Mengintip Pelatihan Calon Musyrifah untuk santri Baru Angkatan 252

Reporter: Gema Fitria

Redaktur: Dian Soekotjo


Musyrifah yang berkualitas tidak tiba-tiba terlahir, tetapi melewati proses yang terbilang panjang. Titik awal proses tersebut adalah Pelatihan Calon Musyrifah. Kegiatan rutin dari Divisi KBM ini dilaksanakan dua kali setahun, sebelum dibukanya penerimaan santri baru.

Dari Pelatihan tersebut diharapkan terpilih Musyrifah handal yang mampu mengemban amanah dengan baik. Materi yang diberikan selama pelatihan diharapkan cukup membekali para Musyrifah saat terjun bertugas.

Kali ini, Majalah HSI diizinkan mengintip perjalanan Pelatihan Calon Musyrifah Divisi KBM. Mulai tahapan seleksi hingga cerita pengalaman para trainer alias pelatih dan calon Musyrifah akan kami sajikan dalam liputan ini. Mari ikuti perjalanan awak Majalah HSI..

Panitia, Materi, dan Tahapan Seleksi

Salah satu panitia Pelatihan Calon Musyrifah ART252, Ukhtuna Surya Sari, mengatakan Pelatihan Calon Musyrifah ART252 dilaksanakan oleh Panitia Seleksi, Koordinator Angkatan ART252, dan sejumlah trainer. “Panitia Seleksi terdiri dari 4 orang, Koordinator Angkatan ART252 terdiri dari 2 orang, dan Trainer terdiri dari 13 orang,” ujar Ukhtu Sari merinci.

Adapun materi yang diberikan selama pelatihan meliputi pembelajaran tentang Manhaj Salafus Shalih, pengetahuan seputar teknis peradminan, serta adab dan komunikasi. Ukhtuna Sari melanjutkan, pelatihan yang dimulai dari tanggal 17 Mei sampai 30 Juni 2025 tersebut, diikuti oleh pendaftar awal sebanyak 224 orang. Peserta yang lolos seleksi tahap pertama sebanyak 127 orang. Tahap ini mencakup seleksi data, manhaj, keluangan waktu, dan nilai. Hingga laporan ini diturunkan, panitia tengah melakukan proses review seleksi akhir.

Hal yang selalu terjadi setiap kali diadakan pelatihan adalah mundurnya beberapa kandidat. “Ada yang mengundurkan diri selama pelatihan dengan berbagai alasan, dan beberapa alasan yang disampaikan adalah karena adanya kesibukan di dunia nyata, gadget yang tidak mendukung untuk menjalankan amanah, dan tidak ada kemampuan untuk melanjutkan pelatihan dikarenakan tidak bisa me-manage waktu dengan baik,” bebernya.

Pengalaman Trainer

Lalu bagaimana kisah Trainer dan Calon Musyrifah (CM) yang mengikuti Pelatihan kali ini? Salah satu Trainer yang juga Muraqibah ART242, Ukhtuna Argian Hapsarry Yullyarty, berusaha menyiapkan mental untuk menghadapi berbagai tipe Calon Musyrifah. Meskipun ini adalah pengalaman keduanya menjadi trainer, Ukhtuna Gian, sapaan akrabnya, mengaku masih deg-degan menjelang pelatihan dimulai.

Sebagai trainer, Ukhtuna Gian berusaha agar seluruh kandidat terlibat aktif. “Kurang aktif itu bisa 2 arti. Yang pertama dia hadir pada saat diskusi, tapi gak nanya. Kalau ini di-tag satu-satu yang gak aktif, ditanyain, biar jadi aktif di grup. Ada juga yang kurang aktif gak pernah hadir saat sesi diskusi. Kalau yang ini ditanyakan secara pribadi, apa ada kendala,” ungkapnya membagi jurus selama melatih calon-calon Musrifah.

Qadarullah, 5 dari 10 Calon Musyrifah di grup yang diampunya memutuskan mundur dari Pelatihan. “Di grup saya banyaknya karena keseharian Mbak, khawatir gak amanah nantinya. Ada juga yang Qadarullah hp-nya bermasalah jadi gak bisa buka WA sering-sering,” Ukhtuna Gian mengungkap alasan para calon Musyrifah.

