Mengajarkan Anak Berbagi Sejak Dini
Penulis: Indah Ummu Halwa
Editor: Za Ummu Raihan
Aba dan Umma, bi idznillฤh, Allah Taโala kembali mempertemukan kita pada kesempatan yang penuh berkah ini.
Allah Taโala menciptakan kita sebagai hamba sekaligus makhluk sosial. Sebagai hamba, kita diperintahkan untuk menjadikan seluruh aktivitas kehidupan sebagai bentuk ibadah kepada-Nya. Sebagai makhluk sosial, kita juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama. Oleh karena itu, setiap kebaikan yang kita lakukan hendaknya dilandasi niat untuk menaati perintah Allah Taโala dan dilakukan dengan penuh keikhlasan sebagai wujud ibadah kepada-Nya.
Berangkat dari pemahaman inilah, kita sebagai orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan karakter dermawan dan empati kepada anak sejak usia dini. Salah satu caranya adalah membiasakan mereka berbagi dan bersedekah sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada Sang Pencipta.
Pembiasaan ini diharapkan mampu membangun pola pikir anak bahwa kebahagiaan tidak hanya diperoleh dari menerima, tetapi juga dari memberi. Anak-anak memang secara fitrah merasa senang ketika menerima hadiah, penghargaan, atau berbagai bentuk pemberian lainnya. Namun, melalui pembiasaan yang tepat, kita ingin mengajak mereka merasakan kebahagiaan yang berbeda. Mereka akan memahami bahwa ternyata ada kebahagiaan yang jauh lebih indah, yaitu ketika mampu membuat orang lain tersenyum melalui apa yang mereka berikan.
Dengan pendidikan yang tepat, bi idznillฤh, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama, tidak konsumtif, serta memiliki jiwa filantropi yang kuat sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Bagi Aba dan Umma yang masih asing dengan istilah โfilantropiโ, ia adalah tindakan cinta kasih, kedermawanan, serta kepedulian terhadap sesama manusia dan nilai kemanusiaan. Hal ini diwujudkan dengan menyumbangkan waktu, tenaga, uang, atau sumber daya lainnya untuk menolong orang lain, mendukung kesejahteraan publik, dan menyelesaikan masalah sosial tanpa mengharapkan imbalan. Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam bersabda,
ู ููู ูููููุณู ุนููู ู ูุคูู ููู ููุฑูุจูุฉู ู ููู ููุฑูุจู ุงูุฏููููููุง ูููููุณู ุงูููู ุนููููู ููุฑูุจูุฉู ู ููู ููุฑูุจู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู
โBarangsiapa yang meringankan dari seorang Mukmin kesulitan dari kesulitan dunia, maka Allah akan meringankan darinya kesulitan dari kesulitan pada hari kiamat.โ (HR. Muslim no. 2699)
Mengapa Anak Perlu Belajar Berbagi Sejak Dini?
1. Masa anak-anak adalah masa pembentukan karakter
Terdapat dalam sebuah hadits,
ููููู ู ููููููุฏู ูููููุฏู ุนูููู ุงููููุทูุฑูุฉู ุ ููุฃูุจูููุงูู ูููููููุฏูุงูููู ุฃููู ููููุตููุฑูุงูููู ุฃููู ููู ูุฌููุณูุงูููู
โSetiap bayi yang lahir berada di atas fitrahnya. Lalu ayahnya-lah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi.โ (HR. Bukhari no. 1385)
Dari hadits tersebut bisa dipahami bahwa ketika anak-anak terlahir di dunia, Allah Taโala telah membekali mereka dengan potensi ketaatan kepada pencipta-Nya. Namun, seiring dengan pertumbuhan mereka, kedua orang tuanyalah yang memegang kendali menanamkan, menumbuhkan, dan menguatkan karakter selanjutnya: apakah akan di arahkan menjadi seorang muwahid, majusi, nasrani, yahudi atau lainnya?
