Mentari Harapan di Balik Masa Lalu yang Kelam

Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc.


Kehidupan adalah perjalanan yang penuh dengan lika-liku. Tidak ada manusia yang terlahir ke dunia ini tanpa pernah merasakan ujian, kesulitan atau kegagalan. Namun, di balik setiap masa lalu yang kelam, selalu ada mentari harapan yang bersinar dan menunggu untuk ditemukan. Ujian dalam kehidupan, seperti kesempitan ekonomi, fitnah harta, syahwat, syubhat, godaan maksiat dan bid’ah, sejatinya adalah bagian dari proses pendewasaan diri dan penguatan iman. Lalu, bagaimana kita bisa menemukan harapan di tengah kegelapan? Bagaimana kita bisa bangkit dari keterpurukan dan membuka lembaran baru dalam hidup? Tulisan ini akan membahas tentang hikmah di balik ujian, cara menghadapi masalah dan kiat-kiat untuk tetap istiqamah dalam menjalani kehidupan.

Mengapa Ada Ujian Dalam Kehidupan?

Kehidupan di dunia ini tidak pernah lepas dari ujian dan cobaan. Setiap manusia, tanpa terkecuali, pasti akan menghadapi berbagai bentuk ujian dalam hidupnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Ujian Allah untuk para hamba-Nya terkadang dengan kesenangan supaya mereka bersyukur dan terkadang dengan kesulitan supaya mereka bersabar, maka kesenangan dan kesulitan itu adalah ujian. Kesulitan menuntut kesabaran dan kesenangan menuntut syukur. Menjalankan hak kesabaran lebih mudah daripada hak syukur, maka kesenangan menjadi ujian paling besar (berat).”[1]

Pertanyaannya, mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan ujian-ujian itu? Apa hikmah di balik semua kesulitan itu? Di antara alasan dan hikmahnya adalah sebagai berikut:

  1. Mewujudkan penghambaan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam. Ujian mengingatkan bahwa kita adalah hamba Allah yang harus tunduk dan patuh kepada-Nya.
  2. Ujian adalah cara Allah mempersiapkan orang-orang beriman untuk menjadi kuat dan mampu memimpin di muka bumi.
  3. Ujian dapat menjadi sarana penghapus dosa-dosa yang telah dilakukan.
  4. Ujian dapat mendatangkan pahala dan meningkatkan derajat.
  5. Ujian sebagai kesempatan untuk introspeksi diri dan menyadari kelemahan serta kekurangan yang perlu diperbaiki.
  6. Ujian mengajarkan tentang tauhid, iman dan tawakal. Hal ini agar kita mengerti akan kelemahan kita.
  7. Ujian menghilangkan rasa bangga diri dan membuat kita lebih dekat dengan Allah.
  8. Ujian mengungkapkan hakikat dan sifat asli manusia, karena ada orang yang nilai kebaikannya hanya terlihat saat menghadapi kesulitan.
  9. Ujian adalah sarana pendidikan dan pembentukan karakter.
  10. Ujian membantu membedakan antara teman sejati dan teman yang hanya mencari keuntungan.
  11. Ujian menjadi pengingat untuk introspeksi dan bertobat dari kesalahan.
  12. Ujian mengungkapkan hakikat dunia yang semu dan penuh tipuan.
  13. Ujian mengingatkan akan nikmat Allah yang telah diberikan berupa kesehatan dan kesejahteraan.
  14. Ujian menanamkan kerinduan pada surga. Kita tidak akan merindukan surga kecuali jika merasakan kepahitan dunia.[2]

Ujian dalam kehidupan adalah bagian dari sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Setiap ujian memiliki hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik. Melalui bersabar, bersyukur dan bertawakal kepada Allah, kita akan bisa melewati setiap ujian dengan baik dan menjadi pribadi yang lebih kuat, baik secara mental maupun spiritual.

