Aqidah

Mengikuti Salaf: Antara Ilmu dan Batas Akal

Penulis: Abu Ady, S.Pd.I., M.A.

Editor: Athirah Mustadjab


Tidak semua pertanyaan menunjukkan kedalaman ilmu. Sebagian pertanyaan justru menunjukkan bahwa seseorang belum mengetahui batas yang ia boleh lewati. Dalam urusan dunia, kesalahan semacam ini mungkin hanya menghasilkan jawaban yang keliru. Namun, ketika pertanyaan itu berkaitan dengan Allah Ta’ala, kesalahan berbicara bisa membawa seseorang ke sesuatu yang jauh lebih berbahaya: mengatakan tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu.

Akal manusia senang mengetuk pintu-pintu yang tertutup. Ia ingin tahu apa yang ada di baliknya, bagaimana hakikatnya, dan sejauh mana ia bisa melangkah. Dorongan untuk mengetahui adalah sesuatu yang baik. Namun, tidak semua pintu memang diperintahkan untuk dibuka, dan tidak setiap wilayah boleh dimasuki dengan dugaan. Ada hal-hal yang dapat diketahui, ada hal-hal yang belum kita ketahui, dan ada pula perkara yang memang tidak diberikan kemampuan kepada manusia untuk mengetahui hakikatnya.

Lalu, bagaimana ketika yang sedang kita bicarakan adalah Allah Ta’ala? Ketika Al-Qur’an dan hadits menyebutkan nama dan sifat-Nya, sejauh mana kita boleh bertanya, berpikir, dan berbicara? Apakah setiap pertanyaan tentang Allah Ta’ala harus dicari jawabannya? Apakah segala sesuatu yang dapat dibayangkan oleh akal boleh kita tetapkan? Ataukah ada titik tertentu di mana seorang mukmin harus berkata, “Sampai di sini saya berhenti”?

Jawabannya tidak cukup dengan mengatakan, “Gunakan akal,” atau sebaliknya, “Jangan gunakan akal.” Yang lebih penting adalah bagaimana akal ditempatkan di hadapan wahyu dan bagaimana dalil dipahami sebagaimana dipahami oleh generasi terbaik umat ini: para sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka tidak menolak apa yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan tentang nama dan sifat-Nya. Mereka tidak mengubah dalil agar sesuai dengan pemahaman akal. Mereka juga tidak menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk. Mereka mengimani kandungan wahyu, menetapkannya sebagaimana mestinya, dan berhenti pada batas yang telah ditetapkan wahyu.

Oleh karena itu, mengenal Allah Ta’ala membutuhkan ilmu, tetapi bukan sekadar ilmu tentang teks. Kita juga membutuhkan ilmu tentang cara memahami teks tersebut. Dalam perkara nama dan sifat Allah Ta’ala, keselamatan bukan hanya dengan memiliki dalil, tetapi dengan memahami dalil tersebut di atas jalan yang ditempuh para salaf atau generasi terdahulu. Mereka adalah generasi yang paling memahami Al-Qur’an, paling mengetahui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, paling bersih dari hawa nafsu dalam menerima kebenaran, dan paling hati-hati ketika berbicara tentang Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ketika kita tidak mengetahui, jalan yang benar bukanlah mengisi kekosongan ilmu dengan dugaan. Kita bertanya kepada orang yang memiliki ilmu. Demikian pula dalam memahami ayat dan hadits tentang nama dan sifat Allah Ta’ala. Kita perlu melihat bagaimana generasi yang paling dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memahami wahyu tersebut.

Allah Ta’ala adalah Dzat yang paling mengetahui diri-Nya sendiri. Tidak ada makhluk yang lebih mengetahui tentang Allah Ta’ala daripada Allah Ta’ala sendiri. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling mengetahui tentang Rabbnya karena beliau menerima wahyu dan mengajarkannya kepada umat. Oleh sebab itu, sumber utama dalam mengenal Allah Ta’ala bukanlah khayalan manusia, filsafat, atau dugaan akal yang berdiri sendiri. Sumber utamanya adalah Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman ulama salaf.

