Mutiara Nasihat Muslimah
๐ŸŽง Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Menemukan Teduh di Tengah Peluh: ramadhan sebagai Madrasah Pemulihan Jiwa Wanita

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Faizah Fitriah


Akhawati fillah, betapa cepatnya waktu berlalu, hingga tak terasa bulan Ramadhan sudah menyapa kita kembali di tahun ini. Dari hitungan hari menjadi pekan, kemudian berlalu menjadi bulan, hingga genap menjelma tahun. Sungguh, perjumpaan dengan bulan Ramadhan merupakan nikmat besar yang tidak semua hamba dapat merasakannya. Oleh karenanya, terhadap nikmat yang besar ini, sudah selayaknya kita menyikapi dengan rasa syukur kepada Allah โ€˜Azza wa Jalla, baik memuji-Nya dengan lisan (red: mengucap โ€œAlhamdulillah, alladzi biniโ€™matihi tatimmus shaalihaatโ€), juga dengan mewujudkan rasa syukur itu semaksimal mungkin ke dalam bentuk amal-amal shalih yang dijalankan oleh anggota badan yakni dengan berpuasa, shalat tarawih dan shalat-shalat sunnah lainnya, membaca Al-Qurโ€™an, serta segala bentuk amal shalih lainnya yang disyariatkan. Tak hanya itu, begitu pula dengan aktivitas duniawi yang kita niatkan untuk mengharap pahala dari Allah โ€˜Azza wa Jalla.

Burnout Domestik: Realitas yang Dialami Banyak Wanita di Bulan Ramadhan

Suasana Ramadhan sering digambarkan sebagai bulan yang penuh dengan ketenangan dan kekhusyukan. Akan tetapi, bagi banyak muslimah, kenyataan di lapangan boleh jadi justru sebaliknyaโ€”lebih padat, lebih โ€œriuhโ€ dan penuh dengan peluh. Ya, di bulan itu, hari-hari seorang muslimah rasanya malah menjadi semakin sibuk di dapur. Sebelum semua anggota keluarga terjaga, para ibu dan istri sudah harus menyiapkan makan sahur, kemudian di waktu setelah ashar juga sudah mulai sibuk menyiapkan sajian untuk berbuka.

Tanpa melupakan bagaimana kesibukan lainnya di siang hariโ€”sebagian mungkin ada yang masih bekerja, ada juga yang mengurus anak-anak kecilnya yang belum ikut berpuasa, sehingga harus tetap menyiapkan makanan mereka. Tentunya, kita semakin perlu untuk istiโ€™anah kepada Allah manakala emosi merasa naik turun karena kelelahan fisik maupun pengaruh hormonal. Rasanya, pikiran kita tidak pernah berhenti untuk merencanakan kebutuhan-kebutuhan berikutnya untuk keluarga.

Sampai sini, mungkin perasaan kita sudah campur aduk, karena benar-benar mengalami hal yang baru saja dideskripsikan, hati bergejolak, memerintahkan otak untuk segera menagih solusi, โ€œLalu, bagaimanakah solusinya?โ€ Mari kita simak bersama hingga akhir.

Ubah Self-Blaming Menjadi Self-Healing

Kemudian, di tengah semua kesibukan itu, diam-diam, muncul sebuah luka dalam sunyi, yaitu rasa bersalah karena merasa belum bisa mengoptimalkan ibadah, bahkan di saat bulan Ramadhan. Ada wanita yang merasa gagal mengoptimalkan lumbung pahala di bulan Ramadhan, sebab tak mampu memaksimalkan kuantitas ibadahnya, ada pula yang diam-diam merasa rendah diri ketika masa haid datang, seolah-olah sedang ditarik keluar dari โ€œestafetโ€ mengumpulkan pahala.

Faktanyaโ€”duhai akhawati fillahโ€”jika kita kelola seluruh aktivitas selama Ramadhan ini dengan iman dan ilmu, maka sejatinya, Ramadhan adalah โ€œmadrasah pemulihan jiwaโ€ untuk seluruh muslimin, termasuk pula bagi para wanita muslimah yang hidup dalam peran ganda, serta tuntutan tanpa jeda.

