Keliling HSI

Meniti Jalan ke Surga dengan Ilmu Dunia dan Agama

Reporter: Rizky Aditya Saputra

Redaktur: Hilyatul Fitriyah


Malam itu ba’da sholat Maghrib, langkah kaki Abu Ayeman terhenti. Sorot matanya takjub, sambil keheranan melihat pemandangan asing di dekat pintu 19 Masjid Nabawi. Sebuah halaqah agama disajikan oleh seorang ustadz dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Ia memberanikan diri ikut duduk di belakang kerumunan jamaah. Sembari menyimak ilmu yang disampaikan, hatinya bertanya-tanya, “Kok ada kajian bahasa Indonesia ya di Masjid Nabawi?”

Selepas kajian ia tertegun. Pemilik nama lengkap Ir. Iwan Juwana, S.T., M.EM., Ph.D ini melihat perbedaan yang begitu besar dari isi kajian yang baru saja ditekuninya dibanding ceramah-ceramah yang didengarnya sebelum itu. Ir. Iwan akhirnya mengetahui bahwa sang pemateri adalah Ustadz Abdullah Roy, pengajar tetap jamaah Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah. Itu kejadian sepuluh tahun lalu, tahun 2015.

Referensi yang Shahih

“Ketika itu ana sedang ada kesempatan di Masjid Nabawi, ana melihat beberapa halaqah. Kok ada halaqah orang Indonesia dan paling ramai? Ketika itu yang mengajar Ustadz Firanda dan Ustadz Abdullah Roy. Karena ramai ana tertarik ikut dan mendengarkan,” ujar Akhuna Iwan Juwana kepada Majalah HSI.

Sebagai seorang akademisi, Akhuna Iwan terbiasa mempertanyakan asal referensi dan alasan logis kala menyerap informasi-informasi. Hal itu jarang ia dapatkan dari isi ceramah-ceramah yang pernah didengar sebelumnya. Namun, tidak dengan ceramah Ustadz Abdullah Roy waktu itu, yang menurutnya demikian logis berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan pemahaman para salaf.

“Ana pertama kenal kajian sunnah sebenarnya pada 2012. Kajiannya agak beda, bagi kami. Kajian yang dibawakan ini sangat nyambung dan dari sisi konsep yang diajarkan kena banget. Sebagai akademisi, kami dituntut punya alasan untuk melakukan sesuatu, serta harus punya referensi. Mereka (ustadz, red) sangat kuat alasan-alasannya ketika menyampaikan sesuatu, tentu dasarnya Al-Quran dan Hadits,” ungkap Akhuna Iwan Juwana.

“Berbeda dengan banyak ceramah sebelumnya, yang membuat orang ketawa tapi tidak banyak yang bisa diambil,” ia berbagi pengalaman.

Daftar HSI Tahun 2016

Sepulang ibadah umrah kala itu, Akhuna Iwan kembali ke Australia. Ia dan sang istri tengah menempuh pendidikan S3. Di tengah kesibukan menimba ilmu yang bersifat duniawi, ayah satu anak ini merasa perlu menambah pengetahuan agama. Terlebih ketika itu, Akhuna Iwan tinggal di Australia yang mayoritas masyarakatnya adalah non muslim.

“Ana merasa adanya kebutuhan belajar agama. Karena di luar negeri, suasana keagamaan tidak sekuat di Indonesia, karena di sana bukan negara Islam. Akhirnya istri memberi info, ada pembelajaran online lewat Whatsapp namanya HSI. Pada 2016 istri mulai ikut HSI, setelahnya pada pembukaan berikutnya ana ikut mendaftar,” ucap Akhuna Iwan.

Semangat belajar Akhuna Iwan semakin kuat setelah mengikuti program HSI dan beberapa kajian ilmu daring lainnya. Tahun demi tahun ia lalui dengan menuntut ilmu dan kesabaran. Kini, tak terasa, santri Angkatan 162 itu telah memasuki tahun kesepuluh dalam menempuh ilmu di HSI.

