Selasar Murabbiyah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Memupuk Jiwa Filantropi dari Rumah

Reporter: Loly Syahrul

Redaktur: Gema Fitria


Semangat filantropi tidak lahir secara tiba-tiba. Kepedulian kepada sesama, kecintaan untuk berbagi, dan keinginan menebar manfaat tumbuh melalui proses pendidikan yang panjang. Rumah menjadi tempat pertama nilai-nilai tersebut ditanamkan dan seorang ibu adalah madrasah ula bagi anak-anaknya. Di tangan seorang ibu, dakwah kepada anak bukan sekadar mengajarkan ibadah, tetapi juga membentuk karakter generasi yang kelak menjadi penolong agama Allah dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Sebagai umat terbaik, kaum muslimin diperintahkan untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Bagi seorang ibu, amanah tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Di tengah perannya mengelola rumah tangga, ia memiliki kesempatan besar menanamkan nilai-nilai Islam kepada putra-putrinya. Dari rumah inilah benih-benih kepedulian, semangat berbagi, dan kecintaan terhadap amal shalih mulai tumbuh.

Namun, dakwah bukanlah tugas yang ringan. Menyampaikan ajaran agama tidak cukup hanya dengan menukil ayat atau hadits, tetapi menuntut ilmu, pemahaman, dan keteladanan. Karena itu, sebelum mengajak anak kepada kebaikan, seorang ibu perlu membekali dirinya dengan ilmu syar'i agar setiap nasihat yang disampaikan berdiri di atas pemahaman yang benar.

Kesadaran menjadikan rumah sebagai ladang dakwah harus berangkat dari tujuan yang mulia. Ibu yang cerdas tidak hanya memenuhi kebutuhan lahiriah anak-anaknya, tetapi juga memberikan bekal ukhrawi dengan menanamkan fondasi tauhid sejak dini. Dari pendidikan inilah diharapkan lahir generasi rabbani yang mencintai Allah, gemar berbuat baik, serta siap menebarkan manfaat bagi umat.

Membekali Diri Sebelum Berdakwah

Semangat menebar manfaat kepada sesama berawal dari kesiapan memperbaiki diri sendiri. Karena itu, seorang ibu yang ingin menjadikan keluarganya sebagai ladang dakwah perlu terlebih dahulu membekali diri dengan ilmu yang memadai. Ia perlu memahami dasar-dasar agama, seperti tauhid, fikih ibadah yang wajib diketahui, serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kewanitaan. Dengan bekal tersebut, nasihat yang disampaikan kepada anak-anak tidak sekadar menjadi kata-kata, melainkan benar-benar berlandaskan tuntunan agama.

"Sebelum saya mendakwahi anak-anak, saya perlu mengangkat kejahilan dari diri saya terlebih dahulu,” ujar Ukhtuna Hartati. Menurutnya aktivitas belajar yang ia lakukan saat ini seperti belajar aqidah di HSI, juga belajar di majelis ilmu lainnya, menjadi modal penunjang untuk mendidik putra-putrinya. Santri Angkatan 2023 ini kemudian menyatakan, “Fokus penjelasan utama saya kepada anak-anak adalah menentukan tujuan hidup kita. Bahwa masuk surga bersama adalah tujuan yang ingin kita capai bersama.”

“Setelah tahu tujuan, maka anak-anak lebih mudah diajarkan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut. Alhamdulillah, mendakwahi anak-anak menjadi motivasi saya agar terus istiqamah dalam mengimplementasikan aturan Allah dalam kehidupan sehari-hari," sambungnya. Bagi Ukhtuna Hartati, membekali diri dengan ilmu menjadi langkah awal sebelum mengajak keluarga kepada kebaikan. Ia juga meyakini bahwa dakwah di lingkungan keluarga merupakan salah satu bentuk ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ukhtuna Dewi, santriwati HSI yang satu angkatan dengan Ukhtuna Hartati juga mengungkapkan bagaimana pentingnya belajar sebelum mendakwahi keluarganya. "Alhamdulillah, saya dipertemukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan lingkungan pertemanan yang giat di majelis ilmu, sehingga saya ikut terbawa senang belajar dan terus menambah pengetahuan ilmu agama yang syar’i, sesuai pemahaman salafus shalih. Dengan ilmu inilah saya bisa mendakwahi keluarga inti dan keluarga besar saya, alhamdulillah," ungkapnya terdengar penuh syukur.

Berdakwah dengan Hikmah

Berdakwah kepada putra-putri merupakan salah satu ikhtiar seorang ibu untuk menjaga keluarganya dari api neraka. Amanah ini tidak cukup dijalankan dengan menyampaikan nasihat semata, tetapi membutuhkan hikmah, kelembutan, dan keteladanan. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda sehingga pendekatan yang digunakan pun tidak selalu sama. Melalui proses inilah nilai-nilai kepedulian, kasih sayang, dan semangat menebar manfaat tumbuh secara perlahan dalam diri mereka.

“Setiap orang akan berbeda cara menghadapinya. Kita harus menyelami karakternya hingga bisa tahu di mana celah untuk mengambil hatinya. Berdakwah harus dengan kelembutan agar mudah diterima oleh anak-anak. Tak lupa kita harus sering berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karena Allah yang mengenggam hati anak-anak kita. Allah yang menjadikan anak-anak kita paham atas apa yang kita dakwahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala jualah yang memudahkan segala urusan kita terutama mengajak kepada kebaikan,” Ukhtuna Tiqoh berbagi pendekatan yang ia tempuh dalam mendakwahi keluarga di rumah.

Selain menyampaikan ilmu, konsistensi dalam memberikan nasihat juga menjadi bagian penting dari dakwah seorang ibu. Nasihat yang disampaikan dengan penuh kesabaran disertai doa dan keteladanan, menjadi ikhtiar agar nilai-nilai Islam benar-benar mengakar dalam diri anak.

