Keliling HSI
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Menapaki Jalan Hidayah dari Pedalaman Kalimantan

Reporter: Dian Pujayanti

Redaktur: Dian Soekotjo


"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir (jika mereka berhenti dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu..."

[QS. Al-Anfal: 38]

Tak banyak manusia mengambil keputusan besar di usia belia. Namun tidak demikian bagi Ukhtuna Mariana. Perempuan Dayak tulen dari pedalaman Kalimantan ini, justru Allah anugerahi hidayah Islam di usia muda. Di tengah kuatnya ikatan tradisi, Ukhtuna Mariana memilih jalan lurus mengikuti fitrahnya.

Hidayah memang nikmat yang Allah anugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Jalan yang mengantarkan seseorang menuju Islam, juga tidak selalu sama. Setiap orang mungkin menempuh jalan berbeda dan kisah Ukhtuna Mariana menjadi salah satu di antaranya.

Ketertarikan Sejak Dini

Jika berkilas balik pada perjalanan awal, kita akan menemukan bahwa ternyata ketertarikan Ukhtuna Mariana terhadap Islam tumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Semuanya berawal dari pesan-pesan yang ia saksikan dalam sinetron Ramadhan. Cerita yang banyak menampilkan keseharian muslimin itu, menarik perhatiannya. Rasa penasaran yang tumbuh kemudian membawa Ukhtuna Mariana melangkah lebih jauh. Ia mulai akrab dengan tetangga kanan kiri seumuran yang muslim. Ukhtuna Mariana gemar mengikuti mereka.

"Jadi kalau pas ada teman muslim pergi ngaji, saya ikut. Mereka shalat, saya ikut. Dan terasa tenang ya," kenangnya.

Namun, ketertarikan itu sempat terpaksa ia kungkung. Gunjingan dari keluarga membuat Ukhtuna Mariana merasa takut sehingga memilih tak lagi ikut-ikutan pergi mengaji atau mengerjakan shalat.

Hingga ia bersekolah di SMP dan Allah kembali bukakan jalan bersinggungan dengan Islam. Karena di kampung halaman belum terdapat SMP, Ukhtuna Mariana melanjutkan pendidikan di kota lain. Ukhtuna Mariana dikirim orang tuanya tinggal bersama sang sepupu demi bisa melanjutkan pendidikan.

"Pas masuk SMP saya pindah ke kota tempat kakak sepupu karena di kampung tidak ada SMP, dan ketika itu saya tertarik lagi sama Islam. Karena sering baca-baca majalah, seperti Hidayah dan Hikmah, tentang azab kubur dan lain-lain," ujar Ukhtuna Mariana berkilas balik.

Di perantauan ini juga, Ukhtuna Mariana mengalami sebuah mimpi yang membekas dalam ingatannya hingga sekarang. Dalam mimpi tersebut, ia merasa ditangkap oleh sesosok makhluk yang sangat besar. Ukhtuna Mariana merasa melafalkan mantra sesuai keyakinannya saat itu, tetapi tidak membuahkan hasil. Hingga entah dari mana asalnya, ia kemudian dengan yakin mengucapkan laa ilahaillallah. Terus menerus tak kunjung henti. Seketika, Ukhtuna Mariana terbebas dari cengkeraman makhluk raksasa tersebut, dalam mimpinya.

Pengalaman itu tak lekas hilang dari ingatan Ukhtuna Mariana. Baginya, itu salah satu peristiwa yang akhirnya menguatkan keyakinannya untuk bersyahadat. Tahun 2005, di bangku kelas IX SMP, Ukhtuna Mariana mantap berikrar. Ia bersyahadat.

Membayar Denda Adat

Adalah guru mata pelajaran agama Islam tempat Ukhtuna Mariana bersekolah, yang kemudian menjadi sosok penting dalam membimbing dan mentalqin Ukhtuna Mariana bersyahadat. Semoga Allah melimpahkan limpahan pahala jariyah bagi beliau.

Sebenarnya telah berjalan beberapa waktu sebelum momen pengucapan syahadat, Ukhtuna Mariana terbilang demikian dekat dengan sang guru agama tersebut. Di sela-sela waktu sekolah, Ukhtuna Mariana kerap menemui beliau bertanya tentang Islam. Pertemuan-pertemuan penuh berkah itu sering kali berlangsung di tempat yang sederhana, termasuk saat sang guru sedang sibuk berjualan di koperasi sekolah.

Pilihan besar yang diambil oleh Ukhtuna Mariana untuk bersyahadat, menuntut pengorbanan yang terbilang bukan kecil. Di kampung halaman, terdapat sebuah tradisi adat yang sangat ketat dan mengikat. Aturan tersebut mewajibkan denda finansial yang cukup besar bagi siapa saja yang memutuskan untuk keluar dari keyakinan nenek moyang.

