Menambah Ilmu Lewat Muhadharah Kubra
Reporter: Gema Fitria
Redaktur: Dian Soekotjo
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata,
تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ .
“Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (upaya mendekatkan diri kepada Allah).”
Sumber : Hilyatul Auliya wa Thabaqatil Ashfiya' Juz I hlm. 239.
Naik turunnya semangat menuntut ilmu adalah hal yang wajar. Santri HSI bisa disiplin mencatat dan muraja’ah materi tatkala periode KBM sedang berjalan. Namun, ketika tiba musim liburan, semangat seorang penuntut ilmu sangat mungkin menurun disebabkan jadwal belajarnya terhenti sementara waktu.
Di satu sisi, penting untuk rehat sejenak dari rutinitas belajar. Namun, di sisi lain, masa liburan, apalagi yang cukup panjang, jika tidak dimanfaatkan dengan baik justru mendatangkan petaka. Alih-alih menyiapkan diri agar lebih bersemangat menerima pelajaran baru, yang terjadi malah futur hingga meninggalkan majelis ilmu.
Untuk membantu para santri tetap dalam koridor ketaatan dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat, HSI memiliki program Muhadharah Kubra (MHK) yang diselenggarakan setiap musim liburan. Menjelang dimulainya sesi baru KBM, biasanya dipilih menjadi waktu pelaksanaan. Apa itu MHK? Apa tujuan dan manfaat MHK? Bagaimana pula pengalaman dan kesan santri mengikutinya? Berikut Majalah HSI akan menghadirkan liputannya. Silakan dibaca sampai selesai, yaa..
Sekilas Tentang MHK
Saat ini, HSI mengamanahkan pelaksanaan MHK kepada Divisi HSI Pro. Program Manager Online Event & Digital Strategic HSI Pro, Akhuna Satyo Abu Hafizhan, mengatakan bahwa Muhadharah Kubra merupakan kajian tematik untuk mengisi waktu libur antarsilsilah.
Abu Hafizhan melanjutkan selain untuk mengisi waktu libur, MHK bertujuan menguatkan kembali niat dan keistiqamahan santri dalam menuntut ilmu. “Dan tentunya juga untuk memperkenalkan HSI kepada umat agar bisa belajar aqidah bersama di HSI,” tambahnya melengkapi.
Agar MHK berjalan lancar, Abu Hafizhan mengatakan hal paling penting yang disiapkan adalah mencari pemateri yang memiliki keluangan waktu sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Hal utama lainnya, pemilihan pemateri perlu mendapat persetujuan dari Ustadzuna Dr. Abdullah Roy.
“Selain pemateri, hal lain yang dipersiapkan adalah tim dan teknis streaming. Pengecekan akses internet di tempat pemateri merupakan salah satu poin yang kita perlu perhatikan, agar hasil streamingnya baik didengarkan oleh para peserta,” ujarnya.
Untuk jadwal terdekat, sambung Abu Hafizhan, insyaallah MHK akan dilaksanakan kembali pada bulan Desember 2025.
Kuis Berhadiah Muhadharah Kubra
Mundur ke belakang, pada awal peluncurannya MHK dikelola oleh Divisi Pengembangan Materi dan Evaluasi (DPME). Kepada Majalah, Kepala Divisi DPME, Ukhtuna Sri Sumarni mengatakan MHK pertama kali digelar pada hari Jum’at, 16 Oktober 2020.
Di awal pelaksanaannya dulu, MHK bersifat wajib dan dilengkapi kuis berhadiah untuk menarik minat santri. Ukhtuna Sri menjelaskan, kuis diadakan pada MHK 1 dan 2.
Pada MHK 3, karena beberapa hal, kuis ditiadakan. Kemudian, rencana mengadakan kuis pada MHK 4 juga gagal karena terjadi kendala di web, sehari sebelum pelaksanaan MHK. “Mulai MHK-05, saya sudah tidak in-charge lagi untuk MHK,” tutur santri angkatan 134 ini singkat.
Pengalaman Santri Saat Mengikuti MHK
Salah satu santri Angkatan 182, Ukhtuna Dzakwan Eka, membagikan pengalamannya mengikuti MHK. Ukhtuna Eka, demikian ia biasa disapa, mengaku kerap menyimak lewat YouTube. Ukhtuna Eka merasakan banyak manfaat MHK. Salah satunya menambah ilmu, baik dari materi yang disampaikan maupun dari pertanyaan yang diajukan rekan santri lain sekaligus jawaban pemateri. “Hal ini mungkin akan terasa berbeda jika tidak menyimak MHK secara live via YouTube atau Zoom,” ucapnya.
