Serba-Serbi

Menitipkan Ananda ke Daycare, Apa Saja Pertimbangannya?

Reporter: Loly Syahrul

Editor: Hilyatul Fitriyah


Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

(Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa), “Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang shalih.” [QS. As Saffat: 100]


Ibu adalah madrasatul ‘ula atau sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kondisi ideal bagi seorang ibu adalah senantiasa mendampingi anak-anak sejak usia nol hingga mandiri, dalam rangka mengajarkan berbagai ilmu. Namun, tidak selamanya kondisi ideal ini bisa terpenuhi dengan mudah.

Beberapa keadaan menyebabkan para ibu meninggalkan rumah hingga tak bisa penuh membersamai buah hati. Ketika kedua orang tua, khususnya ibu, tidak bisa mengasuh anak secara penuh di rumah, misalnya karena bekerja, maka pada masa sekarang, lumrah orang mengambil jalan keluar dengan menitipkan anak-anak.

Ada kalanya, para ibu masih didukung anggota keluarga lain sehingga memungkinkan mengalihkan sementara pengasuhan anak kepada anggota keluarga lain tersebut. Namun, tak jarang, sebuah keluarga benar-benar hidup ‘sendiri’ di sebuah kota, sehingga pilihannya adalah menitipkan anak ke pihak luar.

Kalau tidak mengaryakan seorang pengasuh anak, ya menitipkan anak ke tempat penitipan atau daycare. Di antara dua ini, mana yang terbaik, apa saja plus-minusnya, dan apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum memilih keputusan? Edisi kali ini, Rubrik Serba-serbi Majalah HSI hendak menampilkan ulasan ringan khas seputar permasalahan tersebut, yang mudah-mudahan membantu pengambilan keputusan. Yuk, mari simak bersama..

Daycare Lebih Baik?

Memilih satu di antara mengaryakan seorang pengasuh anak atau menitipkan anak ke daycare, biasanya lumayan dilematik. Berseliweran pendapat yang menyatakan bahwa keduanya mempunyai sisi positif dan negatif yang berimbang. Sementara, tak sedikit juga asumsi yang berpihak pada salah satu pilihan. Bagaimana jika kita simak pendapat ahli?

Majalah HSI berkesempatan mewawancarai Dr. Ihsana Sabriani Borualogo, M.Si., Psikolog. Dr. Ihsana adalah doktor psikologi jebolan Universitas Padjajaran Bandung yang aktif melakukan penelitian di bidang anak maupun remaja, bekerja sama baik dengan lembaga lokal maupun internasional. Selain itu, Dr. Ihsana aktif melakukan pengabdian masyarakat di bidang perkembangan anak, parenting, bullying, dan remaja.

Dr. Ihsana menyatakan bahwa secara keilmuan psikologi anak, menitipkan anak di daycare ketika sang ibu bekerja, ternyata mempunyai lebih banyak dampak positif ketimbang menitipkan anak pada seorang pengasuh maupun asisten rumah tangga di rumah. “Di daycare, anak diajarkan untuk mandiri dan bersosialisasi. Kemudian biasanya, di daycare ada psikolog dan tenaga pengasuh yang terlatih,” ujar Dr. Ihsana memaparkan alasan.

Mempertimbangkan Usia Anak

Ibu satu putra yang juga pendidik di Universitas Islam Bandung ini, kemudian menyampaikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan, ketika sebuah keluarga memutuskan menitipkan buah hati ke daycare. Salah satunya adalah pertimbangan usia anak. “Anak dapat dititipkan di daycare sejak usia 7 bulan. Ini adalah usia di mana anak sudah membangun bonding (ikatan, red) dengan ibunya, sehingga kehadiran orang lain tidak akan mengganggu bonding ibu dan anak,” ulasnya.

Dr. Ihsana menegaskan bahwa menitipkan anak ke pihak luar sebelum anak mencapai usia yang tepat, mungkin memunculkan berbagai problem kemudian hari. “Anak Jangan dititipkan kurang dari usia 7 bulan, karena anak perlu menjalin kedekatan dengan figure significant, dalam hal ini ibunya,” tutur Dr. Ihsana.

Beliau menjelaskan bahwa menurut teori Erikson dan teori Bowlby dalam ilmu psikologi, anak-anak usia 3 hingga 6 bulan tengah membangun keterikatan batin dengan orang tuanya. Sehingga menitipkan anak pada rentang usia ini, rentan menjadikan anak tidak dekat dengan orang tua.