“Sebenarnya ana ikut cukup banyak program daring. Ana pernah ikut IOU (Islamic Online University), BIAS (Bimbingan Islam) Ustadz Firanda, dan beberapa lainnya. Namun, dari sistem pembelajaran sepertinya HSI ini, maasyaa Allah, kian maju ya,” ujar pria yang berdomisili di Bandung ini.

“Ujian HSI sekarang sudah lebih rapi. Alhamdulillah, Allah mudahkan tidak putus belajar di HSI. Bahkan anak kami dari umur 5 tahun, senang ikut dengarkan. Sebelum ada aturan usia, anak ana di 2018 ikut sampai 2022,” ia menuturkan.

Dari Santri Menjadi Koordinator Musyrif

Selama 10 tahun belajar di HSI, Akhuna Iwan turut berperan aktif dalam mengikuti berbagai program. Di sela kesibukannya mengajar sebagai dosen, Akhuna Iwan bahkan telah direkomendasikan menjadi Musyrif HSI Mutun sejak setahun terakhir.

“Alhamdulillah, ana ikut HSI Reguler, HSI QITA juga sempat ikut sebentar, karena waktu itu ana sempat menjabat sebagai kepala LPPM, jadi untuk waktu lumayan hati-hati dalam menambah kesibukan. Dan tahun ini ana selesai menjabat, ada waktu yang bisa diisi lumayan banyak. Dan oleh mualif di HSI, ana direkomendasikan jadi koordinator musyrif HSI Mutun,” Akhuna Iwan memaparkan.

Dosen kampus Itenas Bandung ini menyadari betul pentingnya membagi waktu antara ilmu dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Akhuna Iwan berupaya menguatkan hati dalam menempuh ilmu agama di tengah kesibukannya sebagai kepala keluarga dan sebagai dosen.

Sebagai seorang muslim, Akhuna Iwan merasa kewajibannya dalam menuntun ilmu syar’i melebihi kewajiban dalam menuntut ilmu yang bersifat duniawi. Terlebih lagi dari beberapa kajian, ia mendengar sebuah hadits Nabi Muhammad yang menjelaskan tentang keterkaitan ilmu agama dengan surga.

“Dengan banyak mengaji kita semakin tahu apa yang sangat ditekankan agama. Kita perlu belajar agama dari tauhid dulu, meyakini itu. Ketika tauhid kuat, insyaallah, aman. Ilmu yang mengantarkan ke surga adalah ilmu syari. Lalu bagaimana kita mengabaikan ilmu syar’i? Sedangkan kita tahu dunia ini sebentar. Saat membagi waktu, kita mencoba meyakinkan diri, bahwa keilmuan dunia hanya dijadikan alat menuju surga,” jelasnya.

Pilih Keselamatan Agama

Berpegang teguh dalam agama yang haq ini, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pertentangan batin yang kuat sempat dirasakan Akhuna Iwan. Bagaimana tidak, lebih mudah bagi pria 48 tahun itu untuk hidup enak di Australia, jika tujuannya hanya mengejar dunia.

Selepas menyelesaikan S3 Jurusan Environmental Engineering & Management di Victoria University Australia, Akhuna Iwan memang sempat mendapat tawaran menggiurkan. Jika Akhuna Iwan mau, dia dapat tinggal dengan mudah di Australia, dengan iming-iming berbagai fasilitas serta gaji yang fantastis.

Di tengah dilema itu, Akhuna Iwan coba menggantungkan keputusan terbaik kepada Allah. Jawaban atas kegelisahan hatinya itu didapatkan dari sebuah kajian Ustadz Abu Haidar As-Sundawy di Bandung.

“Agak dilema memang. Ana sekolah S3 di sana dengan kondisi sangat mudah buat kami tinggal di Australia. Iming-iming fasilitas, lingkungan dan gaji besar. Namun, pada akhirnya ana konsultasi dengan Ustadz Abu Haidar, mengenai boleh atau tidaknya tinggal di negeri kafir. Beliau menjawab, kalau tujuannya kerja, tidak kuat alasannya. Kecuali kita tujuannya untuk berdakwah,” kata Akhuna Iwan.