Bagaimana Ramadhan Menjadi โ€œMadrasah Pemulihan Jiwaโ€?

1. Fenomena Membandingkan โ€œRamadhan Estetisโ€: Antara Maya dan Realitas

Media sosial sering menyajikan gambaran Ramadhan yang estetisโ€”sahur yang tenang, meja makan yang rapi, tilawah berlembar-lembar, dan rumah yang selalu tertata. Tanpa sadar, dari sanalah muncul perbandingan yang membuat para muslimah mulai merasa bahwa hidupnya tidak ideal, dirinya tidak cukup โ€œshalihaโ€ karena tidak mampu mewujudkan Ramadhan estetis sedemikian rupa, sebagaimana yang divisualisasikan di media sosial. Kenyataannya, kita tahu bahwa Allah tidak menilai dari visual, melainkan dari niat dan usaha kita.

Sebuah langkah yang tepat jika kita mengurangi (men-detoks) media sosial[1] selama Ramadhan, selain karena hal tersebut untuk meningkatkan fokus dalam beribadah, juga menjadi momen yang pas untuk membuktikan pada diri bahwa ternyata biidznillah kita mampu mengurangi penggunaan media sosial selama satu bulan. Barangkali hal ini tampak โ€œsepeleโ€, namun insyaallah ini akan sangat membantu untuk mempertahankan kebiasaan baik, mendukung proses โ€œpemulihan jiwaโ€, serta memperbaiki kualitas hidup seterusnya hingga setelah Ramadhan nantinya, biidznillah.

2. Dilarangnya Beberapa Ibadah saat Haid adalah Bentuk Rahmat Allah โ€˜Azza wa Jalla kepada Kita

Salah satu โ€œlukaโ€ spiritual wanita selama Ramadhan ialah โ€œketidakmampuanโ€ untuk shalat dan puasa di saat haid, yang mana โ€œlukaโ€ ini timbul karena kita masih memiliki kesalahpahaman dalam memaknainya. Mungkin, banyak di antara para muslimah yang merasa rendah diri saat haid tiba, seolah merasa ada tombol โ€œpauseโ€ dari mengumpulkan pundi-pundi pahala di saat yang lainnya terus berlomba-lomba dalam ibadahnya.

Ketahuilah akhawati fillah, kita tidak perlu berkecil hati atau merasa rendah diri selama Ramadan di kala haid tiba, karena sesungguhnya, hikmah dari dilarangnya kita untuk melaksanakan shalat maupun puasa saat haid adalah wujud nyata dari rahmat atau kasih sayang Allah โ€˜Azza wa Jalla kepada kita. Allah yang menciptakan kita maka Allah-lah yang paling mengetahui hikmah dan maslahat di balik seluruh syariโ€™at-Nya.

Di antaranya ialah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman Al-Bujairami rahimahullah (w. 1221 H) dalam Hasyiyah โ€˜Alal Khatib, beliau mengatakan, โ€œPendapat yang shahih justru menyatakan bahwa ini (dilarangnya wanita haid untuk berpuasa) adalah hukum/perkara yang dapat dipahami oleh akal (maโ€™qulatul maโ€™na). Hal itu karena haid melemahkan tubuh, dan puasa juga melemahkannya. Jika dua hal yang sama-sama melemahkan ini digabungkan, maka akan menimbulkan bahaya yang berat (untuk keselamatan) diri/badan.โ€[2]

Masyaallah, bukankah Allah begitu sayang kepada kita? Maka dengan ini, mari kita ubah perasaan yang mulanya rendah diri itu menjadi perasaan ridha dalam menerima segala ketentuan syariat-Nya yang begitu indah. Hadirnya rasa penerimaan dan keyakinan bahwa seluruh syariat-Nya adalah baik untuk semua makhluk-Nya merupakan bagian dari keimanan. Kabar baiknya, kita bisa tetap melakukan ibadah lainnya yang tak kalah besar pahalanya di sisi Allah, seperti berdzikir, menuntut ilmu, membaca Al-Qurโ€™an tanpa menyentuh mushaf, dan lain sebagainya.