Tetapkan Kriteria-kriteria

Setelah memutuskan menitipkan ananda ke daycare, langkah berikutnya adalah memilah. Kenyataannya, hampir di berbagai kota di Indonesia, bisnis daycare bermunculan bak jamur di musim hujan. Saking menjamurnya, kadang-kadang orang tua menjatuhkan pilihan berdasarkan pertimbangan yang belum matang lagi kurang bijaksana.

Dr. Ihsana mengingatkan bahwa pemilihan daycare tidak bisa serampangan. Orang tua perlu memetakan kriteria-kriteria yang diharapkan agar sesuai dengan harapan. Dr. Ihsana kemudian memberikan contoh dalam hal visi-misi pendidikan. “Daycare tempat kita menitipkan anak, perlu mempunyai program yang sejalan dengan visi dan misi keluarga dalam membimbing tumbuh kembang anak,” ujarnya memberikan anjuran. “Sebab kalau tidak, anak akan menjadi bingung dengan perbedaan ini, dan ini pastinya akan mengganggu tumbuh kembang kepribadian anak,” tutur Dr. Ihsana selanjutnya.

Sebagai muslim yang menjalankan peran orang tua, ada tinjauan lebih teliti yang perlu ditempuh untuk urusan menitipkan anak. Tentu saja, kita wajib memilih daycare yang visi dan misinya menjunjung kaidah-kaidah agama, salah satunya soal aqidah. Kalau pemahaman dan penerapan aqidah saja sudah amburadul, bisa-bisa tanpa sengaja orang tua menjerumuskan anak kepada penyelewengan dari ajaran yang hak.

Menilik Penerapan Aqidah dalam Bisnis Daycare

Terkadang para orang tua melupakan poin kesesuain visi-misi pendidikan anak ketika memilih daycare. Di sana-sini, kerap bermunculan persepsi bahwa pendidikan berbagai nilai, termasuk soal agama juga aqidah, adalah urusan nanti. Pendidikan agama bisa diberikan kala anak memasuki usia sekolah, begitu asumsinya. Tak jarang para orang tua memilih daycare hanya dengan pertimbangan besar-kecil biaya, jauh-dekat jarak dengan rumah, atau ramai-tidaknya pelanggan daycare yang dituju.

Berikhtiar menghindari hal tersebut, orang tua bisa melakukan komunikasi dengan pemilik daycare. Rasanya tidak perlu segan untuk memeriksa sejauh mana daycare yang hendak dituju memperhatikan dan menerapkan kaidah-kaidah agama.

Penyedia layanan alias pengusaha daycare, tak seluruhnya awam akan hal ini. Tidak melulu semua pengusaha daycare hanya memikirkan keuntungan besar. Kian hari, kita bisa menjumpai daycare yang menjaga bisnisnya ada dalam koridor syariat. Majalah HSI beruntung menemukan Ukhtuna Fitri Oktavia Wulandhari, S. Psi., pemilik bisnis daycare yang berkenan membagi seluk beluk usahanya. Ukhtuna Fitri, demikian sapaan akrabnya, mengelola Daycare Alfabeta yang telah memiliki dua cabang, di Bogor, Jawa Barat, dan di Jember, Jawa Timur.

Santriwati yang belajar di HSI sejak 2024 ini, bisa dikatakan telah menerapkan visi-misi bernilai agama. Salah satunya, Ukhtuna Fitri menekankan kepada para guru asuh agar memandang tiap koneksi dengan anak-anak yang dititipkan, sebagai sumber amal. “Kami menekankan bahwa stimulasi apapun yang diberikan kepada anak-anak yang dititipkan kepada kami, adalah suatu proses menanam nilai-nilai kebaikan kepada anak manusia,’’ ujarnya. “Hal ini akan berguna seumur hidup, dan apa yang kita tanam hari ini berpotensi besar menjadi sumber amal jariyah jika kita mengerjakannya dalam kerangka ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,” imbuhnya.

Sarjana psikologi yang juga ibu dua anak ini menerangkan visi-misi Daycare Alfabeta miliknya, ‘’Kami ingin setiap anak yang dititipkan kepada kami, mendapatkan pengasuhan yang sehat dan stimulasi yang tepat sesuai dengan perkembangan masing-masing pada tingkatan usianya.”

Contoh lain daycare yang tak mengabaikan urusan pendidikan agama adalah Daycare Al Mubarak yang berlokasi di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ibu Sakinnah Mawaddah, sang pemilik usaha, berkenan menjabarkan visi misi usahanya kepada Majalah HSI. “Kami ingin menjadi partner orang tua dalam membersamai anak-anak mereka agar tumbuh kecintaannya terhadap Allah, ibadah, terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya,” ungkap Ibu Sakinnah.