Allah Ta’ala adalah yang menciptakan kita juga yang paling mengetahui tentang diri-Nya, maka ketika Allah Ta’ala memperkenalkan diri-Nya melalui wahyu, sikap seorang mukmin adalah menerima dan membenarkannya. Di sinilah pentingnya memahami posisi akal. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mematikan akal. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala, dan mengambil pelajaran. Namun akal bukanlah hakim yang bebas menentukan apa yang boleh dan tidak boleh berasal dari wahyu.

Akal memiliki kemampuan, tetapi juga memiliki batas. Ia dapat memahami banyak perkara, tetapi tidak dapat menjangkau segala sesuatu. Mata manusia dapat melihat banyak benda, tetapi tidak dapat melihat semua yang ada. Telinga manusia dapat mendengar banyak suara, tetapi tidak semua suara dapat ditangkapnya. Demikian pula akal dapat memahami banyak hal, tetapi tidak berarti ia mampu mengetahui seluruh hakikat yang ada, terutama perkara gaib. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Sedangkan mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan ilmu.” (QS. Thaha: 110)

Manusia tidak mungkin meliputi Allah Ta’ala dengan ilmunya. Dengan demikian, ketika wahyu menjelaskan sesuatu tentang Allah Ta’ala, kita tidak boleh menjadikan keterbatasan akal sebagai alasan untuk menolak berita tersebut. Sebaliknya, kita beriman kepada berita yang datang dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil menyadari bahwa kita tidak mengetahui seluruh hakikatnya.

Para salaf memiliki sikap yang sangat jelas dalam masalah ini. Mereka menerima apa yang datang dari Al-Qur’an dan sunnah tentang Allah Ta’ala. Mereka tidak menolak sifat-sifat Allah Ta’ala hanya karena tidak mampu membayangkan bagaimana sifat tersebut.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Kami mengimani nama dan sifat Allah, membenarkannya tanpa menentukan bagaimana hakikatnya dan tanpa memberikan makna yang menyimpang. Kami tidak menolak sedikit pun darinya. Kami mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kebenaran. Kami tidak menolak apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak menyifati Allah Ta’ala lebih dari apa yang Dia sifatkan bagi diri-Nya, tanpa menentukan batas dan tanpa menentukan hakikat atau ujungnya. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Kami mengatakan sebagaimana yang Dia firmankan, dan kami menyifati-Nya dengan apa yang Dia sifatkan bagi diri-Nya. Kami tidak melampaui hal tersebut. Tidak ada seorang pun yang mampu menggambarkan Allah Ta’ala dengan sempurna.

Kami beriman kepada seluruh Al-Qur’an, baik ayat-ayatnya yang muhkam maupun yang mutasyabih. Kami tidak menghilangkan satu pun sifat Allah Ta’ala hanya karena ada orang yang menganggapnya buruk atau tidak pantas. Kami tidak melampaui Al-Qur’an dan hadits. Kami tidak mengetahui bagaimana hakikat sifat tersebut, kecuali dengan membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menetapkan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an.” (Lum’atul I’tiqad, hlm. 7)

Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa ucapan Imam Ahmad tersebut mengandung beberapa prinsip penting.

Pertama, wajib beriman dan membenarkan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah yang datang dari Rasulullah, tanpa menambah atau mengurangi, serta tanpa menentukan batas atau hakikatnya.

Kedua, kita tidak menentukan bagaimana sifat-sifat Allah. Maksudnya, kita tidak boleh menentukan bagaimana sifat-sifat tersebut karena kita tidak mengetahui hakikatnya. Namun, bukan berarti sifat-sifat Allah tidak memiliki hakikat. Sifat-sifat Allah benar-benar ada, tetapi bagaimana hakikatnya tidak kita ketahui.