3. Tips โ€œMengejar Ketertinggalanโ€ dengan Iman dan Ilmu

Dalam psikologi, salah satu di antara kunci healing spiritual adalah dengan validasi[3], dan itu bukan berarti hanya dapat dipenuhi oleh makhluk, melainkan dari Al-Hayyu Al-Qayyum, Dzat yang Maha Kekal daripada makhluk-Nya, yang memiliki kehidupan sempurna lagi berdiri sendiri, yakni Allah โ€˜Azza wa Jalla. Bagaimanakah caranya? Mari kita simak lagi hadits yang masyhur berikut ini, yang mungkin banyak di antara kita yang sudah menghafalnya, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ุฃุนู…ูŽุงู„ ุจุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุงุชู ูˆุฅูู†ู‘ูŽู…ุง ู„ููƒูู„ู‘ู ุงู…ุฑูŠุกู ู…ุง ู†ูŽูˆูŽู‰ ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู‡ูุฌู’ุฑูŽุชูู‡ู ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูˆุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูู‡ูุฌู’ุฑูŽุชูู‡ู ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูˆุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ู ูˆู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู‡ูุฌู’ุฑูŽุชูู‡ู ู„ูุฏูู†ู’ูŠูŽุง ูŠูุตููŠู’ุจูู‡ุง ุฃูˆ ุงู…ุฑุฃุฉู ูŠูŽู†ู’ูƒูุญูู‡ูŽุง ูู‡ูุฌู’ุฑูŽุชูู‡ู ุฅู„ู‰ ู…ุง ู‡ูŽุงุฌูŽุฑูŽ ุฅู„ูŠู‡ู

โ€œSesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.โ€ (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Ya, jawabannya adalah dengan senantiasa pandai mengatur dan mengolah niat dalam setiap inci dari aktivitas kita yakni ihtisabโ€”mengikhlaskan segala aktivitas kitaโ€”untuk mengharap pahala dari Allah โ€˜Azza wa Jalla.

Dengan iman yang Ikhlas diiringi ilmu yang benar, maka setiap rasa kantuk yang ditahan, atau peluh yang menetes di tubuh demi menyajikan hidangan sahur maupun berbuka untuk keluarga, biidznillah akan diganjar-Nya dengan pahala.

Rasa lelah dalam mengurus keluarga bukan alasan untuk merasa rendah diri, serta tidak benar apabila itu semua dianggap tidak bernilai apa-apa, akan tetapi hal tersebut juga bentuk dari ibadah yang bernilai tinggi. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, beliau menyampaikan bahwa wanita yang โ€œmenghabiskanโ€ sebagian besar waktunya untuk menyiapkan makanan (keperluan) untuk keluarganya yang berpuasa, baik itu untuk sahur maupun berbuka selama bulan Ramadhan, maka itu semua terhitung sebagai ibadah dan bernilai pahala untuknya.[4] Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pun bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ููŽุทู‘ูŽุฑูŽ ุตูŽุงุฆูู…ู‹ุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ุฑู ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง

โ€œSiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.โ€ (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dinilai shahih oleh Al-Albani)[5]

Lihatlah bagaimana hadits ini juga menjadi pendukung untuk โ€œhealingโ€ bagi para wanita. Di penggalan hadits di atas ditegaskan bahwa kontribusinya nyata, dihitung dan divalidasi di sisi Allah โ€˜Azza wa Jalla, meski amal shalih tersebut tidak tampak seistimewa rakat shalat yang lama atau tilawah berlembar-lembar.

Meskipun demikian, rasanya tetap perlu bagi kita untuk memperhatikan nasihat bijak dari Syaikh Abdul Aziz Al-Fauzan[6] dalam mengatur situasi demikian ini, beliau hafizhahullah menyampaikan:

1. Menyiapkan kebutuhan keluarga (khususnya sahur dan berbuka selama Ramadhan) memang merupakan bagian dari ibadah dan bernilai pahala yang besar, akan tetapi, hendaknya bagi para wanita untuk tidak menghabiskan begitu banyak waktunya hanya untuk sekadar urusan di dapur saja, sehingga itu benar-benar melalaikannya dari dzikir, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya, yang tentu juga memiliki keutamaan yang lebih besar lainnya.

