Menegakkan Syiar Islam dari Rumah
Reporter: Loly Syahrul
Redaktur: Gema Fitria
Orang-orang yang beriman seyogyanya berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada Rabb-Nya dengan amalan-amalan terbaik, di waktu terbaik, dengan kualitas terbaik. Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan mulia, di mana Allah memberi pahala berlipat untuk setiap amalan. Pada bulan ini pula terdapat salah satu syariat agung, yaitu berhaji ke Baitullah. Juga ada syariat untuk berkurban sebagai sarana mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Keutamaan bulan Dzulhijjah dan hikmah yang tersirat dari syariat haji dan kurban hendaknya menjadi motivasi kita untuk mendulang amal lebih banyak. Bulan inilah waktunya meningkatkan kuantitas dan kualitas amal, agar bisa meninggikan kedudukan kita di hadapan Allah.
Tidak hanya memperbanyak amal, Dzulhijjah juga datang dengan pesan agar kita bersemangat memohon pengampunan Allah, menyucikan jiwa dari dosa, menyerahkan diri secara total kepada Allah dalam menjalani kehidupan dengan kesabaran dan pengendalian diri dalam mengurus rumah tangga sebagai bentuk menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Berkhidmat kepada suami dan anak-anak karena Allah dalam semua hal, baik berperan sebagai istri maupun ibu yang dijalani di dalam rumah.
Memaksimalkan Ibadah Pada 10 Hari Pertama Dzulhijjah
Dari satu bulan penuh keistimewaan bulan haji, ternyata amal shalih yang kita kerjakan di sepuluh hari pertama pada bulan tersebut lebih dicintai oleh Allah. Tentu saja kita hamba Allah yang beriman dan amat cinta kepada-Nya, tidak akan menyia-nyiakan waktu ini. Kita hendaknya bertekad untuk memaksimalkan jumlah amalan. Bukan itu saja, sebagai murabbiyah di dalam rumah, hendaknya ibu selain mencontohkan ketaatan kepada Allah, juga aktif mengajak anggota keluarga untuk melakukan hal yang sama agar rumah kita menjadi cahaya tempat syiar-syiar agama Allah terpancar.
Bimbingan serta arahan untuk memaksimalkan amal di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah kepada keenam putra-putrinya juga diupayakan oleh Ukhtuna Zulfa, santriwati angkatan 202. “Sebagai ibu, saya sering menyampaikan kepada anak-anak, ini waktunya kita kumpulin pahala sebanyak-banyaknya, seperti orang lagi panen. Saya jelaskan dengan bahasa sederhana sesuai umur mereka,” prolog beliau. “Misalnya ke anak SD saya bilang, kalau kita banyak dzikir, shalat, dan puasa di hari ini, pahalanya besar sekali, lebih dari hari biasa. Untuk anak remaja, saya tambahkan dalil dan sedikit penjelasan tentang keutamaan 10 hari pertama. Biasanya saya kaitkan dengan aktivitas mereka, misalnya habis shalat kita tambahkan dzikirnya, pagi hari biasakan bertakbir,” tutur pengajar yang berdomisili di Tangerang Selatan ini.
Ukhtuna Febby, santriwati angkatan 222 berbagi pengalaman bagaimana cara beliau menanamkan prinsip-prinsip ibadah kepada anak-anak yang masih di bawah umur. “Karena anak-anak saya masih kecil-kecil yaitu umur enam dan dua tahun, maka saya menjelaskan keutamaan bulan Dzulhijjah dengan buku, kita membaca bersama atau mengerjakan aktivitas yang dianjurkan oleh buku tersebut, yaitu lebih fokus kepada amalan sunnah yang ringan seperti bertalbiyah, berdzikir dan lain-lain,” terangnya.
Momentum Melatih Ketaatan, Keikhlasan, dan Kesabaran
Kita ketahui bersama bahwa di balik perintah ibadah haji yang agung, ada kisah tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya. Istrinya, ibunda Hajar yang benar-benar menerima dengan ikhlas perintah Allah melalui suaminya, adalah contoh ketaatan seorang wanita beriman yang berserah serta bertawakal untuk menjalani apa-apa yang Allah tetapkan baginya. Kisah kesabaran nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menghadapi ujian hidup, bisa jadi momentum bagi para ibu untuk meneladan kisah beliau dan keluarganya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ketaatan kepada suami selama tidak memaksiati Allah adalah ibadah. Kesabaran dalam membersamai anak-anak adalah bagian dari ikhlas kepada takdir Allah yang insyaallah berbuah pahala, sebagaimana sabarnya nabi Ismail ‘alaihissalam ketika hendak dijadikan kurban.
