Mengelola Emosi Ala Ibu
Reporter : Loly Syahrul
Redaktur: Gema Fitria
مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
"Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk."
(HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menginginkan umatnya meraih keselamatan di dunia dan akhirat. Karena itulah, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan banyak hal yang menjadi jalan menuju kebaikan, termasuk saat menghadapi emosi. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan agar kita tidak mudah marah, itu bukan sekadar larangan. Di balik nasihat tersebut ada kasih sayang beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang menginginkan hidup kita lebih tenang, hubungan dengan sesama lebih baik, dan hati kita lebih dekat kepada Allah.
Bagi seorang ibu, nasihat ini terasa demikian relevan. Rutinitas rumah tangga yang seolah tidak ada habisnya, tangisan anak, pekerjaan yang menumpuk, hingga rasa lelah yang sering dipendam dapat menguras kesabaran. Dalam kondisi seperti itulah, kemampuan mengelola emosi menjadi bekal yang sangat berharga. Sebab, ketenangan seorang ibu bukan hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga akan memberi warna bagi suasana rumah dan seluruh anggota keluarganya.
Perselisihan Tak Terelakkan
Tujuan pernikahan tak lain adalah untuk mendapatkan rahmat dan ketenangan jiwa bagi sepasang suami-istri. Namun, mahligai bisa saja berjalan tidak harmoni, jauh dari harapan awal ketika membina rumah tangga. Ketidakharmonisan mungkin dipicu berbagai hal, misalnya latar belakang keluarga, budaya, pola asuh, atau pendidikan yang beda warna. Perbedaan tersebut bisa menjadi cikal bakal bersinggungannya prinsip-prinsip pemahaman beragama, cara pandang terhadap kehidupan, maupun pengambilan keputusan dalam menghadapi masalah. Ini adalah hal-hal besar.
Di sisi lain, dinamika kehidupan sehari-hari di samping prinsip-prinsip besar, kerap turut menguji. Suami yang kurang peka terhadap kelelahan istri, istri yang memaksakan standarnya, anak-anak yang sangat mudah terpengaruh lingkungan negatif, kesemuanya itu rentan menjadi pemicu munculnya emosi apabila tidak disikapi dengan bijak.
Ukhtuna Twi Rahayu, santri HSI Qatayef angkatan 2026, menyadari bahwa segala perbedaan atau ujian yang datang dari luar, bukanlah alasan untuk terus mempertahankan pertengkaran. Menurutnya, komunikasi yang baik menjadi salah satu kunci menjembatani potensi konflik tersebut.
Ia mengatakan, “Komunikasi, saling menghormati, dan berusaha mencari hasil yang terbaik adalah upaya saya memperpendek jurang perbedaan, sehingga perbedaan tidak menjadi sumber pertengkaran kami. Tentu saja kompromi yang selalu kami kedepankan harus sejalan dengan syariat Islam yang shahih. Insyaallah bisa membawa kami kepada sakinah, mawaddah, warahmah.”
Sementara, Ukhtuna Alicia, salah seorang Musyrifah HSI justru memandang perselisihan dalam rumah tangga adalah suatu yang wajar. Ia merasa di balik tiap benturan itu ada hikmah bagi perjalanan rumah tangganya.
“Adanya perselisihan dalam keluarga ini banyak memberi kami pelajaran hidup dan kami terus meneguk harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah mudahkan jalan kami dalam melewatinya. Kami tetap berbaik sangka kepada Allah meski dalam kondisi terburuk sekalipun. Allah bersama orang yang sabar. Ana jadikan itu pegangan dan coba pahamkan ke anak-anak juga,” ungkapnya.
Jurus Ibu Mengelola Emosi
Agar bisa menikmati hidup dengan tenang meskipun dikepung rutinitas yang berulang setiap hari, ibu perlu mengenal dirinya lebih jauh. Ibu juga harus mengondisikan agar selalu berdzikir karena demikianlah syariat mengajarkan. Mengikuti aturan semisal tidak membantah perkataan suami, sebisa mungkin menghindari perdebatan di hadapan anak, berusaha sekuat tenaga menjaga lisan dari ucapan yang tidak baik, bersabar, berwudhu, dan meminta pertolongan dengan shalat, insyaallah bisa menjadi tameng para ibu dari bersikap buruk akibat keliru dalam mengelola perasaan yang datang.
