Tarbiyatul Aulad

Mengajari Anak tentang Amanah dan Utang

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Zainab Ummu Raihan


Dalam pendidikan Islam, salah satu pilar utama pembinaan anak adalah penanaman nilai-nilai tauhid dan akhlak mulia. Di antara akhlak mulia yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini adalah pemahaman tentang amanah dan utang. Keduanya merupakan fondasi dalam membentuk pribadi muslim yang jujur, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya. Ini adalah karakter yang akan sangat menentukan integritas anak di masa depan. Islam menempatkan amanah dan utang bukan sekadar urusan sosial, bahkan berkhianat pada amanah dan janji yang berarti termasuk juga dalam urusan utang, merupakan tanda dari kemunaf ikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59).[1]

Dengan memahami pentingnya pendidikan pada kedua aspek ini, sebagai orang tua, kita akan memahami pula bahwa kita memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan amanah. Mengapa amanah dan utang perlu menjadi perhatian khusus para orang tua untuk diajarkan kepada anak-anaknya? Dan apa saja upaya yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengajarkan hal tersebut pada anak-anaknya?

1. Amanah adalah Sifat Orang-Orang yang Beriman

Amanah adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَۙ


"(Sungguh beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka." (QS. Al-Mu'minun: 8).

Begitu penting dan mulianya sifat amanah sehingga Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkannya secara khusus dalam Al-Qur’an sebagai salah satu ciri atau sifat yang (hanya) dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Maka sebagai bentuk kasih sayang orang tua, anak perlu diajarkan sejak dini bahwa sebagai orang yang beriman, amanah adalah tanggung jawab besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Contoh pendidikan amanah bisa dimulai dari hal kecil, seperti menjaga barang milik teman yang dipinjamkan, atau menjaga buku yang dipinjam dari perpustakaan sekolah dan mengembalikannya tepat waktu dalam keadaan yang baik, dan sebagainya. Dalam meminjam pun, anak perlu dibimbing untuk menerapkan adab-adab berikut:

  • Meminta izin dengan sopan saat meminjam.
  • Menjaga barang yang dipinjam dengan baik.
  • Mengembalikannya tepat waktu.
  • Berterima kasih dan tidak menyalahgunakan kepercayaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ

“Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan at-Tirmidzi no. 1264, dinilai hasan shahih oleh Al-Albani)[2]

2. Sedini Mungkin (Sejak Sebelum Baligh), Biasakan Anak untuk Selalu Terbuka Soal Keuangan dengan Orang Tua

Dalam Islam, utang adalah hal yang diperbolehkan namun diiringi dengan banyak peringatan. Bahkan, ayat terpanjang dalam Al-Qur’an mengatur masalah utang piutang secara rinci, yakni dalam surah Al-Baqarah ayat ke-282. Ini menunjukkan bahwa utang adalah urusan serius yang memerlukan kejelasan, pencatatan, dan kesungguhan untuk melunasinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَخَذَ أمْوالَ النَّاسِ يُرِيدُ أداءَها أدَّى اللَّهُ عنْه، ومَن أخَذَ يُرِيدُ إتْلافَها أتْلَفَهُ اللَّهُ

“Orang yang mengambil harta orang lain (berhutang), dengan niat untuk melunasinya kelak, maka Allah akan menolong dia untuk melunasinya. Adapun orang yang mengambil harta orang lain dengan niat tidak akan melunasinya, maka Allah akan hancurkan dia” (HR. Bukhari no. 2387).[3]

Dengan dasar ini, bukan berarti mengajarkan anak untuk berutang sejak kecil, bahkan sebisa mungkin hindari mereka berutang meski nominalnya kecil, semisal di warung atau kepada temannya, melainkan untuk memberi pemahaman kepada anak bahwa berutang bukanlah sesuatu yang sepele dan perlu tanggung jawab dalam pengembalian. Latih anak-anak untuk hidup sederhana, hemat, dan sabar dalam memenuhi keinginan. Latih juga mereka untuk jujur, terbuka dan bertanggung jawab soal keuangan pada orang tuanya sejak kecil. Ini bisa diupayakan dengan mengatur uang saku harian yang diberikan kepada anak, kemudian orang tua tetap selalu mengontrol setiap harinya dengan bertanya kepada anak mengenai untuk apa saja uang saku itu digunakan, berapa harga barang-barang/makanan yang dibelinya, apakah masih ada sisa atau tidak, apakah kurang atau lebih, ataukah pernah meminjam/dipinjam oleh temannya, dan sebagainya.

