Menjadi Kikir Gara-gara Digoda Setan
Penulis: Athirah Mustadjab
Editor: Za Ummu Raihan
LAFAL AYAT
ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)
TAFSIR
ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ
- Setan menakut-nakuti manusia dalam sedekah dan zakat wajib bahwa manusia akan miskin jika mengeluarkan harta untuk dua hal tersebut.[1]
- Menakut-nakuti manusia dengan kefakiran.[2]
- Setan menakut-nakuti manusia dengan kefakiran. Setan membisiki, “Simpan saja hartamu! Kalau kamu bersedekah, nanti kamu jatuh miskin.”[3]
وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ
- Memerintahkan kalian untuk bermaksiat kepada Allah عز وجل dan memerintahkan kalian untuk meninggalkan ketaatan kepada-Nya.[4]
- Supaya manusia tidak bersedekah dan supaya manusia menjadi kikir.[5]
- Membuatmu kikir dan enggan menunaikan zakat. Al-Kalbi berkata, “Setiap lafal fahsya’ di Al-Quran bermakna ‘zina’, kecuali pada ayat ini.”[6]
وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ
- Allah عز وجل berjanji kepada orang-orang beriman bahwa Dia akan menutupi dosa maksiat yang mereka lakukan dan membebaskan mereka dari azab. Dia juga akan mengampuni dosa-dosa orang yang beriman dengan sebab harta yang mereka sedekahkan.[7]
- Maghfirah yang dimaksud dalam ayat ini adalah al-‘afwu.[8]
- Allah berjanji mengampuni dosa-dosa kalian dengan keutamaan, rezeki, dan harta.[9]
وَفَضْلًا
- Allah berjanji akan mengganti harta yang disedekahkan berupa karunia yang berlipat ganda dan rezeki yang lapang.[10]
- Al-fadhl bermakna ‘pahala’.[11]
- Al-fadhl adalah lawan dari al-faqr, sedangkan al-maghfirah adalah lawan dari adz-dzunub (dosa). Al-fadhl yang dijanjikan oleh Allah adalah ziyadah (tambahan), yang datang dalam tiga bentuk:
- Pertama: Ziyadah (tambahan) berupa taufik. Di dunia, orang yang bersedekah akan mendapat taufik dari Allah untuk memperoleh sumber mata pencarian sehingga hartanya akan bertambah.
- Kedua: Ziyadah (tambahan) berupa terjaganya dari musibah. Kadang harta bisa lenyap karena suatu sebab tertentu. Jika harta telah ditakdirkan untuk berkurang, maka dia akan berkurang, bagaimana pun caranya. Seandainya seseorang memiliki harta berlebih tetapi enggan bersedekah, maka harta itu tetap akan berkurang dengan jalan lain misalnya terkena musibah[12], jika Allah telah menakdirkannya untuk berkurang. Sebaliknya, jika dia melawan bisikan setan, kemudian dia sedekahkan hartanya, maka harta itu memang berkurang, tetapi berkurang di jalan kebaikan, bukan karena terkena musibah.
- Ketiga: Ziyadah (tambahan) berupa keberkahan. Sedekah akan menambah keberkahan pada harta. Tanpa keberkahan, seseorang akan dengan entengnya menghabiskan uang pada hal yang tidak bermanfaat. Adapun orang yang diberi keberkahan oleh Allah pada hartanya, maka dia akan mudah bersedekah serta akan dimudahkan urusannya oleh Allah dalam hal apa pun.[13]
PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK
- Ayat ini menunjukkan perbedaan antara dua janji: janji Allah dan janji setan. Janji Allah dikaitkan dengan kejujuran, serta wajib diyakini dan diimani. Adapun janji setan sebaliknya.[14]
- Sifat bakhil (kikir) adalah bencana besar. Tidak ada obat bagi sifat bakhil.[15]
- Sifat kikir (al-bukhl) termasuk jenis fahisyah.[16]
- Jika fahisyah dimutlakkan maka maknanya adalah segala bentuk dosa. Akan tetapi, jika di-taqyid (dirinci) maka maknanya adalah zina.[17]
- Terkait dengan sedekah, ada tiga hal yang perlu diperhatikan: Kapan saatnya bersedekah? Berapa banyak harta yang perlu disedekahkan? Kepada siapa sedekah tersebut akan diberikan?[18]
- Nilai besar atau kecilnya sedekah tidak bergantung pada nominalnya karena itu bersifat relatif. Sedekah yang tampak “sedikit” tetapi diberikan oleh orang yang hidupnya pas-pasan bisa jadi bernilai besar di sisi Allah.
- Dalam bersedekah, hendaknya seseorang terlebih dahulu melihat kebutuhan dirinya dan keluarganya. Ketika Abu Bakar bersedekah dengan seluruh hartanya, Rasulullah menerimanya. Akan tetapi, ketika Ka’ab bin Malik ingin melakukan hal yang sama, Rasulullah menyarankan agar Ka’ab menyedekahkan sebagian saja supaya masih ada sebagian lagi yang bisa dia simpan untuk keluarganya. Ini bentuk hikmah dalam bersedekah karena kondisi setiap orang berbeda-beda.[19]
- “Takut miskin” menyebabkan manusia menahan hartanya dari hak Allah yang harus ditunaikan darinya (misalnya zakat) atau dari ibadah lainnya terkait harta.[20]
- Orang yang kikir pada hakikatnya adalah orang yang fakir walau dia memiliki seisi dunia, sedangkan orang yang ridha dan tunduk pada perintah Allah pada hakikatnya adalah orang yang kaya walau hidupnya terbatas.[21]
- Ayat ini merupakan dalil tentang dua nama Allah yaitu Al-Wasi’ dan Al-‘Alim, serta dua sifat Allah yaitu As-Sa’ah dan Al-‘Ilm.[22]
Referensi:
- Tafsir Ath-Thabari. Al-Imam Ath-Thabari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir Al-Baghawi. Al-Imam Al-Baghawi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir As-Sam’ani. Al-Imam As-Sam’ani. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Al-‘Awashim wal Qawashim. Muhammad bin Ibrahim Ibnul Wazir. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Fiqhul Infaq oleh Syaikh Musthafa Al-Adawi. Diakses di tautan https://www.youtube.com/watch?v=NHt1Xn1a2nM pada 6 November 2024.
- Tafsir QS. Al-Baqarah: 268 oleh Syaikh Al-Utsaimin. Diakses di tautan https://www.youtube.com/watch?v=XYjF8ULKjwM pada 6 November 2024.
- Tafsir QS. Al-Baqarah: 268 oleh Syaikh Utsman Al-Khamis. Diakses di tautan https://www.youtube.com/watch?v=t5uR-zpy2CI pada 6 November 2024.
- Fawaid dari QS. Al-Baqarah: 268 oleh Syaikh Al-Utsaimin. Diakses di tautan https://www.youtube.com/watch?v=sIVWd7ZPd9I pada 6 November 2024.
- Tafsir والله يعدكم مغفرة منه وفضلا oleh Syaikh Muhammad Hassan. Diakses di tautan https://www.youtube.com/watch?v=X6wv4Fmw7_c pada 6 November 2024.
Lanjut baca? 0%