“Diam adalah cara saya menguasai emosi, agar tidak melakukan yang buruk ketika marah,” Ukhtuna Kusdayati membuka resep mengendalikan emosinya. “Ketenangan hati untuk menjauhkannya dari emosi adalah hal yang sangat penting buat saya, karena ibu adalah jantungnya rumah tangga. Jika ibu sudah dikuasai oleh emosi maka keburukan bukan hanya akan datang pada sang ibu, akan tetapi juga akan menimpa anak-anak dan suami. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keadaan yang demikian,” imbuhnya.
Diam dan dzikir juga jadi solusi untuk menguasai emosi bagi Ukhtuna Alicia. Ibu dari dua putra dan satu putri ini membeberkan tips yang sering dilakukannya. “Jadi ibu tidak bisa seenaknya melepaskan emosi. Sebelum emosi berlebihan, ana tarik diri dulu. Jangan terprovokasi, doa banyak-banyak minta pertolongan Allah dan membaca Al-Qur’an,” tukasnya.
Merajut Kehangatan Keluarga
Ketika emosi sudah tidak bisa dicegah sehingga akhirnya pecah, maka residu dari sisa kemarahan yang terlanjur dilepaskan tentu saja masih bisa mengusik ketenangan di antara anggota keluarga. Untuk mengembalikan kepada keadaan semula, ibu harus muhasabah, istighfar, minta maaf pada suami dan anak-anak. Jika diperlukan, luangkan waktu khusus bersama keluarga, misal rihlah ke pegunungan agar hati bisa saling bertaut kembali.
Inilah yang kadang dilakukan Ukhtu Twi. “Adakalanya kami pergi jalan-jalan berdua bersama suami. Justru pada saat kondisi sudah nyaman itulah kami mendapatkan solusi dari masalah yang menguras emosi sebelumnya. Alhamdulillah,” tuturnya.
Ukhtuna Alicia meyakini bahwa peristiwa yang sudah terjadi adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak. “Jika ini sudah terjadi, sudah qadarullah..ini sudah jalannya. Kita bisa belajar dari situ. Berusaha untuk tidak berburuk sangka pada siapapun. Saling mengingatkan dalam kebaikan. Memasrahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Insyaallah bersama Allah hati menjadi tentram,” ungkapnya.
Menggapai Sakinah Bersama Keluarga
Sakinah adalah hasil akhir yang dijanjikan bagi rumah tangga yang dibangun di atas kerangka ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sakinah adalah buah dari ketaatan seluruh anggota keluarga, bukan diusahakan oleh ibu saja. Ibu bisa jadi motor penggerak bersama suami untuk mencontohkan amalan-amalan ketaatan yang sesuai dengan syariat yang shahih, seperti menjaga ibadah wajib dan merutinkan amalan sunnah, bersama-sama mendatangi majelis ilmu serta sering melakukan aktivitas yang positif.
Ukhtuna Twi mengamini konsep ini. “Ketenangan di dalam rumah bukan hanya diusahakan oleh ibu, tetapi semua anggota keluarga, suami dan anak-anak. Ibu memang yang paling banyak berinteraksi dengan anak-anak, maka seorang ibu harus bisa menjaga emosi, tutur kata, dan tindakannya. Kegiatan mengurus rumah yang dilakukan secara bersama-sama bisa menjadi salah satu sebab terciptanya ketenangan, karena akan muncul rasa saling membantu, menghargai, tanggung jawab, kerjasama, komunikasi, dan berkhidmat kepada orang tua,” ucapnya.
Lebih lanjut Ukhtuna Twi mengatakan bahwa setiap pasangan harus saling menjaga adab, saling menunjukkan kasih sayang, memanggil pasangan dengan panggilan yang diinginkannya, memeluk, saling memuji, dan saling mendoakan satu sama lain dengan doa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kadang hidup tidak memberikan banyak pilihan kepada seorang ibu. Tingginya beban yang dipikul sering membuat ibu kehilangan kesabaran karena masalah sepele. Namun, banyaknya tugas sang murabbiyah tidak lantas membuatnya bebas menumpahkan kemarahan di hadapan suami dan putra-putrinya. Sangat mungkin kata-kata buruk yang diucapkan sang ibu akan membekas di ingatan mereka sepanjang usianya. Maka, jadilah ibu cerdas yang pandai menyembunyikan kekesalan saat emosi sedang liar bergejolak, karena ketenangan rumah berawal dari ketenangan sang ibu. Tetaplah senantiasa meminta pertolongan kepada Allah agar kita mampu mengendalikan emosi dengan bijak.
***