Mengajarkan Manajemen Waktu kepada Anak
Penulis: Indah Ummu Halwa
Editor: Za Ummu Raihan
Pentingnya Waktu
Ayah-Bunda, Abah-Umma, di antara pengajaran, pendidikan, dan teladan penting yang wajib kita sampaikan kepada anak-anak adalah tentang pentingnya menjaga waktu dan bagaimana mengelolanya. Hal ini tidak hanya menyangkut kebaikan urusan dunia, tetapi yang lebih penting adalah keberuntungan atau kerugian kita dan anak-anak keturunan kita di akhirat.
Waktu adalah modal dasar bagi kita untuk mengarungi kehidupan di dunia. Setiap kita diberi modal waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Setelah modal yang Allah berikan ini, apakah kita akan memanfaatkannya untuk mendapatkan keberuntungan, ataukah kita sia-siakan sehingga tertimpa kerugian? Sungguh, waktu adalah nafas yang tidak akan kembali setelah kita hembuskan.
Syaikh ‘Abdul Malik Al-Qosim berkata, "Waktu yang sedikit adalah harta berharga bagi seorang Muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Jika waktu yang sedikit itu, yang hanya sesaat atau beberapa jam, bisa berbuah kebaikan, maka ia sangat beruntung. Sebaliknya, jika waktu disia-siakan dan dilalaikan, maka ia benar-benar merugi. Waktu yang berlalu tidak mungkin kembali selamanya." (Lihat risalah “Al-Waqtu Anfas Laa Ta’ud”, hlm. 3)[1]
Bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan bahwa waktu adalah salah satu nikmat Allah yang sering diabaikan, padahal kelak kita akan ditanyakan tentang nikmat waktu ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ مَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu dengannya adalah kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari no. 5933, no. 6412 pada Fathul Bari).[2]
Menjadikan Shalat sebagai Prioritas Utama
Ayah-Bunda, Abah-Umma, wajib bagi kita memberikan pemahaman, pengertian, dan pengajaran kepada anak-anak bahwa seutama-utama perkara yang harus kita jaga dan waspadai adalah waktu shalat. Shalat adalah amalan paling utama seorang muslim setelah dua kalimat syahadat; shalat adalah tiang agama. Memang manusia diciptakan untuk menghamba, yaitu menyembah Allah. Mukmin sejati adalah orang-orang yang menjadikan shalat sebagai hal utama dalam hidupnya. Shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi harus dilakukan dengan ruh dan jiwa. Mewaspadai kesesuaian waktu dan segera menunaikannya tepat pada waktunya adalah kunci.
Seluruh kehidupan seorang mukmin seharusnya berfokus pada menunggu waktu shalat. Aktivitas lain hanyalah pendukung agar shalat tetap dapat dilaksanakan hingga akhir hayat. Misalnya, seseorang bekerja untuk mendapatkan penghasilan agar bisa makan dan menghidupi keluarga, sehingga mereka sehat, semangat, dan mampu beribadah shalat dengan sempurna, baik rukun, wajib, maupun sunnahnya. Mereka menjalankan shalat sebagai prioritas utama, sumber kebahagiaan, dan muara segala kebaikan. Mereka bekerja, beristirahat, melayani keluarga, melayani umat, berekreasi, bermain, dan sebagainya. Namun, ketika adzan berkumandang, semua urusan dunia ditinggalkan demi memenuhi seruan Rabb dengan berangkat menuju shalat.
Apa yang sebenarnya ingin diraih dari mengutamakan shalat? Tidak lain dan tidak bukan adalah kecintaan dan ridha Rabb. Jangan sampai kita bela-belain urusan dunia dan kesenangan sesaat hingga mengorbankan shalat. Betapa banyak manusia yang tenggelam dalam pekerjaan, permainan, olahraga, rekreasi sehingga melalaikan shalat. Bayangkan, peserta karnaval yang dandan sejak pukul 10.00 WIB, padahal karnaval baru mulai pukul 14.00 WIB dan selesai pukul 22.00 WIB. Terlalu jauh jika kita membicarakan shalat sunnah dhuha. Bagaimana dengan shalat dhuhur, ashar, dan maghribnya? Sementara Isya telah lelah dengan kegiatan seharian penuh. Lalu kita berharap negeri kita diberkahi? Allahul Musta'an.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى مِيقَاتِهَا » . قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ . قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » . قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى
"Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling afdal?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya." "Kemudian apa lagi?", tanya Ibnu Mas’ud. Beliau menjawab, "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua." "Kemudian apa lagi?", tanya Ibnu Mas’ud. Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Aku diam dari bertanya lebih lanjut kepada Rasulullah H. Seandainya aku menambah pertanyaan, tentu beliau akan menjawab. (HR. Bukhari no. 2574 dan HR. Muslim no. 85 pada Syarh Shahih Muslim).[3]
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Kaum Muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash-Sholah, hlm. 7)[4]
Mengatur Jadwal Harian Anak
Membiasakan anak-anak untuk mengikuti jadwal yang telah disepakati bersama akan melatih mereka hidup tertib dan disiplin. Jadwal harian bukan dimaksudkan untuk kaku, tetapi sebagai acuan aktivitas sehari-hari agar waktu terarah, tidak rancu, amburadul, dan tumpang tindih. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membuat jadwal adalah:
- Mengikutsertakan anak-anak.