Beliau senantiasa berharap, ‘’Semoga setiap langkah kecil yang kami tempuh di Al Mubarak Daycare menjadi bagian dari amal jariyah, dan semoga Allah meridhai setiap niat dan usaha ini.”

Satu hal tak kalah penting yang dapat dijadikan acuan, dari kedua pemilik daycare yang berhasil diwawancarai Majalah HSI, baik Ukhtuna Fitri maupun Ibu Sakinnah, menganggap bahwa bukan masalah bila orang tua mendiskusikan kesesuain visi-misi pendidikan untuk anak versi mereka dengan visi-misi daycare. Itu termasuk hal dasar yang sudah seharusnya diperhatikan.

Kemudahan Akses Orang Tua

Ada rentang waktu cukup lama yang memisahkan orang tua dengan buah hatinya selama proses penitipan di daycare. Umumnya, sesuai jam kerja, anak-anak akan tinggal di daycare selama 8 hingga 10 jam perhari. Oleh karenanya orang tua perlu memastikan bahwa dalam rentang waktu tersebut mereka mempunyai akses untuk memantau dan mengawasi sang buah hati.

“Kemudahan akses untuk bisa memantau anak saya baik secara real time melalui CCTV yang difasilitasi oleh daycare, atau kapan saja saya bisa datang secara langsung, mendadak atau dengan informasi terlebih dahulu, adalah pertimbangan utama saya ketika menentukan daycare mana yang saya pilih,” cerita Ukhtuna Eka membagi pengalamannya kepada Majalah HSI. Ukhtuna Eka adalah ASN yang menitipkan kedua putra-putrinya di daycare selama beliau bekerja.

Sebagai pegawai negeri, keputusan menitipkan ananda ke daycare, baginya adalah keputusan berat tapi mau tak mau harus diambil. Oleh karenanya warga Bogor ini mengaku berupaya selektif saat memilih daycare.

“Selain itu, karakter dari bunda-bunda yang akan mengasuh anak saya di daycare juga menjadi poin penting buat saya. Seperti apa pengasuhnya terlihat sabar terlatih dan profesional,” imbuh ibu yang sejak kelahiran anak pertama, memilih daycare sebagai partner dalam merawat putra-putrinya.

Mempertimbangkan Rasio Pengasuh dan Anak Asuhan

Implementasi visi dan misi daycare adalah berbagai program atau kegiatan yang diterapkan pada anak asuh. Oleh karenanya, setelah orang tua memahami visi-misi daycare yang dituju, mereka perlu memantau program-program harian.

“Kita perlu meneliti lebih dalam kegiatan apa yang diterapkan oleh daycare bagi anak-anak kita,” tutur ibu Eka. Dari berbagai kegiatan yang dijadwalkan, orang tua bisa memantau keberimbangan tenaga pengasuh dengan anak asuh. Misalnya, untuk kegiatan outdoor, umumnya daycare mempersiapkan kakak pengasuh lebih banyak dibanding kegiatan indoor karena anak-anak lebih bebas bergerak.

Dr. Ihsana menyatakan sebenarnya tidak ada aturan baku yang menentukan rasio jumlah pengawas dengan anak asuh di daycare. Dr. Ihsana hanya memberikan tips, kondisi anak asuh perlu dipertimbangkan dalam menetapkan jumlah pengawas. Jika anak-anak asuh itu lincah dan banyak, seperti halnya saat melakukan berbagai kegiatan outdoor, maka perlu tambahan tenaga pengasuh untuk memberi pengawasan. Dr. Ihsana mengingatkan bahwa rasio pengasuh dengan jumlah ananda yang diasuh, akan sangat memengaruhi pelayanan. Oleh sebab itu, hal ini merupakan poin penting untuk dipertimbangkan orang tua saat memilih daycare.

Anak adalah amanah yang Allah titipkan kepada orang tua. Apapun kondisi yang ‘memaksa’ orang tua menitipkan anak ke daycare, tentu tak akan mengubah posisi penanggung jawab dalam urusan mendidik serta mengasuh anak. Peran tersebut akan dipertanggungjawabkan orang tua di hadapan Allah, maka segala keputusan yang berdampak kepada anak, perlu pertimbangan matang dan purna. Mari memohon pertolongan Allah agar kita, para orang tua tak sampai salah langkah dalam berbagai perkara mengasuh anak. Semoga segala jerih payah upaya pengasuhan, Allah ganjar dengan anugerah anak-anak yang shalih.. aamiin. Baarakallahu fiikum..

0