Dari sekian kali pelaksanaan, MHK paling berkesan bagi Ukhtuna Eka adalah yang diadakan pada tanggal 2 Agustus 2021. Waktu itu, MHK menghadirkan Ustadzuna Dr. Abdullah Roy sebagai pemateri. Tema yang diketengahkan adalah Bekal Menuju Akhirat. “Tema tersebut memotivasi kita bagaimana harus mempersiapkan bekal menuju akhirat dengan cara sebaik mungkin di dunia ini. Misal memperbaiki shalat, beramal shalih, sedekah, dan lain-lain,” pungkasnya.
Pengalaman lain dikisahkan oleh santri Angkatan 172, Ukhtuna Rani Solihat Hidayati. Bagi Ukhtuna Rani, MHK paling berkesan adalah yang dilaksanakan pada tanggal 5 April 2021, dengan judul Tegar di Tengah Pandemi. Untaian nasihat dari Ustadzuna Dr. Abdullah Roy sebagai pemateri waktu itu, lanjut Ukhtuna Rani, demikian pas dengan situasi global yang tengah dirundung wabah Covid.
Ukhtuna Rani menambahkan, di dalam ceramahnya, Ustadzuna mengingatkan bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah. Selain untuk beribadah, kita juga pasti akan diuji, dan salah satu ujian yang sedang dihadapi ketika itu adalah wabah Covid. “Tapi di sini, Ustadz menjelaskan bahwa ujian di dunia bukan hanya musibah, tapi juga ujian nikmat. Jika diberi nikmat kita bersyukur, ketika diberi musibah kita bersabar,” Ukhtuna Rani menukil perkataan Ustadzuna.
Santri lain dari Angkatan 181, Ukhtuna Wiwit Rachmawati, juga merasakan manfaat mendapatkan tambahan ilmu dengan menyimak MHK. Ukhtuna Wiwit mengungkapkan, ada kenikmatan tersendiri jika bisa menghadiri sesi siaran langsung karena berkesempatan bertanya kepada pemateri. “Dengan beragamnya tema yang disajikan dari berbagai ilmu syariat, makin menambah perbendaharaan ilmu. Bahasannya juga berbeda dengan silsilah yang disajikan pada HSI Reguler, sehingga bisa sebagai refreshing sebelum nantinya kita kembali menjalani KBM aktif di program HSI regulernya,” imbuh wanita yang berdomisili di Kebumen ini.
MHK terbaru yang dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2025 lalu, adalah yang paling berkesan bagi Ukhtuna Wiwit. MHK yang mengusung tema Meraih Kemuliaan dengan Ilmu tersebut, diakui Ukhtuna Wiwit melecut semangatnya untuk kembali menjalani proses thalabul ‘ilmi, meskipun disebutnya bukan hal yang mudah.
“Dan bagi yang dimudahkan dengan izin Allah dalam menuntut ilmu, saya rasa juga semakin menambah rasa syukurnya atas berbagai kemudahan yang diperoleh saat ini dalam proses mencari ilmu, di mana kesulitan menuntut ilmu zaman sekarang sangat jauh berbeda dibandingkan ketika zaman para sahabat, para tabi'in, para tabiut tabiin, dan para ulama, yang mereka harus rela menempuh perjalanan dan keletihan yang panjang untuk mendapatkan sebuah ilmu,” urainya.
Ukhtuna Wiwit menyampaikan bahwa seharusnya kita lebih bersemangat belajar, mengamalkan, dan bersyukur karena hidup di zaman yang penuh dengan kemudahan. “Semoga bisa lebih mensyukuri, lebih bersemangat dalam menuntut ilmu, dan mengamalkan serta jika diberi kemampuan untuk mendakwahkan apalagi, Maasyaa Allah sungguh nikmat yang luar bisa, ditambah lagi, ternyata, ilmu merupakan salah satu sebab bisa diraihnya suatu kemuliaan,” tutupnya dengan nada takjub.
Alhamdulillah, hingga hari ini, HSI telah menggelar MHK sebanyak 17 kali. Berganti pemateri, tema bahasan, hingga divisi penanggung jawab. Semoga nasihat dari para ahli ilmu bisa menambah keimanan dan membangkitkan semangat kita untuk terus belajar ilmu syar’i. Nantikan MHK berikutnya. Kalau perlu, mari kita paksakan diri untuk menyimak karena bisa jadi ada satu kalimat yang disampaikan pemateri, yang akan mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufiknya kepada kita. Baarakallaahu fiikum…