Jangan Larut dalam Kesedihan

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari masalah dan ujian. Ketika menghadapi kesulitan, wajar jika kita merasa sedih, kecewa, atau putus asa. Kesedihan adalah respons alami manusia ketika menghadapi masalah atau kehilangan sesuatu yang berharga. Bahkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri pernah menangis ketika ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya, seperti kematian putra beliau, Ibrahim. Ini menunjukkan bahwa kesedihan adalah bagian dari fitrah manusia dan tidak dilarang dalam Islam.

Namun, kesedihan yang berlarut-larut dan tidak dikelola dengan baik bisa berdampak negatif pada kesehatan mental, fisik dan spiritual. Larut dalam kesedihan hanya akan membuat kita semakin terpuruk dan kehilangan semangat untuk bangkit. Kesedihan yang berlebihan juga bisa membuat kita lupa akan nikmat-nikmat lain yang masih dimiliki dan jatuh ke dalam keputusasaan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Seorang mukmin hendaknya memiliki pandangan yang positif terhadap setiap kejadian dalam hidupnya. Baik itu kebahagiaan maupun kesedihan, semuanya memiliki nilai kebaikan jika dihadapi dengan sikap yang tepat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik. Jika mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, dia bersabar dan itu juga baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Intinya, kesedihan adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Namun, jangan sampai kesedihan tersebut menguasai hidup. Dengan bersabar, bertawakal dan mencari hikmah di balik kesedihan, Insya Allah, masa-masa sulit akan mudah dilewati.

Fokus pada Solusi

Ketika menghadapi masalah, seringkali kita terjebak dalam lingkaran pemikiran yang negatif. Kita terus-menerus memikirkan masalah tersebut, merasa khawatir dan bahkan bisa menjadi stres. Namun, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kita untuk tidak larut dalam kekhawatiran, melainkan fokus pada solusi. Ketika beliau dan para sahabat diusir dari Mekah, beliau tidak larut dalam kesedihan. Sebaliknya, beliau menyusun rencana untuk hijrah ke Madinah dan membangun masyarakat baru di sana.

Begitu juga, ketika menghadapi Perang Khandaq, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak panik. Beliau mengumpulkan para sahabat, mendengarkan saran dari Salman Al-Farisi dan membuat strategi pertahanan dengan menggali parit. Hasilnya, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran tanpa banyak korban.

Tugas kita adalah berusaha dan berdoa, sambil tetap yakin bahwa Allah ‘azza wa Jalla akan memberikan kemudahan, sebagaimana janji dalam firman-Nya,

سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٍ يُسۡرًا

“Allah akan jadikan kemudahan setelah (datangnya) kesulitan.” (QS. At-Thalaq: 7)

Fokus pada solusi adalah sikap yang diajarkan oleh Islam dalam menghadapi masalah. Daripada terus-menerus memikirkan masalah, lebih baik kita mengambil langkah-langkah konkret untuk menyelesaikannya. Dengan menganalisis masalah, membuat rencana tindakan, mengambil langkah kecil, mengevaluasi progres dan bertawakal kepada Allah, kita bisa melewati setiap kesulitan dengan lebih baik.

Mencari Support System

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Kita membutuhkan orang lain untuk berbagi, saling mendukung dan saling menguatkan, terutama ketika menghadapi masalah. Dalam Islam, mencari support system yang positif adalah bagian penting dari proses menghadapi ujian hidup. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan betapa pentingnya bergaul dengan orang-orang yang shalih, karena mereka akan mengingatkan kita kepada Allah dan membantu kita tetap istiqamah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau kamu membeli darinya, atau setidaknya kamu mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu mendapatkan bau tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari, no. 2101 dan Muslim, no. 2628)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat adalah contoh terbaik dalam membangun support system yang positif. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadapi tekanan dari kaum Quraisy, beliau selalu didukung oleh para sahabat, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.