Dua kali menjadi trainer, Ukhtuna Gian mengungkapkan hal yang membuat senang. “Sukanya itu kalo grupnya hidup, ramai, aktif pada tanya-tanya, baik tentang materi atau kesibukan-kesibukan saat bertugas nanti. Trus banyak yang lulus jadi Musyrifah dan pada bertugas dengan baik sesuai komitmennya,” ucapnya.

Trainer lainnya, Ukhtuna Dessy Widia, mengatakan bahwa ini adalah pengalaman pertamanya terlibat Pelatihan Calon Musyrifah. Awalnya, ia sempat khawatir melakukan kesalahan sehingga tidak bisa bertugas dengan maksimal.

Berbekal pengalamannya sebagai Musyrifah di angkatan 231, Ukhtuna Dessy berusaha menstimulasi Calon Musyrifah di grupnya. Caranya adalah dengan melempar isu atau pertanyaan sederhana untuk memancing respon mereka. “Biasanya yang kurang aktif adalah di sesi tanya jawab, tapi kalau kita kasih kuis, responnya cukup gercep untuk semua CM,” ungkapnya.

Namun, setelah dijalani, Ukhtuna Dessy menyebut pengalaman pertamanya ini cukup berkesan karena bisa berbagi pengalaman sebagai Musyrifah dan menambah pengalaman pribadi sebagai trainer. “Dengan segala keterbatasan ilmu dan pengalaman, tapi senang bisa sedikit memberi manfaat. Ini juga sebagai pembelajaran buat diri sendiri,” ucap santri angkatan 221 ini.

Pengalaman Calon Musyrifah

Calon Musyrifah pertama yang dihubungi Majalah adalah Ukhtuna Kartini. Santri angkatan 211 yang berdomisili di Kebumen ini mantap mengikuti proses rekrutmen semata-mata karena Allah. “Ana ingin hp dan kuota data yang berupa harta ini menjadi wasilah yang bermanfaat dan menjadi hujjah kelak di hadapan Allah Ta’ala,” tuturnya.

Pengalaman pertamanya mengikuti Pelatihan Calon Musyrifah memberikan gambaran kepadanya bahwa tugas Musyrifah ternyata tidak sesederhana membagikan audio materi, mengirim reminder evaluasi, atau meneruskan kabar divisi-divisi seperti yang sering dilihatnya di Grup Materi dan Diskusi.

Selama pelatihan, Ukhtuna Kartini belajar bagaimana adab dan akhlak yang baik, belajar disiplin tapi tidak kaku, luwes tapi tegas. “Kami semua dituntut untuk bertanggung jawab terhadap peran yang sudah kami pilih, yaitu sebagai CM. Kelak ketika bertugas menjadi Musyrifah HSI, mau tidak mau, suka tidak suka, nama HSI akan melekat pada diri kami sebagai Musyrifah dan menjadi pengingat untuk menjaga adab dan akhlak yang baik di manapun berada,” sambungnya.

Saat ditanya materi yang disukai, Ukhtuna Kartini mengatakan favoritnya adalah cara menghitung nilai. “Buat ana yang sudah lama sekali menjadi ibu rumah tangga, tiba-tiba dikasih rumus dan soal cara penghitungan nilai seperti mengulang zaman sekolah dulu. Memacu adrenalin..dan ternyata asyik menghitung nilai karena butuh ketelitian,” ucap wanita 49 tahun ini.

Ukhtuna Kartini mengaku sangat menikmati masa-masa pelatihan, termasuk interaksi dengan semua anggota di grupnya. Dari yang awalnya tidak saling mengenal hingga suasana cair dan akrab berdiskusi sampai melebihi batas waktu yang disepakati. “Ketika 2 pekan telah selesai, kami diperbolehkan untuk keluar dari GD CM, rasanya berat sekali, karena seperti sudah ada ikatan batin satu sama lain, dan saling memahami kondisi masing-masing. Dan untuk trainer kami, Maasyaa Allah, sabar, luwes, dan komunikatif dalam membimbing kami semua,” tutupnya.