Bagi keluarga muslim, tentu orang tua menyadari betul bahwa keberadaan anak-anak di tengah rumah tangga mereka adalah amanah yang besar. Masa kecil mereka adalah masa-masa bagi orang tua membangun pondasi menjadi hamba-hamba rabbani sejak dini. Sehingga tidak boleh orang tua teledor ataupun lengah dalam masa-masa emas mereka jika tidak ingin merugi kini (di dunia) dan nanti (di akhirat).
2. Kebiasaan kecil akan menjadi sifat ketika dewasa.
Setiap kebiasaan baik yang ditanamkan sejak masa kanak-kanak akan menjadi bekal berharga yang membentuk kepribadian mereka ketika dewasa. Oleh karena itu, menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan mulia sejak dini adalah ikhtiar untuk mengantarkan anak mengenal jati dirinya sebagai seorang muslim yang mencintai kebaikan.
Jika sejak kecil mereka dibiasakan memiliki kepedulian dan empati, insyaallah, sifat tersebut akan tumbuh menjadi bagian dari karakternya. Mereka akan terbiasa bersegera membantu teman yang membutuhkan, ikut merasakan kesedihan saat ada teman yang sakit atau tertimpa musibah, serta ringan tangan untuk berbagi sesuai kemampuan, baik dengan harta, tenaga, maupun perhatian.
Bahkan, tidak sedikit anak yang kemudian terdorong mengajak orang lain ikut berbuat baik. Mereka akan mengajak Aba, Umma, kakak, adik, teman, tetangga, dan siapa pun di sekitarnya untuk bersama-sama menebarkan manfaat. Inilah benih-benih jiwa filantropi yang mulai tumbuh dalam hati mereka. Jika terus dipupuk melalui teladan dan pembiasaan yang baik, bi idznillฤh, sifat ini akan berakar kuat dan menjelma menjadi akhlak mulia yang menghiasi kehidupan mereka hingga dewasa.
3. Empati tidak muncul secara otomatis, tetapi perlu dilatih
Empati bukanlah kemampuan yang muncul begitu saja dalam diri seorang anak. Ketika melihat seseorang yang sedang mengalami kesulitan atau musibah, anak belum tentu langsung memahami apa yang dirasakan orang tersebut. Oleh karena itu, empati perlu ditumbuhkan melalui latihan yang terus-menerus agar kepekaan hati mereka semakin terasah.
Aba dan Umma dapat mengajak anak mengamati peristiwa yang terjadi di sekitarnya, lalu membimbing mereka merenungkannya. Ajak mereka bertanya kepada diri sendiri, "Bagaimana jika musibah itu menimpa kita? Betapa sedihnya hati kita. Dan tentu kita akan sangat bersyukur jika ada orang yang datang membantu meringankan beban kita." Renungan sederhana seperti ini dapat mengetuk pintu hati anak yang masih bersih sehingga mereka belajar ikut merasakan kesedihan orang lain dan terdorong untuk membantu sesuai kemampuan.
Saat anak memahami bahwa setiap orang senang diperlakukan dengan baik, mereka pun akan belajar memperlakukan orang lain dengan kebaikan yang sama. Terlebih ketika Allah Taโala telah melimpahkan kepada kita nikmat keselamatan, kesehatan, dan kecukupan, hendaknya semua itu menjadi pendorong untuk lebih peduli kepada saudara-saudara kita yang sedang diuji.
Jangan lupa pula mengajarkan adab ketika melihat orang lain tertimpa musibah, yaitu mendoakan mereka sekaligus memohon perlindungan kepada Allah Taโala agar kita dijauhkan dari musibah yang serupa. Dengan demikian, anak tidak hanya belajar berempati, tetapi juga belajar menggantungkan hati dan pertolongan hanya kepada Allah Taโala.
4. Sedekah sebagai pendidikan akhlak sebelum menjadi pendidikan harta
Aba dan Umma, di dalam Islam sedekah merupakan salah satu amal kebaikan yang sangat bernilai di sisi Allah Taโala. Bukan karena besarnya jumlah, namun karena tulusnya keikhlasan. Banyak nash dari al-Qurโan dan juga hadits yang telah Allah dan Rasul-Nya sampaikan mengenai perintah dan keutamaan-keutamaan sedekah.