- Memberikan kesempatan kepada mereka untuk menuliskan jadwal jika mereka sudah mampu menulis.
- Menggunakan kertas yang tidak mudah sobek atau rusak.
- Menghias jadwal aktivitas semenarik mungkin sesuai minat anak-anak.
- Menuliskan secara detail mengenai hari, rentang waktu, jenis aktivitas, dan keterangan lain yang diperlukan pada jadwal aktivitas harian.
- Memasukkan aktivitas-aktivitas yang bersifat melaksanakan ketaatan kepada Allah, seperti ibadah wajib, sunnah, muamalah, dan lain-lain.
- Menyesuaikan pembuatan jadwal dengan usia dan kebutuhan anak-anak.
Mengajarkan Cara Menetapkan Tujuan dan Merencanakan Langkah-Langkah untuk Mencapainya
Setelah menyusun jadwal beserta rentang waktu yang dibutuhkan, ajaklah anak-anak untuk berpikir sesuai tingkat kematangan emosi mereka mengenai tujuan dari agenda yang telah dibuat. Misalnya, jika jadwal bangun pagi adalah untuk melaksanakan shalat subuh tepat waktu, jelaskan kepada anak-anak tujuan tersebut. Anak laki-laki akan shalat berjamaah di masjid bersama ayah/abah, sedangkan anak perempuan berjamaah di rumah bersama bunda/umma. Agar bisa bangun tepat waktu, langkah yang harus diambil adalah tidur tepat waktu, segera setelah shalat isya, sebagaimana anjuran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
وَعَنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّي. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam, lalu shalat. (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari no. 1146 dan Muslim no. 739)[5] (Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail, Bab Keutamaan Qiyamul Lail, Hadits no. 1173).
Diskusi tentang Prioritas, seperti Menyelesaikan Tugas Sekolah sebelum Waktu Bermain
Mengajak anak-anak berdiskusi mengenai aktivitas mereka bisa sangat menyenangkan bagi mereka. Anak-anak akan merasa dihargai karena merasa orang tua memperhatikan urusan mereka. Diskusi ini akan menimbulkan kehangatan, perhatian, keakraban, dan empati timbal balik antara anak dan orang tua.
Walaupun bermain adalah hal yang sangat mereka gemari, mereka juga harus memahami tanggung jawab mereka setelah bersekolah. Jangan biarkan semua waktu dihabiskan untuk bermain saja. Orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa hidup ini tidak hanya untuk bermain, tetapi juga ada kewajiban lain yang harus dipenuhi, seperti berbakti kepada orang tua, taat aturan sekolah, mengerjakan tugas sekolah, dan berbuat baik kepada sekitar.
Berikan gambaran bahwa menyelesaikan tugas terlebih dahulu sebelum bermain akan membantu mereka merasa lega dan terhindar dari kelupaan mengerjakan tugas sekolah. Ini juga merupakan bagian dari mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab kepada anak-anak. Tugas sekolah termasuk amanah dari guru, dan para siswa wajib mengindahkannya.
Bagaimana agama kita memandang amanah? Di antara bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan menjalankan dan menjaga amanah yang dipikulnya, baik yang berkaitan dengan kewajiban kepada Allah seperti shalat, berwudhu, dan membayar zakat, maupun kewajiban kepada sesama manusia. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah atas pelaksanaan amanah yang dipikulnya.
Oleh karena itu, baiknya anak-anak senantiasa diingatkan untuk mengerjakan tugas dahulu sebelum bermain.
Mempraktikkan Muraqabah (Pengawasan Diri) dan Muhasabah (Evaluasi Diri)
Muraqabah[6] adalah ketika seorang hamba senantiasa merasa berada dalam pengawasan Rabb-nya serta merasa dekat dengan-Nya. Muraqabah mengajarkan bahwa Rabb kita mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati kita, sehingga seakan-akan kita melihat-Nya. Jika kita tidak melihat-Nya, Allah tetap melihat kita, mengetahui segala yang ada pada kita, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, lahir maupun batin. Tidak ada urusan yang tersembunyi dari-Nya.
Dalam aktivitas sehari-hari anak, penting untuk memberikan pemahaman bahwa Allah mengawasi kita dalam setiap keadaan. Meskipun mata kita lemah dan kita tidak dapat melihat Dzat-Nya, Allah Maha Melihat dan Memperhatikan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri, dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Asy-Syu’ara: 217-220).
Allah juga berfirman,
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
“Allah menyertai kalian di mana pun kalian berada.” (QS Al-Hadid: 4).