2. Para wanita bisa mengerjakan segala urusan rumah tangganya dengan lisannya yang tetap berdzikir, sehingga tetap bisa mengoptimalkan waktunya untuk meraih banyak kebaikan.

3. Tidak seharusnya bagi suami maupun istri untuk berlebih-lebihan dalam hal memasak, makanan, dan sebagainya, sehingga itu membuat sang istri pada akhirnya lalai dari shalat tarawih, dan ibadah-ibadah lainnya. Justru, hendaklah para suami dan istri seharusnya saling mendukung dalam kebaikan dan ketakwaan (taโ€™awun โ€˜alal birri wat-taqwa), sebagaimana Allah Taโ€™ala juga melarang kita untuk berlebihan dalam perkara makan dan minum.[7]

4. Sahur: Momen Istighfar dalam Sunyi untuk Ketenangan Jiwa

Alangkah ruginya orang-orang yang menyalahgunakan waktu sahurnya untuk hal yang sia-sia, seperti sahur sambil menonton, mengobrol yang tidak bermanfaat, dan lain sebagainya. Maka usahakan kita dan keluarga kita menjadi bagian dari orang-orang yang memahami keutamaan waktu sahur dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bagaimanakah itu? Yakni dengan istighfar dan doa. Lihatlah bagaimana firman Allah โ€˜Azza wa Jalla mengenai orang-orang shalih,

ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููŠู†ูŽ ุจูุงู„ู’ุฃูŽุณู’ุญูŽุงุฑู

โ€œDan orang-orang yang meminta ampun (beristighfar) di waktu sahur.โ€ (QS. Ali Imran: 17)

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga bersabda,

ูŠูŽู†ู’ุฒูู„ู ุฑูŽุจู‘ูู†ูŽุง ุชูŽุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุญููŠู†ูŽ ูŠูŽุจู’ู‚ูŽู‰ ุซูู„ูุซู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุงู„ุขุฎูุฑู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูู‰ ููŽุฃูŽุณู’ุชูŽุฌููŠุจูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ูู†ูู‰ ููŽุฃูุนู’ุทููŠูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑูู†ูู‰ ููŽุฃูŽุบู’ููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู

โ€œRabb kita tabaraka wa taโ€™ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, โ€œSiapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.โ€ (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)[8]

5. Puasa yang Membersihkan Hati dan Memulihkan Jiwa

Mungkin sebagian dari kita belum menyadari bahwa puasa ternyata bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga latihan dalam mendidik diri dari kebiasaan yang buruk atau kemaksiatan-kemaksiatan yang bisa mengurangi pahala puasa kita, dan di antara yang sering terjadi di kalangan wanita ialah menahan lisan dari ghibah atau yang sejenisnya. Maka seyogianya, kita menjadikan Ramadhan ini sebagai โ€œmadrasah pemulihan jiwaโ€ yang sesungguhnya. Kita tahu berapa banyak konflik rumah tangga maupun dalam bersosial yang dipicu oleh lisan yang tidak terlatih untuk dijaga. Allah Taโ€™ala berfirman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ูƒูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ

โ€œHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwaโ€ (QS. Al Baqarah: 183).

Ya, Ramadhan sejatinya adalah โ€œmadrasahโ€ bagi kita untuk berlatih menjadi orang bertakwa, sehingga ketika โ€œlulusโ€ dari Ramadhan, kita sudah terbiasa menerapkan hal-hal baik dan menumbuhkan karakter yang baik pada diri kita, sehingga kita bisa menjadi orang yang bertakwa untuk seterusnya.

6. Ramadhan adalah Bulan Al-Qurโ€™anโ€”yang Mana Ia Hadir sebagai Syifaโ€™ (Penyembuh)

Ramadhan disebut sebagai โ€œBulan Al-Qurโ€™anโ€ di antaranya ialah karena Al-Qurโ€™an diturunkan sekaligus oleh Allah ke langit dunia pada malam lailatul qadar, yang terdapat di bulan Ramadhan[9]. Selain itu, begitu banyak riwayat-riwayat yang menceritakan tentang begitu besarnya perhatian para salaf terhadap Al-Qurโ€™an selama bulan Ramadhan.