Contoh lainnya juga dengan mengembalikan uang kembalian yang lebih kepada orang tua setelah belanja, dan meminta izin ketika menggunakan uang orang tuanya sekecil apapun nominalnya. Jangan biasakan anak untuk bermudah-mudahan berutang dan tetap bertanggung jawab mengembalikan/membayar utang sekecil apapun jika memang sudah telanjur (semisal karena kondisi darurat/di luar dugaan). Kebiasaan ini akan menumbuhkan sifat amanah dan bertanggung jawab dalam jangka panjang.

3. Kuatkan Tauhid: Menanamkan Perasaan Selalu Diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla

Salah satu aspek penting dalam pendidikan anak adalah membangkitkan rasa muraqabah (merasa diawasi Allah). Tanamkan pada jiwa anak dan katakan padanya bahwa apapun yang kita lakukan, sekecil apapun, walau Ayah-Bunda mungkin bisa saja tidak tahu, tapi ada Allah yang Maha Melihat, dan setiap amal perbuatan kita pasti akan dipertanggungjawabkan.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa “muraqabah” adalah beribadah dengan (memahami dan menghayati) nama-nama-Nya: Ar-Raqib (Maha Mengawasi), Al-Ḥafiẓ (Maha Menjaga), Al-‘Alim (Maha Mengetahui), As-Sami‘ (Maha Mendengar), dan Al-Baṣhir (Maha Melihat). Maka siapa yang memahami nama-nama ini dan beribadah sesuai dengan konsekuensinya, niscaya ia akan meraih muraqabah.[4] Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيْبًا

“Allah Maha Mengawasi segala sesuatu." (QS. Al-Ahzab: 52).

4. Mendidik dengan Teladan dari Orang Tua

Keteladanan adalah metode pendidikan yang paling utama. Jika orang tua biasa mengabaikan pengembalian barang pinjaman, meremehkan janji kepada anak, terbiasa meremehkan utang-utang kecil, dan sebagainya, maka anak akan bercermin dari kebiasaan tersebut. Sebaliknya, jika orang tua selalu bersungguh-sungguh mengembalikan pinjaman, amanah dalam setiap transaksi, dan jujur dalam berkata dan berbuat, anak pun akan belajar melakukan hal yang sama. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dalam hal ini? Bahkan di tengah kaumnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenal dengan julukan “al-Amiin” (orang yang terpercaya).[5]

5. Menjadikan Rumah Sebagai Madrasah Utama

Rumah adalah tempat pertama anak belajar akhlak. Orang tua perlu menciptakan suasana yang menghargai amanah dan kejujuran. Jika dalam rumah anak terbiasa melihat praktik tanggung jawab, kejujuran, dan amanah dalam setiap hal, maka nilai-nilai itu akan mengakar kuat dalam dirinya. Buat aturan keluarga yang menumbuhkan budaya amanah. Contohnya, larangan mengambil barang tanpa izin, bertanggung jawab, jujur dan mengakui kesalahan ketika melakukan sebuah ketidaksengajaan seperti memecahkan barang atau menumpahkan air minum, dan sebagainya.

Membentuk kepribadian yang jujur pada anak bisa diupayakan dengan menjadi orang tua yang tegas, namun tidak kasar. Karena “kasar” dalam mendidik hanya akan menimbulkan rasa takut yang berlebih pada diri anak kepada orang tuanya, sehingga hal tersebut memicu anak untuk berbohong demi mendapatkan rasa “aman.” Dengan upaya tersebut, biidznillah, anak terbentuk menjadi pribadi yang jujur bukan karena takut dimarahi, tetapi karena perasaan muraqabah dan sadar akan tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Referensi:

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Al-Bukhari. Shahih al-Bukhari. Maktabah Syamilah.
  3. Al-Mundziri, Abdul Azhim. Mukhtashar Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.
  4. Al-Jauziyyah, Ibnul Qayyim. Madarijus Salikin. Maktabah Syamilah.
  5. Alu Syaikh, Abdul Aziz bin Abdullah. Haqiqatu Syahadati Anna Muhammadar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maktabah Syamilah.
0