Mencari support system yang positif adalah langkah penting dalam menghadapi masalah. Bergaul dengan orang-orang yang baik, seperti keluarga, teman shalih atau komunitas yang positif membuat kita bisa mendapatkan dukungan moral, emosional dan spiritual. Ingatlah bahwa kita tidak harus menghadapi masalah sendirian. Bersama support system yang tepat, kita bisa melewati setiap ujian dengan lebih baik dan tetap istiqamah dalam menjalankan agama.

Bergantung kepada Allah

Sebagai hamba Allah, kita harus menyadari bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Kekuatan, kecerdasan dan kemampuan kita terbatas. Namun, dari kelemahan itulah kekuatan sejati kita muncul, yaitu kekuatan tawakal kepada Allah. Tawakal adalah sikap berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha dan berdoa. Orang yang bertawakal adalah orang yang kuat, karena dia meletakkan segala urusannya kepada Zat Yang Maha Kuasa. Sebaliknya, orang yang sombong dan mengandalkan kekuatannya sendiri adalah orang yang lemah, karena Allah bisa saja menghancurkan kesombongannya dalam sekejap. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا

“Dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. An-Nisa: 81)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat adalah contoh terbaik dalam bertawakal. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur saat hijrah, Abu Bakar merasa khawatir akan keselamatan mereka. Namun, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menenangkannya dengan bersabda seperti yang disebutkan dalam firman Allah,

لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا

“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Bergantung kepada Allah melalui tawakal adalah sumber kekuatan sejati bagi seorang muslim. Dengan bertawakal, kita mengakui kelemahan kita sebagai hamba dan meletakkan segala urusan kepada zat Yang Maha Kuasa. Tawakal bukanlah sikap pasif, tetapi kombinasi antara usaha maksimal dan keyakinan penuh bahwa Allah akan memberikan yang terbaik.

Bunuh Diri Bukan Solusi

Fenomena bunuh diri semakin marak di era modern ini, terutama di kalangan generasi muda. Hal ini terkadang dipengaruhi oleh budaya dan keyakinan yang salah, seperti kepercayaan reinkarnasi[3], atau keyakinan agama yang memiliki pandangan berbeda mengenai bunuh diri[4]. Keyakinan ini membuat sebagian orang berpikir bahwa dengan mengakhiri hidup di dunia ini, mereka bisa memulai hidup baru atau terbebas dari masalah.

Secara keseluruhan, meskipun keyakinan dapat berperan dalam membentuk pandangan dan perilaku terkait bunuh diri, faktor-faktor lain seperti kondisi mental, dukungan sosial dan konteks budaya juga sangat penting dalam menentukan tingkat bunuh diri dalam suatu komunitas[5].

Namun, dalam Islam, bunuh diri adalah dosa besar bukan solusi dari masalah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang bunuh diri dengan sesuatu (alat) di dunia, maka dia akan disiksa dengan alat itu di neraka.” (HR. Bukhari, n0. 6047 dan Muslim, no. 110)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah teladan terbaik dalam menghadapi masalah. Meskipun sering menghadapi cobaan yang berat, seperti ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya, difitnah, dan diusir dari tanah kelahirannya, beliau tetap sabar dan tidak pernah putus asa.

Kiat Istiqamah Setelah Terpuruk

Keterpurukan dalam urusan dunia dan agama adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa dihindari. Namun, seorang muslim yang sejati tidak akan membiarkan dirinya terus terpuruk. Setiap keterpurukan adalah kesempatan untuk bangkit, memperbaiki diri dan kembali istiqamah (konsisten) dalam menjalankan kebaikan. Berikut adalah beberapa kiat konkret untuk istiqamah setelah terpuruk.