Sehingga, usaha kita untuk meneladani para salaf dalam menghidupkan Al-Qurโ€™an, memperbanyak tilawah, berlama-lama bersama Al-Qurโ€™an, men-tadabburi isi Al-Qurโ€™an selama bulan Ramadhan ini, sejatinya, kita telah benar-benar menempuh proses untuk memulihkan jiwa kita, sebab Allah โ€˜Azza wa Jalla yang berfirman langsung,

ูˆูŽู†ูู†ูŽุฒูู‘ู„ู ู…ูู†ูŽ ูฑู„ู’ู‚ูุฑู’ุกูŽุงู†ู ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุดูููŽุขุกูŒ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉูŒ ู„ูู‘ู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ

โ€œDan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.โ€ (QS. Al-Israโ€™: 82)

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga bersabda,

ู…ูŽุง ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชู ู…ูู†ู’ ุจููŠููˆู’ุชู ุงู„ู„ู‡ู ูŠูŽุชู’ู„ููˆู’ู†ูŽ ูƒูุชูŽุงุจูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽูŠูŽุชูŽุฏูŽุงุฑูŽุณููˆู’ู†ูŽู‡ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุฅูู„ุงูŽู‘ ู†ูŽุฒูŽู„ูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู ุงู„ุณูŽู‘ูƒููŠู’ู†ูŽุฉู ูˆูŽุบูŽุดููŠูŽุชู’ู‡ูู…ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽุญูŽููŽู‘ุชู’ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽู„ุงูŽุฆููƒูŽุฉู ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‡ู ูููŠู’ู…ูŽู†ู’ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู

โ€œTidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketentraman kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya.โ€ (HR. Muslim no. 2699)

Maka, duhai saudariku yang kucintai karena Allah, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya momen istimewa yang sudah di depan mata ini. Tanyakan kepada diri sendiri, mau sampai kapan menjadi hamba yang biasa-biasa saja dan terus-terusan merasa nyaman dalam kelalaian? Sungguh, jika kita terus berupaya mempelajari ilmu agama, maka kita akan paham bahwa akhirat bukanlah gurauan, bukanlah hal yang remeh-temeh untuk digadaikan dengan dunia yang pasti akan meninggalkan kita. Ketahuilah, akhawati akramakunnallah, bahwa umur yang kita miliki adalah benih yang kelak hasilnya pasti akan kita panen. Maka, tanamkan benih itu pada tiap-tiap amal shalih, sehingga yang kita panen kelak adalah amal shalih itu sendiri, biidznillahi taโ€™ala.

Semoga Allah โ€˜Azza wa Jalla memberikan kita taufik untuk memanfaatkan Ramadhan ini sebagai โ€œmadrasah pemulihan jiwaโ€ dengan sebaik-baiknya, sehingga kita bisa lulus menjadi orang-orang yang bertakwa, yang kelak akan merasakan kenyamanan di surga, yang keindahannya membuat kita lupa dengan segala kepayahan selama hidup kita di dunia. Amin.

Referensi:

  • Al-Qurโ€™anul Karim.
  • Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Maktabah Syamilah.
  • Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah.
  • Imam at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Maktabah Syamilah.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Baari li ibni Hajar, Maktabah Syamilah.
  • Manna Al-Qattan, Kitab Mabahits fii โ€˜Ulumil Qurโ€™an, https://shamela.ws/book/11368/124#p3
  • Sulaiman Al-Bujairami, Hasyiyatul Bujairimi โ€˜Alal Khatib, Maktabah Syamilah
  • Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan, https://www.youtube.com/watch?v=3grMBhdakyM
  • Fatwa Syaikh Abdul Aziz Al-Fauzan, https://www.youtube.com/watch?v=ooHNghlVjis
  • https://neurolaunch.com/need-for-validation-psychology/
  • https://therapygroupdc.com/therapist-dc-blog/the-essential-role-of-therapy-validation-in-mental-health-healing/


194