“Karena jika hanya bekerja, baiknya bekerja di negara mayoritas muslim demi keselamatan agama. Sehingga berdasarkan itu, kami kembali ke Indonesia,” jelasnya.

Tantangan Hijrah

Kehidupan ini ibarat anak tangga. Untuk mencapai tujuan yang tinggi, diperlukan menapaki satu per satu tahapan di bawahnya nan sarat ujian. Setelah memilih tinggal di Indonesia, ujian kehidupan Akhuna Iwan memasuki babak baru. Tantangan hijrah ia dapatkan ketika mulai menerapkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad seperti memanjangkan janggut, menaikkan celana di atas mata kaki, hingga meninggalkan musik.

Alumnus Teknik Lingkungan ITB ini pernah mendapat ledekan dari rekan kerjanya karena menerapkan sunnah nabi. Padahal beberapa perubahan dia lakukan perlahan agar tidak menarik perhatian.

“Ketika janggut dibiarkan, ana ada bakat lebat. Ada guyon-guyon karena jadi beda. Tapi tidak terlalu ana dengarkan, seperti juga celana saat dipendekkan sedikit-sedikit, ternyata ada yang notice juga. Dibilang kebanjiran. Musik juga tantangan, kita meyakini musik itu haram. Padahal dulu kita sangat terikat dengan musik. Jadi kaset dan CD tuh banyak banget. Akhirnya kami hancurkan. Gitar digergaji dan dibuang,” kenangnya.

Alhamdulillah, Akhuna Iwan memiliki keluarga yang suportif. Tampaknya, hal ini yang membuat dirinya bersama istri, biidznillah, semakin kuat dalam menghadapi tantangan hijrah yang jelas tidak mudah.

“Pulang dari Australia, istri memutuskan tinggal di rumah. Pandangan orang lumayan berbeda. Jauh-jauh S3 di luar negeri, kok di rumah saja? Ditambah istri mulai memakai niqab. Semua itu tidak berat, insyaallah. Kami anggap sebagai tantangan saja,” ucap Akhuna Iwan.

Ia menambahkan, “Keluarga ana dan istri sangat terbuka. Kami juga memenuhi pesan Ustadzuna dalam mengubah penampilan, tetapi tetap membuat keluarga nyaman.”

Dakwah Lintas Negara

Dengan masifnya perkembangan teknologi, Akhuna Iwan berharap HSI dapat semakin baik dalam memfasilitasi kebutuhan umat terhadap dakwah lintas negara. Akhuna Iwan menyadari betul beratnya tantangan dakwah.

Namun ia yakin dengan niat yang lurus dan ridha Allah ‘Azza wa jalla, dakwah yang dibuat HSI secara terstruktur dan sistematis dapat diterima oleh semua kalangan, biidznillah.

“Semoga dakwah salaf ini ke depannya menjangkau tidak saja orang-orang yang sudah ngaji. Semoga menjangkau juga yang tinggal di luar negeri. Di sana, banyak yang bisa ditawarkan. Orang-orang sangat memerlukan kajian terstruktur, sistematis, dan logis. Di sana orang-orang yang sangat rapi, jadi kalau diberikan kajian yang sistematis, insyaallah, mereka akan menerima,” harap Akhuna Iwan.

Ia mengakhiri, “Semoga juga HSI membuat halaqah untuk menulis ilmiah. Karena kita sebagai muslim perlu menulis ilmiah atau daurah membuat desain. Sepertinya sangat penting bagi muslim menyampaikan ide dalam bentuk tulisan di berbagai jurnal.”

Semoga harapan antum terwujud ya, Akh. Sehat selalu untuk antum sekeluarga dan mari bersama tetap berkontribusi dalam dakwah haq ini. Semoga Allah meridhai antum sekeluarga dan kita semua, para penuntut ilmu syari. Baarakallahu fiikum.

2