Motivasi yang hampir sama datang dari calon lainnya, yaitu Ukhtuna Azizah Nur Hasna. Kepada Majalah HSI, Ukhtuna Azizah mengungkapkan keinginannya untuk berpartisipasi dalam dakwah. Ukhtuna Azizah melihat, hal kecil yang mungkin mampu dilakoninya di bidang dakwah adalah dengan menjadi Musyrifah di kelas Reguler HSI. Ia yakin Musyrifah senantiasa di atas kebaikan selama mendampingi santri yang sedang menuntut ilmu, insyaallah.

Selama pelatihan berlangsung, Ukhtuna Azizah kagum melihat semangat para Calon Musyrifah di grupnya. Di tengah kesibukan masing-masing, lanjutnya, Calon Musyrifah tetap mengupayakan yang terbaik dalam melaksanakan tugas yang diberikan trainer.

Pelatihan membawa Ukhtuna Azizah mengenal teman-teman baru dan mendapat ilmu baru. Disampaikannya, pelajaran unik yang didapat selama pelatihan adalah bagaimana adab komunikasi online, karena jari kita ternyata bisa menyebabkan beragam penafsiran dari berbagai kata atau kalimat dalam chat. Menurutnya, hal ini penting dipahami untuk mencegah terjadinya konflik.

Ilmu yang baru didapatnya antara lain cara menghitung nilai dan problem solving saat dihadapkan berbagai masalah belajar santri. Ukhtuna Azizah menyebut materi itu sangat membutuhkan ketelitian dan kesabaran. “Apalagi bagi kami yang sebelumnya hanya peserta, lalu ingin mencoba hal baru dengan masuk ke dunia musyrifah. Ternyata lumayan banyak hal baru yang perlu diketahui,” kata wanita yang berdomisili di Jember ini.

Di ujung wawancara, Ukhtuna Azizah menyampaikan harapan jika terpilih menjadi Musyrifah. “Kalau saya lolos seleksi, saya ingin menjadi Musyrifah yang baik dan ramah seperti Mbak Trainer, hehe... Semoga saya bisa membantu tugas para Musyrifah sebelumnya, hingga mengalirkan pahala pada kita semua, aamiin,” tulisnya.

Pengalaman pertama kali juga dirasakan Ukhtuna Shofa Nur Latifa. Meskipun motivasi mengikuti seleksi Calon Musyrifah adalah agar waktunya bisa lebih bermanfaat, santri Angkatan 231 yang kerap disapa Ukhtuna Shofa ini di awal masa Pelatihan sempat merasa tugas Musyrifah terlalu berat.

“Awal-awal masuk pelatihan rasanya kayak kok ribet banget ya…, karena tugasnya tuh banyak banget. Terus menghadapi santri yang banyak, juga dengan segala macam latar belakang, tapi ya terus jalani dulu aja,” katanya.

Sama seperti Ukhtuna Kartini dan Ukhtuna Azizah, sesi perhitungan nilai adalah materi favorit Ukhtuna Shofa. “Hal paling seru selama pelatihan adalah mengerjakan kuis hitung-hitungan, hehehe… walaupun beberapa kali salah karena belum terlalu paham, tapi jadi kayak pengen coba lagi coba lagi aja,” ujarnya dengan nada penasaran.

Alhamdulillah Ukhtuna Shofa mendapatkan kesan yang baik. “Trainer-nya enak, seru diajak diskusi, teman-temannya juga banyak nanya, jadi rame di kelas. Walau ada beberapa yang keluar karena satu dan lain hal. Di sana jadi belajar tentang cara berkomunikasi, belajar merangkai kata, menghadapi santri. Walau pun kemarin hanya kuis, tapi tetap berasa tegangnya. Mesti mikir harusnya jawab gimana yang sopan dan tegas,” tukas Ukhtuna Shofa.

Semoga para Calon Musyrifah yang nanti terpilih adalah pribadi yang jujur dalam niat dan bisa mengoptimalkan perannya sesuai amanah dakwah. Semoga Allah mudahkan urusan semua pihak yang terlibat dalam pelatihan dan Allah beri pahala yang sempurna atas upaya masing-masing. Baarakallahu fiikum.

0