"Soalnya di kampung itu kalau jadi muslim harus bayar adat. Mau tidak mau ya harus. Semoga Allah selalu jaga saya dan keturunan saya," jelas Ukhtuna Mariana menceritakan pengalaman apa adanya.

Denda adat yang harus ditanggungnya sejumlah 1,5 juta rupiah. Nilai tersebut lumayan besar kala itu dan wajib dibayarkan secara tunai dalam satu kali pembayaran. Aturan adat di sana sangat tegas. Sama sekali tidak memberikan kelonggaran bagi Ukhtuna Mariana untuk mencicil atau menunda sejenak.

Namun, karena memang tak memiliki uang, Ukhtuna Mariana baru menunaikannya sekitar dua tahun setelah resmi memeluk Islam. Itupun setelah ia tak kunjung bisa mengumpulkan uang sejumlah yang diminta dan tak tahu lagi harus bagaimana selain meminjam kepada seorang kawan. Ia terpaksa nekat.

Ayahanda Ukhtuna Mariana terang-terangan mengatakan tidak mau mengeluarkan uang pribadi sepeser pun untuk membantu anaknya melunasi denda adat. Tetapi beliau berkenan membantu mengantarkan sejumlah uang itu kepada tetua setempat guna membayar denda adat.

Hutang uang untuk membayar denda adat sempat menjadi beban pikiran Ukhtuna Mariana selama bertahun-tahun. Maha Pengasih dan Penyayang Allah yang menentukan jalan keluar demikian indah. Biidznillah, setelah lulus SMA dan memutuskan langsung menikah, Allah gerakkan suami Ukhtuna Mariana, dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab, melunasi seluruh sisa hutang. Pernikahan itu tidak hanya membawa Ukhtuna Mariana pada kehidupan yang baru, tetapi juga membebaskannya dari belenggu ujian finansial masa lalu.

Menikah dan Meninggalkan Kampung Halaman

Pernikahan menjadi babak baru dalam perjalanan hidup Ukhtuna Mariana. Setelah lulus SMA, ia menikah dan masih menetap di kampung halaman hingga tahun 2014. Saat usianya menginjak 25 tahun, ia mengikuti sang suami kembali ke kampung halaman ke Desa Bolo, Kecamatan Demak, Jawa Tengah.

Perpindahan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Bagi Ukhtuna Mariana, meninggalkan tanah kelahirannya berarti memulai kehidupan di lingkungan yang sama sekali baru, dengan budaya, kebiasaan, dan suasana masyarakat yang berbeda dari yang selama ini ia kenal, di pedalaman Kalimantan. Namun, di sanalah Allah membukakan lembaran baru dalam perjalanan hidupnya justru untuk menemui hidayah jalan lurus.

Di lingkungan baru, Ukhtuna Mariana diterima dengan baik oleh keluarga besar suami maupun masyarakat sekitar. Kehangatan tersebut membuatnya lebih leluasa berinteraksi dan belajar mengenal Islam dari orang-orang terdekat yang memang mayoritas muslim.

Melalui keluarga sang suami, Ukhtuna Mariana mulai mengenal dakwah sunnah. Berbagai bacaan dan obrolan yang sarat faedah semakin menambah pemahamannya tentang Islam. Tanpa disadari, kepindahan itu menjadi salah satu pintu yang Allah bukakan untuk mempertemukannya dengan dakwah sunnah.

Hidayah Sunnah Melalui Kerabat

Setelah menetap di Jawa, Ukhtuna Mariana dan suami langsung menempati rumah milik keluarga. Di tengah lingkungan yang menerima kehadirannya dengan baik, Allah mempertemukan Ukhtuna Mariana dengan seorang kerabat yang kemudian menjadi wasilah baginya mengenal dakwah sunnah.

Berawal dari rasa ingin tahu yang besar serta kegemarannya membaca bersama sang suami, keduanya perlahan mantap menapaki jalan hijrah. "Istri sepupu suamilah perantaranya. Semoga Allah selalu jaga beliau dan menjadikan wasilah itu sebagai pemberat timbangan amal kebaikannya,” ujarnya berbagi kisah. β€œDi rumahnya banyak majalah-majalah sunnah dan sering cerita-cerita soal sunnah. Dan saya kan memang kadang suka kepo ya.. Semoga selalu kepo pada hal-hal baik," imbuhnya mengenang langkah-langkah awalnya meniti sunnah.

