Serba-Serbi

Mencoba Jasa Titip, Bisnis Minim Modal dengan Untung Menggiurkan

Reporter: Loly Syahrul

Editor: Dian Soekotjo


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Wahai manusia, makanlan yang halal lagi baik dari muka bumi dan janganlah engkau ikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia

[QS Al Baqarah: 168]

Tidak satupun makhluk bergerak di muka bumi, melainkan telah Allah jamin rezekinya. Hamba beriman tentu memahami hal ini dan berarti tidak perlu mengkhawatirkan perihal rezeki. Namun, bukan berarti manusia berdiam diri saja menunggu nafkah datang menghampiri, karena menyempurnakan ikhtiar juga petunjuk yang perlu dilakoni.

Mengenai cara usaha, tersedia banyak yang bisa dipilih. Syaratnya, tentu saja, sejalan dengan hukum muamalah. Jangan sampai melanggar syariat. Maka meski berbagai model bisnis kini bermunculan, pastikan pilihan kita tidak menabrak panduan Islam.

Bisnis jasa titip atau jastip mungkin layak dicoba. Usaha ini nyaris tanpa modal dengan keuntungan yang bisa dibandrol suka-suka, katanya. Apa benar demikian? Edisi ini, Rubrik Serba-serbi Majalah HSI akan ngobrol bersama para pelaku bisnis jastip. Mari simak pengalaman sekaligus tips menggeluti bisnis bidang jasa berikut, dari santri-santri HSI.

Tanpa Modal atau Balik Modal, Pilih Mana?

Ukhtuna Ana Ummu Husna menggeluti bisnis jastip tiga tahun terakhir. Awalnya santri HSI angkatan 222 tersebut, harus pindah sementara ke Kelantan untuk mendampingi suami yang menyelesaikan tugas belajar di Negeri Jiran. “Tidak sengaja, Umm. Ana diajak suami ke Bangkok karena deket dan mumpung lagi di sana. Tujuannya main saja, ketika kampus libur,” ujar ibu muda asli Riau itu menceritakan muasal dirinya terjun ke dunia jastiper.

Ummu Husna mengaku beruntung seorang sepupu memintanya membelanjakan beberapa titipan, setelah mendengar rencananya bersama suami bepergian ke Bangkok. “Memang barang-barang di sana bagus dan murah-murah,” kenangnya. “Jiwa dagang langsung meronta-ronta, hahaha…,” sambung Ummu Husna diiringi derai tawa.

Masa itu, bisnis jastip tengah booming. Pas sudah.. Ummu Husna tak menyia-nyiakan kesempatan. Setelah mengantongi izin dari suami, Ummu Husna pelan-pelan membangun bisnis jastipnya dengan berburu banyak informasi melalui internet. “Referensi banyak ana dapat dari internet, mulai dari jenis barangnya, tempatnya, sampai ekspedisi,” Ummu Husna berbagi cerita.

Ummu Husna mengaku mengawali bisnis jastip tanpa modal. “Hanya foto-foto yang mau dijual dan upload ke medsos” tuturnya. “Kita pasang harga yang masuk akal,” Ummu Husna menerangkan. Pada kesempatan bepergian berikutnya, barulah ia belanjakan titipan para pembeli yang sudah memesan. Menurut Ummu Husna, ia belum pernah mengalami kerugian dengan jastip model ini. “Memang kita harus siap menanggung resiko, seperti harga barang naik atau barang habis,” ujarnya. “Tapi yang sudah-sudah, ana belum pernah sampai tekor. Malah sering dapat diskon. Alhamdulillah,” tambahnya.

Ummu Husna mengaku beberapa kali juga melayani titipan pembelian, di mana ia menalangi lebih dulu harga barang. Untuk cara ini, Ummu Husna mengaku tak mau bertransaksi sebelum barang di tangan. “Lebih aman,” akunya. Ummu Husna beralasan bahwa ia dapat menentukan harga jual yang telah ditambah laba, kemudian. “Modal balik seratus persen dan jelas kita dapat untung,” terangnya. Model jastip yang perlu modal awal ini, Ummu Husna terapkan hanya pada orang-orang terdekat dan terpercaya. “Kalau belum kenal, ana belum berani. Khawatirnya terlanjur kita beli, ternyata batal,” ujarnya.

Menanggung Resiko

Dalam perdagangan, resiko kerugian selalu ada dan karena itulah seorang pedagang layak mendapatkan keuntungan. Tak terkecuali bisnis jastip. Nampaknya kepercayaan adalah unsur utama yang harus ditegakkan antara penitip dan yang dititipi. Jika salah satu pihak ingkar, maka pihak lainnya bakal menderita kerugian.