1. Muhasabah Diri

Muhasabah diri adalah langkah pertama yang harus dilakukan setelah mengalami keterpurukan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)

2. Memperbaiki Niat

Setelah terpuruk, sangat penting bagi seseorang untuk meluruskan niat dan menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai satu-satunya tujuan dalam hidup. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan hal yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, no. 54 dan Muslim, no. 1907)

3. Memperbanyak Ibadah

Setelah terpuruk, tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah sebagai bentuk tobat serta upaya untuk kembali istiqamah. Dengan memperbanyak ibadah, kita bisa mengisi hati dengan ketenangan dan kekuatan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

4. Belajar dari Kesalahan

Setelah terpuruk, janganlah mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, jadikan kesalahan tersebut sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Seorang mukmin tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari nomor 6133 dan Muslim nomor 2998)

5. Tetap Optimis

Setelah terpuruk, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Yakinlah bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

6. Mencari Dukungan dari Orang Shalih

Bergaul dengan orang-orang shalih bisa memberikan dukungan moral dan spiritual dalam proses bangkit dari keterpurukan. Mereka bisa memberikan nasihat, motivasi dan doa yang kita butuhkan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Seseorang itu berada di atas agama temannya. Maka, hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa temannya.” (HR. Abu Daud nomor 4833. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

7. Menjaga Konsistensi (Istiqamah)

Istiqamah adalah kunci utama untuk tetap berada di jalan yang benar setelah bangkit dari keterpurukan. Konsistensi dalam beribadah, memperbaiki diri dan berbuat kebaikan akan membuat kita semakin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟

“Maka tetaplah (istiqamahlah) pada jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat besertamu, dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS. Hud: 112)

Teladan dari Para Nabi dan Salaf

Para nabi dan salafush shalih (orang-orang shalih terdahulu) adalah teladan terbaik dalam menghadapi ujian dan membuka lembaran baru dalam hidup. Mereka menghadapi cobaan yang berat dan selalu berhasil bangkit dengan kekuatan iman, kesabaran dan tawakal kepada Allah. Kisah-kisah mereka mengajarkan kita bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali, asalkan kita mau bertobat, berusaha dan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Berikut ini adalah beberapa contoh teladan dari para nabi dan salafush shalih:

1. Nabi Yunus ‘alaihis salam diutus oleh Allah untuk berdakwah kepada kaumnya di Ninawa, kota Mosul. Namun, ketika kaumnya menolak ajakannya, Nabi Yunus putus asa dan meninggalkan mereka tanpa izin dari Allah. Akibatnya, beliau dihukum dengan ditelan oleh ikan besar. Di dalam kegelapan perut ikan, Nabi Yunus ‘alaihis salam menyadari kesalahannya dan bertobat kepada Allah. Beliau berdoa,

لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Allah mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari perut ikan. Setelah itu, Nabi Yunus ‘alaihis salam kembali kepada kaumnya dan melanjutkan dakwahnya.[6]

2. Nabi Ayyub ‘alaihis salam adalah contoh teladan dalam menghadapi ujian. Beliau diuji dengan kehilangan harta, keluarga dan kesehatan. Namun, beliau tetap sabar dan tidak pernah mengeluh kepada Allah. Bahkan, ketika istrinya menyarankan untuk memohon kepada Allah agar menghentikan ujiannya, Nabi Ayyub ‘alaihis salam menjawab, “Sesungguhnya aku telah diberi nikmat selama tujuh puluh tahun, maka apakah aku tidak akan bersabar menghadapi musibah ini selama tujuh puluh tahun?”[7]

3. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah adalah salah satu ulama besar yang diuji dengan berat selama masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun yang memaksakan paham Mu’tazilah. Imam Ahmad dipenjara dan disiksa karena menolak untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Beliau tetap teguh pada pendiriannya dan tidak pernah goyah. Setelah ujian tersebut, Imam Ahmad menjadi salah satu ulama paling dihormati dalam sejarah Islam dan pendiri Mazhab Hanbali.[8]