Sementara itu, Ukhtuna Hartati memiliki penekanan tersendiri dalam mendampingi anak-anaknya. “Jangan pernah bosan untuk mengingatkan anak-anak bahwa Allah Maha melihat apa yang kita kerjakan sehingga jika konsep ini sudah tertanam di hati mereka, maka saya harap anak-anak bisa terus istiqamah taat kepada Allah, dan terjaga dari hal-hal buruk yang masuk lewat lingkungan pergaulannya,” ujarnya. “Tentu saja kita terus memonitor perilaku keseharian anak-anak kita,” imbuhnya.

“Mendakwahi anak-anak menguatkan saya untuk berhati-hati tidak tergelincir ke dalam dosa dan berusaha menghabiskan waktu dengan apa-apa yang bermanfaat untuk akhirat saja,” papar Ukhtuna Hartati.

Pada akhirnya, dakwah kepada anak-anak bukan hanya menjadi ikhtiar membimbing keluarga menuju ketaatan, tetapi juga sarana bagi seorang ibu untuk terus memperbaiki diri. Ketika ia mengajak anak kepada kebaikan, pada saat yang sama ia pun terdorong menjaga amal, memperdalam ilmu, dan mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang bermanfaat sebagai bekal menuju akhirat. Melalui proses inilah seorang ibu sedang menanam benih-benih kepedulian dan semangat memberi manfaat. Kita berharap nilai yang tumbuh sejak di dalam rumah tersebut, kelak terwariskan melalui karakter anak yang mencintai kebaikan dan gemar menghadirkan manfaat bagi sesama.

Ketika Memberi Manfaat Juga Diuji

Perjalanan memberi manfaat kepada keluarga melalui jalan dakwah, kenyataannya tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya nasihat diterima dengan lapang, tetapi tidak jarang seorang ibu berhadapan dengan penolakan, kejenuhan, atau respon yang belum sesuai harapan. Di sinilah kesabaran menjadi bekal penting bagi para ibu. Sebab, setiap upaya menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak merupakan proses yang membutuhkan waktu, doa, dan keteguhan hati.

Berdakwah kepada putra-putri bahkan kerap terasa lebih berat dibandingkan kepada orang lain. Namun, para ibu tidak semestinya berputus asa ketika dakwah belum membuahkan hasil yang tampak. ”Dakwah kepada anak-anak nggak ada batasnya. Ini adalah tugas selamanya sampai hayat dikandung badan, dan pasti kita akan terus mendapatkan dampaknya di kehidupan akhirat yang lebih baik. Insyaallah,” ujar Ukhtuna Dewi.

Senada dengan hal itu, Ukhtuna Tiqoh mengingatkan bahwa setiap jalan dakwah pasti memiliki ujiannya sendiri. “Tidak ada jalan yang mulus. Kadang mudah, kadang ingin rasanya menyerah. Namun harus ingat tujuan awal, sehidup sesurga di firdausnya Allah Ta'ala, sehingga kita terus akan mendakwahi keluarga kita sampai Allah mengatakan, 'ujianmu sudah selesai dan ini saatnya pulang,'” ucapnya tegas.

Kesabaran seorang ibu dalam mendampingi anak-anak bukan hanya menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keluarga di atas jalan Allah, tetapi juga bentuk investasi kebaikan yang manfaatnya dapat terus mengalir. Setiap nasihat yang diulang, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap teladan yang diberikan adalah benih-benih amal yang diharapkan tumbuh menjadi karakter mulia pada diri anak-anak.

Harapan dan Keinginan

Setiap ibu tentu memendam harapan agar ikhtiar mendidik dan mendakwahi keluarganya tidak berhenti sebagai amal hari ini, tetapi terus berbuah hingga kehidupan setelah kematian. Menanamkan tauhid, membiasakan anak mencintai ilmu, dan mengajak mereka menaati Allah merupakan investasi amal yang diharapkan terus mengalir sepanjang hayat. “Dakwah saya kepada kedua putra saya mudah-mudahan bisa menjadi wasilah sebab mengalirnya pahala selamanya, sampai bumi berhenti berputar,” Ukhtuna Hartati berharap.

Asa tersebut tidak hanya tertuju pada kehidupan akhirat. Para ibu juga berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang shalih, berakhlak mulia, dan istiqamah menjalani kehidupan sesuai tuntunan syariat. Selain dari tujuan besar di atas, ada keinginan jangka pendek di dunia yang menjadi harapan Ukhtuna Dewi, “Saya berharap putra-putri saya terus memperbaiki kualitas ibadahnya dan dengan pertolongan Allah mereka bisa menjalani semua aktivitas di jalan yang Allah ridhai,” ungkapnya.

Mendidik keluarga di atas nilai-nilai Islam merupakan salah satu bentuk ikhtiar menebarkan manfaat yang dimulai dari rumah. Ketika seorang ibu menanamkan tauhid, membiasakan akhlak mulia, dan mengajak anak mencintai kebaikan, ia sedang mempersiapkan generasi yang diharapkan mampu memberi manfaat bagi agama, keluarga, dan masyarakat. Jejak kebaikan itulah yang kelak menjadi amal jariyah, terus mengalir seiring lahirnya kebaikan demi kebaikan dari generasi yang ia didik.

Filantropi bukan hanya tentang apa yang kita berikan kepada orang lain hari ini, tetapi juga tentang generasi seperti apa yang kita persiapkan untuk memberi manfaat pada hari esok. Di situlah seorang ibu memegang peran yang tak tergantikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima setiap ikhtiar para murabbiyah dan menjadikannya pemberat timbangan amal di akhirat kelak. Barakallahu fikum.

15