Hubungan Ukhtuna Mariana dengan sang kerabat terjalin cukup rapat. Rumah mereka hanya berjarak sekitar lima menit dengan sepeda motor. Selain menjadi tempat berbagi ilmu, istri sepupu suaminya yang rupanya juga santri HSI tersebut, sering menjadi teman diskusi bagi Ukhtuna Mariana. Di rumah kerabat itulah, ia banyak menghabiskan waktu membaca Majalah As-Sunnah.

Kedekatan keduanya semakin erat karena terjalin atas dasar ukhuwah Islamiyah. Hingga kini, Ukhtuna Mariana masih mengingat sebuah pesan yang disampaikan kepadanya. "Beliau bilang mencintai saya karena Allah, dan berpesan jika di surga nanti tidak ketemu beliau, beliau minta ana cari beliau," ujar Ukhtuna Mariana.

Pesan sederhana tersebut meninggalkan bekas di hati. Bersamaan momen itu, Ukhtuna Mariana menyadari bahwa bagi orang beriman, menjalin ukhuwah bukan sekadar urusan dunia, tetapi ada harapan menjadi tabungan akhirat. Ada asa dari dua orang yang mencintai karena Allah untuk kembali dipertemukan di surga-Nya.

Lagi-lagi, lintasan sederhana itu menjadi pemantik babak baru perjalanan Ukhtuna Mariana sebagai hamba-Nya. Hasrat mempelajari Islam kian subur tumbuh.

Menuju Khidmat Musyrifah

Beberapa tahun setelah kepindahan ke kampung suami, Pontianak, kota yang terbilang asal Ukhtuna Mariana, dilanda musibah kabut asap. Sebuah unggahan teman di Facebook, menarik perhatian Ukhtuna Mariana.

Alhamdulillah, ikut HSI jadi tahu salah satu tanda akhir zaman itu adalah asap, demikian postingan yang terbaca Ukhtuna Mariana. Lepas dari benar-salah kadar pernyataan di media sosial itu, nyatanya kalimat sederhana tersebut membangkitkan rasa penasaran Ukhtuna Mariana. Tanpa menunda, ia mencari informasi tentang HSI AbdullahRoy lalu mendaftarkan diri sebagai santri.

"Saya di HSI masuk tahun 2016, angkatan kedua," terangnya. Tak berhenti di sana, Ukhtuna Mariana mulai membagikan berbagai faedah yang dipelajari kepada orang lain. Salah seorang saudara, alhamdulillah, menyusulnya ikut bergabung menjadi santri HSI. Tentu nikmat tersendiri bagi Ukhtuna Mariana, karena akhirnya ada teman sejalan dari lingkar keluarga yang dapat saling menguatkan dalam menuntut ilmu.

Di samping hasrat menuntut ilmu, keinginan melibatkan diri dalam dakwah sunnah turut menyesaki hati. Keinginan Ukhtuna Mariana untuk berkhidmat sebagai musyrifah, tumbuh juga, bahkan terbilang telah lumayan lama.

Namun, saat niat mulia itu mucul, ia dan suami masih tinggal dengan berbagai keterbatasan. Listrik hanya menyala pada pukul 18.00 hingga 22.00 waktu setempat. Itupun juga bergantung pada panel surya. Jaringan komunikasi masih menjadi tantangan tersendiri. Sinyal telepon sering sekali menghilang hingga berhari-hari. Bahkan, untuk mendapatkan akses internet, Ukhtuna Mariana tak jarang harus berjalan dan mendaki bukit mencari lokasi yang memiliki sinyal.

Kini setelah tinggal di kawasan yang memiliki akses komunikasi lebih baik, kesempatan untuk mewujudkan keinginan pun terbuka bagi Ukhtuna Mariana. "Alhamdulillah, sekarang sudah tinggal di kota jadi sinyal mudah," ungkapnya terdengar penuh syukur. Akhir tahun 2024, Ukhtuna Mariana mendaftarkan diri mengikuti training dan seleksi Musyrifah. Alhamdulillah lolos dan ia mulai bertugas saat santri Angkatan 251 mulai belajar.

Saat menjalankan amanah sebagai Musyrifah, Ukhtuna Mariana merasakan berbagai manfaat dan kepuasan batin. "Bisa muraja’ah sedikit demi sedikit materi yang sudah berlalu. Bisa membantu santri-santri yang lain kalau pas susah login. Mendapat banyak kenalan, juga teman baru,” paparnya berbagi pengalaman.

Semoga Allah senantiasa menjaga Ukhtunna Mariana beserta keluarganya di atas hidayah, serta menjadikan setiap ilmu yang disampaikan sebagai amal jariah yang terus mengalir pahalanya. Aamiin … Baarakallahu fiikum.

24