Firman Allah lainnya,
فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Sesungguhnya engkau senantiasa berada dalam pengawasan mata Kami.” (QS Ath-Thur: 48).
Dengan pemahaman tentang muraqabah, anak-anak akan dapat membentuk kebiasaan jujur, di mana pun dan kapan pun mereka berada.
Muhasabah (Evaluasi Diri)
Adapun mengenai muhasabah, Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ (١٩) لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ (٢٠)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. Penghuni-penghuni surga, itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr: 18-20).
Muhasabah berarti introspeksi diri, menghisab diri, dan mawas diri terhadap apa yang telah dilakukan, apakah sesuai dengan keridhaan Allah atau justru mendatangkan murka-Nya. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkata, “Hitunglah amal perbuatan kalian sebelum kalian diperhitungkan di hadapan Allah. Berhiaslah untuk hari perhitungan yang besar, pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS Al-Haqqah: 18).[7]
Anak-anak bisa dibiasakan untuk melakukan muhasabah sebelum tidur, sebagai bahan evaluasi agar keesokan harinya mereka bersemangat untuk lebih baik dari hari sebelumnya.
Keteladanan
Anak-anak akan menyerap apa yang mereka lihat. Oleh karena itu, pengajaran yang terbaik bagi mereka adalah keteladanan dari orang tua. Hindari ketidaksesuaian antara ajaran orang tua dan apa yang dilihat anak-anak, karena ini dapat mengganggu proses pendidikan dan menyebabkan pembangkangan.
Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa anak akan tumbuh dengan apa yang dibiasakan oleh pendidiknya, yaitu apa yang biasa mereka perlihatkan.[8]
Kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik, konsisten, dan lurus dalam manajemen waktu, kebiasaan, perilaku, dan kedisiplinan. Semua harus teratur agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, sesuai dengan prinsip-prinsip al-Qur'an dan al-Hadis.
Memberikan Tanggung Jawab: Penetapan Tugas Kecil Sesuai Usia Anak
Untuk melatih kebiasaan baik, tanggung jawab, kepekaan, dan kedisiplinan, orang tua bisa memberikan tanggung jawab sesuai usia anak. Misalnya, membereskan mainan setelah digunakan, merapikan alat tulis setelah belajar, membereskan tempat tidur, melipat selimut, meletakkan piring bekas makan di dapur, atau mencucinya sendiri.
Menghadapi Penolakan: Cara Mengatasi Ketidakpatuhan Anak terhadap Jadwal
Anak-anak mungkin tidak konsisten dengan jadwal yang telah mereka buat atau sepakati. Hal ini bisa disebabkan oleh kebosanan, keinginan melakukan aktivitas baru, atau mencari perhatian.
Sebagai orang tua, jangan buru-buru bersikap keras atau memberi hukuman. Cobalah komunikasi yang baik dengan anak-anak. Tanyakan alasan mereka melakukan penolakan dan cari solusi yang sesuai. Misalnya, jika anak bosan membaca dzikir sore sendirian, temani mereka atau ubah tempat pelaksanaannya.
Jika komunikasi lembut tidak berhasil, orang tua bisa menggunakan otoritas dengan memberikan hukuman sesuai usia anak, seperti menuliskan dzikir di buku atau mengurangi uang saku. Semoga Allah membimbing kita dan anak-anak kita di jalan yang benar.
Wallahu a’lam bish-shawab. Baarakallahu fiikum. Segala kebenaran berasal dari Allah, sedangkan kesalahan dan kekurangan dari saya. Ilal liqa'.
Referensi:
- Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Syarah Riyadhush Shalihin, Jilid 1, Bab V. Pustaka Imam Syafi'i, Bogor.
- Ibnu Rajab, Ibnu Qayyim, Imam Al-Ghazali, Mendidik dan Membersihkan Jiwa Menurut Ulama Salaf (ed. Indonesia: Bab Jiwa-Introspeksi Diri). Naila Press, Jakarta Selatan.
- Delapan Metode Pembelajaran: Keteladanan. Kajian Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary, Mencetak Generasi Rabbani.
- Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. "Waktu Laksana Pedang." Rumaysho.com. 3 September 2012. Diakses pada 7 September 2024 dari https://rumaysho.com/2782-waktu-laksana-pedang-2.html.
- https://hadits.in/bukhari/5933
- https://hadits.in/bukhari/2574
- Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. "Dosa Meninggalkan Shalat Lima Waktu Lebih Besar dari Dosa Berzina." Rumaysho.com. 1 Oktober 2009. Diakses pada 7 September 2024 dari https://rumaysho.com/544-dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu-lebih-besar-dari-dosa-berzina.html
- Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. "Nabi Muhammad Tidur Malam Jam Berapa?" Rumaysho.com. 28 Januari 2020. Diakses pada 7 September 2024 dari https://rumaysho.com/23193-nabi-muhammad-tidur-malam-jam-berapa.html.