Berikhtiar mendidik anak-anak dengan menjadi teladan yang baik adalah bagian dari perjuangan untuk melanjutkan syiar-syiar agama Allah. Doa dan tawakal adalah harapan yang harus terus-menerus kita gantungkan kepada Allah agar apapun yang kita jalani dalam hidup ini tetap memberi ketenangan kepada jiwa, karena kita yakin bahwa Allah senantiasa membersamai kita.
Selain contoh ketaatan yang ibunda perlihatkan, cara berkomunikasi dan pendekatan yang baik kepada putra-putri kita merupakan salah satu kunci agar mereka dengan sukarela ikut kepada ajakan ketaatan yang kita serukan. Ukhtuna Zulfa mengungkapkan berusaha sebisa mungkin untuk tidak marah ketika terpancing emosi, tapi lebih kepada mengajak, terutama kepada anak-anak yang sudah besar. “Anak biasanya lebih mudah ikut kalau diajak, bukan disuruh terus,” tegasnya.
Perjalanan ibu dalam membimbing anak-anak untuk menjalankan ibadah tidak selamanya akan berlangsung mulus, akan tetapi kadang ada masanya anak-anak tidak sejalan dengan prinsip-prinsip yang kita tanamkan. “Kita tidak boleh langsung emosi. Kita bisa mengajak bicara empat mata dengan harapan bisa mencari tahu sebabnya sehingga kita membantu mereka untuk mencari solusinya. Biasanya kadang capek, kadang malas. Kalau alasan capek biasanya saya juga berempati dengan rasa capeknya mereka, bahwa ummi juga capek, tetapi kita butuh Allah. Kalau tetap sulit saya beri batasan (tegas tetapi tidak kasar) dan tetap didoakan. Karena kita sadar, hidayah itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tugas kita adalah terus menasihati dengan sabar. Semoga Allah menjadikan anak-anak kita shalih dan shalihah, taat kepada-Nya, dan menjadi penyejuk hati. Aamiin,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Peran Ibu Dalam Menjaga Ketaatan Keluarga
Allah lebih mencintai ibadah kecil tetapi dilakukan terus menerus dibanding ibadah yang bernilai besar tetapi hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja. Para ibu hendaknya konsisten menjaga ritme ibadahnya sehingga hal itu bisa memotivasi putra-putrinya untuk turut serta menjaga ibadah.
Selain itu, motivasi atas hakikat perlunya ibadah juga perlu ditekankan kepada anak. Ukhtuna Yarisa, santriwati angkatan 221 yang juga bertugas sebagai mediator di HSI Sakinah mengatakan selalu berusaha mengingatkan putranya agar beribadah semata-mata karena ibadah adalah perintah Allah. “Agar putra saya bisa istiqamah, saya selalu mengingatkan bahwa Allah maha melihat dan maha mengetahui apa yang kita lakukan, jadi lakukanlah ibadah bukan karena disuruh-suruh ibu, tapi karena ibadah adalah perintah Allah. Saya juga tidak mengiming-imingi anak saya dengan hadiah-hadiah jika dia rajin ibadah, sebab buat saya anak itu harus ditekankan beribadah karena Allah bukan karena ada hadiahnya. Anak saya hanya saya apresiasi dengan ucapan dan pelukan. Kalaupun ada hadiah,sekali-kali saya hanya menyediakan kue atau makanan yang dia senangi,” ucapnya.
Penutup
Berlomba-lomba dalam kebaikan adalah perintah Allah bagi setiap hamba-Nya. Jadilah ibu pelopor dalam kebaikan yang dimulai dari rumah sendiri, terutama di bulan mulia ini. Berusahalah memohon ampunan kepada Allah dan senantiasa dalam ketaatan tanpa syarat dan keluhan seperti yang dicontohkan ibunda Hajar. Para ibu adalah penegak syiar-syiar agama Allah dari rumah-rumah mereka. Para ibulah yang menjadikan rumahnya bercahaya ketika perintah-perintah Allah ditegakkan. Allah melihat apa yang kita usahakan, maka teruslah memohon pertolongan-Nya agar senantiasa menjadi spirit bagi seluruh anggota rumah untuk tetap dalam ketaatan kepada Allah. Barakallahufiikum.