Ukhtuna Naimah Ummu Ukasyah punya pengalaman tersendiri tentang hal ini. Warga Pamulang, Tangsel, ini memulai usaha jastip tahun 2019. Santri HSI Angkatan 221 itu khusus menawarkan jastip seputar pakaian syar'i, dari gamis, khimar, kurta, jubah, hingga mukena. Perjalanannya sebagai jastiper tak selalu mulus tapi mungkin menjadikannya kaya pengalaman.

“Qadarullah, ada hal kurang menyenangkan yang ana alami,” ungkap Ummu Ukasyah mulai berkisah. Ternyata seorang pemesan membatalkan sepihak pesanannya ketika barang terlanjur dibeli Ummu Ukasyah. Bahkan tidak bisa dikatakan membatalkan karena yang bersangkutan tahu-tahu menghilang atau tidak bisa dihubungi, saat masa pembayaran tiba. “Padahal menurut kami, kami telah berusaha senantiasa fokus kepada faktor yang membuat pelanggan senang menjadi customer, seperti layanan yang ramah dan memberikan fast respon,” tutur Ummu Ukasyah. Qadarullah, sudah resiko. “Tetap harus kami terima dengan ridho dan lapang dada,” ujar Ummu Ukasyah nampak mengikhlaskan. Sungguh pelajaran berharga, karena sejak peristiwa itu, Ummu Ukasyah lebih berhati-hati melayani pelanggan.

Ummu Ukasyah sendiri melakukan persiapan terbilang matang untuk bisnisnya. Ia mengaku memulai bisnis jastip dengan mengikuti kelas muamalah yang diadakan Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi. “Agar bisa berbisnis sesuai syariat.” ungkapnya. Meraup untung memang tujuan dalam berdagang, tapi hukum Allah jangan sampai ditendang.

Kaidah Saling Menguntungkan

Jastip pada prinsipnya memberikan kemudahan bagi konsumen yang tidak sempat berbelanja sendiri. Bisa karena banyak alasan, seperti tempatnya yang jauh, harga yang jauh lebih miring dibanding harga barang yang tersedia di sekitar pelanggan, atau bahkan karena memang barangnya unik dan berkualitas. Ukhtuna Wita Ummu Alfatih, pelaku bisnis jastip lainnya, menjabarkan keuntungan-keuntungan.

“Dengan menggunakan jastip, penitip bisa mendapatkan beberapa keuntungan,” ungkapnya. Ia melanjutkan, “Yaitu harga yang jauh lebih murah karena promo dan diskon yang didapat saat event berlangsung, bisa mendapatkan produk yang belum tentu ada di store atau marketplace official, mendapatkan hadiah jika sedang ada promo, efisiensi waktu, tenaga, dan bujet.”

Ummu Alfatih menerangkan alasan menggunakan jastip menjadikan urusan belanja lebih efisien ialah karena pelanggan cukup memantau gadget tanpa perlu keluar rumah. “Terhindar dari kemacetan, antrian, dan lebih terkontrol dalam berbelanja,” imbuh santri HSI Angkatan 181 tersebut. Ummu Alfatih sekaligus mengklaim bahwa poin-poin di atas, akan diperoleh pelanggan-pelanggan setia ketika menggunakan jastip miliknya, insyaallah.

Ummu Alfatih, yang juga berdomisili di Tangerang ini, dengan bersemangat menceritakan perjalanannya merintis usaha. “Ana mencari tahu dulu ilmu jastip agar tidak salah,” akunya. Ia melanjutkan, “Awalnya sempat ragu karena sama sekali belum punya pengalaman tapi ternyata Alhamdulillah, dapat respon baik dari teman-teman.” Kenyataan itu pula yang menguatkan Ummu Alfatih untuk meneruskan bisnis jastip. Seiring perjalanan, ia telah memiliki tim sekarang.

“Kami menawarkan produk kecantikan, perawatan wajah dan tubuh, produk rumah tangga, produk ibu, bayi dan anak, mainan anak, produk fashion dewasa,” ujar Ummu Alfatih sembari promosi.

Selanjutnya, ia menyambung keterangan dengan mengungkapkan keuntungan dari sisi pedagang alias jastiper, “Dengan usaha ini ana bisa menambah pengalaman dalam bermuamalah, meningkatkan kemampuan berinteraksi di media sosial.”

Ummu Alfatih mengaku juga dipaksa menjadi lebih memahami produk yang dijualnya karena ia harus mengunggah kriteria produk dengan gamblang atau lebih jelas di media sosial. Makin lengkap uraian, biasanya produk itu makin banjir peminat. Dan, satu lagi alasan utamanya, tentu saja karena keuntungan bisnis jastip lumayan menggiurkan.

Memilih Jenis yang Sesuai

Bisnis jastip termasuk model muamalah kontemporer atau kekinian menurut Ustadz Ammi Nur Baits, dalam sebuah penjelasan beliau hafidzahullah mengenai hukum jastip, yang diunggah ANB channel melalui kanal YouTube[1]. Penggolongan ini didasari semaraknya bisnis jastip masa sekarang, di mana umumnya para pelaku memanfaatkan media sosial, sehingga transaksi bisa dilakukan meski antara jastiper dengan customer terpisah jarak cukup jauh.

