Menatap Masa Depan
Penulis: Azhar Rizki
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc.
LAFAL AYAT
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Wahai anak-anakku, pergilah! Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Tafsir Ayat[1]
Allah Ta’ala menceritakan kesabaran Nabi Ya’qub alaihissalam tatkala tertimpa musibah. Hal itu setelah saudara kandung Nabi Yusuf alaihissalam yang bernama Bunyamin ikut ditahan di Mesir. Penahanan tersebut lantaran Bunyamin tertuduh mencuri alat takar di dalam karungnya. Padahal, itu semua adalah siasat dari Nabi Yusuf.
Ketika rombongan saudara Yusuf pulang, mereka ceritakan kisah penahanan Bunyamin dan alibi mereka, kalau-kalau Nabi Ya’qub tidak percaya. Dengan mengetahui rekam jejak mereka dahulu, Ya’qub tidak percaya begitu saja. Seperti sebelum-sebelumnya, Ya’qub hanya bisa pasrah kepada takdir Allah dan bersabar terhadap ujian yang menimpanya. Anak-anak Nabi Ya’qub menangkap pemandangan yang berbeda. Mereka mengira bahwa sang ayah sakit-sakitan sehingga hampir tak berhasrat untuk hidup lantaran tidak sabar akibat terus mengingat-ingat kejadian Nabi Yusuf yang dulu hilang di sumur. Ayah mereka putus asa.
Setelahnya, Nabi Ya’qub menunjukkan kepada anak-anaknya, bahwa beliau tetap bersabar dengan putusan yang Allah berikan. Optimisme masih terus ada di dalam hatinya untuk bertemu lagi dengan Yusuf, Bunyamin serta anak pertamanya yang masih belum kembali dari Mesir lantaran tertahan perasaan bersalah terhadap sang ayah. Berbekal kabar dari Malaikat Maut yang menyebutkan bahwa anak-anaknya masih hidup dan tengah berada di Mesir, Ya’qub berpesan kepada anak-anaknya yang tersisa,
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Wahai anak-anakku, pergilah! Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”
Di sini pula Nabi Ya’qub sekaligus mengajari anak-anaknya, bahwa putus asa dari rahmat serta kasih sayang Allah hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman dan mengingkari kuasa-Nya.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
1. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan perbedaan antara tajassus (التجسس) dan tahassus (التحسس). Kata tajassus digunakan dalam konteks sesuatu yang buruk, sedangkan tahassus dipakai untuk suatu tujuan yang baik. Oleh karena itulah, kita dilarang ber-tajassus (mencari-cari aib) terhadap sesama muslim, sebagaimana disebutkan di dalam surah Al-Hujurat ayat 12.
2. Harapan akan membuat hamba bersegera dan bersungguh-sungguh untuk meraih hal yang diharapkan. Sementara itu, putus asa akan menjadikan seseorang berat hati dan bergerak lamban. Seharusnya, hal yang paling diharapkan oleh hamba ialah fadhilah (keutamaan) Allah, kebaikan, kasih sayang serta pertolongan-Nya. Adapun orang yang kafir, karena tidak percaya kepada Allah, menganggap kasih sayang Allah sangat jauh tempatnya.[3] Oleh sebab itu, jika kita benar-benar mengharap surga dan ampunan Allah, niscaya kita akan terus optimis terhadap Allah serta semua yang Dia putuskan. Kita pun dilarang menyerupai perbuatan orang kafir yang pesimis terhadap rahmat Allah.
3. Sesungguhnya orang mukmin tidaklah pernah berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala dan pertolongan-Nya. Berbeda dengan orang kafir yang akan berputus asa saat kesulitan melanda. Ayat ini pula dapat dijadikan sebagai dalil, bahwa berputus asa dari rahmat Allah merupakan dosa besar.[4]
4. Jika Allah hendak memberi jalan keluar dari kesulitan, niscaya Dia akan membukakan jalan yang mengantarkan seseorang menuju ke sana. Siapa saja yang percaya bahwa Allah Mahamampu atas segala sesuatu, tidak mungkin akan memustahilkannya. Oleh karena itu, kewajiban hamba ialah mengambil sarana-sarana tersebut lalu bersandar kepada Allah supaya memudahkannya.[5] Lihatlah, lamanya waktu kehilangan Yusuf mungkin akan membuat sebagian orang merasa pesimistis untuk menemukannya lagi. Berbeda dengan Ya’qub alaihissalam, beliau selalu yakin bisa menemukan Yusuf dengan izin Allah.