Adapun maksud perkataan “makna yang menyimpang” adalah kita tidak boleh memberikan makna yang bertentangan dengan makna yang tampak dari nash, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan takwil. Yang dimaksud bukan meniadakan makna yang benar dan sesuai dengan nash yang telah dijelaskan oleh para salaf. Hal ini ditunjukkan oleh perkataan Imam Ahmad bahwa kita tidak menolak satu pun dari sifat-sifat tersebut, menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan bagi diri-Nya, dan tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Dengan demikian, makna yang dimaksud tetap kita tetapkan, sedangkan kaifiyahnya tidak kita ketahui.

Ketiga, wajib beriman kepada seluruh Al-Qur’an, baik ayat yang muhkam maupun yang mutasyabih. Ayat muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat mutasyabih adalah ayat yang maknanya sulit dipahami. Ayat yang mutasyabih dikembalikan kepada ayat yang muhkam agar maknanya menjadi jelas. Jika maknanya tetap belum jelas, kita wajib mengimaninya dan menyerahkan pengetahuan tentang maknanya kepada Allah. (Ta’liq Mukhtashar ‘ala Lum’atil I’tiqad, hlm. 36)

Inilah prinsip yang sangat penting: tidak melampaui wahyu. Penerapannya:

  • Kita mengimani kabar yang Allah Ta’ala sampaikan tentang diri-Nya.
  • Kita membenarkan berita yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Allah Ta’ala.
  • Kita tidak menambah-nambahkan sifat yang tidak ditetapkan oleh wahyu.
  • Kita juga tidak mengurangi atau menolak sifat yang telah ditetapkan oleh wahyu.

Sikap ini dapat diringkas dengan beberapa istilah yang digunakan para ulama, yaitu الإقرار والإثبات والإمرار: mengakui, menetapkan, dan membiarkan nash berjalan sebagaimana datangnya, tanpa mengubahnya dan tanpa menentukan kaifiyah-nya.

Namun, perlu dipahami dengan tepat. “Membiarkan nash sebagaimana datangnya” bukan berarti kita mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut tidak memiliki makna yang dapat dipahami. Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas. Allah Ta’ala memerintahkan manusia untuk mentadaburi Al-Qur’an. Oleh sebab itu, makna bahasa yang ditunjukkan oleh lafaz dapat dipahami.

Yang tidak kita ketahui adalah kaifiyah (bagaimana atau caranya) dan hakikatnya. Kita mengetahui bahwa Allah Ta’ala Maha Mendengar. Kita mengetahui makna mendengar secara bahasa. Namun, kita tidak mengetahui bagaimana hakikat pendengaran Allah Ta’ala. Kita mengetahui bahwa Allah Ta’ala Maha Melihat. Kita mengetahui makna melihat. Namun kita tidak mengetahui bagaimana hakikat penglihatan Allah Ta’ala.

Demikian pula, ketika Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia beristiwa di atas ‘Arsy. Kita mengimani apa yang Allah Ta’ala kabarkan. Kita memahami makna lafaz tersebut sesuai dengan bahasa Arab dan penjelasan para salaf. Tetapi kita tidak mengetahui bagaimana kaifiyah istiwa Allah Ta’ala.

Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah ditanya. Seseorang berkata, “Wahai Abu Abdullah, bagaimana Allah Ta’ala bersemayam di atas ‘Arsy dalam firman-Nya,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Imam Malik rahimahullah menjawab “Bersemayam bukanlah sesuatu yang tidak diketahui maknanya, sedangkan bagaimana hakikatnya tidak dapat diketahui oleh akal. Mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentang bagaimana hakikatnya adalah bid‘ah.” (Luma’tul I’tiqad, hlm. 14 dan ‘Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits, hlm. 42)

Selanjutnya, Imam Malik memerintahkan agar orang tersebut dikeluarkan. Sikap Imam Malik tersebut menunjukkan perbedaan antara mengetahui makna dan mengetahui kaifiyah. Misalnya, kita tidak mengatakan bahwa kata “istiwa” tidak memiliki makna. Sebaliknya, kita memahami maknanya sebagaimana dipahami dalam bahasa Arab dan sebagaimana dijelaskan oleh para salaf. Namun, bagaimana hakikat dan kaifiyah bersemayam Allah Ta’ala tidak ada dalil yang menjelaskannya kepada kita. Dengan demikian, kita tidak boleh membuat-buat gambaran tentangnya.

Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai tafwidh al-kaifiyah, yaitu menyerahkan pengetahuan tentang bagaimana hakikat sifat tersebut kepada Allah Ta’ala. Ini bukan berarti menyerahkan makna kepada sesuatu yang tidak diketahui sama sekali. Jika semua makna ayat-ayat sifat tidak dapat dipahami, maka Al-Qur’an tidak akan menjadi kitab petunjuk yang dapat ditadaburi. Yang tidak diketahui adalah hakikat dan kaifiyah sifat Allah Ta’ala, bukan makna lafaz yang digunakan.

Menetapkan sifat Allah Ta’ala juga tidak berarti menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk. Justru Al-Qur’an telah memberikan kaidah yang sangat jelas tentang hal ini. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Perhatikan bagaimana ayat ini menggabungkan dua perkara sekaligus. Allah Ta’ala menafikan keserupaan dengan makhluk, kemudian menetapkan bagi-Nya sifat mendengar dan melihat. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengatakan, “Manusia mendengar, sehingga pendengaran Allah Ta’ala pasti seperti pendengaran manusia.” Ini adalah penyerupaan terhadap Allah Ta’ala dengan makhluk. Selain itu, kita juga tidak boleh mengatakan, “Karena Allah Ta’ala tidak serupa dengan makhluk, berarti kita tidak boleh menetapkan bahwa Allah Ta’ala Maha Mendengar.” Ini berarti menolak apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya.

Dengan demikian, menetapkan sifat Allah Ta’ala tidak berarti membayangkan bentuk sifat tersebut berdasarkan sifat makhluk. Kita menetapkannya sebagaimana Allah Ta’ala menetapkannya bagi diri-Nya, sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Di sinilah pembahasan tentang akal harus ditempatkan dengan tepat. Kesalahan sebagian orang adalah mengira bahwa ketika membicarakan akidah, seseorang cukup berkata, “Saya akan menggunakan akal saya.” Padahal pertanyaannya bukan sekadar apakah kita menggunakan akal, tetapi akal siapa yang menjadi ukuran terakhir dalam memahami wahyu.

Jika setiap orang bebas menjadikan akalnya sebagai ukuran terakhir, maka satu ayat dapat menghasilkan berbagai pemahaman yang saling bertentangan. Sesuatu yang menurut seseorang masuk akal mungkin dianggap tidak masuk akal oleh orang lain. Berdasarkan hal tersebut, jika wahyu harus selalu disesuaikan dengan pemikiran masing-masing, akhirnya wahyu bukan lagi menjadi petunjuk bagi akal, tetapi justru akal yang menjadi penguasa atas wahyu.

Atas dasar itulah, dalam memahami nash-nash aqidah, kita membutuhkan pemahaman para salaf. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka.” (HR. Bukhari, no. 2509 dan Muslim, no. 2533)

Para sahabat bukan sekadar orang-orang yang hidup lebih dahulu. Mereka adalah generasi yang menyaksikan turunnya wahyu, belajar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengetahui sebab-sebab turunnya ayat, memahami bahasa Arab, dan melihat bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan agama.

Intinya, mengikuti pemahaman para sahabat dalam urusan agama merupakan usaha untuk memahami wahyu melalui jalan generasi yang paling dekat dengan sumber wahyu tersebut. Oleh karenanya, ketika kita membaca ayat tentang sifat Allah Ta’ala, pertanyaannya tidak cukup, “Apa yang saya pahami dari ayat ini?” Pertanyaan yang lebih selamat adalah, “Bagaimana ayat ini dipahami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, lalu bagaimana para ulama salaf menjelaskannya?”