Allah Taโala berfirman memerintahkan nabi-Nya shallallahu โalaihi wa sallam,
ููู ูููุนูุจูุงุฏููู ุงูููุฐูููู ุขู ููููุงู ูููููู ููุงู ุงูุตูููุงูุฉู ููููููููููุงู ู ูู ููุง ุฑูุฒูููููุงููู ู ุณูุฑูุงู ููุนููุงููููุฉู ู ููู ููุจููู ุฃูู ููุฃูุชููู ููููู ู ูุงูู ุจูููุนู ููููู ูููุงู ุฎููุงููู
โKatakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: โHendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.โ (QS. Ibrahim: 31).
Begitu pula Nabi shallallahu โalaihi wa sallam bersabda,
โJagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik.โ (HR. Bukhari no. 1413 dan Muslim no. 1016)
Mungkin Aba dan Umma bisa menambahkan hadits-hadits lain yang sangat banyak dan beragam kepada anak-anak ketika menyampaikan dan mempersuasif anak-anak dalam hal keutamaan sedekah agar semangat sedekah mereka merekah.
Islam Mengajarkan Kasih Sayang dan Kepedulian
Pohon kebaikan itu bernama kasih sayang, setelah rasa itu tumbuh dalam jiwa anak-anak dengan subur, ia akan berbuah kebaikan-kebaikan yang lain seperti muncul kepedulian, empati, dan kedermawanan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu โalaihi wa sallam,
ู ูุซููู ุงููู ูุคูู ูููููู ููู ุชูููุงุฏููููู ูุ ููุชูุฑูุงุญูู ูููู ูุ ููุชูุนูุงุทูููููู ู ู ูุซููู ุงููุฌูุณูุฏู ุฅูุฐูุง ุงุดูุชูููู ู ููููู ุนูุถููู ุชูุฏูุงุนูู ูููู ุณูุงุฆูุฑู ุงููุฌูุณูุฏู ุจูุงูุณููููุฑู ููุงููุญูู ููู
โPerumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).โ (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Membiasakan anak-anak bersikap dermawan, bagaikan memahat pada kayu atau batu sehingga sikap baik tersebut terbentuk. Tidak harus menunggu mereka paham, juga tidak harus ketika telah mampu memberi banyak. Kita bisa memulainya dengan mencontohkan dan mengajarkan mereka berbagi makanan dengan saudara-saudara terdekatnya atau keluarga. Memberikan sendiri dengan tangan mereka sedekah tersebut dan memberikan apresiasi setelahnya.
Apalagi ketika anak-anak telah mampu berkomunikasi dengan baik, bisa kita beri pemahaman mengenai prioritas siapa yang harus lebih kita dahulukan diantara orang-orang yang akan menerima kebaikan kita. Hal itu agar mereka mengetahuii juga tentang tingkatan besarnya pahala.
Untuk melatih sikap cinta memberi berarti kita melatih anak-anak melapangkan dada, rela berkorban, dan memberikan iming-iming keutamaan-keutamaan yang akan kita dapatkan di dunia, juga keutamaan di akhirat yakni dicintai Allah Taโala. Perbuatan itu senantiasa diulang-ulang bersamaan dengan semakin bertumbuh kembangnya mereka sehingga menjadi kebaikan yang menyatu dengan jiwa.
Kelak ketika mereka dewasa diharapkan, cinta memberi akan menjadi sesuatu yang bahkan ingin sering-sering mereka lakukan karena ternyata memberi itu lebih nikmat dari pada menerima. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Sehingga kebahagiaan mereka adalah ketika mereka mampu membahagiakan orang lain.
Tips agar Anak Mencintai Sedekah
Menumbuhkan kecintaan anak terhadap sedekah tentu tidak bisa dilakukan dalam sehari. Ia membutuhkan teladan, pembiasaan, dan pengalaman yang berulang. Berikut beberapa ikhtiar yang dapat dilakukan Aba dan Umma.