5. Jika ujian dan keadaan semakin sulit, biasanya jalan keluar juga semakin dekat. Hal itu didasari oleh sebuah rahasia, bahwa ketika usaha seseorang sudah buntu, dirinya akan berputus harap terhadap makhluk, termasuk pada dirinya sendiri. Di saat yang bersamaan, hatinya akan bergantung hanya kepada Allah. Dengan demikian, siapa saja yang memutus harapannya kepada makhluk dan hanya bergantung kepada Allah, pasti Allah akan kabulkan permintaannya.[6]
6. Harapan yang baik sangat berbeda dengan sekadar angan-angan. Seorang mukmin wajib berharap dengan harapan yang baik karena itu juga yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.[7] Adapun angan-angan merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh orang kafir. Mereka mengangankan beroleh kenikmatan, tetapi tak tergerak untuk beramal mewujudkan buktinya dalam tindakan nyata.
7. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjelaskan, “Firman Allah Ta’ala, ‘Masuklah kalian ke dalam surga dengan sebab apa yang kalian kerjakan,’[8] merupakan nash yang jelas bahwa masuk ke dalam surga tidak bisa hanya berdasarkan angan-angan tanpa amal nyata, sebagaimana firman Allah Ta’ala, ‘(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab.’[9] Oleh sebab itu, barang siapa yang berbuat baik, pasti akan dibalas.[10] Demikian pula siapa saja yang berbuat jahat, pasti dibalas.” Demikian pula yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub alaihissalam tatkala berikhtiar mewujudkan imannya kepada Allah dengan menyuruh anak-anaknya mencari saudara mereka, Yusuf dan Bunyamin.
8. Keimanan seorang mukmin akan terlihat saat dia diuji dengan musibah. Dirinya akan terus berdoa tanpa peduli dengan kondisi yang terjadi dan sikapnya tidak akan berubah lantaran yakin bahwa doanya akan diijabah sebab ia tahu bahwa Allah lebih mengetahui segala sesuatu yang terbaik buatnya. Bisa jadi, Allah hanya ingin melihatnya terus beriman, bersabar dan hanya berharap kepada-Nya. Adapun orang yang ingin segera dikabulkan permintaannya, sesungguhnya itu merupakan tanda lemahnya iman. Lihatlah, Ya’qub bersabar dan berharap kepada Allah dengan harapan yang baik tatkala Yusuf hilang. Demikian juga ketika Bunyamin ikut raib, harapan itu tidak pernah luntur. Jangan sampai ketika kita berada dalam ujian dan musibah, lalu kita malah bersikap kurang ajar kepada Allah Ta’ala dengan tidak sabar dan berpikiran negatif.[11]
9. Momentum Idul Fitri seharusnya bisa kita gunakan sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih baik. Setelah Ramadhan yang kita lalui, Idul Fitri harus menjadi sebuah tanda bahwa kita adalah insan yang baru, dengan kebiasaan baru yang lebih baik dibanding dengan sebelumnya. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah pernah menyebutkan, “Wahai sekalian orang yang bertobat, berpuasalah kalian sekarang dari memperturutkan hawa nafsu, supaya kalian bisa menjumpai Idul Fitri nanti pada saat pertemuan dengan Allah. Jangan sampai dirimu terlalaikan oleh umur lantaran lambatnya ajal sebab sebagian besar waktu siang yang kita gunakan untuk berpuasa sudah berlalu, sedangkan hari pertemuan dengan Allah kian mendekat.”[12] Wallahu a’lam.
Referensi
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Dar Ibnu Hazm, Arab Saudi.
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Ad-Dar Al-‘Alamiyah, Mesir, Cet. 1 tahun 1434 H/ 2012 M.
- At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad Ath-Thahir Ibnu ‘Asyur, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Majmu’ Rasa’il Ibni Rajab, Zainuddin Abdurrahman Ibnu Rajab Al-Hanbali, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shaid Al-Khathir, Imam Abul Faraj Ibnu Al-Jauzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Mausu’ah Al-‘Allamah Al-Imam Mujaddid Al-‘Ashr Muhammad Nashiruddin al-Albani, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- At-Tafsir Al-Muharrar, Mausu’ah Dorar Saniyah, https://dorar.net/tafseer/12/18.