Sebagian orang mungkin bertanya, “Mengapa para salaf tidak membahas semua kemungkinan? Bukankah mereka memiliki akal?” Justru karena mereka memiliki ilmu, mereka mengetahui perkara yang dapat dijelaskan dan mana yang harus dihentikan.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah memberikan panduan secara rinci, “Berhentilah di tempat para sahabat dan generasi terdahulu berhenti. Mereka berhenti karena memiliki ilmu. Mereka menahan diri karena memiliki pemahaman yang mendalam. Mereka sebenarnya lebih mampu untuk menjelaskan dan membahas perkara-perkara tersebut. Jika membahasnya memang merupakan sesuatu yang lebih baik, tentu mereka sudah lebih dahulu melakukannya.

Jika kalian berkata, ‘Perkara itu baru muncul setelah mereka,’ maka perkara tersebut tidaklah muncul kecuali dari orang-orang yang menyelisihi jalan mereka dan meninggalkan sunnah mereka. Para generasi terdahulu telah menjelaskan perkara yang perlu dijelaskan dengan penjelasan yang mencukupi dan telah membicarakan apa yang perlu dibicarakan dengan kadar yang cukup. Tidak ada yang perlu ditambahkan melebihi penjelasan mereka, dan tidak ada yang boleh mengurangi apa yang telah mereka jelaskan.

Ada sebagian orang yang tidak mengikuti mereka dengan baik, sehingga mereka bersikap terlalu keras dan berlebihan dalam meninggalkan sebagian perkara. Ada pula yang melampaui mereka, sehingga mereka bersikap berlebihan. Adapun generasi terdahulu berada di antara kedua sikap tersebut, di atas jalan yang lurus.” (Luma’tul I’tiqad, hlm. 8–9)

Perhatikan alasannya! Mereka berhenti berdasarkan ilmu. Mereka tidak berhenti karena tidak mampu berpikir. Mereka berhenti karena mengetahui bahwa perkara tersebut memang bukan wilayah yang diperintahkan untuk mereka selami.

Ketika kita berbicara tentang mengenal Allah Ta’ala, jangan berhenti pada slogan “kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah”. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana Al-Qur’an dan Sunnah itu dipahami? Inilah titik yang sangat penting.

Jawabannya adalah memahami Al-Qur’an dan Sunnah tersebut sesuai dengan pemahaman para salaf karena mereka beriman kepada nama dan sifat Allah Ta’ala sebagaimana datang dari dalil. Mereka menetapkan sesuai dengan cara yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala bagi diri-Nya dan sesuai dengan cara yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi Allah Ta’ala. Mereka menyucikan Allah Ta’ala dari segala keserupaan dengan makhluk. Mereka memahami makna yang ditunjukkan oleh nash sesuai bahasa dan konteksnya, tetapi tidak memaksakan diri mengetahui kaifiyah dan hakikat sifat Allah Ta’ala yang tidak diberitahukan kepada mereka.

Dengan kata lain, mengikuti para salaf bukan berarti mematikan akal. Justru mengikuti salaf berarti menggunakan akal sebagaimana mestinya, yaitu untuk memahami wahyu, bukan untuk menundukkan wahyu kepada seluruh dugaan dan batas pemikiran manusia. Ketika wahyu telah berbicara, kita tunduk. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, kita menerima. Ketika para sahabat dan para salaf telah menunjukkan bagaimana nash itu dipahami, kita mengikuti. Adapun perkara yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak jelaskan, jangan kita isi dengan khayalan, dugaan, atau keberanian berbicara tanpa ilmu.

Kesimpulannya, kita memahami bahwa dalam mengenal Allah Ta’ala, keselamatan bukan pada sejauh mana kita mampu berspekulasi, tetapi pada sejauh mana kita setia mengikuti wahyu dan pemahaman para salaf. Ilmu yang benar tidak hanya membuat seseorang mampu menjawab, tetapi juga mengajarkannya kapan harus berhenti.

Referensi

  • Shahih Al-Bukhari, Imam Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Luma’tul I’tiqad, Ibn Qadamah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Ta’liq Mukhtashar ‘ala Luma’til I’tiqad, Syaik Ibn Al Utsaimin, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits, Ash-Shabuni (pdf).
10