Ustadz Ammi membagi proses jastip dalam dua kelompok besar, yaitu ketika customer menyerahkan uang sebelum pembelian barang dan ketika customer menyerahkan uang setelah pembelian barang. Dua kelompok tersebut beliau hafidzahullah bagi kembali menjadi masing-masing dua kriteria.

Ketika customer menyerahkan uang sebelum jastiper membeli barang, transaksi terjadi dalam dua kondisi. Pertama, jastiper sebagai wakil, dan kedua, jastiper sebagai penjual salam. Ketika jastiper menjadi wakil, maka seluruh resiko ditanggung customer dan jastiper sekedar sebagai perpanjangan tangan customer. Untuk jasanya, jastiper berhak mendapatkan imbalan.

Kriteria kedua adalah jastiper mempraktikkan akad salam. Jastiper menentukan harga sebelum ia membeli barang dan ia sekaligus sebagai penanggung resiko. Artinya, ketika jastiper membeli barang ternyata harganya naik, maka ia merugi, atau sebaliknya, ketika jastiper mendapatkan harga lebih murah dari perkiraannya, maka ia meraup untung berlipat.

Penggolongan besar yang kedua adalah ketika uang diserahkan customer setelah jastiper membeli barang. Pada kelompok ini, jastiper dapat menjadikan transaksi berakad qardh ataupun jastiper menjadi reseller. Akad qardh artinya adalah akad pinjaman sehingga saat akad qardh diterapkan, sudah tentu transaksi menjadi aktivitas sosial, sehingga jastiper murni berniat memberikan kemudahan tanpa mengambil keuntungan. Sedangkan ketika jastiper berperan sebagai reseller, maka syarat utamanya adalah barang telah ia miliki. Setelah membeli barang yang diperdagangkan, barulah jastiper menentukan harga dan melakukan transaksi dengan customer.

Nah, ternyata bisnis jastip bukan hanya satu jalan. Tergantung anti atau antum akan menerapkan yang mana. Pastikan memahami betul ketentuan syariat sebelum kita melakukan bisnis jastip, bahkan semua jenis muamalah.

Tips Bisnis Jastip

Dari beberapa pengalaman santri HSI yang terjun ke dunia jastip, kita dapat menyimpulkan beberapa hal. Catatan berikut mudah-mudahan dapat menjadi jurus jitu menaikkan performa bisnis jastip yang akan atau sedang dijalani.

Pertama, mulailah dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala agar usaha apapun yang tengah kita jalani, berlimpah barakah-Nya.

Dua, jangan pernah ragu memulai hal baru selama tidak melanggar syariat. Contohnya bisnis jastip ini. Jangan takut gagal karena semua memiliki resiko masing-masing dan kita tidak pernah tahu melalui jalan mana keberhasilan akan tercapai.

Ketiga, bekali diri dengan ilmu yang memadai. Jangan sekali-kali berbisnis tanpa ilmu karena bisa-bisa kita terseret pada hal-hal yang diharamkan. Tsumma naudzubillah.

Empat, memulai bisnis jastip tanpa modal mungkin bisa dijadikan langkah awal. Tanpa pusing memikirkan modal, anti atau antum dapat memulai bisnis ini sambil menjajaki medan. Anti atau antum dapat mengenali potensi komoditasnya sekaligus riset pasar. Harapannya kita kemudian mengenali keinginan pasar dan dapat mulai meraup keuntungan lebih besar.

Kelima, mengingat jastiper lebih berbau jasa, rasanya perlu membuat personal branding yang baik. Tanamkan pada diri untuk memiliki pribadi yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, bertanggung jawab, jujur, amanah, profesional, dan totalitas. Melayani customer dengan adab yang baik, sebagaimana kita ingin diperlakukan, juga merupakan hal penting yang perlu kita wujudkan.

Selanjutnya keenam atau tips terakhir, jangan bosan terus belajar meningkatkan kapasitas diri dalam mengelola media sosial karena media sosial potensial dijadikan sarana penopang bisnis jastip. Konten media sosial yang menarik bisa mendongkrak omset. Utamakan selera customer agar calon-calon pembeli ini menjadi tertarik dan bertubi-tubi memesan.

Bagaimana? Tertarik mencoba? Selamat berbisnis teman-teman. Mari bekerja keras agar menjadi hamba yang lebih kuat karena mukminin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga usaha antum sekalian mendatangkan kemudahan. Jangan pernah berputus asa atas rahmat Allah ya…. Dan jangan terjun berdagang sebelum memahami ilmunya. Baarakallahu fiikum…

4