โข Beri Kesempatan Anak Terlibat Langsung dalam Berbagi
Libatkan anak ketika berbagi kepada orang lain. Biarkan mereka menyerahkan sedekah dengan kedua tangannya, menyaksikan senyum penerima, dan merasakan kebahagiaan karena telah memberi. Pengalaman seperti inilah yang akan membekas dalam ingatan mereka hingga dewasa.
Saat anak merasakan sendiri indahnya berbagi, sedekah tidak lagi sekadar menjadi teori, tetapi berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan. bi idznillฤh, kebiasaan ini akan menjadi bekal berharga yang menemani perjalanan hidupnya sebagai seorang muslim yang gemar berbuat baik.
โข Ajak Anak Memilih Sendiri Apa yang Akan Disedekahkan
Berikan kesempatan kepada anak untuk menentukan sebagian harta miliknya yang ingin disedekahkan. Orang tua tetap memberikan arahan, tetapi biarkan anak belajar mengambil keputusan. Cara ini membantu mereka belajar ikhlas, bertanggung jawab, sekaligus memahami bahwa sedekah adalah pilihan yang lahir dari hati yang lapang.
Misalnya, saat Idulfitri anak memperoleh uang THR, Aba dan Umma dapat mengajaknya berdiskusi, "Menurutmu, berapa yang ingin kamu sedekahkan?" Setelah itu, dampingilah mereka menyerahkan sedekah tersebut secara langsung. Momen sederhana ini akan menjadi pelajaran berharga tentang makna memberi.
โข Biasakan Berbagi Makanan, Mainan, atau Barang yang Masih Layak
Sedekah tidak selalu berupa uang. Anak juga dapat belajar berbagi melalui makanan, pakaian, mainan, atau barang-barang lain yang masih layak digunakan.
Ketika di rumah ada acara dan makanan berlimpah, ajak anak mengantarkan sebagian hidangan kepada tetangga. Akan lebih indah jika dilakukan sebelum acara selesai, sebagai bentuk perhatian, bukan sekadar memberikan sisa. Hal ini juga mengajarkan anak untuk menjaga perasaan orang lain.
Di luar momen tertentu, sesekali ajak anak membuat makanan sederhana atau membeli makanan untuk dibagikan kepada tetangga. Libatkan mereka saat mengetuk pintu rumah dan menyerahkannya dengan senyum.
Begitu pula dengan pakaian atau mainan yang sudah tidak lagi digunakan, tetapi masih dalam kondisi baik. Ajak anak memilihnya sendiri untuk diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkan. Dengan cara ini, anak belajar bahwa barang yang tidak lagi bermanfaat bagi dirinya, bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain.
โข Tanamkan Bahwa Sedekah Dilakukan Semata-Mata karena Allah Taโala
Hal terpenting yang perlu selalu ditanamkan adalah niat. Sebelum maupun sesudah bersedekah, jelaskan kepada anak bahwa semua itu dilakukan semata-mata karena mengharap rida Allah Taโala.
Sampaikan kepada mereka bahwa rezeki yang dimiliki berasal dari Allah Taโala, hati yang tergerak untuk memberi juga merupakan karunia-Nya, bahkan kesempatan untuk menyalurkan sedekah pun terjadi karena pertolongan-Nya. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk merasa lebih baik atau menyombongkan diri di hadapan orang lain.
Ajarkan bahwa nilai sebuah sedekah tidak diukur dari besar kecilnya pemberian, melainkan dari keikhlasan hati dan harapan akan pahala dari Allah Taโala.
Semoga Allah Taโala senantiasa menganugerahkan kepada kita taufik dan keistiqamahan dalam mendidik anak-anak -amanah sekaligus karunia terindah yang Allah titipkan kepada kita- agar tumbuh menjadi generasi yang mencintai ketaatan, gemar berbagi, dan bermanfaat bagi sesama. ฤmฤซn.
Referensi:
- Al-Qurโan Al-Karim
- Shahih Al-Bukhari, Maktabah asy-Syamilah
- Shahih Muslim, al-Maktabah asy-Syamilah