Jadikan Ramadhan Sebagai Titik Balik Kehidupan

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Bulan ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk memulai lembaran baru dalam kehidupan, baik secara spiritual maupun personal. Beberapa hal yang dapat dilakukan selama Ramadhan untuk membersihkan hati dan menguatkan iman antara lain:

  1. Puasa untuk melatih kesabaran dan pengendalian diri.
  2. Qiyamul lail dan tarawih untuk menguatkan hubungan dengan Allah.
  3. Tilawah Al-Qur’an untuk membersihkan hati dan meningkatkan ilmu.
  4. Sedekah dan berbuat baik untuk menumbuhkan kepedulian sosial.
  5. Tobat dan muhasabah diri untuk memperbaiki kesalahan yang telah berlalu.

Setelah Ramadhan berakhir, sangat penting untuk menjaga semangat dan kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan suci ini. Semangat beribadah, berbuat kebaikan dan meningkatkan ketakwaan tidak hanya terhenti di Ramadhan, tetapi harus terus dilanjutkan hingga bulan Syawal dan seterusnya. Dengan demikian, Ramadhan dapat menjadi modal spiritual yang kuat untuk menghadapi kehidupan sehari-hari dengan penuh keimanan dan ketakwaan.

Simpulan

Masa lalu yang kelam bukanlah akhir dari segalanya. Di balik setiap ujian, ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik. Dengan bersabar, fokus pada solusi, mencari support system dan bertawakal kepada Allah, kita bisa menemukan mentari harapan yang bersinar terang. Jadikanlah setiap ujian sebagai batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk membuka lembaran baru. Ingatlah, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar dan berikhtiar.

Penutup

Demikian yang bisa Penulis jelaskan tentang kiat-kiat untuk bisa bangkit dari keterpurukan dan membuka lembaran baru dalam hidup. Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan membuahkan amal di kemudian hari. Akhir kata, kami memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala asma’ dan sifat-Nya agar memberkahi dan meridhai tulisan ini. Wabillahi Taufiq Ila Aqwamith Thariq.

Referensi:

  1. Shahih Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim Al-Bukhari, As-Sulthaniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
  2. Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mathba'ah 'Isa Al-Babi Al-Halabi-Kairo, Cet. Tahun 1374 H/1955 M.
  3. Sunan Abi Dawud, Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistaniy, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyadh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebut tahun.
  4. Mufradat Alfazh Al-Qur’an, Abul Qasim Al-Husain bin Muhammad Ar-Raghib Al-Ashfahani, Tahqiq Shafwan Adnan Dawudi, Dar Al-Ilm-Damaskus, Ad-Dar As-Syamiyah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1992 M.
  5. Qashash Al-Anbiya’, Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi, Tahqiq Mushtafa Abdul Wahid, Mathba’ah Dar At-Ta’lif-Kairo, Cet. 1, Tahun 1388 H/1968 M.
  6. Siyar A’lam An-Nubala’, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi, Tahqiq Majmu’ah Al-Muhaqqiqin, Muassasah Ar-Risalah, Cet. 3, Tahun 1405 H/1985 M.
  7. Gearing, Robin E., dan Dana Lizardi. “Religion and Suicide.” Journal of Religion and Health, vol. 48, no. 3, September 2009, hlm. 332–341. DOI.org (Crossref), https://doi.org/10.1007/s10943-008-9181-2.
  8. Prazak, Michael, dkk. “Reincarnation Beliefs and Suicidality: Social, Individual and Theological Factors.” Journal of Religion and Health, vol. 62, no. 6, Desember 2023, hlm. 3834–3855. DOI.org (Crossref), https://doi.org/10.1007/s10943-023-01926-0.
  9. Makalah berjudul Al-Hikmah Min Al-Ibtila’, Syaikh Adnan bin Sulaiman Ad-Darwisy, di tautan https://www.alukah.net/sharia/0/154897/الحكمة-من-الابتلاء/. Diakses pada tanggal 8 Maret 2025.
0