiatan di HSI
Saat ini, Ibu Latifa tidak hanya aktif di kelas Reguler, melainkan juga di berbagai program HSI lainnya seperti Zoom Konsultasi Kesehatan dan Takhassus. Menurutnya, kelas-kelas tersebut memberi kesempatan langka untuk belajar langsung bersama Ustadzuna DR. Abdullah Roy hafizhahullah.
Bu Latifa ingin memperdalam aqidah dan tauhid dengan serius. Dengan begitu, ia dapat belajar sesuai aturan dan syarat yang ditetapkan oleh syariat.
โAna senang ikut aktif di Zoom Konsultasi Kesehatan karena temanya bagus-bagus. Selain itu, sesuai dengan latar belakang pekerjaan ana sebelum pensiun. Ikut aktif di Zoom Konsultasi Kesehatan bagi ana seperti refreshing dan bernostalgia dengan masa lalu. Bisa berdiskusi dengan dokter tentang masalah kesehatan,โ ungkapnya.
โKalau Zoom ustadz kelas Takhassus, dari awal mendaftar sudah diinformasikan akan ada live interaktif bersama ustadzuna. Ana ingin belajar aqidah dan tauhid. Ana harus istiqamah dengan aturan yang telah ditetapkan. Kapan lagi bisa bertanya langsung dengan beliau,โ ujarnya kemudian.
Tiga Kali Ikut Kelas Mahazi
Salah satu hal yang menarik, keikutsertaan Ibu Latifa di kelas HSI Mahazi. Ia bahkan mengikuti kelas yang fokus membahas tata cara umroh dan haji itu hingga tiga kali. Ketika ditanya alasannya, Ibu Latifa mengaku rindu dengan Mekah dan Madinah. Terakhir kali ia beribadah haji ke Tanah Suci sekitar 20 tahun lalu. Kini Bu Latifa tidak pernah berniat untuk mendaftar haji lagi. Ia merasa banyak kaum muslimin yang belum memiliki kesempatan untuk berhaji. Sedangkan untuk berumroh, ia terhalang udzur suaminya yang sudah berusia 85 tahun, sehingga sulit melakukan perjalanan jauh.
โAna sudah berangkat haji pada tahun 2005, dan ana sangat merindukan Mekkah, Madinah, serta ibadah-ibadah di sana. Dengan ikut HSI Mahazi, rindu ana terobati. Ana terbawa dengan semua prosesi ibadah umroh, haji, dan ziarah. Ana sampai menangis,โ kenangnya.
Istiqamah di Tengah Mayoritas Nonmuslim
Tinggal di Bali yang penduduknya mayoritas nonmuslim, tidak membuat Ibu Latifa mengendur dari majelis ilmu. Ia mencoba tetap aktif mengikuti kajian secara online maupun offline. Ia juga bergabung dalam beberapa grup WhatsApp Islam untuk memperkaya ilmu dan ajang mempererat ukhuwah Islamiyah.
Meski tinggal sebagai minoritas, namun Uktuna Latifa tetap berupaya menyeimbangkan antara interaksi dan sikap terhadap nonmuslim. Ia juga menekankan sikap rendah hati ketika bergaul di masyarakat.
โWalaupun saya tinggal di Denpasar yang mayoritas nonmuslim, di lingkungan RW ada yang mengadakan tadarus setiap Ahad sore dan pengajian keluarga setiap bulan. Saya juga ikut kajian di majelis taโlim dan mengikuti kajian asatidzah tamu dari luar daerah, maupun luar negeri,โ jelas Ukhtuna Latifah.
โKalau keluar, saya berusaha untuk humble (rendah hati). Alhamdulillah tidak ada masalah. Kami tetap bisa kajian dan naik kendaraan umum. Untuk mendakwahkan Islam, ana lebih sering posting di status WhatsApp. Banyak nonmuslim yang membaca, dan kadang ada yang bertanya apa maksudnya,โ ia mengakhiri.
Maasyaa Allah, kisah Ibu Latifa menunjukkan bahwa semangat belajar tidak mengenal usia. Bahkan, di saat yang tak lagi muda, ia tetap haus ilmu dan aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.